Sang Penguasa Muda Cibuluh

Sang Penguasa Muda Cibuluh
Sebuah alat.


__ADS_3

Setelah Gregos melindungi daearah Cibuluh dengan ajian Katimura nya, dia pun bergegas pulang kerumah. Dia akan menceritakan niatnya yang akan pergi ke gunung Naga untuk mengambil pedang Antana.


Sesampainya disana dia melihat kedua temannya sedang berlatih ilmu bela diri yang sempat ia ajarkan.


"Aku ingin berbicara sesuatu."Greg mendudukan dirinya di sebuah kursi rotan yang berada di halaman belakang rumah.


"Kamu ingin membicarakan apa Greg?"tanya Ardini yang datang menghampiri Greg setelah dia memberhentikan kegiatan berlatihnya.


"Sepertinya serius sekali."Zilber juga turut serta menghampiri Greg.


"Dalam waktu dekat ini, aku akan pergi ke gunung Naga untuk mengambil sebuah pedang."ucap Greg.


"Pedang? pedang apa?"tanya Zilber.


"Pedang Antana, suatu saat pedang itu akan membantu kita kala menghadapi bangsa Divlon."ujar Greg.


"Kapan kau akan pergi?"Ardini menatap Greg serius.


"Secepatnya."


"Kalau begitu kami akan ikut bersama mu."ujar Zilber.


"Tidak perlu, lebih baik kalian berjaga saja disini. Mana tau ada warga yang membutuhkan pertolongan."


"Tapi kami menghawatirkan mu Greg, jika kau pergi seorang diri."Ardini menimpali.


"Kalian tidak perlu mencemaskan ku, aku bisa menjaga diri dengan baik. Aku juga sudah melindungi daerah ini dengan ajian Katimura ku, jadi untuk sementara daerah ini aman dari serangan mahluk itu."ujar Greg.

__ADS_1


"Baiklah jika memang itu adalah keputusan mu, tapi kau harus berhati-hati Greg, kau harus pulang dengan selamat."ucap Ardini.


"Akan ku usahakan."Greg tersenyum tipis.


"Lebih baik kita makan siang dahulu, aku sudah memasak untuk lalian."ajak Ardini.


Merekapun berjalan masuk kedalam rumah dengan beriringan, lalu merekapun makan bersama dengan lauk seadanya. Sesekali mereka bercanda ria untuk mengisi kekosongan, mereka memang sangat akrab. Karna di kampung Kadaya dulu, mereka adalah sahabat baik, mereka juga seumuran. Jadi mereka tumbuh dan besar bersama, hanya saja dulu Greg terkenal anak yang paling kuat dan kebal. Anak-anak yang lainnya pada menjauhi Greg, mereka tidak mau berteman dengannya karna mereka takut. Hanya Zilber dan Ardini lah yang selalu setia menemani Greg.


Setelah selesai makan, merekapun berkumpul di ruang keluarga. Mereka akan membahas tentang sebuah alat yang telah di ciptakan oleh Greg. Alat itu semacam sebuah suntikan besar tapi berwarna silver, jika suntikan itu di masukan air jernih maka otomatis air itu akan berubah menjadi silver.


"Alat ini akan membantu kita supaya kita bisa cepat berjaya, kita akan menanam berbagai jenis sayuran dan juga padi. Aku sudah membeli lahan disini dengan sisa uang yang ku punya."ucap Grag.


"Apa hubungannya alat ini dengan tanam menanam?"tanya Ardini yang belum mengerti.


"Alat ini akan membantu kita memperoses tanaman yang kita tanam cepat tumbuh dan juga cepat berbuah sehingga kita bisa cepat memanennya dalam waktu singkat. Kita akan memulai usaha baru, hidup ini perlu modal dan juga biaya, jadi sebisa mungkin kita harus punya usaha untuk bertahan hidup."Jelas Greg.


"Kau hebat Greg, kau selalu membuat ku terpukau dengan semua alat-alat ciptaan mu yang tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam benak ku. Kau memang jenius Greg, aku yakin suatu saat kau akan sukses dan menjadi seorang penguasa berkat kemampuan dan kecerdasan mu itu."ucap Zilber kagum.


"Kau memang lah hebat Greg dan kami akan selalu ada untuk mu sampai kapanpun, dalam suka maupun duka."Zilber berkata dengan sangat tulus.


Mereka pun lanjut berbincang dengan diselingi candaan nyeleneh Zilber yang orangnya memang rada somplak sedikit dan juga humoris. Di antara mereka bertiga memang ada satu perempuan yaitu Ardini, tapi meskipun begitu di antatara mereka tidak pernah ada yang namanya baper atau saling memendam rasa dengan kata lain juga cinta segitiga. Di dalam persahabatan mereka murni hanya sebatas sahabat yang saling menyayangi. Mereka berdua juga menganggap Ardini seperti seorang adik.


Tidak terasa matahari sudah tenggelam digantikan oleh gelapnya malam mencekam yang hanya di terangi oleh lantera yang berjejer di sudut rumah. Meskipun begitu mereka merasa nyaman dan juga damai berada di kampung ini, apalagi mereka di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan juga ramah.


Dirumah itu terdapat empat kamar, mereka menempati masing-masing satu kamar. Dengan satu kamar lagi mereka jadikan tempat penyimpanan alat-alat yang telah di buat oleh Gregos.


Jika kedua sahabatny telah berkelana di alam mimpi, lain halnya dengan Greg. Dia malah asik berlatih di atas atap rumah, disana dia menyempurnakan tenaga dalam yang ia miliki dengan menyerap energi malam yang asri, supaya tenaga dalam yang ia miliki bertambah kuat dan juga kokoh.

__ADS_1


Lengan kekar itu begitu lihainya memainkan sebuah tongkat besi panjang yang ujungnya runcing seperti tombak tajam, dia terus mengoper tongkat intu dari tangan hingga ke kaki. Sesekali dia memutarnya dengan menggunakan jempol kaki dia mencapitnya di tengah-tengah dia juga memutarkannya sembari rebahan di atas atap.


Greg berada di atas atap sampai matahari kembali bersinar terang, dia hanya memejamkan matanya sebentar karna dia sibuk menyerap energi pada malam hari yang sangat bagus untuk daya tahan tubuhnya dan juga tenaga dalamnya.


"Kau tidur di atap lagi Greg?"tanya Ardini yang tengah memasak sarapan.


"Ya."Jawab Greg singkat.


"Apa itu tidak dingin?"tanya Ardini lagi.


"Tidak, justru udara malam sangat menyegarkan untuk tubuh."ujar Greg.


"Menyegarkan bagimu, tapi buat kami itu akan membuat kami meriang karna masuk angin."ucap Zilber yang baru saja menghampiri mereka.


"Cobalah dahulu, aku yakin kau pasti akan menyukai udara malah."


"Oh tidak mau, aku tidak mau menantang diriku untuk sakit. Sakit itu tidak enak, yang enak itu lontong dan juga gorengan buatan Ardini."ucap Zilber sembari mengambil satu lontong yang baru saja Ardini keluarkan dari kukusan.


"Aw aw, panas sekali."Zilber langsung menjatuhkan lontong itu kembali.


"Kamu tidak lihat jika asap ini masih mengepul? tanda lontong inu masih panas. Main comot aja itu tangan."gerutu Ardini.


"Maaf, aku pikir sudah dingin. Habisnya perutku sudah meronta meminta diisi."cengenges Zilber.


"Kamu memang sangat tidak sabaran."Ardini mengambil beberapa lontong untuk di taruhnya di piring.


"Ini ambil dan ini gorengannya sekalian."Ardini menyerahkan sebuah piring berisi lontong dan juga gorengan pada Zilber.

__ADS_1


"Minumnya sekalian Din."pinta Zilber.


"Ambil sendiri saja, kenapa menyuruhku. Memangnya aku pembantumu? sudah bagus aku ambilkan itu, sekarang malah menyuruhku lagi."gerutu Ardini sembari melangkah pergi meninggalkan mereka.


__ADS_2