
Mentari mulai condong ke arah barat. Semilir angin di sore hari membuat jilbab Viona berkibar. Wajahnya berwarna putih dan keemasan, karena terkena sinar mentari.
Ia melangkahkan kakinya dengan lemah di sepanjang jalan. Tatapannya kosong, sesekali air mata luruh dan terjun bebas dari netranya.
Ia telah sampai di depan sebuah rumah yang terlihat sangat angker itu. Dengan rumput-rumput liar yang memenuhi halamannya. Memberi kesan sebuah rumah yang tidak terawat kepada siapa pun yang melewatinya.
Viona mematung di depan gerbang yang berkarat itu. Ia mengusapnya, entah tahun ke berapa sekarang setelah rumah ini di tinggalkan oleh pemiliknya.
'Kak Vina, Ayah... Kalian di mana? Kenapa tak pernah kembali. Rumah ini terlihat sangat menyeramkan, Kak. Rumah ini sudah sangat merindukan tawa canda kita' Ucap Viona dalam hatinya.
Ia menyeka air mata yang menggenang di pipinya menggunakan jilbab yang sedari tadi terus tertiup oleh angin.
~Flashback On~
[Kak Vina, kapan kakak akan main ke rumah baru Ibu? Sekarang Nenek juga tinggal di sini. Rumah yang Ibu kontrak lumayan besar daripada rumah yang dulu]
Viona mengirimkan SMS kepada kakaknya, setelah beberapa hari Ia dan Mirna tinggal di kontrakan yang baru. Sudah beberapa kali semenjak perceraiannya, Mirna pindah kontrakan. Jika bukan karena pekerjaannya, ia mungkin tak akan tinggal di sini. Mirna yang tidak mempunyai pilihan lain, memilih membawa Ibunya turut serta tinggal di rumahnya yang sekarang.
[Secepatnya, Viona. Kakak sangat merindukan kalian. Khususnya kamu. Jangan malas untuk belajar ya, Viona. Biar nanti, kita bisa masuk SMA negeri yang sama. Dan tak perlu bersusah payah seperti ini jika ingin bertemu.]
Vina dan Viona sudah menjadi murid SMP, walau pun di sekolah yang berbeda dan jarak yang cukup jauh. Tak ada yang mengetahui perihal mereka mempunyai kembaran, karena mereka sudah terpisah sedari kecil.
Seseorang melangkah dengan cepat menuju kamar Vina yang sedang tersenyum karena membaca SMS-SMS yang di kirimkan oleh adiknya itu.
Kret...
Pintu kamar Vina di buka.
"Sayang, apa ayah mengganggumu? "
"Hmm, tidak sama sekali." Vina melempar senyum kepada ayahnya. Ayahnya mendekatinya, memeluk dan mengelus lembut kepala anak gadisnya itu.
"Ayah di pindah tugaskan oleh perusahaan, Vina. Kita akan tinggal di Inggris."
Kedua netra Vina membulat. Kaget, seakan tak percaya dengan perkataan yang di lontarkan oleh ayahnya barusan.
__ADS_1
"Ayah tidak sedang bercanda, kan? " Ia menjauhkan badannya dari sang Ayah. meminta penegasan ulang. Berharap yang di dengarnya tadi, bukanlah kenyataan.
"Ayah tidak bercanda, Vina. Mungkin kita akan berangkat ke bandara besok malam."
"Tidak, Ayah. Vina tidak akan ikut. Vina ingin tetap di sini. Menunggu Viona datang, kemudian Vina akan mendengar segala celotehnya. Bagaimana mungkin Vina bisa meninggalkan dia sendirian, Ayah. Vina dan Viona harus tumbuh dewasa bersama."
Rudi mematung mendengar ucapan Vina. Ia tak menyangka, anaknya yang ia anggap masih kecil, ternyata bisa berpikir sejauh itu.
Tak bisa di bohongi, sebenarnya Ia juga merindukan saudara kembar Vina itu. Gadis kecil yang saat itu memohon agar tak di pisahkan dengan kakaknya, sambil memeluk erat kakinya ayahnya.. Tapi bagaimana lagi, sampai saat ini Mirna masih membiayai Viona dengan baik, meskipun tak seperti yang Ia berikan kepada Vina. Tetap saja, tak akan mudah jika harus membujuk Mirna agar mengizinkan Viona tinggal dengannya di Inggris.
Vina menangis di depan Ayahnya. Memeluk lututnya erat. Berharap sang Ayah akan berempati kepadanya.
'Vina, maafkan Ayah. Ayah tetap harus membawamu tinggal di Inggris. Dan Viona, gadis kecil yang sangat Ayah rindukan. Maafkanlah karena harus membawa kakakmu pergi jauh. Percayalah, ini hanya sebentar saja.' Batin Rudi.
Rudi meninggalkan Vina yang masih menangis. Memberi waktu untuk dia memenangkan dirinya.
Rudi bergegas membereskan barang-barang yang cukup penting untuknya dan tidak boleh di tinggalkan di rumah ini. Pun dengan kebutuhan Vina, Ia juga menyiapkannya.
Semua perabotan rumah telah Ia jual kepada teman kantornya. Yang akan di ambil sore ini sebelum Rudi berangkat ke bandara besok malam.
***
Vina memakai jaket tebal yang di berikan sebagai kado ulangtahun dari Ibunya tahun kemarin. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Ia menatap sendu ke arah figura foto yang terpajang cantik di meja belajarnya. Di sana terdapat Foto dirinya, Viona serta kedua orang tuanya yang terlihat sangat bahagia di hari ulang tahun pernikahan orang tuanya dahulu.
Vina berjalan mendekat ke arah figura itu. Ia mengambilnya dan memasukkan ke dalam ranselnya.
Mobil Rudi melaju meninggalkan rumah mewah itu. Suasana hening di dalamnya, Vina hanya menatap keluar melalui kaca jendela mobil, enggan mengobrol seperti biasanya saat ia bersedih atau kecewa.
'Vionaku sayang. Maaf kakak harus pergi. Kakak tak akan lama, hanya sebentaaar saja. Tunggu kakak menengokmu, Ibu dan nenek, Ya. Kakak tak sanggup memberitahumu sekarang, tunggulah kakak, Viona'
Vina bergumam.
***
Sudah seminggu sejak kepergian Vina dan Rudi ke Inggris. Rumah mewahnya mulai berdebu, tak terawat.
__ADS_1
Di sebuah kontrakan, seorang gadis mengamati lekat-lekat hp milik Ibunya yang sedang di genggamnya.
"Kakak belum kirim pesan, Bu? "
"Belum, sayang. Mungkin kak Vina sedang sibuk. Nanti Ibu kabari kalau sudah ada, ya"
Mirna tersenyum manis ke arah putrinya itu. Walaupun dalam hatinya, Ia pun sama sangat mengkhawatirkan anaknya yang tidak ada kabar seminggu ini.
Waktu berlalu sangat cepat, dua minggu Vina tak mengabari Ibu dan adiknya. Mirna sangat khawatir, bahkan tak jarang ia melamun saat sedang bekerja.
"Viona, nanti sore kita berkunjung ke rumah kakak, ya? " Tak ada cara lain baginya, saat ini kabar Vina sangatlah utama.
"Ayo, bu. Viona kangen banget sama Kak Vina. " Viona sangat antusias dengan mata hitam yang berbinar-binar.
Saat sore telah tiba, mereka datang mengunjungi kediaman Vina.
Mirna beberapa kali mengucap salam, memencet bel, dan memanggil Vina. Nihil. Tak juga ia temui keberadaanya di rumah ini.
Hari semakin gelap, Mirna pun berjalan menuju warung. Berniat ingin menanyakan tentang Rudi dan Vina yang tak ada di rumah.
Betapa terkejutnya Mirna dan Viona mendengar penjelasan warga yang sedang nongkrong di warung.
"Bagaimana mungkin mereka pindah, Pak. Bapak tahu kemana mereka pindah? "
"Katanya, sih. Ke luar negeri, Mbak. Inggris apa Jerman ya, saya lupa Mbak."
"Baiklah, terima kasih banyak pak."
~Flashback Off~
***
'Kak Vina, kapan pulang ke rumah ini? Kalau kakak pulang, aku janji bakal bantuin beres-beres di rumah yang sekarang sangat kotor ini. Dan aku akan mengajak Nenek sesekali untuk menginap di kamar kakak. Aku janji, pulanglah kak'
Viona terus mengoceh dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah berdiri lama di depan gerbang rumah itu, Viona memutuskan untuk pulang. Karena hari semakin gelap, dan takut Neneknya akan khawatir jika pulang terlambat.