Sebuah Kisah Kehidupan

Sebuah Kisah Kehidupan
Bab 4, Kehidupan Masa Kecil (part 3)


__ADS_3

* Kelas 4


Memasuki kelas 4 Sekolah Dasar, aku mengikuti pendidikan ekstrakulikuler. Aku mengikuti kegiatan Pramuka. Jika ada acara camping pramuka pun aku selalu ikut. Suatu ketika ada acara yang dibuat oleh gugus pramuka kecamatan yang mengharuskan semua sekolah se-kecamatan untuk ikut camping. Acaranya di wilayah bendungan Cirata. Sekarang bendungan Cirata sudah menjadi tempat wisata, dan alam sekitarnya sudah bersih. Tidak seperti ketika aku masih sekolah dasar, tempatnya sangat menyeramkan karena masih nampak seperti hutan.


Pada hari senin, ketika kepala sekolah kami pidato di upacara yang biasa tiap hari senin, beliau mengumumkan siswa dan siswi yang ikut untuk acara camping pramuka. Ketika mulai menyebutkan nama-namanya, ternyata ada nama aku. Jumlah semua yang ikut ada 30 orang, Siswa yang ikut di kelas 4 ada 5 orang termasuk aku, kebanyakan yang ikut dari kelas 5 dan 6.


Acara camping yag dilaksanakan di bendungan cirata berlangsung selama 3 hari 2 malam. Dan di hari terakhir acara camping, ketika pengumuman juara oleh ketua gugus pramuka kecamatan ternyata yang menjadi juara umum adalah sekolahku. Kami sangat bangga, kemudian di sekolah kami mengadakan syukuran. Dari sejak itulah aku selalu diikut sertakan jika ada acara camping pramuka.


Caturwulan pertama di kelas 4 aku mendapat ranking 2. Namun di caturwulan kedua turun jadi ranking ketiga. Aku mencoba cari tahu apa penyebab ranking aku turun. Ternyata aku lebih sering bermain daripada belajar. Kemudian di catur wulan ketiga, aku merubah kebiasaan sehari hariku itu. Hasilnya, aku mendapat ranking kedua lagi ketika kenaikan kelas.


Pada tahun 1998 waktu aku berumur 10 tahun, ibuku menikah lagi dengan anak dari teman kakekku yang bekerja di sawah. Tapi lagi-lagi pernikahan ibuku gagal. Namun kali ini bukan perceraian, tetapi suami dari ibuku atau bapak tiriku meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali ke ibuku. Saat itu, ibuku juga sedang hamil ketika ditinggalkan. Setalah 9 bulan kemudian, ibuku melahirkan anak laki-laki kembali. Jadi, anak yang dilahirkan oleh ibuku ketiganya laki-laki. Namun, adikku yg kedua ini di berikan kepada adik sepupu nenekku atau paman ibuku  untuk di adopsi dikarenakan dia tidak memiliki anak.


Suatu hari, aku mendapat kabar jika bapak tiriku itu menikah lagi. Kakekku yang sedang bekerja di sawah pernah melihat dia pulang kerumah orangtuanya yang juga teman kakekku. Ketika dibuntuti oleh kakekku, dia malah lari, kakekku mengejarnya tapi ga tersusul. Maklum kakekku sudah tua jadi larinya sudah lambat.


* Kelas 5


Ketika aku memasuki kelas 5, adik aku, Aris, sudah masuk kelas 1 sekolah dasar. Setiap berangkat sekolah aku selalu bareng sama adikku, tetapi ketika pulang kami tidak barengan. Karena, kelas satu pulangnya jam 10, sedangkan aku pulang jam 1 siang


Di kelas 5 ini, aku mulai aktif di bidang olahraga. Olahraga yang aku gemari adalah sepakbola. Pada bulan Agustus, ada kompetisi atau kejuaraan sepakbola antar RW dengan maksimal usianya kelas 6 sekolah dasar yang di adakan oleh pemerintah desa. Memang di setiap bulan Agustus tiap tahun selalu ada kompetisi, tapi baru di tahun ini aku diikut sertakan. Aku termasuk di lingkungan RW 05.


Kompetisi berjalan sangat seru, karena pemain-pemain tiap RW bisa dibilang bagus bagus. Tim kesebelasan RW aku masuk babak final setelah RW aku mengalahkan tim RW 16 di babak swmifinal lewat drama adu penalti. Di babak final, kami akan melawan RW 07 yang pada babak semifinal mengalahkan RW 06.


Di babak final pertandingan semakin seru karena sama-sama kuat. Akhirnya, tim RW kami menjadi juara setelah aku mencetak gol satu-satunya di pertandingan itu. Di malam puncak acara Agustusan yang diselenggarakan di aula desa. Ada pengumuman juara-juara lomba atau kompetisi. Selain sepakbola anak, kejuaraan lain juga diselenggarakan. Seperti badminton, voli, basket, dan banyak lagi perlombaan.


Ketika pengumuman juara dalam olahraga sepakbola anak, tim RW 5 dipanggil oleh kepala desa untuk menerima hadiah sebagai jura pertama. Yang lebih membanggakan lagi, aku terpilih menjadi pemain terbaik dalam kejuaraan itu. Sejak itu aku lebih giat berlatih sepakbola, dan kemudian ditawari untuk masuk sekolah sepak bola yang ada di desa.


Di kelas 5 ini aku mendapat ranking 2 pada caturwulan pertama, kedua, dan ketiga. Selain itu, ada satu temanku yang tidak naik kelas, namanya Rian. Dia memang dikenal anak nakal, kalau ada yang bikin kesal sama dia, dia biasanya marah dan suka berkelahi. Tapi, dia tidak berani kepadaku. Mungkin satu satunya yang siswa yang dia segani di sekolah hanya aku.


* Kelas 6


Memasuki kelas 6 tingkah laku aku mulai sedikit nakal, mungkin karena pengaruh lingkungan dan aku sering main pada malam harinya. Hasilnya pada catur wulan pertama, aku turin jadi ranking 3.


Suatu hari aku dipanggil oleh kepala sekolah. Aku merasa kaget, karena aku takut pihak sekolah memanggil orangtuaku karena aku nakal di sekolah. Kemudian aku memenuhi panggilan kepala sekolah didampingi oleh guru kelasku.

__ADS_1


"Assalamualaikum, pagi Bu" aku ucapkan salam ketika masuk ruangan kepala sekolah. Kepala sekolahku namanya Ibu Martini, dan guru kelasku namanya Ibu Siti.


"Wa alaikum salam" balas kepala sekolah.


"Silahkan Dan duduk dulu" katanya sambil mempersilahkan aku duduk di sofa yang ada di ruangan kepala sekolah. Lalu, aku duduk berhadapan dengan kepala sekolah. Dag dig dug juga rasanya karena takut dimarahi.


"Bu, udah diberitahu ke Hamdan?" tanya kepala sekolah ke guru kelasku.


"Belum Bu" jawab guru kelasku. Aku jadi penasaran apa yang mau dibicarakan.


"Oh baiklah. Jadi begini Dan, Ibu panggil kamu kesini untuk memberitahu kalau kamu di ikut sertakan dalam lomba cerdas cermat se-kecamatan Cipeundeuy pada hari Senin depan. Kamu didaftarkan ke mata pelajaran matematika" jelas kepala sekolah.


Ternyata yang aku takutkan itu salah. Aku dipanggil kepala sekolah ternyata untuk diikut sertakan pada lomba cerdas cermat se-kecamatan kategori mata pelajaran matematika. Sejak itu pikiranku jadi tenang kembali.


"Iya Dan, nilai matematika kamu selalu bagus, dan ini juga rekomendasi dari Bu Dedeh waktu kamu kelas 4 dulu" tambah guru kelasku.


"Untuk itu, Ibu pesan ke kamu ya Dan, lebih giat lagi belajarnya. Kamu hanya punya waktu seminggu saja untuk persiapan lomba cerdas cermat" pesan dan nasihat kepala sekolah kepadaku.


Setelah cukup lama membicarakan seputar lomba cerdas cermat dan masukan-masukan yang aku dapat dari keduanya, aku dipersilahkan untuk ke kelas kembali.


"Dimarahin kamu, Dan?" tanya salah satu temanku ketika aku sampai ke kelasku.


"Nggak" jawabku.


"Terus ngapain tadi di ruang kepala sekolah?" tanya temanku lagi.


"Aku diikutsertakan lomba cerdas cermat untuk mata pelajaran matematika" jawabku.


"Lho, kenapa bukan si Dede? dia kan yang ranking 1 terus" kata temanku yang lainnya.


"Kata Bu kepala sekolah yang dilihat mata pelajaran matemetika aja, kebetulan aku yang paling baik katanya" aku menjelaskan ke teman-temanku kenapa aku yang dipilih. Akupun berpikir sama dengan temanku, kenapa bukan yang ranking pertama yang dipilih. Tapi ya sudahlah, mungkin ini adalah suatu tantangan dan kewajiban yang harus aku jalani.


Selama seminggu aku selalu belajar siang dan malam semua tentang pelajaran matematika, sampai-sampai aku tidak keluar rumah untuk main. Aktifitas belajarku hanya terpotong oleh makan, mengaji dan tidur saja. Tidak lupa aku memberitahu ibuku kalau aku terpilih ikut lomba cerdas cermat. Ibuku sangat senang, mungkin dia juga merasa bangga.

__ADS_1


Waktu lomba cerdas cermat pun dimulai. Aku datang ke tempat lomba di temani oleh guru kelasku. Dia izin mendampingiku, semenara yang mengajar di kelasku diganti dulu sama guri yang lain. Tidak lupa aku meminta dukungan dan do'a dari teman-teman di kelas.


"Hai teman-teman semua, do'akan aku ya!" kataku ketika aku disuruh bicara di depan kelas oleh guruku.


"Pasti Dan, semoga jadi juara" kata teman-temanku kompakan.


"Aamiin....terimakasih ya" kataku.


Aku dan guruku pun berangkat ke tempat lomba. Disana ternyata peserta yang lain sudah datang. Sebelum aku memasuki ruangan lomba, aku diberikan nasihat dulu sama guruku.


"Dan, pokoknya baca soalnya dengan teliti, terus jika waktu mau habis kamu jangan panik apabila kamu belum selesai. Kamu harus tetap fokus dan yakin akan jawaban kamu" kata guruku ketika panitia lomba memanggil semua peserta.


"Iya Bu" balasku. Kemudian  aku masuk ruangan lomba.


Setelah masuk ruangan ternyata yang menjadi peserta kebanyakan perempuan. Dari 25 peserta, hanya ada 3 orang laki-laki termasuk aku yang jadi pesertanya. Lomba pun di mulai.


Setelah hampir 1 jam lomba berlangsung, pengawas lomba mengatakan bawhwa kertas jawaban dikumpulkan 5 menit lagi. Aku sedikit kaget karena ada beberapa soal lagi yang belum selesai. Tapi. aku ingat pesan dari guruku, aku jangan panik dan harus tetap fokus. Akhirnya, aku menyelasaikan semua soal tepat waktu ketika pengawas mengatakan waktunya habis.


"Iya cukup, waktunya habis, letakan jawaban di meja masing-masing, dan silahlan keluar ruangan" kata pengawas lomba.


Satu jam kemudian, semua peserta dan gurunya dipanggil untuk masuk ruangan lomba. Pengumuman juara pun dibacakan oleh ketua penyelenggara. Dag dig dug rasanya menanti hasil lomba. Ketika di mulai pengumuman juara, panitia menyebutkan juara 3 dan 2 terlebih dahulu. Tidak ada namaku di juara 3 dan 2. Aku semakin tegang begitupun guruku yang nampak berharap harap cemas.


"Kini saya akan memacakan juara pertama" kata ketua panitia yang memberikan jeda ketika membacakannya sehingga semua yang ada di ruangan tegang.


"Daaann..... Juaranya adalaaaaahhhh...... Hamdan Supriatna.... dari SDN Margaluyu" kata ketua panitia yang menyebutkan namaku sebagai juara pertamanya.


Mendengar itu, guruku langsung mendekap dan memelukku dengan eratnya, sampai-sampai aku engap dibuatnya. Dia terlihat begitu bahagia dan bangga sekali. Ternyata inilah pertama kali dalam sejarahnya sekolah aku bisa menjuarai lomba cerdas cermat untuk mata pelajaran matematika. Karena untuk mata pelajaran yang lain seperti IPA, IPS, sudah pernah menjuarai.


Setelah lomba cerdas cermat selesai, aku diperbolehkan langsung pulang ke rumah. Aku ceritakan semua pengalaman aku saat lomba pada ibuku. Dia terlihat sangat senang dan bangga. Besoknya, ketika aku kembali sekolah, aku mendapat ucapan selamat dari  teman-teman kelasku. Itulah prestasi tertinggi aku ketika sekolah dasar.


Di semester kedua dan ketiga di kelas 6 ini, aku kembali mendapat ranking 2, dan yang menjadi ranking pertama masih tetap, Dede Lukman. Yang lebih membanggakan lagi dari pendidikan sekolah dasar aku, pada ujian akhir sekolah, aku mendata nilai evaluasi murid atau yang disebut NEM aku paling tinggi dari semua murid kelas enam. Aku mendapat nilai 25 dari 3 mata pelajaran yang di ujiankan yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Seperti biasanya, nilai yang paling tinggi adalah mata pelajaran matematika. Aku mendapat nilai 9 di mata pelajaran matematika, sedangkan pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris aku dapat nilai 8.


Acara kelulusan yang diadakan tiap tahun di sekolah berlangsung sangat meriah. Aku mendapat juara umum di sekolah walaupun aku tidak pernah menjadi rannking pertama selama sekolah dasar.

__ADS_1


__ADS_2