
Setelah lulus sekolah dasar, aku melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Cipeundeuy. Di SMP semua teman-teman dari sekolah dasar di bagi-bagi. Aku tergabung di kelas E. Semua murid di kelas ini adalah orang yang belum aku kenal semua. Hanya satu orang teman sekolah dasarku yang masih sekelas denganku di SMP, yaitu Rima.
Di masa SMP ini pendidikan mulai memakai seistem semester. Pada semester pertama kelas 1, aku mendapat ranking pertama, sedangkan yang mendapat ranking leduanya adalah Rima, teman sewaktu sekolah dasar. Tapi, memasuki semester kedua karena aku mulai terpengaruh sama pergaulan, aku menjadi nakal. Aku mulai merokok karena semua yang berteman dengan aku juga merokok.
Suatu ketika aku bermain ke kelas lain untuk bertemu dengan teman waktu sekolah dasar. Tapi, di dalam kelasnya aku mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan. Aku di halang-halangi pada saat mau keluar dari kelasnya ketika aku mau kembali ke kelasku karena bel masuk telah berbunyi. Entah apa tujuannya, tapi yang pasti membuat aku marah. Ternyata yang memghalangi aku itu anak yang paling nakal di kelas tersebut.
"Udah Dan, jangan diladeni" kata temanku.
"Kamu diam Gung, yang sok jago begini tuh harus dikasih pelajaran" kataku pada teman SD ku, Agung.
"Mau apa kamu? berani sama aku?" kata anak nakal itu sambil teriak di depan wajahku.
"Jangan teriak gitu dong" kataku balik membemtaknya.
Kemudian aku didorong sampai tubuh aku membentur ke tembok. Tanpa basa-basi, aku langsung melayangkan kepalan tanganku ke arah wajahnya, tapi dia menghindar. Kalau saja kena mungkin dia akan tersungkur karena aku melangkan pukulan dengan sekuat tenaga. Setelah itu, semua yang ada di kelas bengong melihat apa yang aku lakukan. Akhirnya aku keluar dari kelasnya setelah ada guru yang datang.
"Aku tunggu kamu di belakang sekolah" katanya sambil menunjuk ke arahku. Aku tetap melangkah pergi ke kelasku tanpa menghiraukan ucapannya.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Teryata anak yang tadi benar-benar sudah menunggu di belakang sekolah. Aku memang suka pulang lewat belakang sekolah. Dia menunjuk padaku sambil teriak.
"Hei..... sini kamu!" teriaknya.
Kemudian aku nyamperin dia bertiga dengan temanku. Nampaknya dia datang tidak sendirian, mungkin ada 8 orang yang bersamanya. Bukan hanya teman sekelasnya, ternyata dia bawa kakak kelas.
"Ada apa ini?" tanyaku padanya.
"Aku penasaran sama kamu" jawabnya.
"Sikat aja cepat, jangan banyak omong" kata temannya yang merupakan kaka kelasnya.
"Oh jadi bawa yang gede, Gung, panggilin si Wili" kataku menyuruh temanku untuk memanggil tetangga aku dan juga teman bermain aku ketika main sepak bola yang merupakan siswa kelas 3. Mendengar aku bicara seperti itu, mereka terdiam.
__ADS_1
Ketika aku berbalik ke anak yang nantangin aku, dia langsung melayangkan pukulan ke arah wajahku. Dengan refleks, aku menangkis tangannya yang kemudian aku langsung balas memukul. Pukulanku kali ini kena sasaran pas di pipi sebelah kirinya. Dia langsung oleng, dan tanpa lama-lama aku langsung menendang ke arah perutnya sehingga dia tersungkur dan jatuh. Kemudian aku memnggunakan jurus kuncian seperti di acara MMA sampai dia tidak bisa bergerak.
Pada saat aku mau memukul dia, salah satu temanku yang menyaksikan aku berkelahi berteriak memberitahu kami.
"Ada pak Dedi" kata temanku. Benar saja, di kejauhan aku melihat pak dedi, salah seorang guru yang ada di SMP ini sedang berjalan ke arah tempat aku berkelahi.
Aku pun berlari yang di ikuti oleh temanku, dan anak itu juga berlari ke arah berlawanan dariku. Aku berlari ke rumah teman aku yang rumahnya tidak jauh dari sekolah.
"Berani betul kamu Dan sama dia" kata temanku ketika sudah sampai di rumahnya.
"Ah, yang begitu mah jangan di diemin, kalo didiemin malah makin sok jago dia" kataku dengan sedikit ngos-ngosan karena berlari. Setelah sore, aku pun pulang ke rumah.
Keesokan harinya, aku dan anak itu dipanggil oleh guru ke ruang bagian pembinaan. Rupanya ada yang melaporkan perkelahian kemarin. Setelah lama di ruang bagian pembinaan, aku kembali ke kelasku. Sejak itu, anak yang berkelahi denganku menjadi tidak merasa sok jago lagi. Dan, sejak saat itu semua siswa, apalagi siswa kelas 1 semua menjadi segan padaku.
Selain kelakuanku yang menjadi nakal, suka merokok, aku juga suka begadang kalau malam. Akibatnya, di semester kedua kelas satu ranking akuĀ turun menjadi ranking 2.
Memasuki kelas 2, aku semakin disegani bukan hanya oleh siswa sekelasku, tapi juga oleh siswa di kelas lain. Mungkin lejadian wakti di kelas 1 tersebar di sekolahan.
"Dan, sendiri aja?" katanya sedikit mengagetkanku. Entah mengapa di dalam kelas terasa sepi tidak seperti biasanya.
"Eh, Amel, iya nih ga tau pada kemana" jawabku.
Aku tahu namanya karena dia tekenal cantik dikelasnya, dan teman-teman cowok di kelasku sering membicarakannya. Kami ngobrol lumayan lama, mulai dari daerah asal sampai sekolah asal.
"Dan, kamu mau gak jadi pacar aku" katanya.
Deg, jantungku tiba-tiba terhentak. Maklum, aku belum pernah atau berpengalaman soal yang begini. Apalagi ini aku ditembak sama cewek, cantik pula. Aku menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Selain pintar, kamu tuh ganteng, aku suka sama kamu sejak dari kelas 1" katanya lagi. Aku hanya diam saja sambil melihat wajahnya. Akhirnya aku menjawab.
"Hmmm... iya aku mau Mel" jawabku setelah kupikir-pikir mungkin menyenangkan punya pacar di sekolah.
__ADS_1
"Bener nih, kamu mau pacar aku?" tanya dia.
"Iya bener Mel" kataku sambil tersenyum. Dia pun kelihatan sangat senang dengan jawabanku.
Ketika kami sedang asik ngobrol, terdengar ada langkah kaki menuju ke kealsku. Benar saja, suara langkah kaki itu memang menuju ke kelasku. Ternyata teman-teman sekelas aku yang juga akan berlatih basket.
"Eh ada Amel, maaf nih, jadi keganggu nggak?" tanya salah satu temanku.
"Ah nggak kok, lagian aku kesini cuma bentar, mau ngajak Hamdan ke lapang basket" jawbnya dengan santai. Padahal dia sudah di dalam kelas hampir 1 jam lamanya denganku. Dan juga sudah banyak hal terjadi yang semuanya serba pertama buatku.
"Oke deh, aku ke lapangan duluan ya Dan, sampai jumpa di lapangan" katanya kepadaku sambil melambaikan tangan dan beranjak pergi meninggalkan kelasku.
Sejak saat itu, aku selalu bersama Amelia ketika di sekolah. Waktu sebelum masuk kelas, waktu istirahat, bahkan waktu pulang pun aku selalu bersamanya. Akhirnya semua temanku dan teman Amelia mengetahui kalau kami berpacaran. Banyak yang mengucapkan selamat padaku bahkan ada juga yang iri. Bagaimana tidak iri, Amelia merupakan siswa perempuan paling manis dan cantik di kelasnya, bahkan para cowok di kelas lain pun banyak membicarakannya, termasuk para cowok di kelasku.
Akhir semester kedua di kelas 2 SMP, prestasiku menurun kembali, aku mendapat ranking kedua. Mungkin itu karena konsentrasiku terbagi antara pendidikan dan asmara.
Memasuki kelas 3 SMP, aku dan Amelia semakin mesra yang membuat iri siswa lain. Di kelas 3 ini, aku mendapat ranking kedua di semester pertama dan kedua. Rupanya, kisah percintaan aku dan Amelia tidak begitu berpengaruh pada prestasiku. Malah, aku semakin bersemangat sekolah.
Di akhir sekolah masa SMP, ketika acara perpisahan kelas 3, sekolahku mengadakan acara pentas seni. Aku dan temanku tampil di acara tersebut dengan membawakan beberapa lagu dari band Peterpan dan ST12 yang merupakan grup band favoritku.
Dalam acara tersebut, aku diajak temanku untuk minum minuman beralkohol. Aku jadi mabuk dan ketika kelas lain tampil membawakan lagu band cadas dan metal, aku ikut berjoget dengan teman-temanku. Rupanya itu membuat marah Amelia.
"Hamdan, kamu mabuk?" tanya Amelia dengan menyebutkan namaku yang biasanya dia panggil aku dengan kata sayang. Aku hanya diam saja.
"Aku gak mau punya pacar tukang mabuk, meskipun aku bukan anak baik-baik, tapi aku gasuka sama pemabuk" katanya dengan nada yang sangat marah.
"Kita putus ya?" katanya lagi.
Aku sempat memohon pada Amelia untuk tidak memutuskan hubungan kami. Tapi dia nampak sangat marah dan kecewa sekali. Akhirnya aku pun mengiyakan keputusannya. Padahal aku sangat sayang dia, karena darinya aku jadi mengetahui banyak hal.
Acara perpisahan pun selesai, dan nampaknya acara perpisahan sekolah itu sekaligus menjadi perpisahan aku dan Amelia sebagai pacar. Ya, Amelia merupakan pacar pertama aku meskipun bukan cinta pertama aku, karena sebelum resmi aku pacaran dengan Amelia, aku sebenarnya sudah suka pada cewek yang ada di kelas lain.
__ADS_1
"Sampai jumpa lagi di lain waktu wahai pemberi pengalaman" pikirku ketika aku mengingatnya.