Sebuah Kisah Kehidupan

Sebuah Kisah Kehidupan
Bab 1, Awal Mula


__ADS_3

Sekilas perkenalan diri dari penulis, namaku Hamdan Supriatna yang lahir pada tanggal 25 Maret 1988. Aku lahir dari perut seorang ibu yang bernama Esih Sukaesih dan bapakku bernama Yusep Supriatna. Aku dilahirkan di sebuah rumah panggung khas rumah adat sunda di desa Cipeundeuy Kabupaten Bandung. Sekarang menjadi Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2007.


Di cerita ini aku akan mulai di tahun 1992 (karena aku bisa mengingat ceritaku mulai tahun itu). Di tahun ini, orang tua aku bercerai disaat aku berusia 4 tahun. Untuk tanggal dan bulannya aku tidak ingat. Yang jelas, saat itu ibuku sedang hamil mengandung adikku yang pertama.


Di suatu pagi, aku dan ibuku hendak mandi di pemandian umum, karena dulu jarang ada rumah yang mempunyai kamar mandi sendiri. Jadi semua orang di kampungku akan mandi di satu tempat. Bisa dibayangkan kalau saat itu antrean orang-orang yang mau mandi seperti apa. Jaraknya sekitar 200 meter dari rumahku.


"Mah, adik aku tuh laki-laki atau perempuan?" tanyaku pada ibuku ketika sedang berjalan menuju pemandian umum.


"Ya sedikasihnya aja Dan, mau laki-laki, mau perempuan harus di syukuri. Kamu harus sayang pada adik kamu nanti ya." jawab ibuku. Karena orang tua dulu belum tahu atau malah belum ada USG seperti sekarang, jadi belum tahu anaknya akan lahir laki-laki atau perempuan. Dan kebanyakan melahirkannya pun bukan di bidan, tetapi di dukun beranak, kalau di kampungku disebut sebagai paraji.


"Oh iya dong mah, pasti aku akan sayang pada adikku nanti" kataku sambil mengusap perut ibuku.


Sesampainya di pemandian umum, benar saja yang dikatakan ibuku dirumah jika kalau mau mandi harus datang lebih awal. Ternyata orang yang antri di pemandian sudah banyak, sekitar 10 orang. Tempat pemandiannya sendiri hanya ada 2 bilik (kamar). Jadi perkiraan aku harus menunggu 5 orang lagi untuk sampai giliranku. Setelah 30 menit kemudian, akhirnya tiba giliran aku dan ibuku untuk mandi. Kami mandi hanya beberapa menit saja paling lama 10 menit karena kasihan juga dengan orang-orang yang antri. Mungkin mereka juga akan merasa kesal sama denganku ketika antri. Setelah selesai mandi, kami pun pulang ke rumah.


"Kalau bapak kemana Mah? kenapa gak pernah pulang ke rumah? padahal tiap hari aku sering ngelihat bapak di jalan" tanyaku ketika hampir sampai rumah. Aku lihat wajah ibuku nampak lesu mendengar pertanyaanku.

__ADS_1


"Sekarang bapak kamu gak bakalan pulang ke rumah ini lagi Dan" jawab ibuku sambil membukakan pintu rumah. Kami pun masuk rumah dan menggati pakaian.


"Kenapa Mah, Bapak gak bakalan pulang ke rumah ini lagi?" tanyaku setelah memakai pakaian yang sudah disiapkan. Ibuku hanya diam saja, wajahnya nampak sedih melihat ke arahku.


"Sekarang kamu sama Mamah saja ya Dan, jangan pikirkan bapak. Kalau kamu mau ketemu bapakmu, kamu tinggal ke depan aja, Tapi hati-hati ketabrak motor atau mobil" kata ibuku sambil membelai rambutku.


Pekerjaan bapakku adalah seorang sopir angkutan pedesaan. Rumah aku berada di dekat jalan utama desa, hanya terhalang satu rumah saja. Jadi aku masih bisa bertemu dengan bapakku kalau dia sedang narik angkutan pedesaannya, dikarenakan terminal tempat angkutan berhenti ada di kampungku juga. Sedangkan ibuku bekerja serabutan. Bisa dibilang pekerjaan ibuku adalah seorang asisten rumah tangga, tapi tidak terpaku pada satu rumah saja. Para tetangga sering menyuruh ibuku untuk mencuci baju, menyetrika, bahkan untuk sekedar mencuci piring.


Setiap hari aku sering menemui bapakku dikarenakan ada lapangan di pinggir jalan untuk kami bermain. Setiap bertemu dengan bapakku, aku selalu minta uang untuk jajan. Aku dikasih 500 rupiah untuk sehari. Maklum, uang 500 dulu itu bisa buat beli apa saja, cukup untuk jajan aku sehari.


Hari demi hari aku selalu di samping adikku ini, karena aku ingat pesan ibuku kalau adikku ini lahir aku harus bisa menjaga dan menyayanginya. Terkadang, temanku yang mengajak bermain aku abaikan jika ibu sedang bekerja. Aku selalu menemani adikku di rumah. Jika adikku menangis, aku segera memanggil ibuku karena dia bekerja di rumah tetangga tidak jauh dari rumahku.


Di rumah aku ada beberapa orang lagi. Yaitu, kakekku, nenekku, kakak ibuku, dan juga adik ibuku. Dengan lahirnya adikku ini, dirumah menjadi 7 orang. Kakekku dan adik ibuku bekerja serabutan di sawah, sedangkan kakak ibuku bekerja di pasar dan nenekku di rumah saja karena dia sudah tua dan sudah terbatas aktifitasnya.


Suatu hari, ketika adiku sudah bisa merangkak, aku dan ibuku makan siang bersama dengan tetangga yang lain.

__ADS_1


"Sih, makan bareng yuk? kamu masak apa" tanya salah satu tetanggaku pada ibuku yang juga masih saudaraku.


"Ayo, saya masak tumis kentang, goreng tempe, juga ikan pindang" katav ibuku mengiyakan ajakan tetangga. Kami pun mulai makan bareng tetangga.


Saking asiknya kami makan. Tiba-tiba terdengar 'preng' suara piring pecah di samping tempat duduk ibuku. Kemudian semua yang sedang makan menoleh ke arah samping ibuku. Betapa terkejutnya semua yang melihat ternyata ada adikku yang tersungkur ke arah piring yang pecah. Semua menjerit apalagi ibuku sampai histeris karena melihat darah yang sangat banyak di bagian wajah adikku. Benar saja, pecahan piring terlihat menancap di pipi adikku.


Ibuku langsung merangkul adikku kemudian dibawanya adikku ke puskesmas Cikalong Wetan (sekarang menjadi RSUD Cikalong Wetan) dengan menggunakan angkutan pedesaan. Sesampainya di puskesmas adikku langsung ditangani oleh petugas puskesmas. Adikku terkena sayatan di pipi kirinya dan harus dijahit. Setelah selesai pengobatan adikku, sore harinya kami kembali pulang ke rumah.


Setelah sampai rumah, ternyata di rumah sudah banyak orang. Mereka langsung menanyakan kondisi adikku.


"Bagaimana keadaan si Aris, Sih?" tanya salah satu tetangga.


"Alhamdullah baik-baik saja. Hanya saja pipinya harus dijahit 20 jahitan" jawab ibuku. Kemudian ibuku segera masuk rumah untuk membaringkan adikku karena sudah tertidur sejak dari puskesmas.


Beberapa bulan kemudian, sejak adikku sudah bisa berjalan, aku selalu membawa adikku kalau sedang main. Kami selalu bersama kemanapun apalagi disaat ibuku sedang bekerja. Kami sangat rukun walau terkadang suka bikin kesal ibuku. Ya, namanya juga kakak adik pasti ada berantemnya. Adikku suka nangis karena keisenganku. Kadang aku suka nyubit bahkan memukul adikku. Tapi, walaupun aku suka iseng terhadap adikku, aku sangat menyayangi dia.

__ADS_1


__ADS_2