
'Ah, sial! Kaki gue kena!!' umpat dalam hati seorang gadis yang mendapat serangan kaki. Dia tidak terima diserang oleh Winnie yang bertubuh lebih tinggi darinya.
Susan, mahasiswi tingkat satu yang bertubuh mungil dengan penampilan tomboy itu, kali ini dihadapkan tantangan mengalahkan mantan teman baiknya sendiri di tempat latihan bela diri.
Tekadnya kuat untuk menang. Selain terpancing emosi, ini pertama kalinya dia tidak ingin lengah semata-mata takut menyakiti tubuh orang lain.
'Cuma latihan karate, gak akan pingsan!' batin Susan.
Winnie dengan mudah melepaskan serangan pukulan atau tendangan yang sulit terelakkan. Tapi, tubuh kecil bisa lebih gesit bukan? Hanya itu yang terbesit dalam pikiran Susan yang geram sesaat sebelum latihan.
'Oh, jadi begini cara mainnya,' gumam Susan dalam hati, mendapati udang dibalik batu.
Kala itu Winnie sengaja menaruh urutan absennya di atas nama Adi—pacar Susan sendiri. Apa maksudnya?
Pria brondong kelas dua SMA yang terbilang jauh lebih muda dibanding Susan. Goodlooking, paras belasteran.
Bukan pengalaman pertama, jika gebetan atau kekasih dibiarkan begitu saja akan terjadi kisah tikung-menikung antar teman kalau pria itu terlihat menggiurkan. Tapi, sayangnya Susan tidak pernah pedulikan hal itu, hanya tidak suka dengan sahabat penghianat.
"Gak tau malu, ambil aja kalo suka ... habisin sekalian! Jangan lupa tulangnya kasih kucing!" Susan mengutuk pelan.
Setelah membalas balik dengan mengisi urutan absen di bawah nama Adi, Susan menghela napas lalu melirik Nana untuk turut melihat absen itu. Nana hanya mampu tertawa kecil melihat ekspresi wajah kesal sahabatnya itu. Dia menepuk pelan punggung gadis itu karena ingat Winnie pernah terang-terangan mengatakan suka pada Nana tentang pria itu.
'Kenapa buang muka, Winnie ..., canggung? ngerasa bersalah lo sekarang?' kata-kata itu muncul dalam benak Susan yang melihat ekspresi Winnie berbeda dari biasanya.
'Apes lo kali ini, Win ... jangan harap gue mau kalah ...,' ucap Susan membulatkan tekad balas untuk Winnie.
Pertandingan berakhir dengan skor telak dimenangkan Susan. Sesi latihan sore itu pun usai.
'Sedikit dendam manis buat sahabat yang gak baik sepertimu. Ini pertandingan sesungguhnya, nol poin untuk mantan sahabat! Salah sendiri bangunkan singa yang belum makan siang, Win!' batinnya puas.
Hubungan Adi dan Susan sebatas status. Gadis yang seakan belum siap berpacaran itu hanya mengiyakan si pria brondong untuk jadi kekasih. Sekadar basa-basi karena sekian lama menjomblo, Adi pun terbilang tampan dan muda.
'Boleh dilihat, jangan disentuh.' Bahkan sekedar berpegangan tangan pun dia tidak ingin.
Tapi, Susan pun membiarkan Adi memilih karena merasa tidak berhak untuk posesif. Dirinya tidak sepenuhnya ingin berpacaran. Hanya dua pilihan, antara mengikuti permainan Winnie atau mempertahankan Adi.
****
__ADS_1
Sore itu, pesan masuk ke ponsel Susan.
Dicky [ San, pulang latihan aku ke rumah kamu, ya! ]
'Hhh ... si tokek! bisa-bisanya ganggu istirahat. Sebetulnya mau, sih, cerita ke Dicky soal hari ini. Tapi ... gak, deh! Sia-sia juga. Ujungnya dia duluan curhat!' Gadis itu kemudian mengabaikan pesan barusan.
Keduanya bersahabat sejak masih SMP, selain bertetangga, Dicky seorang mantan kapten basket saat keduanya mengemban pendidikan di sekolah yang sama. Tubuhnya tinggi atletis, karena perawakannya itulah kenapa Susan menyebutnya si bongsor. Apakah dia tampan?
Pria keturunan Betawi-Inggris ini adalah idola para siswi di sekolah. Hingga saking muaknya Susan mengetahui sesering apa pria itu gonta-ganti pacar, semakin tidak menarik sosok Dicky di matanya.
Kini keduanya pun berada di Universitas yang sama. Entah siapa yang posesif, hanya mereka berdua yang tahu kenapa sulit untuk dipisahkan.
Malam ini Susan rasanya hanya ingin beristirahat. Karena Dicky yang nyaris tidak pernah absen curhat itu selalu datang tanpa diminta.
'Apa aku harus bilang kalo capek banget, tapi apa rasanya terima tamu konyol itu kalo ngantuk kayak gini,' pikir Susan ragu membalas pesan singkat dari Dicky .
Susan merentangkan tubuh seluas-luasnya di atas tempat tidur yang dia idam-idamkan selama seharian. Baru saja hendak memejamkan mata, buyar sudah harapan untuk istirahat.
Terdengar langkah kaki berat berjalan masuk mengendap-endap dari balkon kamar menuju ke arahnya. "Ada apa lagi, tokek ...!" Susan masih enggan membuka mata, tidak berpikir itu maling atau bukan.
"Gak usah bawa-bawa fakultas. Kamu aja yang gak waras. Mana ada tamu datang pake manjat balkon orang, kalo dilihat tetangga lain, gimana? Diteriakin maling kamu!" ucap Susan yang sigap bangkit dari rebahnya dengan dan duduk terhuyung di sisi tempat tidur.
"Biar sensasinya beda, pangeran juga manjat menara, haha ...," Pria itu tertawa, ada saja alasannya yang kadang tidak masuk akal.
"Kamu? Pangeran? Ada kaca gede, tuh!" balas Susan ketus sambil menunjuk ke kaca meja rias kamar itu. "Aku, sih, gak masalah. Tapi si Papa yang udah gerah sama kamu. Siap-siap aja ditagih beli cat," celetuk Susan.
Susan mencoba membelalakan matanya yang berat, lalu melirik ke pria tadi—Dicky.
"Iya, iya ... lagipula percuma juga manggil kamu dari pintu depan, Kak edo juga gak bakal dengar kalo udah main game," ucap Dicky yang mulai melangkah masuk.
Dicky meraih tas yang tergeletak di sofa lalu melemparnya ke arah tempat tidur, dan menduduki sofa tunggal itu. Susan masih terdiam, berusaha mengembalikan kesadaran.
Meski sahabat sekaligus tetangga yang sudah saling kenal bertahun-tahun. Namun, keduanya kini sudah tumbuh dewasa dan wajib menjaga sikap. Tapi, Dicky belum terbiasa berubah.
Pria itu sering menyambangi kamar yang berada di lantai dua milik Susan. Saking mengabaikan peraturan, pernah sekali Dicky tertidur di teras balkon karena keasikan ngobrol dan malas untuk pulang.
"Depan yuk!" ajak Dicky menunjuk ke arah balkon.
__ADS_1
"Mau ngapain sih, ah!" ucap Susan malas.
"Pake tanya-tanya, bangun pemalas. Ayok !" Dicky menarik sebelah tangan gadis itu untuk membantunya bangun.
'Huuhh ... mulai lagi dia!' batin Susan.
Di teras lantai dua itu, mereka bisa sanggup menghabiskan waktu selama berjam-jam sekadar untuk bercanda, dan berbagi cerita satu sama lain. Sambil memandang ke arah jalan atau menggoda orang yang lewat.
Meski menyebalkan, Dicky sosok yang ceria dengan tawa dan candaan khasnya. Selalu menghibur dan sangat mengenal sifat satu sama lain. Oleh karena itu Susan tidak enak hati menolak kedatangan pria itu.
Pria aneh itu suka sekali muncul lewat beranda kamar Susan. Dia memanjat melalui pijakan tanaman rambat lalu menuju pilar penyangga balkon. Yang hanya berani dia lakukan ketika kedua orang tua Susan sedang pergi keluar kota. Entah apa obsesinya, padahal menyusahkan diri.
'Spiderman?? Spiderman gak bongsor.'
"San ...," panggil Dicky hendak menyadarkan lamunan Susan yang masih berat melebarkan matanya. "San! Yah elah ... melek dong!" paksa Dicky mengusapkan telapak tangannya di wajah gadis itu.
"Hah! Apaan, sih! Tangan kamu abis ngapain, sih. Debuan gitu, mukaku kotor tauk!" bentak Susan yang seketika kesal dipaksa sadar.
"Sekalian, aku tau kamu belom mandi," ejeknya lalu memelankan suara. "Aku pengen tanya ..., Ehm, kamu masih sama Adi?" lanjutnya ragu.
"Masih. Kali." Susan menjawab singkat dan ketus.
"Kok, kali? Emangnya kamu percaya brondong player kayak gitu ceweknya cuma satu?" Dicky melirik tipis gadis di sebelahnya.
"Bodo amat, lah. Lagian kamu tau aku gak ngerti pacaran kayak apa. Cowok second-an gitu mana bisa dipercaya. Dibohongin juga gak rugi amat, lah." Susan menjawab seadanya tanpa memerhatikan pria di sebelahnya yang mulai bergeser mendekat.
"Gak tau pacaran?" ucap Dicky heran. "Selama ini ngapain aja?" tanyanya makin penasaran.
"Ya status ... udah, lah. Gak penting, aku kira mau cerita apa malam ini! Aku ngantuk tau gak!"
"San," panggil Dicky lagi mengabaikan kata-kata Susan barusan.
"Apa! Ya Allah ... San, San, melulu!" protes gadis itu.
"Aku pengen ngomong," ucap pria itu menurunkan pandangannya sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa canggung. "Sebenernya ... aku ...."
Susan yang tadinya masih setengah sadar kini terkejut saat pria itu kini berdiri tepat di sebelahnya tanpa jarak. Rasa kantuknya hilang begitu saja, bahkan tatapan itu semakin rasanya sangat dekat antara mereka berdua.
__ADS_1