
Ucapan renata membuat lututku lemas, jantungku berdebar karena terkejut. Masa sih rafael bisa berbuat sejauh itu. Padahal baru kemarin aku bertemu denganya dan dia masih berusaha mendapatkan cintaku. Bernarkah secepat itu atau memang sedari dulu dia tidak serius menyukaiku.
" Lo kata siapa na?" tanyaku memastikan.
" Jessi bilang sendiri didepan semua orang" jawab renata.
" Jessi mengakui dirinya hamil? wah udah gak waras dia, sarap bener bener tuh orang" lanjutku.
Aku masih memikirkan perkataan renata, namun dengan cepat aku sadar. Toh mau hamil sama rafaelpun harusnya gue masa bodo dong. Secara kan rafael bukan siapa siapaku.
" Ah udahlah na, biarin aja gak usah diurusin orang sarap kegitu" ujarku berlalu meninggalkan renata.
Renata setengah berlari ingin menyamai langkahku, tiba tiba jessi muncul dengan seringai diwajahnya. Aku sengaja tak melihat kearahnya, seoalah olah dia gak ada di sana.
" Eh cewe murahan!!! sekarang lo gak bisa lagi gangguin rafael, karena sekarang gue lagi hamil anak rafael. Dan otomatis pasti dia bakal nikahin gue dalam waktu dekat" oceh jessi.
" Yang murahan tuh elo!!!! Hamil diluar nikah kok bangga!!?? Lagian emang udah jelas lo hamil sama rafael" tanyaku tak mau kalah.
Jessi tertawa lalu berkata " Jelas lah, gue punya bukti kok "
" Terserah lo aja deh, nggak perduli gue!!!" aku berjalan meninggalkan jessi begitu saja.
Jessi terdengar marah dan mengumpatku dari belakang, Aku yang berusaha acuh malah berpapasan dengan rafael. Mukanya pucat dan gelisah.
" Va gue bisa jelasin,gue gak bakal ngelakuin hal kaya gitu" jelas rafael.
" Gini ya el, mohon maaf nih sebelumnya. Gak perlu ngejelasin apa apa ke gue karena gue bukan siapa siapa lo! Lo mau ngehamilin jessi atau nggak itu bukan urusan gue" ucapku.
" Tapi va!?" ucap rafael yang dengan cepat kupotong.
" Untung aja nih gue gak kemakan sama rayuan lo yang minta gue jadi pacar lo! kalo gue terima jadinya gue yang bunting deh" tambahku seraya pergi berusaha tak peduli dengan rafael.
Tapi dibelakang sana rafael memanggil manggil namaku dengan suara putus asa. Itu membuatku sangat terganggu. Tadinya kupikir dia serius denganku supaya aku bisa menjauh lagi dari bryan. Agar rasa sakit ini tak terlalu dalam, menerima kenyataan kalau bryan adalah kakak tiriku. Namun harapan itu semua hilang dalam sekejap.
...............
" Sayyyaanng!!" teriak bryan dari dalam mobil membuatku melompat.
" Bry !!!!" ucapku sambil menempelkan jari telunjuk dibibirku.
Bryan tertawa dan membukakan pintu mobil untukku, Astaga gimana coba gak mau jatuh cinta. Udah ganteng, baik, kaya, perhatian lagi yaampun benar benar sempurna.Baru beberapa meter mobil berjalan rafael berlari dan mengetuk kaca mobil yang aku tumpangi. Bryan berhenti tapi aku tetap menutup kaca mpbil.
" Rafael tuh va, nggak mau ngobrol dulu?" tanya bryan.
" Mau gue jadi sukanya sama dia?" kata kata itu meluncur bebas dari mulutku membuatku merutuki diri sendiri. Benar benar gak bisa dibohongi lagi kalau aku benar benar mencintai bryan.
" Udh ah ayo jalan kita pulang capek mau istirahat" tambahku memerinta bryan untyk segera melaju.
Dibelakang rafael masih terus berlari mengejar namun kecepatanya kalah. Aku menarik nafas lega dan menyandarkan punggung. Tiba tiba tangan bryan mengelus pipiku membuatku tersentak kaget.
" Bry jangan mulai ya!!" teriaku.
__ADS_1
Bryan tersenyum senang, tapi tak berbicara sepatah katapun. Aku memalingkan wajah untuk menatapnya. Melihatnya semakin lama semakin membuatku jatuh cinta padanya.
" Sabar nunggu dirumah kita bisa berduaan sayang" ejek bryan.
Pipiku seketika memerah " apaan sih bry!!! dasar mesum" ujarku.
Sesampainya dirumah , aku langsung menuju kamar dan melepas pakaian. Pikiranku masih berputar membuatku frustasi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kedapur untuk mengambil es krim. Berharap semua masalahku akan segera hilang. Tiba tiba bel berbunyi, dengan santai aku membukakan pintu.
" Ya ada appppppppa??? kataku terpotong saat kulihat jessi dan ibunya berdiri dihadapanku.
Ibunya jessi langsung memaki makiku, menyebutku cewe pengganggu hubungan orang. Aku masih sabar dan mencoba mempersilahkan mereka masuk. Dengan omelan dimulutnya ibu jessi duduk dengan marah.
" Maaf ya tante, aku nggak tau apa apa soal masalah jessi!! satu hal lagi aku gak perduli apapun itu menyangkut jessi dan rafael oke!!!!" teriakku tak mau kalah.
Ibu jessi tetap tak mau kalah juga, dia berdiri dan hendak menamparku. Tapi tiba tiba tangannya terhenti, matanya menatap lurus kearah dinding. Disana terdapat fotoku bersama ayah. Seketika itu ibu jessi terlihat kaget dan ketakutan.
" Apakah kamu anak ardinata leuwis moore? " tanya ibu jessi dengan nada bergetar.
" ya" jawabku singkat.
Mendengar jawabanku ibu jessi langsung menarik paksa jessi untuk keluar dari rumahku . Adegan itu membuatku bingung, tapi aku tak memikirkan hal yang aneh aneh. Biarkan saja para perusuh itu pergi. Tapi tak berselang lama bel berbunyi lagi, aku dengan enggan membukanya mengira itu jessi dan ibunya lagi.
" Ada apa lagi sih jess!!!" teriaku sembari membuka pintu.
Namun yang kudapati bukan jessi melainkan rafael yang berdiri dihadapanku. Sontak aku reflek menutup pintu karena tak mau berurusan dengannya lagi.
" Lovanya tunggu!?" ucap rafael berusaha menahan pintu agar tidak tertutup.
" Masih belum puas lo! Mohon maaf nih gue cape situduh perebut pacar orang lah ini lah itu lah. Dan semua itu gara gara lo sama jessi. Yang jelas jelas gue nggak ada hubungan apa apa sama lo hahaha" Ucapku tertawa sarkas.
" Udahlah el, gak ada gunanya lo kaya gitu! Lagian kita bentar lagi lulus gak bakal ketemu lagi. Lupain aja gue bangun hidup lo yang baru bareng jessi oke" Ucapku sambil menutup.
Aku bersandar dibelakang pintu masih mendengar rafael yang menangis putus asa. Pertama kali mendengar rafael menangis swperti itu, pikiranku jadi kacau, apa aku terlalu jahat ke rafael. Atau itu hanya acting, tapi emang aneh sih kenapa tiba tiba jessi hamil anak rafael. Padahal yang aku tau rafael tak pernah mau kalau jessi mendekatinya.
..............
Paginya dikelas yang sunyi jessi kembali membuat ulah. Menantangku untuk melawanya, dengan taruhan rafael tentunya. Aku tak menggubris dan masih sibuk dengan komik yang sedang aku baca. Sesekali aku melirik renata yang sedang ketar ketir kalau kalau sifat brutalku muncul. Jessi tak patah semangat dan menggebrak mejaku membuatku berdiri seketika.
" Sekali lagi lo berani berulah! Pilihannya hanya 2 kuburan atau rumah sakit" Teriakku tak terima.
" Gak takut gue sama cewek mirahan kaya lo!!!" Balas jessi.
Wajahku memerah menahan emosi ingin rasanya aku merobek mulut busuk itu.
" Gue tegesin sekali lagi ya jes, gue gak ada apa apa sama rafael! Dia yang ngejar ngejar gue sialan!!!" Ucapku masih dengan berteriak.
" Halah kalo lo gak ganjen ya pasti rafael bakal milih gue lah, apalagi sekarang gue lagi hamil anaknya" Ucap jessi.
Aku mengangkat kerah baju jessi, benar benar diambang batas kesabaranku. Melihatnya dengan tatapan bengis, tiba tiba rafael datang diikuti oleh renata dibelakangnya. Ternyata saat aku dan jessi ribut renata menemui rafael agar melerai kami.
" Lovanya " Teriak rafael.
__ADS_1
" Nah tuh udah dateng pembawa masalah dihidup gue, untung lo dateng kalo nggak abis nih anak" Ucapku melepaskan cengkeramanku.
Jessi langsung berlari dan memeluk rafael, menampakan wajah sedih dan ketakutan seolah olah aku yang memulai semua ini. Tapi rafael berusaha melepas pelukanya.
" Lovanya plis dengerin gue ya plis, gue sayang bgt sama lo " Ucap rafael.
Namun tangan jessi tetap berusaha memeluk tubuh rafael.
" Beb kita kan bakal secepatnya nikah" Ujar jessi membuat rafael marah.
" Nikah aja lu sama babi!!! Nyentuh lo aja gue jijik gimana bisa gue nyetubuhin lo sampe hamil!!!" Teriak rafael yang marah.
Tiba tiba pak edward datang dan memanggil jessi dan rafael, kemungkinan para guru sudah tau berita tentang kehamilan jessi. Aku yang sudah badmood memutuskan untuk membolos hari ini.
" Na gue cabut dulu! Ngikut nggak?" Tanyaku
" Lo mau bolos ya?! Kagak kagak kagak mau ikut gue. Nanti yang ada kaya dulu lagi hukumanya ngepel satu sekolah" Jawab renata trauma.
" Dasar cemen! " Ucapku yang segera meninggalkan renata.
Setibanya ditaman bunga aku berusaha membuang semua masalah yang ada saat ini, menarik nafas dengan panjang dan menghembuskanya perlahan. Tinggal seminggu lagi menuju kelulusan , selama ini tak ada masalah yang berarti bagiku. Tapi kali ini masalahnya begitu rumit dan bertubi tubi.
Arrrrrrgggggg
Aku berteriak frustasi, membuat seseorang dikejauhan sana menengok kearahku. Orang itu hendak berjalan menghampiriku namun aku secepat kilat pergi dari situ karena tak mau mendapatkan lebih banyak masalah lagi. Apalagi karena aku masih memakai seragam sekolah.
...........
Jam menunjukan pukul 20 00 tapi dari tadi siang selepas sekolah belum kujumpai si bryan.Pikiranku mulai berkecamuk lagi memikirkan hubunganku dengan bryan ditambah lagi masalahku dengan jessi dan rafael. Membuat kepalaku pening, dengan iseng aku turun menuju ruang pribadi ayah. Kubuka lemari disudut ruangan , melihat isinya membuatku tersenyum. Sudah lama aku ingin sekali mencicipi wine ini, tapi ayah selalu melarangku. Akhirnya aku mulai mengambil 1 botol dan membawa kekamarku. Kubuka perlahan dan kucium aromanya, sungguh menggoda. Karena tak tau bagaimana cara dan etika saat akan mabuk langsung saja aku tenggak wine itu dari botolnya. Tegukkan pertama dan kedua terasa tak terjadi apa apa. Kupikir wine itu manis tapi ternya sangat pahit tidak enak. Walaupun begitu aku tetap saja meneguk habis satu botol itu. Tak berselang lama dunia seprti berputar, kepalaku terasa pusing tapi aku tertawa senang. Beban masalahku seakan hilang, kakiku rasanya sangat ringan. Dalam ketidaksadaranku aku menari dan melompat lompat diatas ranjang sambil sesekali bersenandung dan tertawa.
" Lovanya " Panggil bryan dari luar kamar.
Aku tak menjawab dan masih sibuk tertawa, kali ini posisiku sudah terlentang diatas ranjang.
" Hey lo kenapa, lovanya!?" Teriak bryan sambil menepuk nepuk pipiku.
" Hallo sayang sudah pulang ya, gue kangen loh seharian nggak ketemu" Ucapku tanpa sadar dan mencium pipi bryan.
Bryan sedikit terkejut kemudian melirik kearah meja dan segera berjalan kearah sana . Diambilnya botol wine itu dan memandangiku dengan tatapan tajam , lagi lagi aku hanya tertawa. Aku menarik tangan bryan dan mencium bibirnya membuatnya kaget tapi tak berusaha melepaskanya. Kewarasanku benar benar sudah hilang, efek mabuk membuatku begitu gila.
" Aku mencintaimu bry" Ucapku singkat sambil mencium lagi bibirnya.
Tanpa diduga bryan membalas ciumanku membuat keadaan makin memanas. Tangan bryan mulai nakal menggerayangi tubuhku, yang kulakukan hanya mendesah. Bryan seperti kesetanan, menciumi setiap inci tubuhku dengan bergairah.
" Ouuuhhhh bry" Lenguhku menikmati kenikmatan yang baru aku rasakan.
" Aku mencintaimu lovanya sangat mencintaimu " Ucap bryan dengan nafas terengah engah.
" Beri aku kenikmatan dari tubuhmu bry" Ucapku semakin tak waras.
Mendengar perkataanku bryan semakin menggila kini dia beralih ke daerah sensitifku. Menciuminya dengan sangat bergairah walaupun masih terhalang celana dalamku. Tanganya nakal meremas buah dadaku . Aku semakin tak karuan merasakan sensasi kenikmatan ini untuk pertama kalinya.
__ADS_1
" Kita mulai ya sayang " Ucap bryan.
...........