Sajadah Cinta

Sajadah Cinta
Ustadzah baru?


__ADS_3

Katakanlah, memang cinta itu membuat hati gundah. Cinta itu memang wajar, tergantung manusianya sendiri yang menyikapi. Salah satu cara menyikapi cinta adalah jadikan cinta itu sebagai jalan ibadah.


Apa maksudnya? Pasti sahabat fillah sudah tau nih.


Jadikan cinta sebagai jalan ibadah dengan cara lebih semangat melaksanakan ibadah karena Allah Ta'ala., bukan karena sosok yang dicintai. Jangan sampai mencintai apa yang ada di duniawi melebihi cinta kepada Allah.


وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ


Arab-Latin: Wa mal-ḥayātud-dun-yā illā la'ibuw wa lahw, wa lad-dārul-ākhiratu khairul lillażīna yattaqụn, a fa lā ta'qilụn


Terjemahan Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?


Mengerti bukan maksudnya?


Hidup di dunia ini hanya hiburan, senda gurau. Jangan sampai terlena akan dunia yang sifatnya hanya sementara.


Back to cerita!


Kini, Zaki dan Azam tengah berada di ndalem (Rumah utama pondok pesantren). Dengan kitab yang berada ditangannya, mereka sangat fokus mempelajarinya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ujar umi Hafsah_ibu Zaki dan Azam


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," ujar mereka yang tidak lepas dari pandangan kitabnya.


"Zaki?" panggil umi Hafsah.


"Naam umi." Zaki mengalihkan pandangannya ke arah umi Hafsah.


"Nanti ada ustadzah baru yang akan mengajar di sini, tolong kamu buatkan identitasnya sebagai ustadzah di sini yah. Ini data dirinya," ujar umi Hafsah sambil menyondorkan berkas-berkas.

__ADS_1


"Naam umi sayang," ujar Zaki lembut.


"Uluh-uluh," ujar Abi Faizal_ayah Zaki dan Azam.


"Ada yang cembukur nih," sindir Azam.


"Ayo umi, jangan hiraukan nyamuk!" ketus Abi Faizal menarik Umi ke dalam kamar, sedangkan Zaki dan Azam menggelengkan kepalanya.


***


Di sisi lain, Nayra sedang merenung memikirkan apa yang dikatakan Warda.


Flashback on


"Kamu itu, sukanya habisin duit aja. Kerja sana! Biar dapet duit," bentak Warda.


Nayra hanya menunduk takut. jujur, dia sangat tidak suka dibentak. Tetapi, apa daya keadaan yang setiap harinya selalu dikasih makan bentakan.


"Anak yang tak diinginkan!"


Flashback off


Ucapan Warda selalu terngiang-ngiang dipikiran gadis itu. Untung saja Nayra sudah diterima menjadi ustadzah/guru di pondok pesantren Al-falah.


***


Keesokan harinya, Nayra bersiap-siap menuju pesantren. Dia menggunakan gamis lengkap dengan niqabnya, tidak lupa dengan kaos kaki dan sarung tangannya.


"Bu, Nayra berangkat dulu yah!" pamit Nayra santun.

__ADS_1


"Yaudah sana pergi!" ketus Warda, Nayra menghela nafasnya.


"Assalamu'alaikum," lirih Nayra.


Nayra berangkat dengan jalan kaki. Sebenarnya jarak pesantren dari rumah itu cukup jauh akan menempuh waktu 30 menit. Nayra menengok jam yang melingkar di tangannya, terpampang pukul 07:00. Dia memang berangkat sedikit pagi, agar tidak terlambat. Selain itu, jika berangkatnya terlalu siang pasti cuacanya panas.


Sesampainya di kawasan pondok, Nayra tak henti-hentinya mengucapkan syukur.


'Setidaknya ana bisa merasakan kehidupan pondok.' batin Nayra.


Nayra mengedarkan pandangannya, dia harus kemana? Kebetulan ada santriwati yang lewat.


"Afwan ukhti, ana mau nanya."


"Oh naam, bade tanglet nopo?" ujar santriwati itu dengan bahasa berlogat Jawa.


"Em, di mana letak ndalem?" tanya Nayra ragu.


"Dari sini, anti lurus saja terus di sana ada rumah utama bercat kuning emas."


"MasyaAllah, syukron katsira ukhti."


"Naam ukh, ana permisi!"


🚫Bonus


Ustadz Zaki


__ADS_1


Nayra Jauzaa Syafa



__ADS_2