Secret Love Story (End)

Secret Love Story (End)
Permintaan Hati


__ADS_3

Now, I'm praying to God,


You'll give me more chance, girl


I'll be there for you


These five words I swear to you


When you breathe I want to be the air for you


I'll be there for you


I'de live and I'd die for you


~I'll Be There For You, Bon Jovi~


Aku tengah duduk di salah satu café di daerah sekitar tempat tinggalku. Sesuai dengan perjanjian yang aku sepakati dengannya beberapa minggu yang lalu. Kala itu aku menerima panggilan telepon dari seseorang yang tidak ku kenal. Dan ketika ku angkat barulah dia memperkenalkan dirinya. "Mahdi Mitra Adhytama". Ya, nama itu atau yang lebih akrab di panggil dengan nama Mahdi. Jika kau bertanya apakah aku ingat dengan dia, maka jawabannya adalah ya, aku mengingatnya. Benar, benar mengingatnya. Karena bagaimana mungkin aku melupakannya. Dia adalah satu-satunya lelaki yang dekat dengan gadis kecilku itu. Satu-satunya lelaki yang berani dikenalkannya di depan kami semua sebagai dokternya beberapa bulan yang lalu saat reuni berlangsung. Dan dia pulalah lelaki yang ku tahu pernah menempati hati Ara di masa lalu dan entah apakah sampai sekarang atau tidak.


Aku tahu hal itu dari penjelasan Vreya beberapa bulan yang lalu. Saat aku bermaksud untuk menuntut penjelasan darinya tentang alasan kenapa dia tidak menceritakan sedikitpun tentangku pada Ara. Seolah hal itu memang sengaja dilakukannya agar Ara benar-benar tidak akan mengingatku lagi.


Flash back


Aku berdiri beberapa meter dari toilet yang terdapat di Café Sky way, menunggu Vreya keluar dari toilet wanita. Ketika dia keluar, dia mendapatiku berdiri dengan tangan yang ku dekapkan pada dadaku. Dia seolah tahu maksudku berdiri di sana.


"Ada apa?" tanya nya dengan sinis padaku.


"Vrey, aku butuh penjelasan.." tuntutnku.


"Penjelasan apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas?"


"Tidak..! Kau berbohong Vrey, kau menyembunyikan kebenaran tentangku pada Ara. Tidak..! Kau bahkan tidak ingin Ara mengingatku bukan?" tandasku. Dan Vreya hanya diam tak bersuara. "Vrey...," ucapku dengan nada yang agak tinggi.


"Iya, benar. Gue emang nyembunyiin tentang lo eke dia. Dan gue emank gak berencana untuk memberitahu kebenaran tentang loe sama dia. Karena gue gak mau dia tersakiti Gha...," jelas Vreya.


"Ma,,,maksud loe...?"


"Gha, gue gak mau dia inget lagi tentang loe. Gue gak mau kebenaran tentang loe yang ternyata adalah laki-laki brengsek yang manfaatin dia dulu,"


"Vrey, gue nggak..."


"Gue tau semuanya memang dia yang mau. Dia yang mau melakukan semuanya buat loe. Dan dia berkorban semuanya buat loe bahkan tanpa loe minta. Dia tulus melakukan semuanya buat loe Gha.. Tapia pa yang dia dapatakan dari loe, dia hanya mendapat kesakitan. Dia selalu ada buat loe dan membantu semua kesulitan loe. Tapi, loe bahkan tidak bisa melakukan satupun untuknya. Bahkan di saat dia bener-bener jatuh dan butuh loe untuk berada di sampingnya, loe malah gak ada Gha. Dia memang gak pernah meminta balasan untuk apapun yang dia lakukan, dia tulus melakukannya," jelas Vreya sembari menitikkan air mata.


"Vrey...gue....,"

__ADS_1


"Jadi gue mohon Gha, gue mohon jangan berusaha untuk membuat dia mengingatmu lagi. Sudah cukup buatnya Gha, dia sudah cukup menderita jadi biarkan dia seperti ini sekarang Gha. Dia terlalu polos untuk mempercayai bahwa loe adalah tempat bergantungnya dulu, meski nyatanya kamu tidak pernah ada di saat dia butuh..,"


"Tapi...Vrey...,"


"Gue mohon Gha, biarin sahabat gue bahagia tanpa mengingat loe," pinta Vreya sembari menyatukan kedua tangannya di depan dadanya seranya memohon dengan sangat kepadaku.


*****


Deg, kau tahu apa yang kurasakan saat itu? Gadis itu menderita. Gadis itu menderita karenaku dan aku jadi muak dan membenci diriku sendiri. Aku tak pernah sadar bahwa handphoneku yang sering bordering dulu karena panggilannya adalah ketika dia benar-benar membutuhkanku. Tapi, aku selalu mengabaikan panggilan-panggilan itu karena aku berpikir bahwa itu tidak penting seperti biasanya. Aku melewatkan waktu-waktu dimana dia benar-benar terpuruk dan membutuhkanku.


Aku selalu menyesali semua masa lalu itu bahkan sampai sekarang saat aku berusaha tetap bersikap datar dan menyeruput coffelatte yang sudah ku pesan beberapa menit lalu di café ini. Aku menawarkan beberapa menu pada seseorang yang kini duduk tepat di hadapanku. Ya, dia datang. Lelaki yang pernah menempati hati sahabatku itu kini telah berada di hadapanku.


"Mau pesan apa Mas?" tanyaku. Aku memanggilnya "mas" karena dia memang lebih tua dua tahun dariku. Tapi, bukan itu juga sih alasannya. Lebih tepatnya alasannya adalah karena aku mengikuti teman-teman yang memanggilnya seperti itu.


"Tidak...tidak usah Erlangga, saya tidak lama kok. Cuman pingin ngobrol sebentar sama kamu dan memberikan ini," ucapnya sembari menyodorkan sebuah buku kecil dengan sampul berwarna pink.


Aku membuka buku itu perlahan dan membaca memindai beberapa tulisan yang tertera di sana. Aku terkejut seketika.


"Ini......," tanyaku.


"Ya, itu buku harian..," jelasnya. Dan aku masih tidak mengerti maksud dia memberikan itu padaku. "Itu buku harian Ara..," jelasnya kemudian.


Deg, aku lagi-lagi seolah tersambar petir karena terkejut. Dan kini rasa penasaran mengisi seluruh otakku.


"Kenapa anda...?"


"Tap...tapi..kenapa saya?"


"Vreya bilang kalau anda barangkali menyesali kejadian di masa lalu dan ingin menebus kesalahan-kesalahan anda di masa lalu maka inilah saatnya," jelas Mahdi. "Ara ingin sekali ingatannya kembali seutuhnya sekarang. Dia tidak ingin melupakan wajah dan anam teman-temannya lagi. Dia bilang rasanya dirinya seperti orang jahat yang tidak menyapa balik temannya ketika berpapasan di jalan atau ketika di sapa dan tidak menyahut karena benar-benar lupa," jelasnya lagi.


"Lalu..?"


"Karena itu saja mohon agar Erlangga bisa mengingat masa lalunya yang ada di buku itu. Masa lalu ketika dia masih berkuliah dulu,"


Permintaan itu, lelaki ini memmintaku untuk membantu Ara memulihkan ingatannya. Tidak hanya itu bahkan kini Vreya juga tidak keberatan Ara mengingat masa lalunya denganku.


"Tapi...apa Mas Mahdi tidak keberatan jika Ara mengingat semuanya kembali?" tanyaku. Sebagai seorang laki-laki aku tahu bahwa pria di depanku ini menaruh hati pada Ara. Ya, itulah naluri ku sebagai lelaki. Sebegitu mudahnya aku menebak perasaan orang lain, sementara menyadari perasaanku sendiri tidak bisa. Ya, itulah aku.


"Tidak..saya tidak keberatan. Memang benar saya lebih suka dia yang sekarang. Yang tidak bisa mengingat apapun karena dengan begitu saya bisa selalu di sampingnya dan menebus semua kesalahan yang dulu," jelasnya. "Jika dia kembali mengingat semuanya, mungkin saya tidak bisa berada di sampingnya lagi meski hanya sebatas sebagai dokter yang merawatnya," jelasnya lagi.


"Mas Mahdi, kenapa saya?"


"Karena Vreya bilang hamper 95% kamu yang bisa mengerti maksud dan siapa orang yang tertulis di buku itu. Ara sudah berulang kali membaca buku itu dan mencoba mengingatnya tapi dia tidak pernah berhasil dan selalu berakhir dengan tidak sadarkan diri beberapa menit setelah membacanya,"

__ADS_1


"Apa Ara tidak akan mencari buku ini kalau sadar bukunya hilang?"


"Insya Allah tidak Gha. Ara punya banyak buku yang sama seperti itu. Kalau tidak bisa menemukan buku itu dia pasti akan membaca buku hariannya yang lain untuk mencoba mengingat kejadian atau peristiwa-peristiwa yang tertulis di sana,"


*****


Akhirnya aku pun menggangguk mengiyakan permintaan Mas Mahdi. Lekas itu, dia berpamitan untuk pergi karena ada urusan yang harus diselesaikannya. Beberapa menit setelah kepergiannya "Dear God-nya Avenged Sevenfold" dari handphone ku bordering dan menampilkan nama Vreya di layarnya.


Vreya Calling :


"Hallo....," ucap seseorang di seberang sana...,"


Erlangga Calling :


"Ya...," jawabku.


Vreya Calling :


"Gha, tolong bantu Ara kali ini," pinta nya to the point. "Aku tahu ini akan menyakitkannya banyak ketika dia mengingat semuanya. Tapi, ini semuanya keinginannya. Dan sebagai sahabat aku hanya bisa menurutinya dan berharap yang terbaik untuknya,"


"Iya...,"ucapku singkat. Bukan karena aku marah padanya. Tapi, ini sudah menjadi kebiasaanku untuk menjawab singkat seperti ini.


Vreya Calling :


"Aku percayakan Ara padamu ya, ku mohon jangan sakiti dia. Jika kau sudah membaca buku itu kau pasti akan mengerti kenapa aku meminta Mas Mahdi memberikan buku itu padamu,"


Erlangga Calling :


"Oke, Vrey, aku akan coba membacanya dan membuat keputusan setelahnya.


Vreya Calling :


"Terima kasih, aku percaya kamu akan melakukan yang terbaik sama seperti Ara pernah mempercayaimu dulu,"


Erlangga Calling :


"Ya, aku akan berusaha,"


Vreya Calling :


"Ya, sudah kalau gitu sudah dulu ya. Gue banyak kerjaan masian..hehe...bye...,"


Erlangga Calling :

__ADS_1


"Bye," ucapku mengakhiri percakapanku dengan Vreya.


*****


__ADS_2