
"Dalam sujud, kau mempermainkan peran disepertiga malam."
***
Tepat pukul 03:00.
Seorang gadis bangun dari tidurnya, memang sudah terbiasa dia bangun disepertiga malamnya.
Nayra Jauzaa Syafa.
Gadis berusia 19 tahun, berbekal ilmu agama walau dia tidak masuk pesantren. Nayra hanya tinggal bersama ibunya, entah ayahnya dimana? Nayra pun juga tidak tau. Tetapi, banyak yang mengatakan bahwa Nayra adalah anak haram. Bahkan, Nayra harus kuat menahan hinaan dan cacian tersebut.
Nayra melaksanakan salat tahajud, seperti biasa yang dia lakukan.
Bagi Nayra, "dalam tahajudku, aku sedang berperan di dalam skenario Tuhan yang rumit ini."
Nayra tidak kuasa menahan tangisnya, mengadukan segala keluh kesahnya kepada Rabb-nya.
"Ya Allah, jika memang jalan takdirku seperti ini, kuatkan hamba menghadapi semuanya. Aku lelah, aku capek. Jika memang bahagia memang bukan jodohku, berikan sedikit ketenangan dalam hidupku Ya Rabb," pinta Nayra dengan wajah yang basah karena air matanya.
Setelah berdoa, Nayra masih belum bangkit dari sajadahnya.
Dia bersandar disajadahnya, satu-satunya tempat yang sangat dia butuhkan di saat terpuruk. Setelah beberapa menit, terdengar suara dengkuran halus. Nayra tertidur, dia lelah setelah menangis.
Di dalam tidurnya di atas sajadah, Nayra bermimpi sosok pria berada dihadapannya. Pria bertubuh tegap, wajahnya terhalang oleh cahaya.
"Assalamu'alaikum zaujati."
Nayra dengan cepat langsung membuka matanya, apa arti mimpi itu? Dia masih menetralkan detak jantungnya, dengan nafas yang masih memburu.
"Astaghfirullah, mimpi apa ini?"
Nayra segera bangkit dari simpuhan duduknya. Dia mengambil air wudhu kembali, kebetulan tinggal beberapa menit adzan subuh akan berkumandang.
Setelah menunaikan salat subuh, Nayra keluar dari kamarnya. Nayra melakukan kebiasaannya, yaitu memasak untuk sang Ibu. Walau terkadang, masakannya tidak dihargai, bahkan disentuh pun tidak. Nayra melakukannya dengan penuh keikhlasan.
Tap! Tap! Tap!
Suara hentakan kaki menuruni anak tangga, Nayra yakin itu pasti ibunya.
"Assalamu'alaikum bu," ujar Nayra sopan.
Tidak ada jawaban dari ibunya, Nayra tersenyum. Memang selalu begini, Nayra berusaha ikhlas.
"Bu, ini makan dulu!" ujar Nayra setelah menyiapkan semua masakannya.
Pyaar!
"Astaghfirullah," gumam Nayra.
"Ngapain sih kamu!" sentak Warda_ibu Nayra.
Nayra hanya menunduk takut, sudah beberapa piring masakan yang dipecahkan Warda. Tetapi, Nayra tetap tidak menyerah.
__ADS_1
"Kalau saya gak mau ya enggak!"
"Tapi bu ...."
"Jangan panggil saya dengan sebutan itu," ujar Warda penuh penekanan. "Kamu itu anak haram yang tidak diinginkan."
Setelah mengatakan itu, Warda keluar dari rumah. Padahal masih pagi, entah dia mau kemana?
Nayra? Jangan ditanyakan lagi, kini Nayra berlari ke kamarnya. Dia menggelar sajadah yang selalu dipakai, sajadah kesayangannya. Dia sering menyebutnya dengan Sajadah Cinta. Mengapa Nayra menyebut dengan Sajadah Cinta? Menurutnya, "di tempat inilah aku bersimpuh di saat aku lelah, tempatku bersujud."
Setelah lama bersujud, dia bangkit.
"Semangat Nayra!"
"Hamasah lillah!"
Nayra menyemangati dirinya sendiri, dia mampu menghadapi semuanya.
***
Di tempat lain, seorang pemuda sedang mengajar di pesantren. Pemuda itu sangat fokus mengajar, tanpa ada salah sedikit pun. Para santri pun nampak memperhatikannya dengan seksama.
"Kita akhiri kajian hari ini dengan sebuah pantun," ujar pemuda itu.
"Naam ustadz, tafadhol!" jawab para santri.
"Baca Quran hingga tamat,
Mesti Tartil bacaannya.
Dari Allah pencipta semesta."
"Aamiin ya mujibassailin," ujar para santri kompak.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Semua para santri bubar. Tetapi, tidak dengan pemuda tadi, dia duduk bersimpuh di atas sajadah. Pemuda itu mengucap lafadz Allah dengan khusyu'.
"Ustadz Zaki!" panggil seorang santri.
Zaki Muhammad Al-Amin.
Seorang ustadz muda di pesantren Al-falah, dia merupakan putra kyai pesantren. Zaki lulusan dari Al-Azhar, Mesir.
"Naam Rafi," jawab Zaki lembut.
"Ana mau nanya ustadz," ujar santri itu yang bernama Rafi.
"Tafadhol."
"Bagaimana cara agar hati kita tenang tadz?"
__ADS_1
"Kalam yang paling masyhur adalah hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang," jawab Zaki tersenyum.
"Cuma itu ustadz?"
"Iya Rafi, kita harus bermuhasabah diri dulu. mengoreksi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan," ujar Zaki.
"Jazakallah khayr."
"Wa jazakallah sholih."
"Ana permisi dulu, assalamualaikum," pamit Rafi mencium tangan Zaki.
"Naam, waalaikumussalam."
Setelah kepergian Rafi, Zaki teringat akan mimpinya tadi malam. Hadirnya seorang wanita dalam mimpi itu, wanita itu tersenyum pada Zaki. Tetapi, wajah wanita itu terhalangi oleh cahaya yang bersinar.
"Syifa," gumam Zaki.
Memang, dalam mimpinya terdapat tulisan nama Syifa. Zaki yakin, mungkin ini rencana Allah yang indah. Dia hanya bisa mendoakannya disepertiga malam.
Zaki mengeluarkan headset, menyetel lagu Disepertiga Malamku_Rey Mbayang.
Saat ku putuskan
Bertemu orang tuamu
Ku yakinkan diri
Kaulah yang terbaik
Dan saat kau memilih
Aku yang pantas untukmu
Hati ini berikrar
Tuk selalu menjagamu
Reff
Ku yakin kaulah jawaban
Disetiap pintaku
Walau ku belum tau namamu
Bisikan disujudku
Disepertiga malamku
Untuk....
Kehadiranmu sempurnakan imanku
__ADS_1
Zaki sangat menghayati lagu tersebut, ia pun sempat meneteskan air matanya. Tetapi, dengan cepat dia hapus.
"Semoga memang engkau jodohku kelak," gumam Zaki tersenyum.