
Berbagai usaha sudah dilakukan oleh Pemerintah namun tetap saja aku tidak memperoleh pengampunan. Aku hanya bisa pasrah dan lebih sering mendekatkan diri kepada Tuhan agar aku tidak terbebani dosa yang terlalu banyak.
Hari ini aku di pindah ke jeruji yang lebih gelap tanpa pencahayaan. Mungkin bertujuan agar mengenal alam kubur terlebih dahulu sebab eksekusi tinggal beberapa hari lagi.
Tak kuasa aku menahan tangis di setiap beribadah. Ajalku sudah diambang mata. Tak bisa ku pungkiri kalau aku belum bisa menerima keputusan ini.
Hingga aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu Emak untuk terakhir kalinya. Itulah permintaan terakhirku sebelum menuju eksekusi.
Tak ku sia-siakan kesempatan ini. Aku memeluk Emak sambil terus menangis. Ku cium kakinya berkali-kali seraya mohon ampun dan mengikhlaskan kepergian ku.
Emak pun tak kuasa menahan tangis dan tidak rela aku mengalami eksekusi ini. Kening ku dicium berkali-kali dan memelukku sangat erat. Anak yang besarkan dengan penuh cinta, kini harus terenggut oleh hukuman.
__ADS_1
Sungguh berat rasanya aku berada di pelukan Emak. Ingin aku selalu berada di dekapannya, dan selalu mendengar apa yang diucapkan. Pertemuan sekaligus perpisahan yang begitu sakit menusuk jantung.
Aku kemudian menanyakan keberadaan Bapak. Sungguh begitu sangat menyakitkan dengan kabar yang ku dengar, Bapak terkena serangan jantung dan kini sudah kembali ke pangkuan Illahi.
Aku terus menjerit mendengar kabar ini. Emak akan kehilangan satu nyawa orang lagi yang sangat dicintainya. Mungkinkah Emak bisa menerima kenyataan pahit ini dan melanjutkan hari senja dengan seorang diri.
Aku menepuk dadaku berkali-kali, namun Emak berusaha menenangkan ku. Di belainya rambutku dengan penuh kasih sayang. Keegoisanku menghancurkan segalanya, menghancurkan perasaan kedua orangtuaku bahkan akulah pembunuh Bapak.
Kini kami harus kembali terpisah. Emak terus menjerit enggan melepaskan pelukannya. Akupun hanya bisa berucap minta maaf dan kembali menuju jeruji.
Tampak Emak terus menangis dan meronta agar bisa menggantikan posisi ku. Ya Tuhan ... aku telah melukai hati dan perasaannya, namun Emak masih memaafkan ku dan rela mengorbankan dirinya.
__ADS_1
Kedua kelopak mataku membengkak karena menangis. Teringat waktu masih kecil dan kenangan bersama orangtuaku. Dulu mereka rela untuk menahan lapar untukku. Teringat juga saat Emak dan Bapak menggendongku dengan penuh kasih sayang.
Emak, Bapak maafkan anakmu yang tak tahu balas budi ini. Maafkan aku yang selalu menentangmu bahkan membantah dengan apa yang kalian ucapkan. Maafkan aku yang selalu menyakiti kalian. Maafkan Mak, aku telah membunuh Bapak dengan kesalahanku.
Aku terus menjerit dan menangis tanpa henti. Ku remas beberapa rambutku dan menjambaknya sendiri. Sakit memang, namun itu tak sebanding dengan aku menyakiti keluargaku.
***
Hari itupun tiba. Aku berjalan dengan penutup kepala dan berpakaian serba hitam. Aku tak bisa melihat orang-orang di sekelilingku. Namun yang pasti, malaikat maut berada diantara mereka.
"Jlebb"
__ADS_1
Tamat.