Saudara Kembarku

Saudara Kembarku
Graduation


__ADS_3

POV Vina~


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Vina. Karena hari ini adalah hari di mana dia akan wisuda. Menyatakan Ia telah lulus dari perguruan tinggi.


Vina masih duduk di depan cermin riasnya. Dengan seorang MUA yang sedang mendandaninya.


"You are beautifull, Vina" Ucap wanita berusia empat puluhan yang sedang menghias wajahnya itu.


Vina yang mendengarnya hanya tersenyum manis dan sesekali mengangguk.


"why do you always use your hijab? even on this special day" Ucapnya lagi, sembari menempelkan aksesoris bunga-bunga kecil di atas jilbabnya.


"Hm. my hijab is a crown. and my mother said, Muslim's women should not lose their crown"


Vina menjelaskan dengan sangat ramah kepadanya yang bukan muslim itu. Walau pun bertahun-tahun ia tinggal di Inggris dan berbaur dengan teman-temannya yang bermacam-macam keyakinan, ia tetap istiqamah dengan jilbabnya. Pendidikan yang Ibunya berikan saat masih kecil, masih melekat erat dalam ingatannya. Dan juga, karena Ia sungguh merindukan Ibunya itu.


***


"Congratulation, Vina. Ayah sangat bangga sama kamu"


Rudi memeluk Vina dan mengelus kepalanya lembut, setelah Vina berhenti berlari ke arahnya.


"Jika bukan karena Allah dan doa Ayah, Vina tak akan mendapat 'Comloude' ini" Sahut Vina dari belakang bahu ayahnya.


Ada air yang mulai membasahi pipi Vina. Air yang sedari pagi sudah Ia tahan sebisa mungkin.


'Ibu, ini berkat doa Ibu juga, kan? Vina kangen, Bu. Vina kangen banget. Harusnya, saat ini Vina mengambil foto bersama Viona. Seharusnya Viona juga wisuda hari ini kan, Bu ?' Batin Vina.


"Sayang, Are you crying?" Sang Ayah menepuk-nepuk pelan bahunya.


"Aku kangen Ibu dan Viona, Ayah. Apakah hari ini Viona wisuda juga?"


Sang Ayah hanya menatapnya dalam-dalam. Dan menghapus air mata di pipinya.


"Harusnya seperti itu. Kita akan memastikan secepatnya"


"Benarkah? Kapan kita akan pulang ke Indonesia?" Vina sangat antusias mendengar ucapan ayahnya itu.


"Mungkin liburan tahun ini"


"Terima kasih banyak, Ayah. I love you so much" Vina memeluk ayahnya dengan erat.


***


Vina berbading di ranjang yang cukup besar itu. Ia merasa tubuhnya sangat lelah, setelah seharian di acara wisuda. Hilir-mudik ke sana dan ke sini bersama teman-temannya. Karena mungkin, setelah ini Vina akan jarang bertemu dengan mereka.


Mata Vina menatap langit malam dari jendela kamarnya. Membayangkan kepulangannya ke Indonesia. Mungkin akan terasa sangat menyenangkan.


'Viona. How are you, dear? Maafkan kakak yang tidak pernah mengabarimu. Maafkan kakak dan Ayah yang tak sempat memberi tahu kepergian kami.' Ia bergumam dalam hati, tak sadar bulir-bulir bening keluar dari mata indahnya.

__ADS_1


~Flashback On~


Mereka telah sampai di Inggris. Vina melangkahkan kakinya dengan lemah. Ia tak kuat, untuk sekedar mengimbangi langkah cepat ayahnya yang sedang buru-buru.


"Vina, ayo. Cepatlah sedikit"


Vina mematung, berhenti melangkahkan kakinya. Melihat punggung ayahnya yang berbicara tanpa melihat ke arahnya. Lagi-lagi, air matanya luruh. Segera Ia seka, namun Ia tetap diam tak melangkah.


"Kenapa, sayang? Apakah ayah jalan terlalu cepat? " Ia menyeka sisa-sisa air di sudut mata cantik Vina yang sembab, karena terus-terusan menangis.


Rudi pun mengambil ransel Vina. Kemudian menggenggam tangan mungil anaknya itu.


Mereka berhenti di sebuah restoran. Karena Vina tak makan sedikit pun saat di pesawat tadi.


"Vina, apa yang kamu cari, Nak?" tanya Rudi heran. Melihat Vina yang tampak mengacak-acak isi ranselnya sedari tadi.


"Ayah, ponsel Vina tidak ada di sini" ucapnya yang mulai panik.


"Benar kah? Mungkin Vina lupa menyimpannya." Ucap Rudi yang mulai mendekat ke arah Vina.


"Tidak. Vina yakin menyimpannya di sini. Ayah, bagaimana jika ponselnya terjatuh saat di pesawat, atau di bandara tadi. "


"Ayo, kita cari dulu."


Beberapa kali isi dalam ransel Vina di keluarkan. Nihil. Tak ada ponsel di sana. Vina mulai menangis. Tadinya, Ia akan mengabari Viona tentang kepergiannya.


Tak ada yang bisa di lakukan oleh Vina dan sang Ayah untuk mengabari Viona. Rudi tak memiliki nomor Viona atau Mirna. Pun dengan sanak-keluarga, Ia tinggal sebatangkara sebelum mengenal Mirna. Ponsel Vina hilang membawa seluruh nomor dan pesan-pesan yang di kirimkan oleh adik kesayangnya.


'Tunggu aku. Aku akan segera kembali, Vina.' Ucapnya lirih sebelum mata itu benar-benar terpejam.


***


Tok... Tok... Tok...


"Sayang, bukalah pintunya. Sudah subuh, ayo kita shalat. "


Ucap seorang lelaki di luar kamar.


"Iya, Ayah." Vina menjawab dengan membuka matanya perlahan.


Rasa lelah semalam membuat Vina tak mendengar suara adzan dari ponselnya. Mereka tinggal di daerah yang sama sekali tidak ada masjid, jadi hanya adzan dari ponsel dan ayahnya lah yang membangunkan dan menjadi pengingat untuk melaksanakan shalat.


Vina merebahkan badannya kembali di atas sajadah setelah selesai shalat subuh. Mengusap lembut bulu-bulu sajadah yang tebal. Biasanya, Vionalah yang melakukan hal ini. Merebahkan badan di atas sajadah, dan mengusap-usap bulunya sampai ketiduran. Viona selalu mengantuk saat shalat subuh, mungkin bagi anak kecil, subuh itu terlalu pagi untuk bangun.


Hingga setelah selesai Rudi berdo'a, Ia akan menggendong Viona dan menidurkannya di atas ranjang.


***


"Kak, bangun. Ayo kita sarapan" Vina membuka matanya, mungkin terganggu oleh guncangan yang di lakukan oleh seseorang di belakangnya.

__ADS_1


"Jam berapa sekarang? "


Tanyanya dengan nada malas.


"Sudah jam tujuh pagi, kak"


Vina tak menanggapi, hanya diam dengan matanya membulat. Ia baru saja menyadari, siapa yang ada di belakangnya. Bukankah di rumah ini hanya ada dia dan sang Ayah?


Vina bangun dari tidurnya. Dan...


"Apakah kamu... "


"Iya, aku Viona"


Wanita itu memotong pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Vina.


"Benarkah kamu Viona? Hiks... Hiks... "


Vina menangis dan menutup wajah menggunakan tangannya.


"Hey, sudah lah. Aku di sini"


"Tapi kenapa, kenapa wajahmu sangat silau. Aku tak bisa melihat wajahmu, Viona."


Wanita di hadapan Vina hanya tertawa kecil, tak menjawab pertanyaannya.


"Jawab aku, Viona. Kenapa wajahmu... "


Tok... Tok... Tok...


"Sayang, apa kamu tidur lagi setelah shalat subuh? "


Vina membuka matanya, dan bergegas bangkit dari tidurnya.


Ia menatap sekeliling, memeriksa apa kah benar tadi Viona ada di sini.


"Vina, kamu baik-baik saja, Nak? "


Vina berjalan membuka pintu.


"Ayah, apa tadi ada yang masuk ke sini? "


"Apakah kamu bertanya sambil tertidur kepada Ayah, Nak? "


"Ayah, aku serius" Ia menghentakan kakinya kesal.


"Haha. Iya-iya maafkan Ayah. Tentu saja tak ada siapa-siapa. Bahkan membangunkanmu saja, Ayah harus menunggu beberapa menit sampai pintu di buka. Segeralah mandi, Ayah sudah menyiapkan sarapan."


Rudi meninggalkan Vina yang masih mematung di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Jadi, tadi hanya mimpi? " ucapnya lirih.


__ADS_2