Sahabat Badboy Vs Dosen Moody

Sahabat Badboy Vs Dosen Moody
Perasaan apa ini?


__ADS_3

Mengawali pagi.


Minat bergegas untuk berangkat kuliah nampak menurun drastis bagi Susan. Dia menaruh harapan tinggi sang pangeran sebelah rumah yang berjanji datang untuk berkunjung.


Saking bergairah menyambut hari, Susan bangkit dari kemalasan. Dia berjalan menuju pintu kamar di arah balkon dan membentangnya hingga cukup kencang, lalu terdengar suara benturan keras.


"Aduh!!" Suara lantang kesakitan muncul dari balik pintu.


"Astagfirullahalazim!!" Susan memekik dan tersentak kaget buru-buru menghampiri sumber suara. Hingga malah tanpa sengaja menginjak kaki si pemilik suara.


Dicky bangkit terhuyung maju dari persembunyiannya di balik pintu. Dia merunduk kesakitan mengusap-usap dahinya.


'Sial. Mimpi apa pagi-pagi! Udah jatuh ketiban tangga. Kebentur, diinjak pula,' gerutu Dicky dalam hati.


"Kamu ngapain, sih? Dari kapan di sini?" tanya Susan panik.


"Aku dari habis subuh di sini. Kebluk! Solat makanya!" sindir Dicky, mengusap-usap dahinya yang masih terasa nyeri dan mulai nampak merah.


"Duh! Eh—he, tadi tidur lagi ... sorry gak sengaja. Sakit, ya?" ucap Susan lirih, mendekat untuk melihat bekas benturan di dahi Dicky.


Susan mengusap pelan dan meniup dahi yang memerah itu, Dicky pun sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Pake nanya. Menurut kamu gimana? Mau coba sini," sungut Dicky.


"Ampun. Hehe, udah ... gak apa-apa nanti aku kasih cream hangat, ya!" ucap Susan, masih mengusap bekas benturan itu dengan ibu jarinya.


Sesaat bola mata pria itu naik ke atas melirik ibu jari Susan. Posisi itu membuat wajah mereka terlihat lebih dekat. Dicky mendongak sedikit dan menatap mata gadis di hadapannya. Tanpa sadar Susan pun balas menatap.


Dicky perlahan meraih tangan yang masih menempel dahinya lalu menegakkan posisi tubuhnya kembali. Dia kemudian mengecup ujung jari gadis itu sambil menatapnya lembut.


"Makasih, ya," ucap pria itu lembut.


Mata Susan membulat, hingga kemudian satu kecupan kilat mendarat di dahinya. Dicky pun tersenyum percaya diri, namun sekilat itu pula tamparan mendarat di pipi pria itu hingga tampak memerah.


Geram bercampur malu Susan berjalan cepat menjauh dan segera menutup pintu balkon. Dicky hanya terdiam mengusap panas di pipinya dan mengintip ke dalam kamar dari balik kaca pada pintu itu.


'Sial, tiga kali apes namanya ini' Dicky bermonolog.


Susan terduduk di sisi tempat tidur dan melirik tipis ke arah Dicky yang berusaha memanggil. Lalu, mengibaskan tangan menyuruh pria itu pergi.


'Beraninya cium-cium! Tatapan apa itu tadi! Kenapa jadi deg-degan begini rasanya, ya.' Susan membatin.


"San, San, sorry ... buka, deh." bujuk Dicky sambil mengetuk pintu berkaca lebar itu, namun tetap tidak digubris sama sekali dari dalam.

__ADS_1


Susan terpaksa bangkit dari duduk dan bergegas ke toilet kamar untuk bersembunyi. Berharap pria itu berhenti memohon dan segera pergi dari balkon kamarnya.


'Baru kali ini tatapannya sehangat itu, kalau saja tingkah konyol dan tawamu tidak kulihat setiap hari, ketampananmu tidak membuatku Illfeel dan bisa menganggapmu lebih dari ini.' Susan meratap memastikan hatinya.


Susan bersandar di balik pintu kamar mandi dan terduduk malu atas kejadian tadi. Dicky pun masih terdiam bersandar di pintu, menyadari sikapnya yang salah.


'Sampe nampar gini, apa penolakannya karena pria asing semalam hingga perlahan aku dilupakan?' ratap Dicky penuh tanya.


Dicky menyeret langkahnya dan turun dari balkon itu. Berlari kecil menuju rumahnya dan masuk ke halaman belakang. Masih berkutat dalam pikiran tentang hal barusan sambil memandangi jajaran pot bunga yang tersusun rapi.


Sejajaran pot kecil tersusun rapi bertanamkan bunga Rose dengan bermacam-macam warna. Sebagiannya masih kuncup dan sisanya lagi mulai merekah cantik.


Tiba-tiba ...


Kepala pria itu ditoyor dari belakang oleh tangan seseorang. Kak Dheta, kakak perempuan satu-satunya yang memang selalu tidak akur seperti serial kartun tom and jerry, mungkin itu cara Dicky memberikan perhatian pada orang lain. Dekat tapi suka debat.


"Jangan di apa-apain, ya! Awas kalau rusak! Itu Impor tau!" tegas kak Dheta sambil berkacak pinggang.


"Iya, iya ..., eh!" Seketika terlintas ide mengingat Susan sangat menyukai warna putih. "Kak, boleh minta satu, ya?" tanya Dicky.


"Buat apaan?! Beli aja sana!" jawab Kak Dheta mencurigai maksud sang adik.


"Buat Susan, ya ...?" ucap Dicky menyambar omongan dengan wajah memelas pura-pura.


"Oke, tapi jangan bohong! Kalau minta harus jaga baik-baik. Kamu yang urus kalo mau. Beberapa hari lagi juga mekar," tegas Kak Dheta.


Dicky tersenyum dan berbalik menghampiri pot bunga Rose putih tadi.


Kak Dheta memperhatikan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Janggal karena adik yang sebelumnya nyaris tidak pernah menyentuh tanaman-tanaman, kali ini bahkan mau saja merawat bunga.


'Jangan-jangan dia kesurupan nanti bunganya mau dimakan,' ucap Dheta dalam hati menaruh curiga.


****


Dicky merebahkan tubuhnya dalam kamar sambil mendengarkan musik pada aplikasi ponsel.


Pikiran dan hatinya terasa campur aduk. Dia tidak paham kenapa berani mengecup jari dan kening sahabatnya sendiri. Mungkinkah mulai dewasa dan insting laki-laki pada wanita yang disayangi?


Dicky tahu betul bagaimana gadis yang dia kenal selama ini, tidak ada laki-laki yang berani menyentuhnya kecuali kak Edo selayaknya kakak. Bahkan kini tidak habis pikir, akan memberikan mawar putih untuk sang gadis. 'Gila. Dia kan kaya laki! Berasa Homo komplikasi, ah!'


Terus berkecamuk di dalam pikirannya tentang kejadian semalam, saat dia memerhatikan gadis itu bersama seorang pria asing. Hatinya keruh, cemas, marah, tidak terima, dan merasa tersingkir. Ingin rasanya melemparkan granat kepada Eli dan Susan. Susan?


'Jangan! Jangan ada Susannya. Ha—ahh ... nyesel ngintip mereka!' batin pria itu membela.

__ADS_1


****


Susan membalas beberapa pesan dari teman kampusnya yang jadi bertanya-tanya kenapa dia absen hari ini. tanpa kabar


Delta [ Oy San! kenapa gak masuk? ]


Susan [ Sorry, gak enak badan, nih, sorry deh ... ]


Delta [ Sakit apaan? Kok dadakan, sih, baru kemarin kita rencana mau nonton bareng pulang kampus ]


Susan [ Yah gak tau, kayaknya kepala gue berat, dada rasanya panas, mungkin karena latihan karate kemarin habis tanding badan jadi sakit-sakit ]


Delta [ Ya udah, kabarin deh kalau udah enakan, gak seru kalau kita cuma berempat nonton bareng! Adrian, Urip, Chicha juga nanya, apalagi Adrian ngomel-ngomel tuh! ]


Susan [ Ah, Adrian sih gak aneh. Yah ... iya maap, salam buat mereka, nanti biar gue kabarin, oke ]


'Terpaksa bohong. Kalau enggak, habislah aku!' ucap Susan dalam hati


Susan tertegun sejenak melihat layar ponsel dan memeriksa pesan-pesan yang masuk, namun tidak ada satupun pesan dari Dicky.


'Eh, apa dia marah, ya? Keterlaluan gak, sih, nampar dia tadi ...,' batin Susan khawatir salah mengambil sikap.


Berusaha mengalihkan pikiran, detik-detik semakin terasa lama penuh rasa takut akan harapan palsu, si Pangeran Amrik yang mau datang berkunjung atau kah Pangeran Tokek dari seberang sana.


Pintu kamar terbuka, Susan terkejut menghela napas, ternyata kak Edo.


"San, gak ke kampus??" tanya kak Edo.


"Nah, kak Edo, kok ga kerja??" jawab Susan


"Ngapain balik nanya? Kamu mau bolos gara-gara Eli mau kesini?" Kak Edo menelisik ekspresi Susan yang mulai gugup diinterogasi. "Gak usah di rumah! Nanti sore aku mau pergi sama Zac, jadi jangan di rumah berduaan!" tegas Kak Edo


"Kalo berduaan emang kenapa, kan enak langsung ketangkep terus dinikahin, hehe, " canda Susan asal bicara.


"Mesum. Udah sana turun, mandi, udah siang!Mama-Papa pulang besok pagi, beresin rumah dari sekarang. Aku mau siap-siap, soalnya kantor cuma setengah hari," titah Kak Edo.


Susan hanya melirik malas seiring langkah sang kakak keluar dari dalam kamarnya sambil terburu-buru.


****


Sore itu, Susan berdandan rapi dan pakaian santai, bukan gaun tentunya. Memang hanya kostum semacam itu yang dimilikinya untuk sehari-hari.


Susan menyimak suara kak Edo yang sedang menerima kedatangan seseorang dari lantai bawah. Dan itu sepertinya suara yang diharapkan sedari tadi ...

__ADS_1


'Ternyata Doaku terjawab. Itu pasti Eli!' Jantung gadis itu berdegup tak beraturan. Sangat tidak sabar melihat wajah si Pangeran idaman yang mungkin akan mengajaknya kencan di suatu tempat. "It's my first date ...," ucapnya menyemangati diri di depan cermin.


__ADS_2