
"Eh anu bu, aku lagi minta bryan eh maksud aku kak bryan buat ngajarin aku dansa buat acara ulang tahun temenku bu" ucapku mengedipkan mata kearah bryan agar dia mengiyakan alasanku.
"Bohong bu, lovanya tadi itu..." kata kata bryan terhenti dan dia memandangku dengan tatapan nakal. Seketika lututku langsung lemas, jantungku serasa mau copot.
"Tadi itu apa bry?" tanya madeline memastikan.
" Tadi itu lovanya bilang bukan buat pesta ulang tahun tapi buat dansa sama gebetan barunya" bryan tertawa meledek.
Aku mendelikan mataku tapi juga tersentum lega. Aku melepaskan peganganku pada bryan lalu beranjak duduk disofa.
"Ngaco aja gebetan gue siapa lagi!" ujarku tak terima.
"Yang tadi siang abis makan bareng?!" bryan tertawa namun tersirat sesuatu didalamnya.
"Cuma makan doang ih, setiap hari juga gue makan bareng lo! trus lo pikir lo jadi gebetan gue gitu setelah makan bareng" jawabku tak mau kalah.
"Sudah sudah kaian ini" madeline berusaha menengahi " Dari pada kamu bry sudah berumur dan sudah mapan tapi masih belum punya pasangan?!" tambah madeline.
" Kalau bryan mau sudah dari dulu bu bryan menikah, tapi rasa rasanya belum ada yang pas dihati bryan" ucap bryan membuatku tersentak kaget.
Bagaimana tidak baru tadi siang dia berbicara ingin menemui pacarnya sekarang malah bilang gak punya pacar.
"Loh tadi siang kan kata rafael " ucapku terhenti.
" Ibu ada apa kesini?" potong rafael.
" Oh iya tuh kan ibu jadi lupa, ini besok ayah sama ibu mau pergi menginap dirumah tante nirma paling seminggu baru pulang" ucap madeline.
" Iya bu aku bakal jagain lovanya dirumah" ucap bryan.
" Ya udah ibu turun ya, kalian jangan kemaleman" lanjutnya sembari menutup pintu kamarku.
Selepas madeline keluar bryan menatapku dengan tatapan nakal, aku mencoba menghindarinya karna jelas aku sangat malu mengingat ketidaksopananku tadi. Namun tangan bryan mendekapku, membuat jantungku ingin melompat.
" Mau lanjutkan yang tadi??" tanya bryan dengan seringai nakal.
Perasaan kaget bercampur malu mengerubungiku, pipiku merah panas. Tapi dengan cepat aku menemukan kewarasanku. Aku mendorong bryan keluar daei kamarku yang membuatnya tertawa menggoda.
" Keluar bry aku mau sendirian"ucapku masih dengan jantung berdebar.
" Good night dear" jawab bryan memberi kecupan jauh.
Aku bergegas menutup pintu dan melompat kekasur. Masih dengan jantung yang berdebar debar, merutuki diri sendiri yang sangat bodoh.
" Lovanya kenapa sih hari ini!! itu kakak tiri lo kakak lovanya " aku menutup mukaku dengan bantal.
" Kenapa sih lo gak bisa jaga sikap, padahal itu ciuman pertama lo" aku semakin frustasi memikirkan betapa bodohnya aku.
" Tapi tadi kata kata bryan beneran atau cuma menggoda aku ya, aaaaaa bryan aku jatuh cinta padamu" ucapku tanpa sengaja membuatku tersenyum malu.
" astaga lovanya sadar" Aku berbicara sambil menepuk nepuk pipimu berusaha mengembalikan kewarasanku.
........
" Hati hati ya yah bu dijalan" ucapku sambil melambaikan tangan.
Deru mobil melaju , ayah dan madeline berangkat menuju rumah tantr nilam. Kebetulan hari ini libur dan aku berencana berjalan jalan kedanau. Setelah menutup pintu aku masuk , terdengar suara orang yang sedang makan diruang makan. Aku berjalan pelan untuk mengecek kesana, kata ayah bryan gak pulang semalam dan diru.ah tidak ada siapapun kecuali aku. Saat sampai diruang makan aku melongo melihat bryan yang hanya mengenakan handuk sedang berdiri dimeja makan.
" Udah sarapan lo va?" bryan menengok kearahku.
Dengan cepat aku menakupkan kedua tanganku ke muka " bry jangan mesum!! lo cuma pake handuk dan berdiri didepan gue!!! masuk kamar lo sekarang!!!!"
Terdengar bryan hanya tertawa melihat reaksiku, setelahnya tak ada yang terdengar lagi. Aku berusaha mengintip dari celah jariku tak ada siapapun. Akhirnya kubuka tangkupan tanganku, memeriksa sekeliling benar saja tak ada si bryan. Akhirnya aku melangkah menuju kamar,
"Astaga bryan!!!!!" aku terkejut melihat bryan sedang tiduran diranjangku, masih dengan handuk yang melingkar dipinggangnya. Aku berusaha untuk keluar namun bryan mencegahku,
__ADS_1
" Gue juga ngerasain hal yang sama kaya lo va " ucap bryan tiba tiba, membuatku terdiam.
Bryan menarik tubuhku dalam pelukanya. Bodohnya aku malah terdiam dan merasakan hangatnya pelukan bryan. Jantungku berdebar hebat tapi masih bisa kukendalikan. Sejenak aku merasakan rasa bahagia yang sangat, pertama kali berpelukan dengan pria selain ayah. Tapi seketika kewarasanku kembali, dengan cepat aku mendorong bryan.
" Bry kita kan saudara" ucapku berusaha acuh.
" Tapi va lo juga ngerasain hal yang sama kan? Gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali kita ketemu" ucap bryan.
Aku menggelengkan kepala, masih dengan pikiran yang waras. Ingin rasanya mengatakan hal yang sama namun semua begitu sulit.
" Bry apaan sih lo kan juga udah punya pacar, lagian kita juga saudara bry" aku berusaha tertawa agar mencairkan suasana.
Tapi bryan memelukku lagi, membuatku tak bisa berbuat apa apa .
" Gue belum punya pacar va, kemaren bilang gitu kerafael biar lo mau dianter dia. Gue pikir gue gila karena cinta sama sudara gue sendiri. tapi gue salah besar. Ciuman lo semalem membuat gue berani va" ucap bryan.
Sungguh aku tak menyangka bryan juga merasakan hal yang sama denganku, rasa senang dan sedih bercampur aduk menjadi satu. senang karena bryan juga mencintaiku dan sedih karena faktanya aku dan bryan adalah saudara. Lama berperang dengan pikiranku sendiri tanpa sadar aku mengeratkan pelukanku. Tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku.
" Aku juga mencintaimu bry" akhirnya mulut lancang ini mengucapkan kata kata yang tidak seharusnya.
Bryan melepaskan pelukannya dan memagut bibirku, terasa begitu lembut dan hangat saat kedua bibir kami bertemu.
Drrrrrt Drrrrrt
Tiba tiba ponselku berbunyi, aku hendak melepaskan ciuman bryan namun bibirku digigit membuatku tersentak dan memukul dada bidang milik bryan. Bryan tertawa dan melepas pagutanya membuatku bisa bernafas lega
Rafael
Lovanya hei, lo lupa sama janji lo ketemu gue didanau?
Isi pesan itu ternyata dari rafael, seketika aku langsung ingat dan bergegas ganti baju meninggalkan bryan yang masih duduk diranjangku.
" Sayang mau kemana??" tanya bryan.
" Iya kan mulai sekarang lo pacar gue, lo punya gue " ucap bryan sambil mengecup pucuk kepalaku.
" Tapi bry!!!" ucapku terpotong karna telunjuk bryan menempel dibibirku.
" Husssss , kamu mau kemana sayang??" tanya bryan sekali lagi.
" Bry tapi kalo ayah dan ibu tau gimana?? " tanyaku gelisah.
Dibalik sosok yang sangar berwibawa dan terkenal keras ini ternyata jika dekat dengan orang yang dia cintai akan berubah layaknya pangeran yang lemah lembut.
" Kalau didepan ayah ibu kita kaya kakak adik dong tetep" ucap bryan sambil membelai rambutku.
Drrrrt Drrrrt
Ponselku bergetar lagi yang bisa kupastikan itu dari rafael yang sudah menungguku didanau.
...........
" El udah lama ya nunggunya??" tanyaku pada rafael yang duduk ditepi danau.
Terlihat jelas hamparan bunga disebelahnya mekar dan wangi, membuat nyaman berlama lama duduk disitu.
" Eh va belum kok, sini duduk" ucap rafael menepuk tempat disebelahnya.
Aku duduk sembari merapihkan rambutku yang tertiup angin. Rafael mendekat dan menyenderkan kepalanya dibahuku, aku menelan ludah masih tak percaya dengan rafael yang sekarang.
" Gue butuh lo disisi gue selalu" ucap rafael sembari memegang tanganku.
" El gue bingung deh, gini ya kita dulu kalo ketemu pasti ada aja masalah ada aja yang diributin. Tapi sekarang lo berubah 100 persen" Tanyaku ragu ragu.
" Sedari dulu gue suka sama lo , tapi gue gengsi mau nunjukin. Sampai suatu waktu jessi bilang kesemua orang kalo dia pacar gue" jawab rafael.
__ADS_1
" Terus yang membuat lo berubah??" tanyaku lagi.
" Gue takut kalo lo sampe denger berita hoax itu makanya gue buru buru bilang kalo gue sukanya sama lo" jawab rafael terlihat malu malu.
Aku terdiam tak memberi tanggapan, pikiranku masih beradu antara bryan dan rafael saat ini.
"Gue mesti gimana sekarang aduuuuuh " batinku.
Ingin rasanya langsung nolak dan bilang kalo gue udah pacaran sama bryan. Tapi takut kalo sampe rafael ngadu ke ayah . Alhasil aku hanya tersenyum menatap mata rafael.
" Gakpapa va gue paham kok, gak semudah itu nerima cinta gue. Tapi bakal gue pastiin gue bakal tetep berjuag buat ngedapetin lo" lanjut refael.
Rafael tertawa dan tiba tiba menggelitikiku, mungkin bermaksud mencairkan suasana. Aku menggeliat dan ikut tertawa menahan geli.
" Rafael stop geli " pintaku.
Tapi rafael tak menggubris dan mengejarku yang berlari menghindar, Tak sengaja aku tersandung akar pohon dan terjatuh. Karena jarak kami dekat rafael pun ikut terjatuh dan menindih tubuhku. Mata kami bertemu satu sama lain. Rafael hendak menciumku namun tiba tiba ada suara orang berdehem membuat rafael langsung bangkit diikuti olehku
" Kak bryan" seru rafael.
" Iyah, Lovanya mau disuruh bersihin rumh karna bokap sama nyokap lagi pergi! nggakpapa kan kalo Lovanya gue bawa pulang?" tanya bryan dengan nada datar.
" Gak papa kok kak, ya udah lovanya sampai jumpa besok disekolah ya" teriak rafael sembari melangkah pergi.
Aku merasakan rasa takut dan malu yang dirasakan rafael, karena tatapan bryan membuatku kedinginan. Sesampainya dirumah bryan mengunci pintu da mendudukanku diaofa.
" Lovanya!!" teriak bryan terlihat marah.
" Gue bisa jelasin bry, tadi gue kesandung jatuh dan gak sengaja rafael nimpa tubuh gue" jelasku
" Lo itu milik gue!! gak ada yang boleh nyentuh lo!! ucap bryan masih setengah berteriak.
Aku bergidig ngeri melihat bryan yang sedang marah, padahal sebelum ini dia sangat baik lucu dan lemah lembut terhadapku.
" iii ya bry maafin gue, gue...." belum sempat aku melanjutkan kata kataku bryan memagutku dengan kasar membuatku kesulitan bernafas.
" Ini gue kalo udah bener bener saynag sama orang ngerti!!" ucap bryan dan kembali memagutku.
Tangannya mulai nakal masuk kedalam bajuku. Mulai meremas buah dadaku yang lumayan besar hingga membuatku merinding.
" Bry stop jangan terlewat batas" ucapku mengingatkan bryan.
Bryan yang masih diambang kesadaranya mulai melepaskan dirinya dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
" Gue cinta sama lo yang gue mau cuma lo lovanya" ucap bryan.
" Gue juga cinta sama lo bry" ucapku sambil memberanikan diri memeluk bryan.
" Kita lewati semua sama sama ya, kekuatan cinta akan mengubah segalanya" kata kata bryan kembali menyadarkanku tentang siapa bryan. Ya mungkin aku sudah tidak waras lagi, bukan hanya aku tapi bryan juga sama tidak warasnya dengan aku karena mencintai saudara tirinya sendiri.
..........
Tiba disekolah renata terengah engah berlari , aku menatapnya heran.
" Lo kenapa na kaya abis liat setan" tanyaku.
" Rafael va rafael!!" teriak renata.
" Rafael kenapa??" tanyaku yang terkejut mendengar nama rafael.
" Jessi bilang dia hamil anak rafael!!!!" teriak renata membuat jantungku seketika terhenti.
" Haaaa hhaaamil??" ucapku dengan bibir bergetar.
...........
__ADS_1