
Clara POV
huh... bodoh memang aku melakukan hal ini. kenapa aku melakukannya? kenapa aku menyelamatkannya? Kenapa juga aku menggunakan kekuatan Asta?!
ini sudah tahap ke berapa? hujan sudah tidak mempengaruhi ku. pedang yang ku genggam telah menghilang. aku menengadah kan wajahku. membiarkan air hujan membasahinya.
suara helikopter. mereka sudah kembalinya. beberapa helikopter mendarat di lapangan. mereka keluar untuk melihat keadaan.
"apa yang terjadi disini?!"
"kenapa banyak mayat Dark elf?!"
"siapa yang telah membunuh mereka?!"
keributan yang mereka buat membuat kepalaku sakit. sshh.. kepalaku sakit sekali. aku merasa hidungku basah dan mengusapnya.
darah. apa aku mimisan? atau ini darah dark elf yang terciprat ke arahku?
"Honami!" teriak seseorang. aku mengenal suara itu. itu suara Tristan. aku melihatnya. dia berlari melewati ku begitu saja. ia berlari menuju ke arah Honami. adiknya yang asli? kurasa.
pandanganku memburam tapi aku berusaha untuk tetap bertahan. aku berjalan melewati ratusan mayat Dark Elf. bau anyir darah menyeruak ke segala arah. sangat bau, ini membuat kepalaku tambah sakit.
Tabung manusia. benar. Mungkin aku bisa membukanya sekarang. aku berjalan melewati hiruk pikuk orang orang. tidak ada yang peduli padaku. aku terus berjalan melewati hujan menuju laboratorium.
laboratorium. tabung manusia. sekarang benda itu sudah berada di hadapanku. aku kembali mengusap hidungku yang berdarah. tanganku terlumuri darah merah pekat.
aku meletakkan tanganku di tabung manusia.
...Nit.......
...Darah terdaftar....
...kunci dibuka....
...harap menjaga jarak...
pintu tabung terbuka. memperlihatkan manusia didalamnya. seorang pemuda dengan rambut hitam legam, tubuh jangkung, garis wajah yang tegas dan topeng putih yang menutupi setengah wajahnya.
aku ingin tahu apa warna matanya.
aku segera menarik kerahnya dan menjatuhkannya.
bruk....
lalu aku mengambil sebuah pisau di atas meja. aku menggores telapak tangan kanan pemuda itu.
ini bukan darah biasa. dia sudah terkontaminasi oleh Ghost dan kegelapan. aku menyesap darah pada tangannya. menjilati tangannya dengan lembut. aku tidak boleh lepas kendali disini. aku pun berhenti. goresan pada tangannya sembuh tanpa jejak.
aku melihat di atas kepalanya. sebuah nama.
Dominique Kenya
Dominique. nama yang bagus. tapi Kenya, aku rasa aku pernah mendengarnya. tapi dimana? aku memilih untuk mengabaikannya lalu membuat health potion. banyak yang terluka jadi aku juga harus membuat banyak.
Clara end POV
...#***'''***#...
Beberapa orang mendatangi laboratorium.
"kami datang untuk mengambil Health potion" ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
Clara memberikan health potion kepada mereka.
"akan aku bantu" ucapnya. mereka pun berjalan menuju halaman. mereka membagikan health potion.
"sepertinya kurang" gumam Zizi.
"maaf, aku tidak bisa membuatnya lagi" ucap Clara.
"APA?!" marah seorang gadis.
"KITA SEMUA TERLUKA DISINI DAN KAU AKAN MEMBIARKAN KAMI BEGITU SAJA?! TIDAK BISAKAH KAU MEMBUAT LEBIH BANYAK?!!" Marah gadis itu.
'benar, apa dia tidak bisa membuat lagi?'
'ini masih kurang.'
'apa dia tidak peduli dengan kami?'
beberapa orang mulai menggunjingnya. itu membuat Clara merasa tertekan.
"LIHATLAH! APA KAU TIDAK BISA MEMBERIKANNYA LAGI! ATAU JANGAN-JANGAN KAU MENYIMPANNYA UNTUK DIRIMU SENDIRI?!" Teriak Gadis itu.
orang orang kembali menyetujui perkataan gadis itu. mereka mulai mencerca Clara. Clara menutup telinganya menggunakan kedua tangannya. pupil matanya bergetar.
dia tidak bisa tenang sekarang. ia takut sekarang. ia berlari meninggalkan kerumunan. masuk kedalam laboratorium nya. ia meringkuk dibawah meja. terisak. tidak seorang pun yang peduli padanya. semua orang hanya menyalahkan dia.
seorang pemuda yang terbaring di laboratorium kini membuka matanya. mata berwarna emas itu meneliti sekelilingnya dan telinganya menangkap suara isakan seseorang.
ia berdiri mencari sumber suara. dia adalah Dominique.
......#***""***#......
"siapa kau?"
aku terkejut. aku melihat kesana kemari namun nihil. tempat ini terlalu gelap.
"dimana? siapa?" tanya ku
"bagaimana caramu datang kesini?" tanya nya.
aku tidak tahu kenapa aku bisa berada disini. yang aku ingat bahwa dark elf itu tiba-tiba menyerangku lalu kegelapan menyelimutiku dan aku pingsan aku rasa.
"begitu ya." ucapnya
"jadi kau adalah inangku" lanjutnya
inang?!
"aku tidak ingin menjadi inangmu!" kesalku
"aku juga tidak ingin kau menjadi inangku" balasnya.
"untungnya mereka gagal" lanjut nya.
"siapa kau sebenarnya?" tanya ku.
"Astaretha" dia hanya mengucapkan satu kalimat lalu hening.
aku sudah beberapa kali memanggilnya tapi tidak ada jawaban. aku sudah berjalan cukup jauh.
bruk...
__ADS_1
argh..
kakiku tersandung sesuatu. aku meraih benda yang membuat ku tersandung. rantai berwarna merah kehitaman. karena warna merahnya sedikit bercahaya jadi aku bisa melihat rantainya dengan jelas. rantai itu terhubung dengan sesuatu. tiba tiba muncul cahaya yang menyorot pada satu titik.
aku terkejut. seorang gadis terikat dengan rantai di sekujur tubuhnya. tidak ada luka pada tubuhnya. tapi tidak terlihat tanda-tanda kehidupan darinya.
"apa kau ingin keluar dari sini?"
suara itu kembali.
"ya! tentu saja aku ingin keluar!" jawabku.
krek...
trek...
Tek..
suara benda berkarat yang diseret. apa ini suara rantai?
grep..
aku terkejut saat melihat rantai melilit kakiku. rantai itu menarikku menjauh. aku memberontak tapi gagal.
"katakan padanya bahwa dia juga pantas bahagia" ucap suara itu lalu gelap.
......#***""***#......
seseorang yang tak sadarkan diri mulai bergerak gelisah. gadis yang duduk disebelah ranjangnya segera menepuk pipi orang itu dan memanggil namanya berharap bahwa ia bisa tersadar.
"Honami... Honami... bangun" ucap gadis itu. Honami masih bergerak gelisah dalam ketidaksadaran nya. tiba tiba ia terbangun dan terduduk dengan napas terengah-engah.
gadis disebelahnya segera memberikan Honami minum. Honami pun menenggaknya hingga tandas.
"kau bermimpi buruk" ucap gadis yang membantunya. Honami mengangguk.
"apa mimpi yang kau alami?" tanyanya.
"aku bermimpi dililit lalu ditarik oleh rantai merah kehitaman." jelas Honami. gadis disebelahnya tersentak. kemudian raut wajahnya menjadi khawatir. gadis itu menggenggam tangan Honami.
"apa dia berbicara tentang inang atau sebagai nya?" tanya gadis itu.
"iya. dia mengatakan bahwa ia tidak sudi aku menjadi inangnya." jawab Honami. gadis itu segera tersenyum.
"itu bagus. apa kau ingin buah?" ucap nya lalu memberikan sepotong buah mangga kepada Honami. Honami menerimanya. ia hanya memegang sepotong buah itu dan tidak ada niatan untuk memakannya.
"kenapa dia mengucapkan hal itu?" gumam Honami. gadis disebelahnya mendengar gumaman Honami. dia menjadi sedikit penasaran.
"apa ucapan terakhirnya?" tanya gadis itu. Honami menatap gadis itu.
"dia memintaku untuk mengatakan kepada seseorang bahwa dia juga pantas bahagia. tapi aku tidak tahu harus mengatakan nya kepada siapa" jelas Honami kemudian menunduk dan memakan sepotong mangga ditangannya.
"HONAMI! KAU BAIK BAIK SAJA!" Teriak seseorang.
"kakak, aku tidak tuli" kesal Honami.
"aku mendapat kabar bahwa kau sudah sadar jadi bergegas kemari" ucap kakak Honami.
Honami hanya mengangguk lalu melihat ke arah gadis disebelahnya.
"Demonia. kau tahu sesuatu kan? tantang rantai merah kehitaman, tentang asap hitam itu, tentang inang nya dan aku juga yakin bahwa kau tahu tentang Astaretha" ucap Honami kepada Demonia.
__ADS_1