Sahabat Badboy Vs Dosen Moody

Sahabat Badboy Vs Dosen Moody
Tetangga bule


__ADS_3

Sejak malam itu Susan berusaha menghilangkan pikiran tentang Dicky. Ucapan pria itu terputus kala pintu kamar tiba-tiba dibuka oleh kak Edo—kakak Susan satu-satunya.


Kak Edo datang menghampiri Dicky seraya menenteng sarung yang hendak dikibaskan untuk mengusir pria itu dari teras balkon. Karena malam itu mulai larut dan kak Edo tidak ingin terjadi apa-apa pada adik satu-satunya.


Entah apa yang hendak dikatakan Dicky. Tapi sorot matanya mengatakan ada hal yang begitu penting ingin dia sampaikan.


Keesokan pagi, sebuah mobil box tengah terparkir di halaman sebelah. Betapa antusias kak Edo keluar memerhatikan aktifitas di sana,


dia berdiri di halaman saat seorang pria bule berperawakan kurus dan tinggi menghampirinya. Pria itu adalah kak Zac, sahabat lamanya saat di Internasional School kawasan Jakarta. Sepertinya akan menjadi penghuni baru rumah kosong di sebelah rumah kami.


"Kak Zac! Hai!" pekik Susan dari arah balkon melambaikan tangan berharap dikenali. "Long time no see ...," lanjutnya.


Kak Zac tak melihat gadis itu berdiri sejak tadi memperhatikannya. Pria itu nampak masih meraba satu nama dalam ingatannya. "Oh, hai ... hm ...," balas Kak Zac sambil melirik Kak Edo sejenak kode minta bantuan jawab. "Suzie?" lanjut Kak Zac menjentikkan jarinya.


"Iya! Susan ... Suzie, ya apa, lah! Kakak pindah sini??" sambut Susan melebarkan senyum.


Pria itu membalas senyum dan menganggukan kepala, karena tengah menyimak kata-kata kak Edo yang berada di depannya dan kembali fokus berbicara.


Kak Zac adalah sosok kakak Idaman. Pria bule bermata biru yang terbilang ramah dan sopan, ketimbang kak Edo yang kaku dan tidak sabaran.


'Yes! Asik kak Zac di sini!' gumam Susan dalam hati. Dia kembali ke dalam kamar, meraih ponsel di atas nakas dan semangat mengetik pesan.


Susan [ Woy! Ada tetangga baru doong ]


Pesan masuk, Dicky menggulingkan tubuhnya yang malas di tempat tidur. Dia meraih ponselnya di bawah bantal.


Dicky [ Siapa? Cantik atau Ganteng? ]


Susan [ Gantenglaah ..., iri bos?? ]


Dicky [ Gak jelas! Bye! ]


Meski gengsi rasa penasaran menggugahnya bangun dan mengendap - endap dibalik jendela kamar mengintip ke arah depan rumah Susan.


Tidak terlihat siapapun atau aktifitas, hanya terlihat mobil box parkir mundur dan berjalan keluar menjauhi lokasi rumah tadi. Dicky pun mengabaikan dan lanjut bermalas-malasan.


Hari itu Susan menghabiskan untuk bermain sosial media dan menonton video-video konser musik yang disukainya. Tanpa menggubris Dicky yang mengajak keluar rumah sekedar nongkrong di kafe atau bahkan dengan alasan ke mini market terdekat.

__ADS_1


Dicky [ Kenapa gak dibalas?? ]


Dicky [ Lagi apa sih, sibuk ngapain, kamu kan gak keluar rumah dari tadi!! ]


Pesan masuk berurutan hingga akhirnya membuat Susan kesal.


Susan [ Besok-besok pasang CCTV sekalian, biar kalo aku lagi di WC jadi kamu tau juga! ]


Dicky [ Ish! Pantesan baunya sampe kemari woy! ]


Susan pun tidak membalas pesan itu lagi, padahal sedang asik nonton film horor di hamparan karpet sisi tempat tidurnya.


****


Sekitar jam tujuh malam Susan keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah setelah puas dengan bermaraton film. Rumah tampak sepi, tidak ada kakaknya yang selalu sibuk main game di sofa depan TV.


'Lapar ... Kak Edo mana, ya?' pandangannya menyapu seluruh ruangan tapi tidak ditemukan sosok kakak menyebalkan itu. 'Apa-apaan, nih! Jam segini belum ada makanan, pesen apaan, kek!' batin Susan.


Susan meraih ponsel di sakunya, menghubungi Kak Edo yang ternyata berada disebelah rumah.


'Ah! Ya iyalah pasti lagi sama Kak Zac!' ucap Susan dalam hati, bergegas menuju rumah sebelah.


yang kemudian terdengar sautan kecil dari dalam rumah dan pintu terbuka perlahan.


"Yes??" jawab suara halus menyambut.


'Ya ampun, nikmat mana yang Kau dustakan. Ini orang ganteng amat, manusia bukan, sih!' gumam Susan dalam hati.


Nampak dari balik pintu yang terbuka kini, sosok pria dengan mata biru yang dalam, berahang tegas, berambut cokelat tersenyum ramah. Sesaat Susan ternganga menatap ketampanan si pemilik rumah.


"Can i help you?" tanya Pria itu. "You okay?" dia kembali mengulang pertanyaannya.


Sontak Susan gugup dan menjawab gelagapan, hingga termundur selangkah.


"Ah, yes, Zac! Kak Zac, here?" tanya Susan dengan sedikit terbata-bata.


"Zac? Sure, come in ...," ajak Pria itu, sambil mengibaskan tangannya mengajak masuk.

__ADS_1


"Oh, okay. Hmm ... Kak Edo, ada ya?" tanya Susan yang seakan yakin pria itu paham bahasa Indonesia.


Sesaat beberapa langkah, tiba-tiba pria itu berbalik tersenyum mengulurkan tangan. "Eli. By the way," ucapnya memperkenalkan diri.


"Oy! Sini, San!" Terlihat kak Edo sedang menikmati sesuapan besar pizza di tangannya, sambil duduk bersila di karpet bersama kak Zac.


'Oh, pantes lupa sama adiknya. Bagus, ya, enak-enak sendiri!' ucap Susan dalam hati


"Aku nunggu kabar dari tadi, di sini asik numpang makan!" ucap Susan sambil berkacak pinggang.


Eli tersenyum menepuk lengan Susan dan mengajak untuk ikut duduk di karpet bersama Kak Edo dan Kak Zac.


'Ya ampun, aku tersentuh!' batin Susan gemas kegirangan.


Mereka berempat bercakap-cakap berbagai hal, bercerita bagaimana kak Zac dan Eli bisa sampai di negara ini lagi, dan memutuskan menetap di sebelah rumahnya.


Tidak henti-hentinya hati Susan berdesir hangat kala sesekali melihat ketampanan Eli. 'Jodoh emang gak kemana.' Jantungnya berdebar melihat sorot mata Eli saat berkedip meliriknya ataupun yang lain saat berbicara.


Usai menikmati Pizza dan bertukar cerita, keduanya pamit untuk pulang ke rumah. Eli dan kak Zac mengantar sambil mengajak ngobrol seadanya. Terutama pada Susan yang wajahnya sudah merona sejak dari dalam tadi.


"Eh ... besok, kamu kuliah?." ucap Eli sambil melipat tangannya di depan dada.


"O-oh, itu! Ya kuliah, sih. Ada apa, ya?" Susan gugup seraya mengangkat alisnya.


"Oh, bagus," jawab Eli, tertawa kecil.


"Oh, oke. Hehe ...." Susan tertawa canggung berharap ada ajakan manis terlontar. 'Amsyong, dia cuma nanya lho,' gumam Susan dalam hati, jadi salah tingkah menggaruk-garuk telinga.


Saat mulai dekat ke pintu rumah, Eli kembali memanggil. "Ehm, Suzie!! Besok boleh kerumahmu?"


"Boleh! Boleh banget!" jawab Susan penuh semangat. Wajah gadis itu memerah dan jalan terburu-buru cepat masuk ke dalam rumahnya, diikuti kak Edo yang memperhatikan sambil menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. 'Idih!'


Tampak dari kejauhan di seberang rumah, sosok pria bongsor sedang mengamati kejadian barusan dari balkon kamarnya lalu bergegas mengetik sebuah pesan.


Dicky [ Oh, numpang ke WC di rumah tetangga ya, San? ]


Dicky [ Di rumahku ada kamar mandi tiga, kalau perlu seharian numpang mandi disini! Gratis! ]

__ADS_1


Dicky mulai tidak sabar karena pesan beruntun hanya dibaca tanpa dibalas oleh Susan.


"Siapa, sih, tuh cowok?" gumam Dicky.


__ADS_2