Saudara tiriku yang tampan

Saudara tiriku yang tampan
Rafael albert maurer


__ADS_3

Aku memegangi pipiku yang memerah, masih menerka nerka apa maksud jessi menamparku.


"Berani ya lo gangguin gebetan orang!!!" jessi mendelikan matanya ke arahku membuat aku semakin bingung.


"Lo bisa nggak santai!! maksud lo apa gangguin gebetan orang. Gebetan siapa yang lo maksud!!! Gebetan lo???? Kenal juga kagak tiba tiba ngegaplok aja lo. Nuduh gue gangguin lagi!" jawabku tak mau kalah.


Jessi kembali ingin menamparku, tapi aku tak tinggal diam. Aku menangkap tanganya yang hampir mengenai pipiku lagi. Kutahan dan kutampar balik pipinya, double bolak balik biar puas. Jessi meringis kesakitan karena mulutnya berdarah, mencoba membersihkanya.


"Ups apa gue menampar lo terlalu keras?" kataku tersenyum sarkas.


"Awas lo ya, gue bakal bikin peritungan sama lo" teriak jessi sembari pergi meninggalkanku.


..........


"Lovanya!!" teriak renata memanggilku.


Aku menhampirinya dan duduk disebelahnya, Renata adalah satu satunya sahabat dekatku dari kecil. Sahabat yang mampu mengerti segala keadaanku.


"apa?" tanyaku cuek dan melahap makanan yang ada didepanya.


" Tadi pagi abis digaplok jessi lu ye?" tanya renata.


Aku tertawa dan melanjutkan makanku membuat renata yang kepo ini terus terusan bertanya.


"iya iya gue digaplok" jawabku singkat.


Renata tertawa mengejekku.


"Tapi jangan salah dong lo gue digaplok sekali, dia gue gaplok bolak balik!!ampe berdarah darah tuh mulutnya" kali ini aku yang tertawa puas.


" Nah kan gak asik lu, udah seneng seneng gue malah gitu" renata manyun.


"Dasar lo seneng ya kalo liat temen menderita" ucapku sambil menoyor kepala renata.


"Emang kenapa katanya kok jessi bisa nampar lo sih?" tanya renata.


"Tau tuh katanya gue gangguin gebetanya katanya? padahal tau juga kagak gue siapa gebetanya" ucapku sambil melahap habis makanan renata.


"Kok dihabisin sih lov!? kan gue belom makan!!" renata merengek sedih " eh tapi  gakpapa, gue jadi inget sesuatu yang gue hampir lupa, lo tuh lagi jadi perbincangan hangat tau gak. Pantes aja si jessi ngegaplok lo secara si rafael albert maurer, cowok paling cool paling cakep paling tajir paling segala galanya disekolahan ini nolak jessi dengan alasan suka sama lo!!!" lanjut renata.


Aku menyemburkan air minum yang baru saja mau aku telan. Kaget setengah mati mendengar kata kata renata.


"Bentar bentar ngomong ngomong rafael itu yang kayak gimana bentukanya. nggak kenal kayaknya, pernah nampak batang hidungnya juga belom" Sanggahku.


"Lovanya astaga rafael anak pemilik sekolah ini, cowok sepopuler itu lo kagak tau?" renata mendengus kesal.


" Astaga cowok songong itu ternyata" aku tertawa geli.


" Nah iya itu yang itu" ucap renata senang.


" Yang mana sih?" Aku balik nanya lagi. Karena sebenernya nggak terlalu ingat sama rafael.


Renata menepuk jidat dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Kemudian menunjukan foto seorang cowok.


"Yang ini lovanya orangnya" renata berseru.

__ADS_1


Kini giliran aku yang menepuk jidat tak percaya. Rafael adalah cowok yang sering banget ribut sama aku. Malahan gak pernah akur, gak tau namanya karena kalau ketemu pasti ada aja masalah yang diributkan.


"Sakit pasti tuh anak, atau nggak mau bikin gue sengsara nih" aku meringis.


...........


Bel pulang sekolah baru berbunyi, tapi hampir semua kelas sudah kosong. Aku berjalan kedepan pintu gerbang menunggu jemputan. Renata melambaikan tanganya karena sudah dijemput.


" Gue anter ya?" tiba tiba rafael nongol dari balik jendela mobil.


" kagak kagak, nanti satu sekolahan musuhin gue semua lagi gara gara semobil bareng lu" jawabku " mending kalo nggak di tampar, lah coba bayangin aja satu sekolah nampar gue, habis dah gue" tambahku.


" Jessi nampar lo?" tanya rafael tiba tiba.


"Kenapa seneng yaa gue ditampar gara gara ulah lo, segala bilang suka sama gue lagi " jawabku.


"pertama gue minta maaf, gue bakal kasih pelajaran ke jessi karna nampar lo" ucap rafael yang dengan cepat kupotong.


"gak usah udah gue bales tuh, tunggu aja besok pati gue dipanggil keruang bk" aku tertawa sarkas.


" Lovanya tapi gue serius suka sama lo" ungkap rafael.


Aku semakin tak bisa menahan tawa mendengar kata katanya. Aku maju selangkah menempelkan punggung tanganku kedahinya.


"Lo ngapa sih? Sakit lo? Abis kebentur? kesambet setan pertigaan?apa kenapa sih aneh banget" aku tertawa.


Rafael memegang tanganku, menatapku dengan tatapan paling tulus yang pernah aku lihat. Aku mencoba melepaskan genggamannya namun terlau kencang.


"Udah ah jangan ngaco terus " Aku masih mencoba melepaskan pegangan tanganya. Namun rafael malah semakin menarik tanganku dan menciumnya.


" Bakal aku buktiin ke lo, kalo gue serius" ucap rafael.


"Ayah bryan eh maksud aku kak bryan belum pulang kantor?" Tiba tiba pertanyaan itu meluncur mulus dari mulut ini.


" Mentang mentang punya kakak baru" Ayah tertawa menggodaku yang membuatku merona.


.............


Hoooooooaaaaaaaaam


Aku terbangun dari tidur siangku, sebenarnya bukan siang tapi sore karena waktu menunjukan pukul 5 sore. Aku berjalan menuju jendela kamarku mengambil segelas air dan meninumnya. Terlihat lalu lalang orang dibawah sana menandakan hari yang sibuk akan segera berakhir , terganti dengan malam yang tenang untuk beristirahat.


"Eh bryan udah pulang belum ya" tiba tiba aku bergumam sendiri.


"Kenapa jasi mikirin bryan haduh"


Drrrrt Drrrrt


Handphoneku bergetar tanda ada pesan yang masuk. Aku berpikir itu dari renata dan enggan membukanya. Karena kalo dari dia sudah jelas pesan yang tidak penting. Aku mengabaikannys tapi selang beberapa menit kembali berbunyi. Dengan enggan aku membukanya


Unknow number


Lovanya ini aku rafael


Hey

__ADS_1


Jawab aku


Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu


Ternyata pesan tersebut darii rafael, mwmbuatku sedikit melongo karena bingung. Menimang nimang apakah rafael hanya membuat lelucon atau itu benar benar nyata.


Tak mau ambil pusing aku pun memutuskan untuk mandi, setelah selesai aku keluar kamar dengan hanya terlilit handuk. Efek lupa membawa langsung pakaian kedaam kamar mandi. Baru ingin memasukan satu kaki ke lubang celana daam tiba tiba bryan muncul dari balik pintu.


"Bryan dasar mesum!!!!" teriakku spontan.


Bryan terkekeh tapi tak kunjung keluar dari kamarku, malah melangkah masuk dan duduk ditempat  tidurku. Dengan cepat aku mengambil semua bajuku dan masuk kedalam kamar mandi untuk memakai pakaian.


"Lain kali ketuk pintu dulu bry sebelum masuk, dasar mesum" semburku pada bryan yang hanya terkekeh.


" Siapa suruh kaga dikunci pintunya" brian menjawab sambil membolak balik komik yang sedang dia baca.


" Komik siapa main baca aja" omelku pada bryan yang tidak meminta izin mengambil barang orang.


" Komik lo" Jawab bryan masih tetap fokus membaca.


Tiba tiba mata bryan berpindah kebuku diaryku yang kuletakan dimeja. Dengan cepat aku meraih buku itu sebelum bryan bisa mengambilnya.


" Yang ini jangan berani berani ya lo!!" ancamku.


Bryan tertawa " pasti isinya tentang gue, judulnya gini kakak tiriku yang tampan bener kan"


" Pede banget lo!!!" ucapku menutupi " udah sana kekamar lo gangguin gue aja sih"


" Selamat malam lovanya" ucap bryan yang tiba tina mencium pipiku dan melenggang pergi.


Aku melompat lompat diatas kasur kegirangan, melupakan semua fakta tebtang siapa bryan saat ini.


"Lo ngapain kaya gitu?" tanya bryan tiba tiba muncul lagi dari balik pintu.


" Eh anu ini nyamuk banyak banget bry sumpah gue perlu banget nih bilang ke ayah buat pindah kamar biar gak ada nyamuk lagi" elakku berakting seperti sedang menepuk nepuk nyamuk.


"Besok gue beliiin semprotan nyamuk ya biar gak perlu repot pindah kamar" kata bryan" eh iya hp gue ketinggalan tuh dimeja " bryan lalu mengambil handphonenya dan pergi.


Aku langsung membenamkan muka dibantal karena malu, ngerasa benar benar udah gak waras lagi.


"masa iya gue jatuh cinta sama bryan, aduh sadar lovanya sadar bryan kakak lo, lagian mana mau cowo tampan tajir dan mandiri kaya bryan mau sama anak ingusan kaya lo" aku menepuk pipiku sendiri berusaha mengambil lagi kewarasan di otak ini.


Kringggg Kringggg


Kali ini telfonku berbunyi, tertera unknow number. Aku awalnya enggan menjawabnya. Namun telfonku terus terusan berbunyi.


" Halo ada apa? sudah malam jangan ganggu! kalau salah sambung gue maklumin! kalau.."


Belum selesai menjawab, dari seberang telfon terdengar suara rafael yang sangat familier ditelingaku.


" Besok gue punya kejutan" ucap rafael.


" El jangan aneh aneh deh!!" jawabku.


" Gue udah bilang gue bakal buktiin, sampai jumpa besok Lovanya mmmuuuuaccch"

__ADS_1


"El halo rafael halo " teriakku karena ternyata telfon sudah dimatikan "Kesambet apaan sih ini anak, bisa gila gue"


..........


__ADS_2