Sebatas Cinta Dan Memiliki

Sebatas Cinta Dan Memiliki
01.Menyiapkan Sarapan pagi


__ADS_3

Pagi hari yg cerah.


Seorang gadis bangun dari tidurnya, sementara jam masih mengarahkah pada angka 5 dini hari. Gadis itu bangun dri tidur nya dan berjalan ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk diri nya dan juga keluarga nya.


Ciara Rosalie Wijaya atau biasa di sebut cici. Bangun untuk menyiapkan sarapan untuk ayah, ibu dan adik tiri nya, walau ada begitu bnyk pelayan di rumah nya tetapi dia sangat lah mandiri dan selalu menyiapkan segala nya sendiri, dari mulai hal pribadi nya sampai terkadang membersihkan rumah pun sudah menjadi tanggung jawab cici saat ini.


Cici sendari kecil memang sudah melakukan apapun sendiri, bahkan ayah nya bilang "jika ingin sukses kamu lakukan lah sendiri jangan mengandalkan orang lain dan jangan suka merepotkan orang lain, selagi kamu bisa mengerjakan nya, yasudah kerjakan, jangan manja, kamu ini sudah besar." Protes ayah nya kepada cici.


Sampai sekarang pun cici masih bisa mengingat dengan jelas apa perkataan ayah nya dulu.


Pagi hari ini.


Cici turun dan menyiapkan sarapan untuk keluarga nya, namun sebelum itu dia juga tidak lupa mandi. Dia pertemu dengan kepala pelayan saat turun tangga dan berpapasan dengan nya.


"Selamat pagi,nona ciara." Sahut pelayan itu membungkukkan badan nya dengan penuh hormat.


"Pagi juga, pak Nuh, tak usah terlalu formal begitu pak kalau dengan saya." Jawab cici dengan tersenyum. Dan nama kepala pelayan itu adalah pak Nuh.


"Tidak nona, anda kan majikan saja jadi saya harus menghormati nona." Sahut pak nuh tak enak.


"Pak, yg majikan bukan diri ku tetapi ayah ku, dialah yg memberikan gaji kepada pak nuh dan para pelayan lain nya, kalau saya? Saya kan cuma anak yg tidak dia akui keberadaan nya pak" Jwb cici dengan tersenyum tipis.


"Tidak nona muda bagaimana pun nona tetaplah majikan saja." Menunduk hormat kepada nona nya.


"Baik lah pak nuh, oh ya pak nuh saya permisi ingin membuat sarapan." Kata cici mengahlikan pembicaraan bisa-bisa dia kena omel oleh ibu dan adik tirinya, bahkan ayah nya sekalipun.

__ADS_1


"Nona tidak ush repot, di sini kan banyak pelayan yg bekerja." Jwb pak nuh.


"Ini sudah jadi kebiasaan saya pak Nuh, pak Nuh kan tau sendiri dari saya kecil di perlakukan seperti apa." Kini senyuman cici berubah menjadi raut wajah sedih.


"Maafkan saya nona, saya benar-benar minta maaf." Jwb pak nuh meminta maaf, sungguh dia tak bermaksud memojokan atau menghina nona mudanya yg satu ini.


Pak Nuh yg tau segala nya tentang nona muda nya itu pun, ikut merasakan bagaimana kehidupan nona muda nya yg satu ini. Penuh dengan rintangan yg harus dia hadapi sendiri.


Tetapi bagi cici, dia beruntung karena pak Nuh sudah dia anggap seperti ayah kandung nya sendiri. Selalu ada ketika dia sedang membutuhkan berbeda dengan ayah kandung nya yg tak mau mengubris dia bahkan untuk bertemu pun dia sepertinya tak ingin.


"Pak Nuh, kenapa anda meminta maaf?, bapak tidak punya salah apa pun sama cici kok." Jwb cici tersenyum cerah secerah mentari pagi.


"Mungkin memang hidup ku ini harus seperti ini pak." Jwb nya lagi.


Nona ciara maafkan saya tak bisa menjaga nona cindya, dan maafkan saya nona karena sendari kecil nona sudah menderita begini, saya hanya bisa mendoakan nona agar di beri kehidupan yg bahagia kedepan nya. -Pak Nuh-.


Cici sampai di bawah dan sudah menuju dapur, mulai menyiapkan sarapan nya, dengan seriusnya dia memasak makanan kesukaan nya yaitu nasi goreng special yg dia buat sendiri, tak lupa segelas susu hangat dan kopi hitam untuk ayahnya dia sajikan di meja makan.


"Sudah selesai, nasi goreng kesukaan ku juga sudah jadi. Rasanya juga lumayan." Bicaranya sendiri sambil sedikit memuji masakan nya.


Sesudah itu semua anggota keluarga nya keluar dan turun ke bawah untuk sarapan, kebetulan tadi pas berpapasan dengan pak Nuh, sepertinya pak Nuh ingin membangunkan ayah,ibu dan juga adik tiri nya. Dan betul saja tak lama setelah mereka turun, pak Nuh ikut turun setelah nya.


"Silahkan makan ayah,ibu, adik." Sahut cici dengan tersenyum.


Sementara itu ayah, ibu beserta adik nya tak menghiraukan perkataan dan langsung duduk di meja makan mereka masing-masing. Sungguh aneh anggota keluarga ini, menganggap cici sebagai seorang pelayan saja.

__ADS_1


Mereka semua diam, begitu pun dengan semua nya, rasanya canggung sekali, rasanya ingin cici memulai pembicaraan, cici berkata dalam hatinya sambil menyimpan raut wajah seperti ingin memulai pembicaraan agar tak terlalu canggung dimeja makan.


Karena kecanggungan sepertinya makin mencekam, cici akhirnya mau tidak mau membuka pembicaraan nya dengan semua anggota keluarga nya.


"Ayah, ibu bagaimana nasi goreng buatan cici?, apakah enak?." Sahut cici dengan tersenyum, berharap dia sedikit di puji.


"Buatan mu?, pantasan saja tak enak." Sahut adik perempuan nya, membanding sendok di hadapan nya.


"Iya, benar ini sama sekali tak enak, untuk apa kau menyiapkan nya untuk kami semua." Ikut ibu nya menyindir hasil masakan cici.


Tpi menurut cici masakan nya lumayan enak, apa yg salah dengan masakannya?, toh juga tadi sudah dia rasa.


"T,tpi bu aku yakin rasanya lumayan kok." Sahut nya dengan sedikit berbata-bata.


"Ck, asin sekali nasi goreng mu, dan lagi ada bagiann yg gosong, membuatku tak selera makan saja." Jwb adik nya yg menghina hasil makanan nya.


bersambung....


yo! ini karya pertama author😉


jangan lupa like n comment!


dan jangan lupa dukung author terus ya!, biar author senantiasa update untuk kalian!.


see you next time😉.

__ADS_1


__ADS_2