Saudara tiriku yang tampan

Saudara tiriku yang tampan
Tercengang


__ADS_3

Semua siswa memandang kearahku, banyak yang berbisik dibelakang sana. Jessi dengan amarahnya datang kepadaku, berteriak.


" Lovanya!!!! " teriak jessi.


Aku masih melenggang tak peduli dengan teriakan jessi, masih memandang lurus kearah kelas. Namun saat sampai dilapangan aku tercengang benar benar kaget dengan apa yang ku lihat. Terdengar suara jessi yang memanggil dari belakang masih menggema ditelingaku.


"Lovanya berenti!!! Lo liat itu semua!!! jelasin ke gue kalo lo gak bakal nerima rafael kan!! " teriak jessi.


" Astaga tuhan, Rafael bener bener gila !" gumamku masih memandangi baleho yang membentang disepanjang lapangan bertuliskan. "LOVANYA & RAFAEL , Rafael sangat mencintai lovanya, maukah lovanya menjadi pacar rafael?"


Aku mendengus kesal sedangkan jessi masih terus berteriak dibelakangku. Saat jessi hendak menjambak rambutku, tiba tiba rafael datang.


"Lo apa apaan sih jes! berani lo sentuh lovanya, keluarga lo hancur!!" ancam rafael pada jessi.


"El lo tuh udah buta ya, jelas jelas masih cantikan gue dibanding dia. Kenapa lo milih dia? gue yang jelas jelas suka sama lo! sedangkan dia sok jual mahal" ucap jessi dengan nada emosi.


"lanjutin!! gue mau pergi" ucapku sambil melangkah pergi.


Namun tangan rafael menghentikanku.


" Lovanya tunggu! gue belum denger jawaban lo" tanya rafael.


" Gak, jawaban gue nggak mau jadi pacar lo. Mohon maaf nih ya nggak mau gue dicap perebut gebetan orang, lebih nggak mau lagi gue terus terusan diteriakin dimaki maki sama nenek sihir jessi" jawabku mantap.


"Itu bukan akhir dari semuanya, gue yakin suatu saat lo bakal mau sama gue. Gue bakal buktiin va. Gue bener bener cinta sama lo" ucap rafael.


"Lo udah tau jawabanya, sekarang lepasin gue!! Fue mau masuk kelas"


Aku melangkah menuju kelas meninggalkan kekacauan yang rafael buat.


"Mimpi apa dah gue semalam,  sakit semua tuh orang" gumamku saat pak edward masuk kelas.


" Anak anak hari ini sekolah kita kedatangan pengusaha muda yang sukses, ingin berbagi kiat kiat sukses dalam usahanya, kelas kita sebentar lagi mendapatkan giliran persiapkan diri kalian masing masing" jelas pak edward dan berlalu pergi meninggalkan ruang kelas.


" Eh va kira kira siapa ya pengusaha muda itu?" tanya renata padaku.


" Ya mana gue tau na, kenapa tadi nggak nanya aja sama pak edward" jawabku.


Renata cemberut mendengar jawabanku , aku tertawa dan meletakan kepala ku diatas meja memejamkan mata sejenak berusaha menghilangkan semua masalah yang ada saat ini. Tiba tiba aku terlelap sejenak lalu terbangun karena suara tawa.


" Nah ini dia contoh pemalas yang bakal sulit sukses, karena dikelas tidur! jangan dicontoh ya anak anak" ucap pria yang berdiri di depanku.


"Bryan!!!????" Aku tersentak kaget mendapati bryan yang berdiri didepanku " ngapai  lo disini bry?" tanyaku berterus terang.


" ehemm" bryan berdehem " sudah tidur dikelas, rupanya dia juga tidak sopan! sekali lagi jangan dicontoh ya anak anak" lanjut bryan.


Aku hanya bisa melongo, ternyata bryanlah pengusaha muda yang dimaksud pak edward. Bryan tersenyum tipis da mengedipkan matanya padaku. Lalu melanjutkan pidatonya lagi.


............

__ADS_1


" lovanya gue anterin ya!?" teriak rafael membuatku menengok kearahnya.


" makasih gue nunggu jemputan aja"ucapku lalu melanjutkan berjalan.


Tapi rafael memegang tanganku, aku berusaha sekuat tenaga melepaskan. Tapi rafael bersi keras tidak akan melepaskan tanganku sebelum aku mau pulang bareng.


" Lepasin el sakit!" teriaku setengah meringis.


" Maaf va ayolah aku anter ya?" ajak rafael lagi.


Saat tangan kiriku ditarik tiva tiba bryan datang menghentikan tarikan tangan rafael.


"Lepasin!!!" ucap bryan.


" Lo siapa berani ikut campur?"  jawab rafael.


" Kakak lovanya kenapa!" ucap bryan dengan ekpresi yang datar.


" Ini bryan kakaku el" ucapku berusaha memecah ketegangan.


Seketika rafael melepaskan tanganku dan membungkuk meminta maaf karena tidak sopan. Bryan malah tertawa menepuk pundak rafael.


" Usaha yang bagus buat ngedeketin adwk gue, tapi sayang adek gue ini kaya singa hati hati" bryan tertawa lebar.


"Singa singa kepala lo peang!! lo tuh buaya!! buaya darat" balasku tak mau kalah.


"Bry gue nebeng sampe rumah!" pintaku.


" Biar dianter rafael aja tuh kasian dia tau" jawab bryan.


" iya va biar aku anter aja ya, lagian tadi kata bryan dia mau ketemu pacarnya" ucap rafael menambahkan.


"P p p pacar?" aku terkejut mendengar bryan sudah mempunyai pacar.


Hatiku seperti teriris sakit, entah mengapa rasanya ingin menangis. Lututku gemetar taoi aku memeilih diam.


" Ayo el anterin gue"jawabku menuntun tangan rafael.


" ka bryan aku pergi dulu" teriak rafael.


Rafael tersenyum padaku dan mulai menjalankan mobil. Entah mengapa rasanya masih begitu sakit mendengar bryan punya pacar.


" lo kenapa? sakit?" tanya bryan menempelkan punggung tanganya ke keningku.


" gakpapa el, gue baik baik aja. Agak laper jadi lemes deh pagi tadi sarapan dikit" ucapku berusaha menutupi.


" kalo gitu kita makan dulu ya" ajak rafael.


Entah apa yang aku pikirkan aku hanya mengangguk. Semakin tak mengerti dengan perasaanku sendiri, tentang bryan yang selalu membuatku tak karuan, tentang rafael yang tiba tiba aneh jadi bucin. Rafael mengguncang tanganku karena sudah sampai ditempat makan. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk.

__ADS_1


" Aku pesenin menu kesukaanku ya?" tanya rafael.


Lagi lagi aku hanya mengangguk. Tak berselara untuk bicara. Tapi tak lama pesanan makanan datang. Aku tertawa senang karna ternyata kesukaan rafael saa denganku.


" Kok bisa sih sama ini juga makanan kesukaan gue" aku langsung menyantapnya tanpa basa basi.


" kita berjodoh nih pasti" jawab rafael sambjl menikmati makananya juga.


Aku tak menjawab dan melanjutkan makan, setelah selesai rafael memesan eskrim untuk penutupnya. entah kebetulan atau gimana, eskrim yang dia pesan juga kesukaanku. Moodku benar benar turun naik hari ini. Aku segera memakan es krim itu dengan senang.


" Disekitar bibirmu berantakan lovanya, eskrim kemana mana. pelan pelan dong makanya" kata rafael.


Alih alih mengambil tissu rafael mencondongkan kepalanya dan menghapus lelehan es krim di bibirku dengan bibirnya. Seketika aku membeku, menatap bingung rafael yang semakin hari semakin aneh. Tanpa sadar pipiku memerah karena malu dan gugup.


"Gue mau pulang aja" ucapku untuk menutupi rasa gugupku.


.............


" Astaga lovanya sadar kenapa lo senyum senyum sendiri sih kalo keinget kejadian di cafe tadi" omelku pada diriku sendiri.


Aku menghadap kecermin dan melihat sudut bibirku dari pantulam cermin. Aku meraba dan mulai tersenyum tipis. Tapi cepat cepat kugelengkan kepala agar kewarasanku kembali. Tiba tiba bryan datang ke kamarku, seketika raut mukaku langsung berubah teringat pernyataan rafael yang menjelaskan kalau bryan sudah punya pacar.


"Gimana ngedate sama rafael? seru nggak?" goda bryan yang ku balas dengan lirikan tajam.


"Keluar!! gue gak mau lihat lo!!!" ucapku terus terang.


Entah mengapa rasanya sangat sakit hati ini, walaupun berulang kali mencoba sadar kalau bryan kakak tiriku. Tapi tetap saja hati ini nggak bisa dibohongi. Aku menyukai kakak tiriku sendiri.


"lo kenapa va? gue ada salah?jelasin dimana ynag salah? biar gue perbaiki" tanya bryan yang terlihat khawatir.


Aku memberanikan diri menatap matanya, lagi lagi jantung ini berdebar sangat keras seperti ada barisan drum band didalam sana. Ingin rasanya berkata jujur tapi aku tidak punya keberanian sedikitpun. Tak bisa menjelaskan dengan suara, air matakupun menetes. Bryan yang menyadarinya langsung panik dan memelukku.


" Astaga lovanya lo apaan sih pake nangis segala! alay banget bodoh bodoh bodoh" rutukku dalam hati.


" Rafael nyakitin lo? jangan nangis lagi ya. Biar gue kasih pelajaran besok" tanya bryan sambil menghapus air mataku.


Antara senang  , malu, bodoh bercampur aduk, tapi kumantapkan diri untuk menjawab.


"Ih nggak rafael gak ngapa ngapain, orang gue tadi kelilipan ye!!!" ujarku sambil menjulurkan lidah.


" kelilipan apaan woyy!! kelilipan cinta, orang lo nangis gitu kok!" Bryan berteriak didepanku.


" Dimana wibawamu sebagai pengusaha sukses itu" aku tertawa mengejek.


" Ini kan didepanmu adikku sayang" jawab bryan meledek.


Aku mencubit perutnya dengan keras membuatnya tersentak. Dengan cepat aku mengindar agak dia tak bisa balik mencubitku, tapi tanpa sengaja aku tersandung kotak kecil dilantai membuatku terhuyung. Dengan cepat bryan menangkapku sebelum aku menyentuh lantai. Wajah kami sangat dekat hanya berjarak beberapa inci membuatku terpesona. Jantungku berdebar sangat kencang, aku berusaha mengontrol suasana. Tapi rasa ini tak terbendung lagi kuberanikan diri mendekatkan bibir ini untuk mencium bibir bryan. Mataku terpejam dan dengan cepat aku menciumnya. Singkat tapi membuat lututku lemas, bryan terlihat kaget tapi tidak berusaha menjauh. Untuk beberapa saat kami saling bertatapan, hingga terdengar pintu di buka.


" Kalian lagi ngapain??" Tanya madeline.

__ADS_1


__ADS_2