
Setelah usiaku menginjak 6 tahun, tepatnya di tahun 1994. Aku mulai masuk sekolah dasar. Tidak seperti zaman sekarang, pendidikan harus di mulai dari jenjang taman kanak-kanak atau sekarang lebih dikenal sebagai pendidikan anak usia dini. Aku langsung masuk SD bareng dengan beberapa temanku yang seumuran. Nama nya SDN Margaluyu. Sekarang namanya diganti menjadi SDN Cipeundeuy 1. Sekolah itu merupakan yang paling favorit di kampungku, bahkan anak dari kampung lain juga kebanyakan sekolah disini. Maklum sekolah itu berada di pusat kecamatan, jadi fasilitasnya lebih baik dari sekolah lain.
Hari pertama masuk sekolah, aku merasa tidak canggung ataupun malu karena teman-teman sekolahku kebanyakan yang sudah aku kenal bahkan sering main bareng ketika belum sekolah. Hanya ada beberapa yang asing karena mereka tinggal di kampung lain.
Setelah beberapa minggu masuk sekolah, ada kejadian yang tidak terduga ketika sedang proses belajar.
"Dan, kamu mencium bau yang aneh nggak?" tanya teman sebangku aku. Teman sebangku aku merupakan orang yang sejak kecil selalu bermain denganku. Rumahnya berdekatan dengan rumahku. Namanya Fikar. Dia juga masih saudaraku.
"Iya nih Fik" jawabku sambil menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan, bahkan ke belakang untuk mencari sumber bau tersebut.
"Kaya bau kentut" kata temanku.
"Ah bukan, ini bukan sekedar bau kentut, tapi ini bau tai" kataku sambil terus mencari sumber bau yang semakin menyengat.
Kemudian aku menunduk dan masuk ke kolong meja, disana tercium bau tersebut semakin menyengat. Benar saja, ketika aku lihat ke depan aku melihat cairan kuning di lantai. Aku keluar dari kolong meja, lalu aku mencolek pundak teman yang ada di depanku.
"Mil, kamu buang air besar?" tanyaku pada teman yang ada di depanku. Namanya Emil, aku baru kenal dia ketika masuk sekolah karena dia berasal dari kampung lain. Kulitnya bersih agak putih tidak seperti aku yang kecoklatan karena sering main panas-panasan. Maklum bisa dibilang dia anak orang kaya, jadi mainnya pun pasti dibatasi oleh orangtuanya.
"Iya" jawab dia dengan kepala menunduk dan menganggukan kepalanya. Wajahnya menjadi kemerahan, mungkin karena malu.
"Bu... Emil berak di celana...." teriak teman sebangku aku yang membuat kaget semua yang ada di dalam ruangan kelas. Apalagi aku yang berada di pinggirnya, sampai terhentak dan sedikit terangkat tubuh aku dari tempat duduk.
Mendengar teriakan teman sebangku aku, teman-teman dan guru yang sedang mengajar pun langsung menoleh ke arah Emil. Sontak saja dia menangis mungkin karena malu. Guru pun langsung menghampirinya.
"Ssstt.... jangan ribut!" kata guruku untuk menenangkan suasana kelas karena sudah mulai berisik takutnya bisa mengganggu pembelajaran kelas yang lain. Guruku membawa Emil keluar ruangan kelas dan membawanya ke toilet sekolah untuk dibersihkan. Setelah selesai dibersihkan, Emil dipersilahkan untuk pulang setelah dijemput orangtuanya.
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, setiap bertemu Emil aku dan temanku yang lainnya selalu mengejeknya dengan kata 'Si Busiat'. Busiat itu merupakan sebutan bagi tindakan atau kejadian berak pada celana. Hingga suatu hari dia tidak datang ke sekolah. Dan beberapa hari kemudian aku mendapapat kabar bahwa Emil sudah pindah sekolah ke sekolah yang berada di dekat rumahnya.
Pulang sekolah, aku berinisiatif untuk pergi ke rumah Emil dengan mengajak beberapa orang teman. Jarak dari sekolah ke rumahnya lumayan jauh, sekitar satu kilometer. Kami berjalan kaki menuju rumah Emil. Tidak ada rasa lelah ataupun capek karena dalam perjalanan kami sambil bermain dan bercanda.
Sesampainya di rumah Emil, aku melihat dia sedang duduk di kursi teras rumahnya. Dia sedang membuka sepatunya. Nampaknya dia juga bru pulang sekolah. Ketika dia melihat aku dan teman teman, dia bergegas masuk ke dalam rumahnya. Entah apa yang ada di pikirannya, mungkin dia masih merasa malu atau marah kepada kami yang sering mengejeknya.
__ADS_1
Aku dan teman-teman yang lain memberanikan diri untuk masuk ke rumahnya. Akan tetapi, gerbang depan terkunci. Maklum orang kaya, gerbangnya pun tinggi sampai-sampai aku nggak bisa meloncatinya.
"Assalamualaikum..." kataku dengan nada sedikit berteriak. Setelah beberapa kali aku ucapkan salam, akhirnya ada yang membalas dari dalam.
"Wa alaikumsalam..." terdengar suara ibu-ibu dari dalam rumah. Rupanya itu adalah ibunya Emil. Dia keluar dan membukakan pintu gerbang untuk kami.
"Eh Hamdan, Mari silahkan masuk. Emil juga baru pulang sekolah tuh dia langsung masuk ke kamarnya" kata ibunya Emil sambil mempersilahkan aku dan teman-temanku masuk rumah. Memang, ibunya Emil ini selain kaya, dia juga terkenal ramah pada siapapun.
Setelah kami masuk rumah dan duduk di sofa, ibunya langsung memanggil Emil di kamarnya.
"Mil, nih ada Hamdan, sini keluar" kata ibunya memanggil.
"Iya tahu" balas Emil di dalam kamarnya. Emil memang mengetahui kedatangan kami karena tadi di depan rumahnya dia melihat kami ketika sedang membuka sepatu.
"Lho, kamu tahu ada Hamdan datang kesini, kenapa nggak nyamperin?" kata ibunya lagi.
"Gak ah, males" jawab Emil dengan nada kesal.
"Tumben Dan, kalian datang kesini, ada apa?" tanya ibunya Emil.
"Gak ada apa-apa Mah" jawabku. Aku memanggil ibunya Emil dengan sebutan mamah Emil. Aku memang dekat dengan keluarga Emil karena aku sering main ke rumahnya. Walaupun agak jauh dari rumahku, tapi aku sering main kesini sekedar untuk bermain game nintendo. Dikarenakan teman aku yang mempunyai game nintendo cuma Emil.
"Ini mamah Emil, maksud aku datang kesini mewakili semua teman-teman sekelas, mau minta maaf ke Emil" kataku menjelaskan maksud dan tujuan aku dan teman-teman datang ke rumahnya.
"Oh begitu... tuh Mil, Hamdan dan teman-temannya udah minta maaf, di maafin nggak tuh" kata ibunya Emil sambil tersenyum ke arah anaknya. Emil hanya diam saja, dia masih menundukkan kepalanya.
Dengan sedikit pepatah dari ibunya emil tentang pertemanan, akhirnya Emil mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah aku dan teman-teman yang lainnya. Dia mulai tersenyum dan berkata.
"Iya, aku maafin kalian semua" katanya sambil tersenyum.
Aku dan teman-temanku merasa senang mendengar kata maaf dari Emil. Kini aku sudah tidak merasa bersalah lagi pada Emil. Karena ejekan aku dan teman-teman yang lain, Emil sampai pindah sekolah. Kejadian ini jadi pelajaran bagi kita semua khusunya aku untuk tidak melakukan perundungan dalam bentuk apapun. Karena itu bisa mengganggu psikologis orang yang kena perundungan. Sama halnya dengan Emil ini, aku dapat kabar juga kalau dia sampai tidak mau berteman dengan siapapun.
__ADS_1
Setelah suasana mulai mencair, dan kami pun mulai mengobrol satu sama lain sudah seperti biasanya. Kami ngobrol menceritakan suasana di sekolah sampai membicarakan kegiatan masing-masing jika sudah pulang sekolah.
Saking asiknya kami ngobrol sambil memakan dan meminum yang disuguhkan ibunya Emil, tak terasa waktu sudah menunjukan jam 4 sore. Aku dan teman-teman pamit pada Emil dan juga tidak lupa pada ibunya Emil.
"Mamah Emil, aku dan teman-teman pulang dulu ya" kataku yang sedikit mengagetkan ibunya Emil karena dia sedang asik menonton televisi.
"Eh, kenapa buru-buru? masih siang ini lho.." kata ibunya Emil.
"Udah sore Mah, lagian aku kesini gak minta izin orang tua, tadi kami langsung kesini sepulang sekolah" kataku menjelaskan.
"Oh iya deh kalau begitu. Hati-hati ya pulangnya. Banyak mobil sama motor" katanya mengingatkan.
"Iya mah" balasku.
"Mil, anter tuh mereka ke depan" kata ibunya Emil.
"Assalamualaikum...." kata kami secara bersamaan ketika mulai melangkah meninggalkan rumah Emil.
"Wa alaikum salam..." balas Emil dan Ibunya.
Kami pun berangkat meninggalkan rumah Emil untuk pulang menuju rumah masing-masing. Sesampainya di rumah aku langsung ditanya sama ibuku.
"Habis darimana kamu Dan? jam segini baru pulang sekolah" tanya ibuku dengan nada kesal ketika aku sudah masuk rumah.
"Dari rumah Emil mah" jawabku.
Setelah aku menceritakan semua nya yang terjadi di sekolah pada ibuku, akhirnya ibuku tidak merasa kesal lagi dan dia pun memberikan pepatah tentang pertemanan.
"Oh begitu, ya udah, cepat mandi gih, udah sore" kata ibuku menyuruhku mandi.
"Iya mah" balasku.
__ADS_1
Akupun bergegas pergi untuk mandi di pemandian umum karena di rumahku belum ada kamar mandi.