
POV Viona~
Viona duduk di lantai, menyetrika semua kerudungnya. Hanya beberapa saja yang terlihat masih bagus. Sebagian lagi, bahkan garis kusutnya tidak menghilang walau di setrika beberapa kali.
"Baiklah, aku harus menabung lagi untuk membeli yang lebih layak" Ucapnya sambil tersenyum.
Tanpa Viona sadari, seseorang sedang berdiri di pintu kamarnya. Ia memperhatikan setiap gerakan dan celotehannya.
'Biarkan Nenek memberi yang terindah untukmu, Nak.' Gumam Nek Mimi dalam hati.
Nek Mimi meninggalkan Viona. Ia berjalan menuju dapur, mulai membuat adonan kue-kue untuk Ia titip di warung kakaknya Angga itu.
Di kamarnya, Viona mencoba satu persatu jilbab yang sudah di setrikanya. Ia tersenyum manis melihat bayangannya di cermin. Kini, Usianya telah mencapai dua puluh dua tahun. Ia tumbuh menjadi wanita yang cantik, memiliki kulit yang putih bersih, bulu mata yang panjang dan lentik, serta mata yang tak begitu besar juga tak begitu sipit. Ia sangat mirip dengan Mirna, Ibunya. Mungkin, hanya tinggi badannya saja yang turunan dari Rudi, Ayahnya.
"Kamu cantik sekali, Viona"
"Ah, iya. Terima kasih"
Ia berbicara dengan dirinya di cermin.
Setelah puas mencoba jilbab-jilbabnya, ia merapihkan kembali dan menyusunnya di dalam lemari.
Viona melangkahkan kaki menuju dapur, menghampiri sang Nenek dan hendak membantunya membuat kue.
"Masih banyak, Nek? "
"Tidak, Viona. Ini sudah Nenek kusus, tinggal kita kemas saja kue-kue ini." Ucap Nek Mimi yang tetap fokus melipat plastik-plastik kecil.
"Baiklah, Nek. Viona bantu, ya."
Nek Mimi mengangguk dan tersenyum kepada cucunya.
***
Nek Mimi dan Viona berjalan menuju warung Mbak Fatim. Mereka akan menitipkan kue-kuenya. Biasanya Viona akan pergi sendiri, kali ini Nek Mimi ikut setelah memaksa kepada Viona.
"Nenek capek? "
"Tidak, Nak. Nenek sangat senang bisa berjalan bersamamu sekarang. Entah kapan Allah memanggil Nenek. Segeralah menikah, Nak. Agar Nenek tak meninggalkanmu sendirian" Nek Mimi berhenti mengutarakan pikirannya kepada Viona, dengan di iringi helaan nafas berat.
"Nenek bicara apa, sih. Nenek kan akan hidup lebih lama lagi sama Viona. Sini, biar Viona bantu" Viona tersenyum, sambil memegang erat tangan Nek Mimi.
***
"Alhamdulillah, Nek. Kue kemarin habis. Tadi sudah ada yang datang juga, nanyain kue-kue nya."
"Alhamdulillah ya, Mbak. Terima kasih sudah mengizinkan Nenek titip dagangan di sini"
"Tak apa, Nek. Nenek sudah seperti keluarga saya sendiri" Ucap Mbak Fatim ramah, dengan tangan yang menyodorkan uang hasil penjualan kue di warungnya.
Nek Mimi mengambil uang itu, dan menghitungnya sejenak.
"Angga ada, Mbak? "
Viona yang mendengarkan percakapan antara Nenek dan Kakak sahabatnya itu, hanya memandang heran ke arah Neneknya.
"Ada di dalam. Kenapa, Nek?"
__ADS_1
"Nenek mau minta antar ke apotek, Mbak. Mau beli obat."
"Lho, Nenek sakit? Mau beli obat apa, kok enggak bilang-bilang sama Viona, Nek?"
Viona berbicara dengan lantang dan setengah kaget.
"Sudah, tak apa. Nenek hanya merasa pegal, Viona. Bukan sakit yang parah"
"Biar Viona saja yang beli. Nenek bisa tunggu di warung Mbak. Iya, kan, Mbak? " Viona melirik ke dalam warung, menatap ke arah Mbak Fatim.
"Sudah, biar Nenek saja. Mbak, boleh tolong panggilkan Angga, ya?"
"Baik, Nek. Tunggu ya" Mbak Fatim melenggang, masuk ke dalam ruangan mencari Angga.
***
"Nenek mau beli obat apa, Nek? Harusnya Nenek istirahat saja. Biar Angga sama Viona yang belikan." Ucap Angga setengah berteriak kepada orang yang berada di jok belakang motornya.
"Nenek tidak mau beli obat, Nak Angga. Nenek mau beli jilbab untuk Viona."
Angga diam. Terpaku mengdengar ucapan Nenek sahabatnya itu.
'Kenapa aku tak pernah berpikir. Kenapa aku tak membelikan jilbab untuk Viona?' Angga bertanya-tanya dalam hati.
Motor Angga berhenti di depan sebuah toko yang tidak terlalu besar. Walau pun begitu, toko ini selalu ramai.
"Selamat sore. Ada yang bisa di bantu, Ibu? " tanya seorang pegawai toko.
"Oh, tentu. Nenek saya butuh jilbab untuk perempuan dewasa, mbak."
"Mari ikut saya Mas, Bu."
Angga telah di tinggalkan oleh orangtua kandungnya waktu kecil, sama seperti Viona. Kini Ia tinggal bersama kakak dan kakak iparnya. Mungkin karena hal itu, Ia dan kakanya sangat baik kepada Viona dan Nek Mimi.
"Silakan di pilih Mas, Bu. Ini jilbab yang cocok untuk usia dewasa. Tidak terlalu polos dan tidak terlalu mencolok" ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Angga, tolong pilihkan dua jilbab yang cantik untuk Viona, ya."
Nek Mimi mendongak ke atas, karena badan Angga sangat tinggi di bandingkan dengan bandannya.
"Eh, tapi, Nek... Hmm... Gimana, ya. Angga enggak tahu, Nek."
Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Yang menurutmu bagus ketika di pakai oleh Viona saja, Nak"
Angga pun mulai memilih. Dan berhenti ketika melihat dua jilbab dengan motif yang sama, namun memiliki warna yang berbeda.
"Yang ini saja, Nek. Ini sangat cantik"
"Mbak, berapa harga dua jilbab ini? "
Nek Mimi memutar badan, dan bertanya kepada perempuan yang ada di belakangnya.
"keduanya Rp. 50.000,-"
Setelah membayar jilbab itu, mereka berjalan keluar hendak pulang.
__ADS_1
"Nenek sudah makan? " tanya Angga yang berjalan sejajar dengannya.
"Belum, Nak. Tak apa, Viona pasti sudah masak di rumah"
"Sekali-kali, Angga harus mentraktir Nenek. Ayo, kita makan dulu di warung bakso sana, ya."
Angga memesan dua mangkuk bakso. Dan mencari tempat untuk mereka duduk.
"Angga, terima kasih banyak ya, Nak. Sudah menjaga dan menemani Viona."
"Iya, Nek. Sama-sama" Sahut Angga ramah.
"Nenek ingin sekali, melihat cucu kesayangan Nenek menikah. Sebelum Nenek pergi. Agar ketika saat itu tiba, sudah ada orang yang menjadi penghibur dan pelindung Viona."
Ia menetap kosong ke depan, Angga hanya mendengarkan dan melirik kearahnya sesekali.
"Menemaninya ketika ia sedang memasak, menghiburnya ketika ia sedih, membangunkannya ketika ia kesiangan, mengingatkannya untuk makan, dan membantu membetulkan rambutnya saat terlilit sisir"
"Viona itu gadis baik, Nek. Tentu saja ia akan mendapat seseorang yang baik pula untuknya."
"Iya, Nak. Segera" balas Nek Mimi sambil mulai memotong kecil bakso di mangkuk nya.
***
Tok... Tok...Tok...
"Viona, sudah tidur, Nak? "
"Belum, Nek. Masuk saja" ucapnya yang sedang melipat pakaian.
Nek Mimi membuka pintu kamar cucunya, memperhatikannya lekat-lekat di depan pintu.
"Nenek kenapa enggak masuk? Sini, duduk di samping Viona." Ia menepuk-nepuk kasur di samping tempat duduknya.
"Jadi tadi Nenek sudah beli obatnya?"
"Nenek tidak membeli obatnya."
"Kenapa? Apa uangnya kurang, Nek? "
Ucap Viona yang berhenti melakukan aktivitasnya.
"Tidak. Tidak apa-apa. Hm, Nenek punya sesuatu buat cucu tersayang Nenek ini."
"Hmm? "
"Ini, bukalah, Viona." Nek Mimi menyerahkan kantung plastik berwarna merah itu kepada Viona.
Viona mengambilnya. Sejenak ia terdiam saat melihat isi dari plastik tersebut.
Air matanya luruh membasahi pipi. Ia tak kuasa untun sekedar menahannya.
"Nenek, terima kasih banyak."
Viona memeluk erat tubuh Nek Mimi, yang di balas dengan usapan lembut di kepalanya.
'Semoga kelak, Viona bertemu dengan orang yang sangat mencintai Viona, ya, sayang' batin Nek Mimi.
__ADS_1
***