
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Greg pun memutuskan untuk menggunakan ajiannya saja, dia akan melesat di udara untuk melewati bukit taritih yang di penuhi ribuan ular itu, tak lupa juga dia membawa Draco untuk melesat dengan merangkul bahunya.
"Woahhh, menakjubkan sekali Greg, tapi kepalaku pusing." ucap Draco saat mereka berada di atas udara.
"Kau belum terbiasa." Greg mendarat lumayan jauh dari bukit itu.
"Kenapa tidak kau lanjutkan sampai ke gunung naga? Greg." heran Draco.
"Aku harus menghemat energi untuk melawan kedua naga itu nanti." Greg berjalan mendahului Draco.
"Hah, iya juga ya. Kita harus bertarung melawan naga itu." Draco berjalan menyusul Greg.
"Kita sudah sampai di batu nungul." ucap Greg saat dirinya melihat hamparan batu besar di depan mereka.
"Kita harus hati-hati, biasanya tempat tenang seperti ini selalu menyimpan bahaya yang mengintai." ujar Draco.
"Kita berjalan saja sembari mengawasi sekitar." Greg melangkah kembali.
"Ya," Draco menyusul untuk mengimbangi langkah Greg.
Mereka berjalan di atas bebatuan besar yang begitu tenang dengan semilir angin yang menyegarkan tubuh, Hamparan batu besar itu terlihat begitu luas, hingga membuat mereka merasa lelah. Saat mereka berada di tengah hamparan batu itu, satu batu bergerak, tak lama batu itu terguling kesamping lalu munculah sesosok mahluk mirip seekor kadal raksasa karna berukuran besar, badannya hijau pekat dengan gigi runcing yang tajam. Matanya besar membulat dan menatap mereka seakan ingin menyerang saja. Mahluk itu terlihat sangat mengerikan dengan bau aneh yang menyeruak.
"Mahluk apa itu Drac?" Greg menatap Greg.
"Sepertinya mahluk itu adalah yang di ceritakan dalam lagenda kuno jaman Nini Komot. Mahluk itu diceritakan sangat ganas dan suka memangsa bangsa manusia. Sepertinya dia terbangun dari tidurnya karna kehadiran kita, karna batu kita lah yang menginjakan kaki di daerah sini setelah para leluhur kita."Jelas Draco.
"Apa kita harus membunuh mahluk itu?" Greg bertanya kembali.
"Sebentar." Draco membuka sebuah buku yang nampak sudah usang.
"Disini tertulis hanya seseorang yang mempunyai tanda bintang di tangannya lah yang bisa memusnahkan mahluk itu dan merubahnya menjadi sebuah permata kala dia sudah binasa. Permata itu bisa membuat orang itu semakin kuat juga tidak terkalahkan." Draco membaca buku itu.
"Tanda bintang?" Greg menatap Draco serius.
"Yah, bukankah kau punya tanda itu? Berati kau lah orangnya."Draco membalas tatapan Greg.
" Cepat lawan dia Greg, dia mulai mendekat."pekik Draco.
__ADS_1
Greg pun mulai mengambil ancang-ancang, dia menarik nafas panjang kemudian dia hembuskan dengan kasar. Greg mengeluarkan belati perak dari balik bajunya untuk melawan kadal raksasa itu yang ukurannya lima kali lipat dari tubuhnya.
Grok, grok, grok. Suara kadal raksasa itu begitu menggema di hamparan batu nungul, kadal itu berlari semakin cepat menghampiri Greg.
Sretttt,
Sretttt,
Greg melompat keatas tubuh kadal itu, kemudian dia menyayat punggung kadal itu dengan belati peraknya, dia menyayat dengan beberapa sayatan yang cukup dalam sehingga darah hijau segar pun mengalir dari punggung kadal itu dengan begitu deras, kenapa darahnya hijau? batin Greg bertanya-tanya.
Setelah menyayat punggungnya Greg beralih melompat keatas kepalanya, kemudian dia menusuk-nusukan belatinya dia atas kepala kadal itu.
Bruukkk.
Greg terlempar cukup jauh kala kadal itu mengamuk, tubuhnya terpental ke bebatuan besar. Sakit memang, tapi Greg tetap bangkit kembali, dia berlari menghampiri kadal yang kini tengah menyerang Draco sehingga membuat tangan pemuda itu terluka dan mengalirkan darah segar.
Dukk,
Greg melompat kembali keatas tubuh kadal itu, kali ini dia menusuk tubuh kadal itu dengan membabi buta.
BRUUKK,
"Akhh, kadal itu kuat sekali." gumam Greg.
Kadal itu berlari menghampiri Greg yang tengah terbaring di bebatuan, Greg pun segera bangkit, lalu ia mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menyerang kadal buas yang tengah menganga siap menyantapnya itu.
Wusss,
Satu kali serangan api, kadal itu masih bertahan dan tetap menghampirinya.
Whuss,
Kedua kakinya, tetap saja kadal itu tidak tumbang, dia malah semakin mempercepat jalannya kearah Greg, mungkin juga karna bau anyir darah Draco yang berada di dekat Greg membuat kadal itu semakin kuat. Bahkan luka-lukanya sudah menghilang.
"Matilah kita Greg, ternyata ajian mu tidak mempan untuk kadal purba itu." lirih Draco yang sedang memegangi tangannya.
Dan benar saja, kadak itu sudah berada di hadapan Greg, dengan sepontan Greg pun menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya.
__ADS_1
Whuuus,
Blussss,
DUARR.
Sebuah sinar putih terpancar dari kedua tanda bintang yang ada di tangan Greg, cahaya itu seketika memantul menghantam tubuh sang kadal sehingga membuat kadal itu terbakar dan hancur meledak.
"Wuahhh, hebat Greg. Ternyata benar, tanda di tangan mu bisa menghancurkan kadal purba itu." seru Draco yang kembali bersemangat.
"Luar biasa, ternyata tanda bintang di tangan ku terdapat sebuah kekuatan besar." Greg menatap tanda di tangannya tak percaya.
"Kau akan semakin kuat Greg." Draco menghampiri Greg.
"Lihatlah, tubuh kadal yang hancur itu sudah berubah menjadi permata." Draco menunjuk sebuah permata biru yang mengapung di udara.
"Harus ku apakan permata itu Drac?" tanya Greg.
"Ambilah," ucap Draco.
Greg pun mendekati permata itu, lalu dia meraihnya dan seketika permata itu menghilang.
"Kenapa menghilang? apa yang terjadi?" bingung Greg.
"Permata itu tidak hilang, tapi telah masuk dan bersemayam di tubuhmu. Semua kekuatan yang kau punya kini telah sempurna dan bertambah besar, aku yakin kau akan mengalahkan kedua naga itu dalam sekali serangan saja." ujar Draco.
"Pantas saja aku merasa tubuhku menjadi lebih kuat dan juga bugar, aku tidak merasa lemas atau lelah lagi." Greg memandangi seluruh tubuhnya.
"Calon penguasa cibuluh telah tiba." seru Draco.
"Terlalu tinggi jika menjadi seorang penguasa, tidak mungkin aku akan seperti itu, banyak yang lebih kuat dariku di luar sana." Greg mendudukan dirinya di atas bebatuan besar.
"Tidak ada yang tidak mungkin, aku yakin suatu saat nanti kau akan menjadi seorang penguasa seperti apa yang telah tertulis dalam primbon kuno." Draco ikut mendudukan dirinya disamping Greg.
"Hm, aku tak mau berharap terlalu tinggi, aku akan mengikuti saja arah takdir membawaku."
"Sini tangan mu."
__ADS_1
Draco pun mengulurkan tangannya, Greg mencoba ajian Kaweninya yang dulu belum sempurna, sebuah cahaya biru keluar dari telapak tangan Greg kemudian ia arahkan cahaya itu pada tangan Draco yang terkuka.
"Kau benar, ajian yang ku punya telah sempurna." Greg menatap tangan Draco yang sudah sembuh tanpa bekas sedikitpun, tangan itu kembali seperti sedia kala.