
Flashback On
"Baik, jika memang itu yang kau mau. Tapi ingat, hak asuh anak akan jatuh kepadaku"
Suara Rudi terdengar sangat lantang, memenuhi setiap sudut ruangan mewah ini. Beriringan dengan isak tangis perempuan yang duduk di sofa, bahunya terlihat bergetar hebat karena menahan emosi agar tak meluap.
"Bagaimana mungkin kamu bisa setega itu. Mereka adalah anakku juga, mereka tumbuh di sisiku. Mereka tak akan mampu jauh dari Ibu nya. Kau sangat egois."
Mirna tak kuasa menahan air matanya, ia tak bisa membayangkan jika memang harus tinggal sendiri. Tanpa adanya kehadiran Vina dan Viona yang biasa mengisi hari-harinya selama ini.
Tanpa sepengetahuan Rudi dan Mirna, ada dua anak kecil yang bersembunyi di belakang pintu. Mendengarkan setiap kata-kata yang terlontar dari Ayah dan Ibunya itu. Mereka masih polos, tapi mereka merasa sangat ketakutan.
"Kak, apakah kita akan jauh dari Ibu? " air mata berjatuhan dari matanya yang sipit.
"Tidak, Viona. Kita akan tetap bersama-sama. Kita tak akan pernah terpisah."
Vina membawa Viona -adiknya- itu kedalam pelukan. Mengusap lembut kepalanya. Walaupun di lahirkan di hari yang sama, tapi Vina cukup dewasa di bandingkan adiknya.
"Kau itu tidak mempunyai pekerjaan yang layak, Mirna. Apa kau yakin bisa memenuhi segala kebutuhan Vina dan Viona? Tentu saja tidak, kan."
"Cukup. Akan ku berikan segalanya untuk anak-anakku. Mereka itu hidupku, mereka tumbuh dengan denyut nadiku. Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa mereka."
"Baiklah. Biarkan Vina ikut denganku, dan Viona ikut denganmu. Tapi jika suatu saat kau tak becus mengurusnya, jangan meminta hak asuh mu atas Viona lagi."
Tangis Mirna pecah. Bahunya naik turun merasakan sakit yang sangat dalam di hatinya.
Dua anak kecil itu berlari menuju orang tuanya. Memeluk erat Ibunya yang sedang menangis di sofa. Membuat mata Rudi membulat menyaksikannya.
'Mana mungkin bisa. Aku tak sanggup jika harus jauh dari Vina. Memang benar, aku tak bisa memberikan pengasuhan yang layak, tapi Viona tak boleh tumbuh jauh dari kakaknya' Mirna terus bergumam dalam hati, sembari memeluk anak-anaknya.
"Ayah, jangan pisahkan kami. Jangan pisahkan aku dengan kakak." Viona berlari menuju ayahnya, memeluk kaki sang ayah yang sedang berdiri.
"Sayang, ini hanya sementara. Kamu bisa ketemu kakak kapan pun kamu mau." Rudi berjongkok, memeluk anaknya dalam-dalam. Ada bulir-bulir bening yang memaksa keluar dari sudut netranya. Namun segera ia alihkan, menatap jendela di depannya.
Flashback Off
__ADS_1
***
Gadis berjilbab ungu muda yang sudah lusuh itu berdiri mematung di depan jendela kamar. Pikirannya di penuhi kepingan-kepingan memori menyakitkan yang masih terekam jelas dalam ingatannya.
Tok... Tok... Tok...
"Viona, kuenya sudah jadi. Segera antarkan ke warung mbak fatim, ya."
Suara nek Mimi dari luar kamar membuat Viona menghentikan aktivitasnya.
"Iya, nek. Sebentar, Viona siap-siap dulu."
Ia menyeka air matanya, dan merapihkan bajunya yang terlihat agak kusut. Ia tak mau membuat Neneknya bersedih dan bertanya-tanya.
Viona segera keluar dari kamarnya. Menuju dapur yang beralaskan papan dan tikar itu. Tampak Nek Mimi sedang menyiapkan kue yang akan di antarkan Viona.
"Wajahmu terlihat sangat pucat. Apa kau sakit, Nak? "
Nek Mimi berjalan mendekati Viona. Mengusap lembut pipi Cucu kesayangannya itu.
"Ah, tidak, Nek. Mungkin hanya kurang istirahat saja."
***
"Assalamualaikum, Mbak. Seperti biasa, ya. Hehe." Viona yang baru saja sampai di warung tentangganya itu, meletakkan kotak-kotak kuenya di kurs sembari mengibas-ngibaskan jilbab lusuhnya, ia merasa kepanasan karena cuaca yang lumayan terik walaupun masih pagi.
"Wa'alaikumussalam, Viona. Simpan saja dulu di situ. Kamu mau minum? Biar mbak ambilkan. Mau minun apa?."
Mbak Fatim selalu bersikap ramah kepada Viona. Ia mengenal Viona dari kecil yang tumbuh besar bersama dengan adiknya, Angga. Sehingga Viona pun sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
"Terima kasih, Mbak. Air putih saja sudah cukup. " Viona melukis senyum di bibirnya.
Tak lama, Mbak Fatim duduk di samping Viona dan memberikan segelas air putih. Ia melirik ke kotak kue yang di bawa Viona, dan segera mendekatinya.
"Wah, lumayan banyak ya, Viona. Kata Ibu, kue kemarin enggak habis semua. Gimana? "
__ADS_1
Mbak Fatim tampak keberatan mengatakan hal itu, Ia tahu jelas bahwa Viona dan Nek Mimi pasti sangat membutuhkan uang itu.
"Hehe, iya, enggak masalah, Mbak. Bukankah rezeki sudah di atur oleh Allah?" Lagi, Viona menunjukkan senyum manisnya itu.
'Nenek pasti sedih. Ah, baiklah. Mungkin Masih bisa ku tawarkan ke Ibu-Ibu komplem, toh aku belum mencobanya. ' Batin Viona.
Setelah Ibu Viona meninggal karena sakit-sakitan, hanya berjualan kue-kue kecil yang bisa Nek Mimi dan Viona lakukan. Saat itu, Viona yang masih duduk di bangku SMP tak bisa membantu sang nenek dengan pekerjaan yang banyak, hanya berjualan kue. Dan sesekali, ia juga berjualan beberapa pernak-pernik seperti Bros, gelang dan gantungan kunci yang bisa di design sendiri dan di tambahkan nama.
***
Viona berjalan di bawah teriknya matahari. Sudah hampir dzuhur, tapi kue-kue yang ia tawarkan ke komplek-komplek itu belum juga habis.
Langkahnya gontai, lelah dan tampak tak bersemangat. Mungkin karena pikirannya sedang kacau belakangan ini, sehingga membuatnya berbeda hari ini.
Tiiin... Tiiin...
Suara klakson seseorang dari arah belakangannya terdengar begitu dekat oleh Viona. Ia pun menepi dan berhenti sejenak.
"Kalau jalan, jangan ngelamun. Untung gue yang ngendarain, coba kalau orang lain?"
"Kalau orang lain, tentu saja mereka akan menegurku dengan sopan."
"Ck. Dasar keras kepala. Lu mau kemana, Vi? Ayo biar gue anterin."
Angga -sahabatnya-menepuk-nepuk jok motornya. Mengisyaratkan bahwa ia berharap Viona akan menerima tumpangannya.
"Gue gak tahu mau kemana. Kue ini belum laku juga. Kalau gue bawa pulang, Nenek pasti sedih. Soalnya, hari ini gue juga nitip lumayan banyak di warung lo. "
Viona menunduk, menahan air mata yang hampir saja lolos dari pertahanannya jika tak pandai mengaturnya.
"Hmm. Ayo, naik. Kuenya gue yang beli. Kebetulan nanti malem gue mau ke rumah teman kampus. Lumayan buat cemilan, iya gak? "
Arya tersenyum dan menaik turunkan alisnya. Berharap agar Viona akan tertawa.
"Wah. Baik banget sahabat gue ini. Ayo, gue ikut. Traktir Es krim, ya."
__ADS_1
Mereka tertawa dengan lepas. Bagi Viona, saat ini Angga adalah kakaknya. Angga selalu membantu dan menghiburnya saat ia dalam keadaan susah. Juga tak pernah menyerah, ingin mewujudkan keinginan Viona. 'Bertemu dengan Vina, kembarannya'
***