Sahabat Badboy Vs Dosen Moody

Sahabat Badboy Vs Dosen Moody
Hidup baru Eli


__ADS_3

Di beberapa waktu lalu. La Cienega Boulevard, Los Angeles. Seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun sedang mengemasi pakaian, untuk kedua kali dalam hidupnya dia memantapkan diri meninggalkan kota yang sudah membesarkannya.


Eli tidak ingin karir sampingannya sebagai Disc Jockey (DJ) terkekang oleh keinginan sang ayah. Kakaknya, Zachary White. Yang lebih tua dua tahun darinya sudah jauh meninggalkan kota besar itu selama bertahun-tahun.


Kakak-beradik yang menentang keinginan sang ayah untuk mewarisi perusahaan kontraktor besar milik keluarganya di LA. Kebebasan yang mereka pilih, jauh terbang ke Asia tenggara yaitu Indonesia.


Tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia bisnis terlebih bidang konstruksi, kedua anak laki-laki dari keluarga White menggeluti bidang masing-masing.


Zac yang mengambil bidang pendidikan Film dan Televisi di salah satu Universitas swasta, Jakarta. Sedangkan Eli, melanjutkan kuliah di bidang llmu Budaya melalui pertukaran mahasiswa ke salah satu Universitas negeri terbesar di daerah pinggiran kota Jakarta.


Eli belum fasih berbahasa Indonesia tapi berkat kegigihannya untuk menetap lah yang membuatnya banyak belajar dan mencari tau tentang budaya Indonesia.


Ketertarikan Eli dan Zac pada Indonesia adalah semenjak beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Kini mereka mencoba mengasah ilmu di negara ini tanpa tahu peruntungan selanjutnya.


Sosok wanita-wanita cantik dengan kehidupan malam dan kemewahan sudah menjadi pemandangan yang tidak asing di negara asalnya. Kini mereka memilih tinggal di kota kecil terdekat dari Jakarta.


****


Seorang pria paruh baya sedang mengamati anaknya yang sedang sibuk berkemas-kemas di kamarnya bersiap untuk pergi. ”Apa kau sudah yakin untuk menolak tawaranku, El?!”


Eli tidak bergeming atas pertanyaan sang ayah, dia menyibukkan diri dengan tumpukan piringan hitamnya yang akan segera dikemas dalam box.


“Aku menempatkanmu diposisi terbaik di perusahaan!” bujuknya lagi.


“Tidak ada yg perlu aku jelaskan, Dad," ucap Eli menghindari perdebatan.


”Kau pasti tidak paham kenapa Dad sangat berharap padamu, kau bisa melanjutkan pendidikan di Harvard, sesuai yang kau mau” bujuk Mr. White


”Itu keinginanmu, bukan aku,” bantah Eli.


“Zac tidak bisa kuandalkan. Apa kau mau perusahaan ini hancur di tangan orang lain?!” tegas Mr. White.


“Aku harap Hannah bisa menggantikan harapanmu terhadapku,” jelas Eli bernada datar.

__ADS_1


“Dia masih kecil!” tegas Mr. White


“Lalu? Apa itu bisa jadi alasan kau tidak mampu mempercayai anakmu sendiri hanya karena dia seorang perempuan?”


“Perempuan bisa apa di perusahaan kontraktor! Dad yakin kau satu-satunya yang punya potensi besar untuk menyukseskan perusahaan ini. Lihat prestasimu.” Sang Ayah masih saja membujuk dengan alasan tidak masuk akal.


“Itu hanya alasan karena kau tidak punya pilihan lain, Dad. Kau pernah menyampaikan hal yang sama pada Zac!” tegas Eli.


“Baiklah. Kau benar! Tapi itu kenyataannya. Aku tidak rela perusahaan ini dipegang dengan orang yang salah.”


“Bukan salah, kau hanya harus memilih orang yang lebih memenuhi syarat daripada aku," bantah Eli.


“Tapi mereka bukan darahku!” tegas Mr. White.


“Lalu apa bedanya dengan perusahaan lain yang tidak bergantung pada darah daging mereka sendiri. Kerahkan anak buahmu untuk mencarinya.”


“Oh, baik. Cukup sudah menasehatimu.“ Mr. White tidak mampu mengalahkan perdebatan ini dengan anak ke duanya. Dia tahu betul bagaimana Eli berniat gigih untuk pergi. “Kau memang keras kepala!”


“Dan aku anakmu, bukan?” dengan jawaban secepat kilat.


tambah Mr.White.


“Aku bisa dapatkan mereka jika aku mau, tapi aku bukan seperti yang kau pikirkan. Oh, ya ...,“ ucap Eli berbalik menatap ayahnya karena sedari tadi ia tetap melanjutkan aktifitasnya mengemas barang-barang tanpa sedikitpun menatap sosok pria paruh baya itu, “Bagaimana bisa kau menanamkan prinsipmu sedangkan kau selama ini tidak selalu ada untuk kami. Buatlah dirimu sibuk demi perusahaan yang kau perjuangkan mati-matian. Pembicaraan ini sudah cukup, Dad. Aku sangat sibuk saat ini!” tegas Eli.


Mr. White berjalan cepat keluar dan membanting pintu kamar Eli dengan cukup keras, raut wajahnya menegang dan memerah karena geram.


Diantara ketiga anaknya, Eli adalah sosok anak yang tertutup (Introvert) dan paling sulit diajak komunikasi, dia tidak menyangka sebesar itu perlawanan Eli terhadapnya.


Namun, Mr.White tidak mampu membela diri, kata-kata Eli benar adanya bahwa sang ayah hanya mementingkan soal kejayaan perusahaan ketimbang mendengar dan memperhatikan anak-anaknya sendiri.


Seketika bulir air mata turun dari sudut mata Eli saat mendengar suara pintu tertutup keras. Dia mengerjapkan mata, masih tertegun dan menghentikan aktifitasnya. Ada rasa bersalah atas segala ucapannya tadi. “Sampai jumpa Dad ..."


****

__ADS_1


Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Siang itu pria berdarah asing tengah duduk sendiri di antara orang berjas dan pakaian rapi di lokasi yang sama di Lounge bandara, mungkin ada kepentingan bisnis sambil menunggu perjalanan selanjutnya. Keramaian yang hambar untuk hati pria bernama Eli, yang masih menunggu sang kakak menjemputnya menuju kediaman baru.


Eli mengabaikan aura formal di sekitarnya. Menenggelamkan diri dalam lamunan semenjak kemarin melihat tatapan sedih Ibu dan Adiknya yang mengantar keberangkatannya dari bandara kota Westchester.


Dua puluh jam lebih perjalanan dan transit di negara lain tidak membuat tubuhnya lelah. Dia lelah akan pikirannya. Rasa bimbangnya telah usai, berganti kemantapan hati untuk segera demi hasrat berpetualang di negeri orang.


Eli menyeruput secangkir teh yang disediakan pelayan. Teh yang kini sudah tidak lagi hangat karena lama diabaikan. Dia melirik jam tangan dan sudah sekitar satu jam sejak pesawatnya tiba, belum ada kabar dari sang kakak yang hendak menjemputnya ke Bandara.


Dengan ragu dia meraih ponselnya kembali dan mengirim pesan pada Zac.


Eli [ Blue sky premier lounge ]


Dia meletakkan ponselnya lalu memejamkan mata, bersandar di sofa panjang yang hanya didudukinya sendiri. Pesan pun dibalas, Eli hanya melirik melalui notifikasi pesan.


[10 minutes, just wait]


Kak Zac membalas singkat karena tengah mengemudi. Eli pun kembali bersandar ... Menunggu ...


****


Sosok pria yang ditunggu datang dan menepuk pundak Eli.


“Hei! Wake up. Kau mau barang bawaanmu hilang” tegur Kak Zac menghampiri.


Eli terkejut menoleh ke belakang sofa, pria tinggi berambut sebahu itu datang menyambut adiknya senyuman.


“Ya Tuhan ... kau lama sekali!“ ucap Eli, sambil mencoba membelalakan matanya yang sempat terpejam.


Zac berjalan menghampiri sang adik di sofa. Dengan masih terhuyung Eli menanggapi sang kakak yang kemudian menyambutnya dengan pelukan. Ada sesuatu yang berat sedang dialaminya. Sekejap mata sang adik pun mulai memerah dan berkaca-kaca, dia tidak bisa lagi membendung rasa sedih kali ini.


“Sudahlah ... nanti kau ceritakan padaku apa yang terjadi dirumah.” Zac menepuk-nepuk punggung Eli lalu melepasnya. Kemudian meninju kecil dada Eli, menyemangati adiknya untuk kembali tegar. “Bukankah banyak wanita cantik disini? Jangan sampai kita dibilang homo, haha,” canda Kak Zac.


Eli meraih ponselnya dimeja dan mengetuk ke kepala Zac. “Bercanda kau, bodoh. Haha ....”

__ADS_1


Mereka berdua berjalan keluar dari lokasi terminal dua bandara itu. Kemudian Eli tersenyum dan menghela napas lega saat melirik ke sebuah gearbox bertuliskan ...


**WELCOME TO JAKARTA **


__ADS_2