
3 bulan berlalu terakhir waktu aku ketemu sama Mba Acha dan suaminya, saat kami sedang menikmati makan siang di kantin sekolah ku tiba2 ada guru yang datang mengabarkan kalo aku harus ijin pulang lebih awal karena Mba Acha masuk rumah sakit.
Dengan harap harap cemas aku di antar salah satu satpam sekolahku menuju ke rumah sakit yang jaraknya lumayan lah karena ditempuh dengan jarak 1/4 jam dengan sepeda motor, saat aku sampai di rumah sakit dengan sedikit bingung, sebenarnya tujuan pertamaku bertanya pada receptionis rumah sakit.
" Anna" tiba\_tiba ada suara yang memanggil namaku, aku juga gag begitu yakin itu di tujukan untukku karena nama Anna kan menjamur di Indonesia, tapi saat ku tengok ternyata umi Maryam, mertua mba Acha,
" assalamualaikum umi" sapaku sambil menyalami dan mencium tangannya,
"walaikumsalam, baru sampai?" tanyanya dan ku anggukkan kepalaku sebagai pertanda iya,
" untung umi habis Nebus obatnya Acha, kamu pasti bingung ya?"
" hmmm, tapi Mba Acha nya gag kenapa-kenapa kan umi" jelas kewatir kan akunya
" gag cuma kecapean,dan harus badrest" jawaban umi tentu tidak serta Merta membuatku tenang kan aku belum lihat sendiri, kami berjalan menyusuri jalanan berlorong untuk sampai di kamar rawat Mba Acha, ruang anggrek namanya.
Sungguh aku heran saat aku sampai di ruang rawat, yang di situ ternyata sudah ada bundaku dan Mama Ita,
" Bunda, Mama??" sapaku sumpah kaya surprise,
"An, kamu udah sampai?" jeda bunda sebelum melanjutkan kalimatnya kembali sambil aku Salim ke Bunda juga Mama.
" tadi bunda yg telfon wali kelas kamu,dan minta tolong supaya di antar satpam" pantas dapat pelayanan VIP, pasti Mandang mertuanya Mba Acha juga tu wali kelasku.
"Mba Acha gimana kondisinya?" tanyaku sambil duduk di tengah antara Bundaku dan Mama.
" Kata dokter kandungannya lemah An, jadi harus istirahat total, dan gag boleh gerak yang berlebihan" jawab Mama dengan wajah yang sedih aku juga rasanya ikut pingin nangis.
__ADS_1
" Sabar ya ma, pasti Mba Acha baik2 aja, kan udah di tangani dokter" kataku sedikit ingin menenangkan Mama walaupun masih gag ngaruh apa2,
"belum jam besuk An, jadi kamu belum boleh masuk, Mba Acha juga lagi tidur" pemberitahuan bundaku yang aku angguki tanda aku setuju,
Saat aku mengintip ke dalam ruang rawat, Mba Acha di temani oleh suaminya, senangnya Mba Acha banyak yang sayang, aku salah satunya,
" An nanti kalo Acha udah di bolehin pulang, kamu sering main y ke rumah Acha, biar ada temennya, kalo cuma umi yang nemenin kan Acha bosen" pinta umi Maryam padaku.
"Acha mau ijin gag ngajar dulu untuk sementara, jadi kalo kamu bisa Dateng ke rumah kan Acha pasti seneng" lanjut umi Maryam, "boleh ajak teman2ku juga umi" pintaku, masih segan juga si kan malu kalo sendiri, takut salting kan jadinya gag nyaman, ya kali kalo rumahnya Mba Acha yang di kampung si bebas ae, bisa senyamannya.
" boleh la An, malah rame" saut umi yang membuat aku lega.
" ia An temani Mba Acha,kasian sendiri, suaminya kan sibuk, kalo Mama kan gag bisa tiap hari disini, jadi Mama mohon ya An sering2 di tengok Mba Acha" yaelah mama bikin sedih si,
"insyaallah ma, kan sebentar lagi sibuk UN ma, pengayaan, dan ujian sekolah sebentar lagi" aku sedikit kasih pengertian,takutnya kan emang gag bisa main ke rumahnya,
"insyaallah ya mi Anna usahain".
Akhirnya setelah 4 hari mba Acha di rawat dan di bolehin pulang, aku juga ikut antar Mba Acha ke rumahnya, karena setiap pulang sekolah aku langsung ijin ke rumah sakit, tentu saja umi zizah kasih ijin, yang penting pulang sebelum Maghrib.
Alasannya bukan karena Mba Acha, tapi lebih ke nemenin mama Ita kasian sendirian kan bunda udah pulang kampung,
"nah An kalo kesini sendirian udah paham kan jalannya, gag jauh juga dari pesantren,nanti umi yang izinin ke umi zizah" kata umi Maryam, gag tau kenapa hati ini justru gag merasa gag nyaman aja kalo2 nanti emang beneran main ke rumah ini, ada hal yang sedikit membuat curiga tapi entah apa," insyaallah umi," jawabku sekenanya, pusing juga mau jawab apa.
Hari Sabtu karena weekend dan kita libur, aku mengajak Ratih indah dan tari ke rumah Mba Acha karena dia ngabarin umi zizah lewat umi Maryam yang nyuruh aku ke rumah,
Seharian kami habiskan dengan membuat kue yang mba Acha instruksikan kami si cuma menuruti langkah2 yang dia ajarkan, mba Acha mah duduk anteng sambil ngasih tau apa yang harus kami kerjakan, langkah2 dalam pembuatan kue bolu pisang, doyan katanya ustadz Zaki, gitu emang ya jadi istri, harus tau menahu urusan suami dari urusan perut hingga ***** bengek ya.
__ADS_1
"kalo mau di sayang suami, belajar pinter masak,biar suami tau kita kasih pelayanan maximal" kata mba Acha yang sontak membuat kami tertawa, "kalian kan udah dapet dong pelajaran tentang hukum pernikahan, gag sulit kalo udah ngejalaninnya kok" lanjut mba Acha
" cie..cie.. yang udah jadi emak2" celetuk tari, dan ahirnya keseruan kami berubah jadi jaim maximal karena kepulangan ustadz Zaki,
setelah rapi dengan urusan nya, beliau bergabung dengan kami, " jadi rame ya rumah, seru juga" kami si cuma cengengesan kikuk bgt rasanya ampun deh, apalagi tari yang melongo terus liatin ustadz Zaki Ampe mupeng, pingin gue timpuk biar sadar dia suami orang.
"Alhamdulillah kedatangan bidadari2 nya Alloh" katanya lagi yang sontak membuat tari kegirangan, " emang cantik kita dong pak ustadz" katanya yang mungkin udah putus urat malunya tari2, astaga.
" cewek kan?? cantik pastinya" jawab pak ustadz,mungkin beliau bersikap santai biar kami gag canggung kali ya,
"Alhamdulillah" koor dari ke tiga sahabatku
" tuh udah di Alem cantik, langsung dari pak ustadz" ejek Mba Acha, gag ada cemburu2nya ya, mungkinkah tau lah kita bukan bibit palakor, astaghfirullah.
" mas,, mereka juga pinter bikin kue, di arahin langsung pada ngerti, jadinya bagus enak, cobain mas, hasil karya bidadari2 pesantren" kataba Acha,
"Masya Alloh, calon istri idaman ya semoga" saut ustadz Zaki,
"Amin" koor kami semua,
"calonnya yang modelan ustadz masih ada setokkah? tanya indah ini indah lho gag nyangka sumapah.
"lebih Soleh, dan mampu membimbing kalian jadi istri Sholehah banyak, jangan kaya saya masih tahap belajar" jawab pak ustadz
" bener deh ilmu padi makin berisi makin merunduk ya pak ustadz" sahut Ratih.
" dosa segala puji hanya bagi Alloh dan rosulnya kan" ah tamparan keras banget, kadang kita malah lebih terlena dengan hasil karya Alloh yang maha kuasa.
__ADS_1
"astaghfirullah," sahut kami semua, tu anak pesantren gitu kata2nya penyejuk jiwa, masih berpikir anak pesantren kuno, kita juga bisa bahasa gaul lho ya.