
"assalamualaikum" sapaku saat masuk kamar asramaku, ku lihat 3 teman yang lain lagi pada kumpul santuy
"hai... Mba Anna" jawab mereka kompak kegirangan, sambil berhambur ke pelukanku
" kangenn Mba An lama amat di kampung" lanjut temanku yang bernama Ratih,
" walaikumsalam dulu lah, jawab salam hukumnya wajib" hardikku
"walaikumsalam" jawab mereka serempak ahirnya sambil hormat takdzim, hahaha aku Ampe ngakak, kami emang gitu, mungkin Tuhan tahu ya makanya menggabungkan kami dalam satu kamar anak2 yang gag ada jaim2 nya.
"Kalian kangen aku?? orangnya, apa ghibahannya??" cecarku sambil memincingkan mataku,
" orangnya si gag begitu, tapi penasaran sama cerita nikahannya Mba Acha, utamanya" seloroh temanku lagi yang bernama indah, ini si nama doang yang indah, orangnya mana ada indah2nya, cerewet pool kaya bebek Wek Wek Mulu, tapi kalo gag ada dia mana rame kamar kami, secara dia seheri alias suka heboh sendiri.
"ok fine, gag aku kasih oleh2 ya" nada ketusku sekaligus ancaman,
" wuish,, janganla marah2, tak baek..." kata indah sambil menirukan logat Upin Ipin.
Dan, mengalirlah ceritaku tentang nikahannya Mba Acha, dari acara ijab kobul hingga sungkeman, ya dan terang lah aku skip cerita keluarga aku sendiri yang julid_in aku dan banding2in aku ama mba Acha, Ampe sekarang aja masih sakit kok rasanya kalo inget, sampai dalam hati aku mengancam, awas aja suatu saat kalo aku dapet suami sekelas sultan, huh.
"hmmm melted banget si pingiiin jadi iri" komentar Ratih,
" Mba Acha tu gitu ya suka banget bikin ora jadi iri" kata indah
" pingin juga ya ngalamin begitu, sederhana tapi penuh makna" teman satu lagi ni namanya tari, dia mah pendiam, tapi sekali ngomong jangan salah bisa mematahkan sayap2, apasih aku.
" Yeeee, semua juga tergantung amal dan perbuatannya tau!!" kataku
" amal ibadah juga" imbuh indah
"aku bakal rajin sholat di sepertiga malam, biar dapet jodohnya dari sepertiga malam juga" aseeekkk Ratih mah pinter berkosa kata,
pecahlah tawa kami padahal sudah malam tp kami malah ngrumpi,.
__ADS_1
"assalamualaikum, Sholehah nya umi semua, ambil wudhu, matikan lampu dan tidur" tumben kan umi zizah galak, jelas lah kami ngrumpi kaya orang di hutan kenceng2an suara.
Seperti biasa aktivitas ku di pesantren, belajar ke sekolah, lalu kegiatan pesantrennya selepas sekolah, rutinitas yang biasa kami lakukan sebagai santri disini, yang harus menerapkan visi rajin, cekatan,dan religius. kadang aku juga bertemu Mba Acha, karena dia juga di tugaskan untuk menyimak hafalan dan bacaan Qur'an kami,
Mba Acha si kuliah yang non reguler, cuma Sabtu Minggu doang berangkatnya,, sayang ya padahal pinter, udah gitu ambil jurusan PGSD, kan soalnya dia sambil bantu ngajar di Madrasah Ibtidaiyah, yang ada di pesantren juga, disini emang menyatu dari sekolah dasar Ampe SMA/MA, di bawah naungan pesantren karna satu yayasan, biar memudahkan para santri untuk mengenyam pendidikan dunia dan akhiratnya dapet juga,
Tapi bukan cuma kami yang di pesantren, yang di luar pesantren juga bisa sekolah disini, kan buat halayak masyarakat sekitar atau dari lain kecamatan juga banyak, bagus si sistem pendidikan nya, fasilitas juga istimewa, dari Ac, komputer, lab IPA, juga komplit, kalo yang MA juga ada jurusannya, IPA,IPS, BAHASA (Arab), jangan di tanya lagi luas banget lah gedungnya, ya sepadan sama bayarannya, kan ada harga ada kualitas wkwkwk.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sampai pada ujian akhir semester ganjil/1, berati sudah 6 bulan pernikahan Mba Acha, aku lihat sekarang dia kaya orang yang gag sehat saat kami berpapasan di sekolah karna dia baru selesai ngajar kayaknya, karena waktu juga mendekati istirahat ke 2 untuk sholat Dzuhur.
Aku berlari kearahnya karna aku lihat wajahnya pucat dan seperti tak punya tenaga,
" Mba Acha"panggilku setengah berteriak takut dia gag dengar karna jarak, dia menengok ke arahku sambil tersenyum,
"An, mau ke masjid juga" tanyanya setelah aku mendekat, aku mengangguk sebagai jawaban.
"Mba Acha sakit, lemes gini" keluhku sambil aku menggandeng tangannya dan kita beriringan masuk ke dalam masjid,
"nanti aku cerita ya An abis sholat, gih siap2 biar dapet jama'ahanya". Akhirnya kita mengambil wudhu dan bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah, kalo kita kaum pesantren pasti berebut untuk sholat jamaah karena tahu keistimewaannya, apalagi dapet shaf depan, wuish asli kaya dapet lotre, jadi ingat kata pak ustadz seandainya seluruh kaum muslim tau keistimewaannya ibadah sholat berjamaah, dan hadiahnya berupa emas, maka mereka akan rela berebut sampai berdesakan bahkan jika sampe terluka mereka akan ikhlas, padahal pahala yang Alloh janjikan lebih mulia dari pada emas permata, makanya kalo kaum kami paham, anak pesantren kan, wkwkwk.
"Kamu gag masuk kelas An?" malah balik tanya si ini orang kan aku was was
" kosong jam terakhir, katanya Bu Nunung lagi ada acara,cuma di kasih tugas doang" jelasku
"aku gag papa An, Alhamdulillah Alloh kasih kepercayaan buat aku jadi wanita istimewa" heh, aku mengerutkan keningku karena heran dan gag maksud apa yang di sampaikan Mba Acha.
"Sebenar_benarnya perempuan An, aku hamil" katanya sambil senyum2 kaya orang malu2 gimana gitu
"wuahhh" kataku speechless, sambil menutup mulutku dengan ke dua tanganku, rasanya gimana y ikut bahagia, " selamat Mba Acha" kataku sambil ku genggam tangannya dan ku goyang2kan, rasanya gimana y, kaya gag percaya gitu di umurnya yang hampir 19th udah hamil, tapi aku cuma membatin.
"Mama udah tau?? kamu udah kasih kabar ke orang rumah, udah berapa bulan si?" cerocosku kan saking penasarannya,
"aku aja baru tau seminggu ini, karna sering mual2, aku pikir masuk angin, belum sempat kasih kabar An, karena nikmat sekali orang awal2 hamil" jelasnya
__ADS_1
" berat ya Mba? sakit kah?" aku dong yang tanya kan kita emang menepi di pinggiran masjid sambil duduk santai.
"kaya orang masuk angin An, mual rasanya, badan sakit semua kaya orang habis di gebukin"
"emang Mba Acha pernah di gebukin orang?"
"nglawak kamu, nanti juga kamu ngrasain sendiri" Yaya suatu saat tapi jangan dalam waktu dekat juga, kan bermimpi berkarier dulu, suara batinku meronta,
" telfon mama si Mba, pasti bahagia banget, kebayang kan bakal kaya apa senengnya" suruhku
"nanti kata mas Zaki dia yang bakal ngabarin"
" hmmm melted, romantis banget suami si ibu" ledekku
" heem An makin di sayang suami ama ibu mertua, aku jadi ikutan bahagia rasanya kaya gimana ya An seneng aja bisa ngasih mereka kebahagiaan yang sempurna"jelasnya
" hmmmm uwwuw bgt si" kataku sambil melirik Kya ngledek gitu lah expresiku ikut bahagia
" jadi aku spesial ya, aku di kasih tau dulu dari pada orang rumah"
" heh kamu tu tipe kepo maximal si kalo gag di kasih tau bakal nyrocos terus" katanya dan itu membuat kami tertawa.
" sudah ngrumpinya??" jeda orang yang bertanya di hadapan kami,dan saat ku angkat kepalaku aku sampai bengong, ustadz Zaki, suami Mba Acha, seperti biasa ganteng maximal, sampai mba Acha menyikut lenganku karepa aku terpesona, ini kali keduaku ketemu dengan nya, dan semakin mengagumkan, apa si aku ini.
"maaf dek Anna, Acha nya aku bawa pulang ya, soalnya dia sering kecapean" katanya wah perhatiannya.
"silahkan ustadz" kataku mempersilah kan mba Acha di bawa pulang
"dek Anna main kerumah sesekali, temenin Acha nya, biar gag ngeluh sendirian, bosen katanya"
"insyaallah ustadz, kapan2 main"
"Acha ngeyelan si orangnya di kata suruh libur dulu, jangan ngajar tp gag mau" keluhan pak ustadz tu malah bikin orang baper
__ADS_1
"kasian anak2 mas, nanti kosong gag ada yang ngajar, lagian masih ok kok akunya" hmm malah pamer kisah klasik, jiwa jomblo meronta bunda, heh mana ada pacaran anak pesantren mah, di larang keras.