
Michael membawaku ke sebuah hotel di kota Bangkok. Dia memesan kamar untuk beberapa hari. Aku mengikutinya menuju kamar tersebut. Ingin segera aku istirahat, namun aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Kini aku merasa sangat segar. Tubuhku kini sudah wangi, tak sabar rasanya untuk segera tidur namun aku mengunci kamar terlebih dahulu.
Sedangkan Michael, entah dia pergi kemana. Saat aku keluar dari kamar mandi, dia sudah tidak ada di ruangan ini.
Tak lupa pula aku mengabari Emak dan Bapak kalau aku sudah tiba di Bangkok dengan selamat. Mereka sangat bahagia dan berpesan agar aku bisa menjaga diri.
Akupun tertidur setelah berbicara dengan orang tua ku. Melepas semua rasa lelah dan akan menyambut kebahagiaan esok pagi.
***
Keesokan harinya, Michael memenuhi janji untuk mengajakku berkeliling. Kami yang sedang dimabuk cinta, tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Berbagai destinasi wisata kami kunjungi satu persatu.
Aku juga mencoba beberapa aneka kuliner, begitu juga dengan Michael. Kami pun saling tertawa bahagia.
Tapi ada satu hal yang membuatku kecewa. Michael tidak membawaku ke tempat tinggalnya. Dia berdalih belum siap untuk menjelaskan kepada keluarganya.
Gerak-gerik nya pun tidak ada yang mencurigakan, dia sangat romantis. Berbeda sekali dengan Bang Kasman yang hanya bisa membawaku ke pasar tradisional saja, itu pun hanya memberikanku satu buah baju saja.
__ADS_1
Michael berjanji akan segera meminang ku. Tampak dia menyematkan sebuah cincin di jari manis ku, menandakan dia akan serius dengan hubungan ini.
Ahh ... betapa bahagianya aku menikmati semua ini. Dia tampak begitu sempurna, bahkan tidak pernah aku temukan lelaki sepertinya.
Sudah seminggu aku berada di Bangkok. Michael menyuruhku agar segera kembali ke Indonesia, meski berat rasanya untuk berpisah.
Sebagai malam perpisahan, dia menginap di hotel bersamaku. Hingga aku tidak berdaya untuk menolak untuk tidur dengannya.
***
Tibalah hari perpisahan itu tiba. Michael mengantarku sampai terminal Hat Yai. Disana sudah ada orang yang bersamaku sebelumnya.
Michael juga menitipkan sebuah koper yang terkunci untuk di berikan kepada temannya di Jakarta. Menurut penuturannya, aku tidak perlu mencari alamat orang tersebut sebab dia akan menungguku di bandara.
Ada dua koper yang sedang ku bawa sekarang, satu koper merupakan aneka oleh-oleh untuk keluarga ku di kampung. Aku bersiap untuk berangkat. Tak lupa Michael mengecup keningku sebagai tanda perpisahan.
Akhirnya Bus pun berangkat menuju Kuala Lumpur. Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis mengenang saat-saat indah bersama Michael.
Tiba di perbatasan, aku mengurus administrasi di bagian Imigrasi. Beberapa barang di periksa namun tidak terlalu ketat. Barang-barang ku entah kenapa lolos begitu saja.
__ADS_1
***
Akhirnya kami tiba di Kuala Lumpur. Lelaki itu kemudian membelikan tiket pesawat dan mengantarkan ku ke bandara. Namun dia hanya bisa mengantarkan sampai pintu luar saja, selebihnya aku di suruh berusaha sendiri.
Aku bersusah payah membawa dua koper sekaligus. Tampak petugas bandara memeriksa tiket ku kemudian memeriksa barang bawaan.
Mereka kemudian menatapku dengan tatapan aneh, kemudian kembali memeriksa tubuh ku. Mereka mulai mengintrogasi dengan beberapa pertanyaan.
Tak berselang lama, beberapa polisi datang menghampiri ku. Aku sangat ketakutan dan bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Berapa terkejutnya aku, rupanya koper yang di titipkan Michel berisi narkoba sekitar 5kg lebih yang di bungkus dengan pakaian.
Aku menangis histeris sambil memohon ampun namun mereka tak mempedulikan. Tangan ku di borgol dan membawa ku ke kantor polisi Diraja Malaysia.
Aku terus menangis sambil memberikan keterangan. Namun tetap saja aku dinyatakan bersalah. Dengan barang bukti yang aku bawa, aku di dakwa sebagai pengedar.
Bayangan Emak, Bapak, serta Bang Kasman memenuhi pikiran ku. Aku menentang mereka dan mengabaikan semua sarannya. Aku telah dibutakan oleh cinta. Cinta yang berujung petaka.
Michael ... kenapa kamu begitu tega?. Kenapa kau membalas cintaku seperti ini?. Aku terus menangis membayangkan kekejaman dia terhadapku. Sungguh aku tak menyangka dia begitu tega membohongi hingga menjerumuskan ku ke penjara.
__ADS_1
Kini aku resmi di tahan bahkan terancam hukuman gantung. Itu artinya, umur ku tinggal menghitung hari. Oh Tuhan ... bagaimana kalau orang tua ku mengetahui hal ini.
Entah berapa lama aku menangis. Hingga semua terasa gelap. Saat terbangun, aku sudah berada di ruangan sempit dan gelap. Aku berharap semua ini mimpi buruk, namun semua ini nyata.