
Hari demi hari setelah kejadian Emil telah dilalui. Kini, suasana di sekolah sudah kembali seperti biasanya. Di sekolah, aku merupakan murid yang paling disegani. Walaupun aku bukan ketua murid, tapi semua teman-teman sekelas sangat segan kepadaku. Dari segi prestasi pun aku tidak kalah dengan teman aku yang lebih dulu belajar di taman kanak-kanak sebelum masuk sekolah dasar.
* Kelas 1
Di catur wulan pertama, karena dulu waktu aku sekolah dasar sistem pembelajaran masih menggunakan catur wulan. Sekarang sudah berganti menjadi sistem semester. Selain kejadian tentang Emil seperti yang sudah aku ceritakan di ban sebelumnya, aku mendapat ranking kedua. Aku kalah oleh teman aku yang seorang anak guru yang juga mengajar di sekolahku dan juga merupakan ketua murid. Namanya Dede Lukman.
Aku cukup dekat dengannya walaupun kami saling kenal ketika masuk sekolah dasar. Tingkahku yang apa adanya dan luwes mungkin membuat teman yang lain mudah akrab denganku. Semua teman laki-laki sangat akrab denganku.
Di catur wulan kedua dan ketiga kelas 1, lagi-lagi aku mendapat ranking kedua. Dan yang ranking pertama masih tetap Dede Lukman.
* Kelas 2
Setahun sudah aku dan teman-teman sekelas bersama. Memasuki tahun kedua ini kami semakin akrab dan juga bukan hanya anak laki-laki saja yang akrab denganku, tetapi anak perempuan pun sudah mulai ikut bermain jika istirahat sekolah. Di waktu istirahat ada yang bermain loncat karet, bermain kelereng, atau ada juga yang bermain galasin. Halaman depan kelas yang cukup luas membuat area bermain menjadi banyak.
Di catur wulan pertama kelas 2, aku kembali dapat ranking kedua dan yang pertama masih tetap orang yang sama.
Pada awal catur wulan kedua, kelasku kedatangan mirid baru. Dia adalah siswa perempuan pindahan dari daerah Ciranjang, Cianjur. Viska Aristian namanya. Dia pindah kesini dikarenakan orang tuanya pindah rumah ke kampungku. Dia adalah anak dari pengusaha daging ayam yang suka berjualan di pasar.
__ADS_1
Di catur wulan kedua dan ketiga kelas 2, aku masih tetap dapat ranking kedua sementara yang ranking pertama masih sama juga.
* Kelas 3
Setelah 2 tahun bersama di sekolah, aku dan teman-teman sekelas sudah tidak merasa canggung lagi satu sama lain. Bermain pun sudah berbaur antara laki-laki dan perempuan. Bahkan, di kelas ini sifat keisengan dalam bermain sudah terlihat dan tidak canggung satu sama lain.
Suatu ketika ketika sedang jam istirahat, kami bermain loncat tali. Semua yang ada di kelas mengikuti permainan ini kecuali yang sedang sakit. Ketika teman cewekku yang bernama Viska, yang baru masuk di waktu kelas dua sedang loncat. Waktu itu tinggi tali setelingaku. Dikarenakan dia pakai rok yang selutut, ketika dia melompat roknya tersingkap keatas karena terkait ke bagian tali. Sehingga ****** ******** kelihatan.
Ada kejadian lucu dari momen itu. Ternyata ada salah satu temanku yang sedang jongkok tepat di depan area bermain loncat tali. Dia melihat bagian ****** ***** Viska sampai terbengong sambil meneteskan air liur ke lantai kelas. Agung namanya. Dari kejadian itu membuat semua yang melihat mentertawakan dia. Tapi tertawaan dan ejekan kepadanya tidak berlanjut, dikarenakan kami teringat akan kejadian yang menimpa Emil waktu kelas 1 dulu. Cukup pada momen itu saja kami mengejek dan mentertawakannya.
"Gung, kamu ngacay?" tanya salah satu temanku.
"Lihat apa kamu sampai keluar air liur kaya gitu?' aku pun ikut bertanya.
"****** ******** putih" jawabnya. Mendengar jawabannya, aku dan teman yang lainnya tertawa. Sedangkan Viska wajahnya memerah. Setelah itu, kami melanjutkan permainan sampai lonceng berbunyi.
Di tahun 1997 tepatnya bulan April, waktu masih kelas 3, aku mendapat berita duka. Nenekku meninggal. Aku sangat sedih sampai menangis tak berhenti. Akan tetapi, adikku malah senang. Mungkin dia belum mengerti tentang kematian. Maklum dia baru berumur 5 tahun ketika nenek meninggal dunia.
__ADS_1
"Asiiikkk.... bakal dapat uang sholawat" katanya sampai kegirangan. Ya, di kampungku jika ada yang meninggal dunia, pasti keluarga yang di tinggalkan akan memberi uang sholawat untuk orang-orang yang hadir di area pemakaman. Biasanya uang solawat itu akan dimasukkan ke dalam plastik yang berisi beras.
Ada satu percakapan dengan nenekku yang aku selalu ingat.
"Dan, pijitin kaki Ema!" kata nenekku ketika aku sampai di rumah dari sekolah dan aku sudah ganti baju.
"Iya Ma" balasku mengiyakan. Aku memanggil nenekku dengan sebutan Ema.
"Dan, kamu harus menyayangi ibumu. Dia sudah susah payah mengurusmu dari kamu kecil. Apalagi sekarang dia sudah sendiri, tidak ada bapakmu. Kamu juga jangan bikin dia kesal. Kamu harus bisa jaga adikmu jika ibumu sedang bekerja. Dia begitu untuk makan dan jajan kamu dan adikmu. Kamu tahu sendiri kan kalau bapakmu tidak setiap hari beri kamu uang jajan" kata nenekku di sela-sela aku sedang mijitin kakinya.
"Iya Ma" jawab aku mengerti pembicaraannya.
Memang, bapakku tidak full setiap hari memberi uang jajan. Dia memberi uang jajan kalau bertemu saja, kalau tidak bertemu ya aku tidak diberinya. Itupun tidak selalu bertemu dia beri uang jajan, sering kali bertemu tapi dia tidak memberi aku uang jajan. Jika bertemu di pagi hari atau ketika berangkat sekolah dia menjawab nanti siang jika aku meminta uang jajan. Kemudian di siang harinya, aku bertemu dan meminta uang jawabannya nanti sore. Akhirnya di sore hari ketika aku menunggu di pinggir jalan, aku tidakĀ bertemu dengan bapakku sampai hari sudah mulai gelap. Sehingga, hari itu aku tidak mendapat uang jajan dari bapakku.
Dalam urusan pendidikan, bapakku tidak sepenuhnya mengabaikan aku. Setiap kenaikan kelas, dia selalu membelikan aku semua peralatan dan perlengkapan sekolah. Dimulai dari seragam sekolah, buku tulis, pensil, bahkan ke penghapus dibelikan yang baru. Selain itu, untuk biaya bulanan sekolah, uangnya dari bapakku. Maka dari itulah, aku selalu semangat belajar.
Di Kelas 3 ini aku selalu mendapat ranking kedua, baik itu di caturwulan pertama, kedua, dan ketiga. Di mulai kelas ini juga aku mulai belajar sejarah dan memfavoritkan pelajaran matematika. Tidak seperti siswa lain yang enggan memfavoritkan pelajaran matematika, katanya ini adalah mata pelajaran yang paling sulit. Tetapi aku malah sebaliknya. Maka dari itu, aku selalu mendapat nilai paling tinggi di mata pelajaran matematika.
__ADS_1
Pernah suatu ketika, nilai mata pelajaran bahasa Indonesia aku jelek. Gak jelek-jelek amat sih, nilainya 7, tetapi nilai mata pelajaran matematika aku 9. Sangat jauh dari teman-teman sekelasku yang lain yang kebanyakan hanya mendapat nilai 6. Sejak itulah para guru memproyeksikan aku untuk mengikuti kejuaraan cerdas cermat mata pelajaran matematika di kelas 6 nantinya.