
Sore itu terlihat Eli memakai kaus polo hitam berlengan pendek, sedangkan Susan terlihat salah kostum dengan jaket hoodie berwarna Navy dengan celana jeans.
Sepintas Eli membuang pandangan tersenyum menyembunyikan tawa.
"Indonesia ada musim semi, ya?" tanya Eli sambil menyimpan tawa dibalik senyumnya.
"Hah? Emangnya ada musim semi di sini? Bercanda, ah!" Susan meninju pelan lengan Eli dengan malu-malu.
"Hm, wait," Eli mengusap dagunya seperti mengira-ngira, memperhatikan penampilan Susan yang memandang balik keheranan.
"Coba ... lepas jaket kamu. Kamu seperti orang sakit," ucap Eli.
'Hah? Ngapain, ih!' batin Susan. "Ta-tapi kita jadi keluar, kan?" tanya Susan
"Kamu pakai kaus, kan?? " tanya Eli kembali. Susan membalas dengan anggukkan.
"Lepas saja, biar terlihat seperti perempuan. Don't worry, Sue. Serious," balas Eli tertawa geli.
Susan melepas jaket dan terlihat memakai kaos putih yang berukuran pas. Gadis itu terlihat salah tingkah menutupi bagian dada dengan melipat tangannya karena tidak terbiasa.
"Kamu kenapa? Demam?" tanya Eli, ekspresinya berubah khawatir.
"E-enggak, gak apa-apa" jawab Susan. 'Sial! Risih banget begini. Kalo Dicky liat bisa jadi viral, nih,' batin Susan.
Setelahnya mereka berdua berjalan santai menuju kafe terdekat persis samping gerbang perumahan. Awalnya tidak ada rencana seperti itu, hanya kak Edo memang sudah mengingatkan Eli juga melalui kak Zac untuk tidak bertamu ke rumah.
Susan menunggu di salah satu meja sedang merancang hal-hal yang akan dia bicarakan pada Eli sekedar mencairkan situasi karena kegugupan nya sendiri. Sedangkan Eli berdiri di depan kasir memilih minuman untuk mereka.
Selang beberapa waktu kemudian, seorang Pria berjaket abu-abu masuk ke area kafe dan ikut mengantri di bagian kasir. Susan yang sedang sibuk bermain ponsel tidak memperhatikan sama sekali.
'Hm, ini orangnya.' Dicky bergumam dalam hati. 'Lebih pendek dari gue. Boleh juga gaya lo saingan sama gue. Eh, mana si Susan?' Dicky memandang sekeliling mencari tau keberadaan Susan.
Eli berbalik keluar dari jalur antrian, saat selesai melakukan transaksi di kasir. Dicky maju selangkah diselingi satu orang lagi pelanggan yang hendak memesan. Pria bongsor itu masih berpura-pura hendak memesan minuman take away. Namun, tetap saja sudut matanya mengikuti di mana Eli akan duduk. Hingga menemukan sosok yang dia cari. 'itu Susan!' batinnya.
Tiba-tiba, ada suara muncul menyapanya. "Maaf, Mas, pesan apa?" tanya seorang Barista. Dicky masih saja memerhatikan gerak-gerik kedua pasangan itu. "Mas??" Sang pelayan mengulang pertanyaannya lagi karena merasa tidak digubris oleh pria yang sibuk mengawasi meja Susan dan Eli. "Mas!" Kali ini si Barista agak menghentakkan suaranya hingga membuat Dicky terkejut.
"Liong, eh, liong!!" teriak Dicky, terkejut hingga menggebrak meja kasir. "Maksudnya Long black, Mas, sorry." Dia menghela napas setelah agak terkejut barusan.
"Eh ... Iya gak apa-apa, Mas. Long Black, ya." si Barista canggung dan tersenyum-senyum menahan tawa. Jari telunjuk Dicky tidak hentinya bermain-main, mengetuk meja kasir menahan rasa kesal bercampur malu.
__ADS_1
Di sisi salah satu meja cafe. "Ow, Sue. Besok lusa aku harus pulang ke LA. Mau kubelikan sesuatu?" tanya Eli, menyeruput minuman dinginnya.
'Mahar, lah!' Susan tersenyum-senyum dengan pikirannya.
"Kenapa?" tanya Eli bingung melihat ekspresi Susan.
"Hah? Eh, gak, gak. Apa aja, yang penting kamu selamat kembali kesini" jawab Susan sambil tersenyum.
"Thank you. That's sweet." Eli membalas senyum.
Dari kejauhan Pria yang mulai panas hati melihat adegan romantis muncul dengan membawa minumannya menuju meja itu.
"Wah, wah, wah ... kok aku gak di ajak-ajak." ucap Dicky tiba-tiba menarik kursi dan duduk persis di samping Susan. "Ada yang bilang gak mau keluar rumah. Ini apaan?" sindir Dicky.
"Kamu?" Susan tersentak kaget.
"Boleh gabung? Gak ganggu, kan?" Dicky tertawa sinis pada keduanya lalu mencari tatapan Eli.
'Aduh, aroma perang!' batin Susan khawatir
"Ow, why not!" balas Eli lalu sedikit berdehem. Dia mengulurkan tangan mempersilakan duduk. "Your friend?" bertanya sambil melihat ke arah Susan.
"Dicky!" Menjulurkan tangan dengan tegas. "keturunan asli Ing-gris betawi!" tegas Dicky tidak mau kalah merasa serumpun.
'Ih ... noraknya ...,' batin Susan. Susan menghela napas saking risihnya dengan kelakuan Dicky.
Eli hanya tersenyum sedikit membuang pandangan menahan tawa. "Ow, okay!" jawab Eli singkat.
Tiba-tiba suasana senyap beberapa waktu masing-masing tenggelam rasa canggung dan pikirannya masing-masing. Sampai kemudian Dicky masih saja ingin mengganggu suasana.
"Ngomong-ngomong, ini ... tumben pakai baju ketat!" ucap Dicky sambil menarik ujung bagian lengan kaos Susan.
'Apanya yang ketat! Ini cuma kaos perempuan!' Protes Susan dalam hati
"Tadi aku pakai jaket, kan panas ya aku buka" jawab Susan agak panik. 'Nah, viral kan kataku!' batin Susan.
"Panas apanya! Ini kan ada AC!" ucap Dicky mulai menaikkan nada bicara.
"Ya, tapi ...."
__ADS_1
"Aku yang minta dia melepas jaket," jelas Eli, sambil tetap fokus menatap layar ponsel.
"Terus, besok-besok kamu mau pakai apa? bikini??" tanya Dicky, tidak menggubris perkataan Eli dan tetap memandang kesal ke arah Susan. "Sini kamu!" pinta Dicky. Mengambil jaket Susan yang menggantung di sandaran kursi dan menaruhnya ke bahu susan.
"Pake!" tegas Dicky.
'Apaan, sih! Perintah-perintah!' Susan mengucap dalam hati sambil menatap kesal pada Dicky. Tapi, daripada memperkeruh suasana, Susan memilih mengikuti perintah Dicky yang siap berdebat lagi kalau tidak dituruti dan akhirnya memakai jaket itu kembali.
"Aku mau tanya. Dari kemarin pesanku gak dibalas, aku ajak keluar kamu gak bisa terus, sekarang kamu malah keluar rumah, jadi gitu ya?" tanya Dicky, melingkarkan tangan kanannya di pundak susan. Meski sedang bertanya ke susan kali ini pandangan Dicky tertuju ke Eli.
"Kamu apaan, sih! Kamu sendiri ngapain disini??" tanya Susan mulai membalas kesal.
"Eng ... kebetulan lewat. Sah, sah, aja kan kalau aku mau beli?" ucap Dicky canggung merasa terpojok.
Eli mengangkat alisnya dan melihat ke arah Dicky dalam posisi tetap tertunduk melihat ponselnya.
Susan melengos dan merubah posisi duduk ke arah Dicky seakan meminta penjelasan lebih dan menatap tajam. "Sejak kapan beli-beli minuman di kafe begini, emangnya gak ada mini market? Biasa juga ngopi di warkop sebelah kampus!" tegas Susan memberondong kata-kata dengan nada kesal.
Eli kembali menatap layar ponsel nya sembari mengetik sesuatu, enggan terlibat dalam perdebatan kecil antara Susan dan Dicky.
"Terserah, dong!" Dicky kesal dan malas menanggapi.
"Hhh ... oke, guys. Sebaiknya aku pergi saja." tegas Eli seketika beranjak bangun dari duduknya memandang mereka berdua.
"Ka-kamu mau kemana? Baru juga kita sampe," Susan merasa tidak enak hati.
"Hmm ... lain kali aja. Ada temanmu, kan. Aku juga menyiapkan berkas perpindahan untuk besok, aku tidak mau ada berkas yang tertinggal" jelas Eli.
Susan bangun dari duduknya dan terpaku dengan jawaban Eli yang kelihatan agak kesal. "Tapii ...."
Eli maju mendekat, merapikan ujung rambut di telinga Susan lalu menyisipkan helai kecil yang menyembul keluar.
"Kita pasti punya waktu berdua. Aku janji, ok.. Sekarang kita udah tinggal berdekatan, kan?" jelas Eli dengan nada datar dan melirik tajam dengan sudut matanya ke arah Dicky, "Tunggu saja, okay, Sue?" tambah Eli meraih ujung dagu Susan dan menjentikannya.
Seketika Eli merubah ekspresi nya kembali tersenyum ke arah Dicky yang kini wajahnya mulai memerah padam. Sedangkan Susan hanya tertegun tanpa perlawanan melihat sikap Eli yang begitu mengejutkan manisnya.
'Ya ampun ... meleleh banget gak, sih," batin Susan.
Dicky pun sigap bangkit dari duduknya.
__ADS_1