
Hari ini Gregos akan berangkat ke Gunung Naga untuk mengambil Pedang Antana, perjalanan kesana akan memakan waktu yang cukup lama. Maka dari itu Gregos menambah perlindungan di daerah Cibuluh. Dia takut kala dirinya pergi bangsa itu akan menyerang daerah Cibuluh.
"Berhati-hatilah di jalan Greg, pulanglah kembali dengan selamat."ucap Ardini.
"Kamu tenang saja, aku akan berhati-hati."Greg tersenyum tipis.
"Jika kamu tidak sanggup melawan Naga itu, maka pulanglah Greg, takutnya nanti kamu malah di makan oleh Naga itu."Zilber menepuk bahu Greg.
"Aku tidak akan di makan oleh Naga itu, yang ada aku yang akan menjadikan Naga itu menjadi sate."Greg bangkit dari duduknya.
"Aku berangkat dulu, jangan menghawatirkan ku. Aku akan baik-baik saja. Jagalah diri kalian baik-baik."Greg melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
"Kami akan merindukan mu Greg, cepatlah kembali."Zilber menatap kepergian Greg dengan berkaca-kaca.
"Cengeng sekali kamu, seperti wanita saja."ledek Ardini.
"Aku sedih Din, memangnya kamu tidak sedih?"Zilber menatap Ardini heran.
"Sedih, tapi tidak sampai menangis juga seperti mu."Ardini melangkah pergi meninggalkan Zilber yang masih terisak.
"Mengapa aku cengeng sekali? Ardini saja tidak menangis, masa aku menangis malu kan sama jenggot."Zilber buru-buru menghapus air matanya.
*************
Gregos berjalan menuruni tebing yang begitu terjal dan juga berliku, dia bisa saja melesat supaya cepat sampai di tempat itu. Tapi dia memilih berjalan saja supaya energinya tidak berkurang. Dia akan menggunakan kekuatannya di kala darurat saja.
"Lurus, lalu belok kiri."Grag mengamati peta pemberian pemimpin daerah Cibuluh.
Dia pun kembali berjalan dengan mengikuti arahan peta itu. Panas matahari begitu terik, sehingga terasa menyengat di permukaan kulit Gregos. Pemuda itu tampak menyeka keringat yang mulai bercucuran dari keningnya.
"Haus sekali."gumam Greg sembari melihat sekelilingnya.
"Sepertinya disana terdapat mata air."Greg melihat kebawah, terdengar suara gemericik air mengalir.
Gregos pun berjalan menuruni tebing untuk menuju ke arah mata air itu. Setelah sedikit lagi sampai, Gregos pun melompat melewati beberapa semak yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Jernih sekali."ucap Greg saat dirinya melihat air sungai kecil yang mengalir perlahan dan juga begitu jernih.
"Akhh, segarnya."Greg meminum air itu dengan menggunakan tangan yang di satukan sebagai wadah penampungan.
Krek,
Terdengar suara ranting yang terinjak.
"SIAPA ITU?"teriak Greg.
"Oh, rupanya kau manusia. Aku pikir hewan buas."ujar seorang pria yang baru saja keluar dari dalam semak belukar.
"Maaf anda ini siapa?"tanya Greg sembari memandang pria itu yang kira-kira sedikit lebih tua darinya.
"Aku hanyalah seorang pengembara yang sedang berburu."jawab pria itu.
"Kau sendiri sedang apa disini?"tanyanya pada Greg.
"Aku hanya sedang meminum air sungai ini saja, tadi di perjalanan aku haus, kebetulan aku melewati sungai ini."ujar Greg.
"Memangnya kamu hendak melakukan perjalanan kemana?"pria itu tampak memperhatikan Greg.
"Apa aku boleh ikut dengan mu?"
"Ikut?"
"Ya, aku tidak punya kegiatan apapun. Jadi aku merasa bosan. boleh kan aku ikut dengan mu?"
"Tapi disana sangat berbahaya."
"Tidak papa, aku sudah terbiasa menghadapi bahaya."ujarnya.
"Baiklah kau boleh ikut,"ucap Grag.
"Dan oh ya, nama mu siapa?"sambung Greg.
__ADS_1
"Ah iya, kita belum berkenalan. Nama ku Draco Kalakai Awi."Draco mengulurkan tangannya.
"Gregos Aldwin Galatama."
Setelah berkenalan merekapun lanjut berbincang, yang berakhir membahas bangsa Divlon yang tengah merajalela dan juga membuat bangsa manusia terancam punah akibat serangan berbagai Virus juga penyerap energi.
Draco yang memang pada dasarnya ingin menghancurkan bangsa itu, kini dia seperti mendapat angin segar, dia menawarkan diri untuk membantu Greg dalam menghadapi bangsa Divlon, dia juga akan menemani Greg pergi ke Gunung Naga untuk mengambil pedang Antana.
Greg pun menyetujuinya, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan curam dan berliku menuju ke Gunung itu. Berbagai macam rintangan dan juga marah bahaya menghalangi jalan mereka untuk sampai ketempat tujuan. Dari mulai serangan lintas raksasa penghisap darah sampai kalajengking raksasa pula yang mempunyai racun sangat mematikan.
Untung saja kedua pemuda itu dapat mengalahkan kedua hewan raksasa yang menghalangi jalannya, meskipun tubuh mereka terasa lemas karna tenaga mereka terkuras.
"Huff,"Greg menarik nafas panjang, kemudian dia memejamkan matanya, lalu dia menggunakan salah satu ajiannya untuk menyerap energi matahari supaya tenaganya kembali pulih dan menjadi kuat kembali.
"Sepertinya kau bukanlah orang biasa."ucap Draco yang tengah bersandar di pohon.
"Maksud mu?"bungung Greg.
"Ilmu yang kau kuasai bukanlah ilmu sembarangan, hanya orang tertentu dan juga terpilih saja yang bisa menggunakan ajian itu dengan sempurna."ujar Draco.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Yang pasti aku hanya mempelajari beberapa ilmu saja dan yang lainnya itu datang secara tiba-tiba saat aku keluar dari daerah tempat tinggal ku."Gregos kini sudah kembali bugar dan bertenaga.
"Mungkin kau adalah orang pilihan yang akan menjadi penguasa terkuat suata saat nanti."Draco tersenyum simpul sembari menepuk bahu Greg kemudian mereka bangkit untuk melanjutkan perjalanan kembali.
Hari sudah semakin sore, mataharipun sebentar lagi akan tenggelam. Tapi kedua pemuda itu masih belum sampai di tempat tujuan mereka, seperempatnya juga belum. Tempat yang mereka tuju sangatlah jauh dan juga jalan yang dilewati mengandung banyak sekali marah bahaya, jadi mereka harus ekstra hati-hati.
Di hadapan mereka berdirilah sebuah bukit hijau nan cantik, pohon rindang hijau subur berjejer cantik di bawah bukit itu, rumput hijau yang menempel di bebatuan semakin memperindah panorama bukit itu, apalagi banyak sekali bunga berwarna ungu yang begitu kecil mungil tapi sangat cantik bertebaran di antara rumput hijau. Lengkaplah sudah keindahan yang terpampang di ketinggian bukit itu. Tapi jangan lengah dan juga terlena, karna di balik sesuatu yang indah biasanya akan tersimpan sesuatu yang sangat mengejutkan, bahkan mengerikan mungkin.
"Bukit Taritih, terlihat damai tapi bukit ini adalah tempat tinggal ribuan ular berbisa dan bisanya itu akan membuat manusia mati dalam beberapa detik saja."ucap Draco sembari menatap kearah bukut itu.
"Apakah ada jalan lain untuk menuju Gunung Naga, selain melewati bukit ini?"tanya Greg pada Draco yang lebih mengenal seluk beluk daerah cibuluh.
"Tidak ada, hanya bukit inilah jalan satu-satunya untuk menuju ketempat itu. Makannya tempat itu tak pernah terjamah oleh manusia, karna mereka tidak ada yang selamat saat melewati bukit ini."Jelas Draco.
"Sepertinya aku harus menggunakan ajian ku untuk melewati tempat ini, meskipun nantinya energi ku akan berkurang kembali."ujar Greg.
__ADS_1
"Lebih baik berkurang, daripada nyawa mu melayang. Toh kamu masih bisa mengisi energi mu kembali dengan cahaya bulan dan juga matahari bukan?"
"Hm."