Saudara tiriku yang tampan

Saudara tiriku yang tampan
Pernikahan ayah


__ADS_3

Pemberkatan digereja berjalan lancar dan meriah, Ayah mengembangkan senyuman dibibirnya. Tapi berbeda denganku yang sedari tadi terus diam, bukan tanpa sebab tapi karna ya bisa dibilang kurang setuju dengan pernikahan kedua ayah. 3 tahun berlalu setelah bunda meninggal rasanya tidak mudah untuk menerima sosok bunda pengganti. Apalagi banyak rumor mengatakan kalau iibu tiri itu kejam apalagi kalau ibu tirinya sudah punya anak sendiri pastilah akan lebih sayang ke anaknya.


"Lovanya kesini! ayo kita foto bersama" dengan senyuman yang melekat dibibirnya ayah memanggilku untuk berfoto.


Mau tak mau aku berjalan menuju tempat foto, dengan muka tersenyum yang dibuat buat.


"Sini sayang dekat sama ibu" Istri baru ayah yang bernama madeline itu beramah ramah kepadaku.


"Halah paling cuma acting doang didepan banyak orang" gumamku seraya menuruti keinginanya.


Setelah beberapa kali berfoto, tiba tiba datang seorang pria memakai jas rapih yang langsung memeluk madeline. Pria yang tinggi putih dan mempunyai iris mata biru itu sungguh membuat setiap orang yang melihatnya akan terpukau, tentu saja termasuk aku yang jelas jelas melongo melihatnya.


"Lovanya, kenalin ini kakak kamu Bryan aristudes hiller. Baru sampe pagi ini dari seoul" ucap madeline  membuatku semakin melongo.


"Kak kak????" kataku tergagap.


"Halo adik kecil, siapa namamu" Bryan langsung merengkuhku kedalam pelukanya, mengacak ngacak rambutku yang membuat pipiku merah.


"Lovanya ardinata Moore kakak tampan" kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.


Cepat cepat aku menutup mulutku sendiri yang tidak bisa menjaga kalimat yang akan diucapkan.


"Lihat bu adik baruku ini sudah pintar merayu" Bryan tertawa membuat pipiku merona karena malu.


..........


Hari yang melelahkan telah usai jam menunjukan pukul 8 malam ketika aku selesai mandi. Berdiri didepan cermin sambil menyisir rambutku yang panjang. Tiba tiba pikiran tentang ibu tiri yang terkenal jahat muncul daam benakku, bagaimana kalo memang benar madeline jahat atau dia hanya mau mengurusi kak bryan.


"Tok tok


Suara pintu kamarku diketuk dari luar, membuyarkan semua pikiran pikiran jahatku terhadap madeline.


" Siapa?" teriaku memastikan.


"ini ibu lovanya" dari balik pintu muncul madeline yag membawakan susu dan seporsi nasi goreng kesukaanku.


"Ma madeline? ada apa kesini?" tanyaku pelan.


"Kok madeline sih manggilnya, kan sekarang udah sah jadi ibu baru kamu lovanya" Madeline tersenyum dan meletakan nampan ke meja.


"iiiya i i ibu maaf" ucapku terbata.


"dimakan ya sayang, tadi ayah manggil manggil kamu pas waktu makan malem, tapi katanya kamu nggak njawab. Makanya ibu anterin kesini takutnya kamu kecapean" madeline tersenyum ramah.

__ADS_1


" iya makasih tadi aku lagi mandi made..eh maksud aku bu"  ucapku.


Madeline tersenyum "masih cnggung ya manggil ibu, gakppa nanti lama lama juga terbiasa. Kalo gitu ibu tinggal dulu ya , jangan lupa dihabisin"


Tanpa menunggu jawaban dariku madeline beranjak pergi, tanpa pikir panjang aku langsung melahap nasi goreng dipiring sampai habis. Setelah itu membuka buku dan belajar sebentar karena besok ada ujian.Sedang asyik belajar seseorang masuk kedalam kamarku.


"Ayah lovanya lagi sibuk belajar, ayah jangan ganggu lovanya dulu ya " ucapku mengira yang masuk adalah ayah.


Tapi tiba tiba orang itu merebahkan diri disampingku membuatku terganggu. Reflek langsung menutup buku yang sedang aku baca dan menengok kesamping. Terpampang jelas wajah Bryan dihadapanku, dia tersenyum membuat jantungku seketika berdebar. Wajahnya begitu tampan bila dilihat dari dekat.


"Bryan!!!" teriaku.


"Kaget gitu sih, kenapa adik kecil?? kakak terlalu tampan ya" Bryan tertawa puas "eh satu lagi gak sopan manggil nama tau,aku kan kakakmu" lanjut bryan masih dengan tawanya.


Yang kulakukan hanya menutupi pipiku yang memerah dan mencoba menstabilkan debaran jantung yang masih tak karuan. Aku mencoba berpikir jernih karna yang disampingku adalah kakakku sendiri bukan teman dekat ataupun pacar. Masih dengan keterkejutanku Bryan tiba tiba menempelkan telinganya didadaku yang membuat jantungku semakin berdebar.


"Astaga jantungmu berdebar sangat kencang!! kamu sakit?? atau jatuh cinta" Bryan tertawa semakin keras membuat pipiku.mera merona.


"Bry jangan aneh aneh deh! lagian lo ngapain kekamar gue" teriaku berusaha memecah suasana.


"Tuh kan dibilangin jangan manggil nama masih aja" Ucap bryan sambil tanganya usil menggelitikiku.


"Bry stop jangan gue gak kuat kalo diklitikin"  Aku tertawa menahan geli.


Tapi bryan tak mau berhenti, aku meronta melepaskan diri tapi malah hampir terjungkal dari tempat tidur. Bryan semakin tertawa dan menyudahi kejailannya karna aku hampir menangis karena tertawa.


..........


Suara ayah memanggil dari bawah membuatku segera turun untuk sarapan bersama. Sembari merapihkan rok yang ku pakai, aku menuruni anak tangga dengan tergesa gesa. Hampir sampai dipenghujung tangga tiba tiba aku terpleset, aku memejamkan mata bersiap merasakan kerasnya lantai marmer. Tapi sebelum badan ini membentur lantai sebuah tangan meraih tubuhku. Perlahan kubuka mata dan terbelalak, jantung ini berdebar dengan kencang saat memandang wajah bryan dari dekat. Sungguh pria yang tampan batinku meleleh sejenak namun segera sadar saat bryan menoyor keningku.


"Jalan hati hati lovanya si ceroboh " Kata bryan


"ih apaan sih bry, pagi pagi udah rase aja!!" teriaku sambil mengusap usap kening yang kena toyor tadi.


"ye bukanya terimakasih udah ditolongin, malah marah marah" ujar bryan tak terima.


"sapa suruh nolongin gue!!"  aku menjulurkan lidahku sembari berlari kemeja makan.


Tak mau kalah bryan mengejarku keruang makan, berlari memutari meja makan yang sudah ada ayah dan madeline.


"wah udah akrab aja nih" goda ayah padaku yang masih berlari dikejar bryan.


Suasana pagi menjadi ramai dan lebih ceria dibanding hari hari sebelumnya yang sunyi dan sepi. Kurasa madeline dan bryan tidak jahat mereka baik. Rumor diluar sana jelas salah mengatakan ibu tiri itu  jahat.

__ADS_1


"udah bry stop ah, kasian adikmu dikejar kejar terus kamu kan udah gede bry ngalah sedikit sama adikmu loh" ucap madeline.


Bryan pun berhenti mengejarku dan duduk di meja makan, sedangkan aku masih berdiri ngos ngosan memegangi lutut.


"makanya jangan lari lari lovanya" kata ayah sambil memberiku segelas air putih.


Aku hanya tersenyum memandang sinis kearah bryan yang sedang menikmati sarapanya. Hatiku senang saat memandangnya, merasakan hal lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Mungkin karna jadi punya saudara yang bisa diajak bercanda bareng. Karena penasaran aku bertanya pada ayahku semalam via chat tentang bryan. Bryan itu ternyata udah berumur 26 tahun selisih 8 tahun denganku. Udah punya bisnis sendiri, dan berkembang pesat karena kerja kerasnya. Terkenal tegas diperusahaannya.Tapi menurutku orangnya asik dan supel banget diajak bercanda, berasa punya saudara seumuran.


"Lovanya berangkat bareng aku aja yah" Bryan berucap sembari mengambil tasnya.


"Nggak nggak nanti bukanya sampe sekolah malah sampe ketempat lain lagi" aku menjawab sarkas.


Tanpa menjawab bryan mendorongku untuk keluar rumah tak ketinggalan membawakan tasku juga.


"Berangkat dulu ya yah bu" Teriak bryan sambil mendorongku menuju mobil.


"Silahkan tuan putri yang sok jual mahal" bryan membukakan pintu dan bergaya ala ala pangeran.


Yang tadinya mau marah kini aku malah tertawa senang dengan perlakuan bryan yang manis.Aku masuk kemobil diikuti bryan dan langsung melajukan mobilnya.


"Eh kalo bisa jangan pacar pacaran dulu ya masih kecil kamu, pikirin dulu masa depan, belajar yang pinter" ditengah keheningan tiba tiba bryan berkata seperti itu.


"Telat deh, gue udah punya pacar" jawabku sambil menjulurkan lidah.


Bryan sesaat memandangku dengan tatapan kurang senang, lalu melanjutkan omonganya.


"Jangan macem macem loh ya kamu, awas aja kalo pacar kamu sampe macem macem!!" Tiba tiba nada bicara bryan berubah " oh ya pokoknya aku harus kenal sama pacar kamu"


Aku hanya tertawa terbahak bahak mendengar perkataanya, dan itu membuatnya mengerutkan kening.


"Kakaku sayang gue belum punya pacar, boro boro punya pacar yang ngedeketin juga gak ada"  Tawaku membuat bryan ikut tertawa.


Tak lama aku sampai disekolah, kuminta bryan menurunkanku di seberang jalan saja. Tapi dia tak menurutiku, malah mengantarku masuk sampai parkiran. Segera aku membuka pintu untuk keluar namun bryan menahan tanganku.


"Ada apa lagi bry ???" tanyaku bingung.


Tiba tiba bryan mencium keningku membuatku kaget setengah mati. First time aku dicium pria lain selain ayah. Masih dengan keterkejutanku bryan mengusap wajahku.


"udah sana masuk!!" perintah bryan.


Aku pun keluar mobil dan berjalan, masih terkejut namun segera aku buyarkan.


"Apa yang salah bryan kan kakakku, wajar dia menciumku karena aku adiknya sekarang" pikirku berusaha tenang.

__ADS_1


Sampai dilorong aku berpapasan dengan jessica musuh bebuyutanku yang tiba tiba menampar wajahku.


..........


__ADS_2