Saudara Kembarku

Saudara Kembarku
Untuk Kakak


__ADS_3

Viona tampak gelisah malam ini. Sudah dari isya ia berusaha memejamkan matanya, namun sampai jam sebelas malam pun, matanya tak kunjung berisitirahat.


Ia beranjak dari tidurnya, menuju kamar mandi. Mungkin wudhu lagi bisa membantu ia tidur dengan cepat, dalam pikiran Viona.


Setelah berwudhu, ia melihat kantung plastik yang di berikan Nek Mimi tadi sore.


"Terima kasih, Nenek" ucapnya sambil mengelus lembut plastik itu.


Viona membuka salah satu plastik yang menjadi pembungkus jilbab.


"Dua jilbab dengan motif yang sama, dan warna yang berbeda. Ah, apakah ini untuk anak kembar?" ia tertawa kecil mendengar ucapannya.


***


"Woi, jadi enggak? Ntar keburu panas" Ucap seorang pria dewasa dari halaman rumah sederhana Nek Mimi. Memanggil seorang wanita yang sedang memakai jilbab dan kaos kakinya.


"Iyaa, sebentar" wanita yang di tunggu pun keluar. Angga yang menunggunya dari tadi, hanya mematung melihat kecantikan Viona yang sedang menutup pintu.


"Heh, ngelamun. Liatin apa?"


"Eh, enggak" Angga tak sadar bahwa Viona sudah ada di depannya.


Mereka akan pergi ke pemakaman umum hari ini, berziarah ke makam Mirna. Sudah menjadi kebiasaan bagi Viona semenjak di tinggalkan ibunya, ia akan melakukan ini sebulan sekali.


Viona menaiki motor Angga. Mereka berlalu meninggalkan rumah yang tampak sepi itu.


'Kenapa ini' Viona bergumam dalam hati.


Lagi, Viona merasakan sakit yang teramat sangat di perut bagian bawahnya. Akhir-akhir ini ia sering merasakan itu, tapi tak ada satu orangpun yang mengetahui.


'Ya Allah, berikan aku kekuatan' batin Viona, dengan tangan yang memegang ke arah badan yang terasa sangat menyakitkan baginya.


"Vionaaaaaaa, lu dengerin gue enggak, sih? "


Viona setengah kaget mendengar Angga yang menyadarkannya dari lamunan. Rupanya dari tadi Angga berbicara namun tak mendapat respon dari wanita yang berada di jok belakang motornya tersebut.


"Eh, iya apa?"


"Lu ngelamun? "


"Apaaa, enggak kedengeran"


"Lu ngelamun, Vionaaaa? " Suara Angga sedikit di tinggikan, agar Viona dapat mendengar nya.


"Enggak, kok. Cuma gak kedengeran, hehe. Tadi lu ngomong apa? "


"Mau mampir dulu ke rumah?"


Raut wajah Viona berubah. Ada kesedihan terlihat dari sorot matanya. Mata yang hampir setiap hari sembab karena menangis menahan kerinduan.


"Boleh, yuk."

__ADS_1


***


Mereka duduk di depan gerbang berkarat itu. Sambil menikmati cahaya mentari senja yang menyorot ke rumah yang selalu tampak sepi.


"Kemarin Nenek bilang sesuatu gak? "


"Sesuatu apa? "


"Ya... Sesuatu aja."


"Ya Ampun Vionaaaa. Lu kalau ngomong pasti gak jelas" Angga mengacak ngacak kepalanya.


"Berhenti. Jilbab baru gue kusut nanti"


"Oh jilbab baru. Sudah berani sombong yaaa"


Angga melipat kedua tangannya di depan dada.


"Haha. Tentu saja. Ini hadiah dari Nenek. harus di sombongkan padamu, Angga" ucapnya dengan wajah mengejek.


"Ck. Kalau punya dua, harusnya berbagi. Bukan malah di sombongin."


Viona yang mendengarnya sedikit kaget. Ada gejolak yang bergemuruh di dalam sana, dan ada air yang terasa memanas di sudut mata.


"Eh kenapa diam? "


Viona tersenyum sembari menghela nafas berat. Mencoba menetralkan perasannya.


"Buat siapa? Kalau lu kasih ke gue pasti enggak gue pake, tapi tenang. Seorang Angga akan segera mendapatkan pendamping hidupnya." Angga mengangkat kedua alisnya. Ingin menghibur Viona.


Bug.


Viona memukul lengan Angga begitu saja.


"Enak saja. Jilbab itu, bakal gue kasih sama seseorang. Seseorang yang nanti pasti bakal nemuin gue , atau gue nemuin dia. Dan itu... "


'Vina' Batin Angga. Melanjutkan perkataan Viona yang menggantung begitu saja.


"Ah tidak penting. Ayo kita pulang"


Viona berdiri, meninggalkan Angga dan segera menuju motor Angga di seberang jalan.


'Sebentar lagi, Viona. Sebentar lagi, in syaa Allah' Angga berkata dalam hati, sebelum menyusul Viona ke seberang sana.


***


Malam semakin larut, seperti biasa Viona tidak bisa tidur dengan cepat. Ia mengambil ponselnya di atas nakas.


Klik. Tangannya mulai berselancar di akun sosial medianya.


'semoga kali ini ada' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Ia klik kolom search di akun facebooknya, mulai mengetik nama yang hendak ia cari.


Vina Arga Setiadi


Nama yang hampir sama dengan namanya. Tapi semenjak ia pindah, orang-orang hanya mengetahui Viona saja.


Ada banyak sekali nama Vina. Dari yang menunjukkan foto seksi, berkerudung, aktivis dakwah dan tanpa foto profil.


Viona mengklik salah satu akun yang tak memiliki foto profil itu. Jarinya terus menscroll kebawah timeline nya. Hanya ada foto rumah bertingkat, dengan beberapa pohon cemara di dekat gerbang dan vas-vas bunga yang berjajar rapih mengelilingi teras rumahnya, yang di upload tanpa caption beberapa tahun lalu.


'MaasyaaAllah, indah' batin Viona.


Entah kenapa, akun itu membuatnya penasaran, ia pun mulai melihat siapa saja temannya. Hanya akun-akun mati. Yang terakhir kali membuat postingan beberapa tahun lalu.


Viona mengeluarkan akunnya. Menyimpan ponsel di sampingnya. Matanya mulai menjelajahi langit-langit kamarnya. Ada kerinduan yang tiba-tiba kembali bergejolak.


'Kak Vina. Kakak ada di negara mana, sih? Apa nanti kalau kakak pulang, aku harus berbicara bahasa asing padamu? Ah, kakak. Adikmu ini tak pandai berbicara bahasa internasional.' senyum merekah di bibirnya, dan beberapa saat kemudian mata ikut terpejam bersama sang pemilik yang mulai berpetualang di dunia mimpi.


Di belahan bumi yang lain, ada seorang pria yang masih membuka matanya lebar-lebar. Dengan menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Ia tersenyum, membayangkan seseorang yang telah mengisi hari-harinya sedari kecil.


"Apakah aku sudah pantas untuk menikah?"


"Ah tidak-tidak. Aku belum pantas"


"Tapi, hanya aku yang pantas untuknya"


"Ah tidak-tidak dia sangat baik dan cantik. Aku harus berusaha lebih giat lagi"


Angga masih tetap berargumen dengan dirinya sendiri, sampai ia mengakhiri dengan meremas rambutnya kasar.


Ting...


Ponsel di atas dipan kamar Angga menyala. Sepertinya ada pesan yang masuk.


Perlahan ia membenarkan posisi duduknya, dan mulai membaca pesan dari nama kontak 'Firly'


[Assalamualaikum Angga. Kamu bisa bantu aku gak?]


[Waalaikumussalam. Iya ada apa?] dengan sigap Angga membalasnya.


[Sebelumnya maaf ya, kalau aku ganggu kamu. Hmm, begini. Bos ku meminta mencarikan beberapa orang pegawai perempuan untuk di tempatkan di restoran cabang kami, di Lombok. Kira-kira kamu punya kenalan enggak? Yang kira-kira layak untuk kerja di restoran bos ku.]


[Besok aku tanya-tanya, ya.]


[Terima kasih, Angga]


Pesan terakhir dari Firly yang tak Angga gubris.


Firly adalah teman Angga saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi nya tahun lalu. Ia gadis yang baik, cantik dan berprestasi. Mereka pernah sangat dekat, namun Angga memilih untuk mulai menjauhinya saat tahu bahwa Firly menyukainya.


Sekarang Firly bekerja sebagai manager di sebuah restoran dekat tempat kerja Angga. Terkadang, saat senggang Firly akan mengunjungi Angga di kantornya. Untuk sekedar mengantarkan makan siang dengan berdalih 'Resep baru' di restorannya.

__ADS_1


Bukan tega Angga selalu bersikap cuek kepada Firly sampai sekarang. Hatinya, telah di isi oleh seseorang yang sangat berharga baginya. Viona.


__ADS_2