Secret Love Story (End)

Secret Love Story (End)
Extra Part


__ADS_3

Erlangga sibuk menyiapkan kemantapan hatinya. Ia deg-degan bukan main. Ia takut akan berbuat kesalahan pada saat acara yang sacral itu berlangsung. Namun, dengan seluruh kemantapan hatinya, ia percaya bahwa ketika Tuhan telah mentakdirkan dirinya bersama dengan seseorang yang dicintainya itu, maka akan mampu untuk melewati segala masalah yang ada. Termasuk kegugupan yang tiba-tiba dialaminya kini. Beberapa menit kemudian kegugupan itupun sirnah ketika ia teringat akan perkataan seseorang yang berarti baginya dulu.


"Robbisrohli sodri, wa yassirli amri, wah lul uqdatan min lisani, yafqohu qouli, Tuhanku lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah simpulan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, bacalah surat Thaha, itu ketika kamu merasa gugup, agar semuanya berjalan lancar...," ucap gadis itu.


Setelah mengingat kejadian masa lalu itu, akhirnya Erlangga menemukan kembali kemantapan hatinya. Ia menarik nafas panjang, dan setelahnya dalam satu tarikan nafas yang panjang ia mengucapkan kata-kata itu dengan lancar.


"Saya terima nikahnya Aerilyn Belvania Az-zahra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu juta tiga ratus sembilan puluh satu ribu empat ratus rupiah di bayar tunai,"


Setelah mengatakan kata akad itu, wajah Erlangga pun lega. Begitu pula dengan Aerylin yang berada di tempat yang tak jauh dari seseorang yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu. Beberapa detik kemudian etelah kata sah terucap dari para saksi, tirai yang memisahkan keberadaan Erlangga dan Aerylin pun dibuka, hingga keduanya dapat saling bertatapan dengan penuh kasih.


Erlangga tak henti-hentinya menatap wajah gadis yang kini berada di hadapannya itu. Ia menatap tepat di manik mata gadis itu, namun seperti yang sudah-sudah, Ara masih saja menunduk malu dengan perlakuan Erlangga yang seperti itu, meskipun kini mereka sudah menjadi pasangan halal atas nama cinta di hadapan Tuhan. Menyadari istrinya yang menunduk malu tersebut, Erlangga pun hanya tersenyum kecil. Tatapan mata keduanya terhenti ketika mereka mendengar suara deheman seseorang.


"Ehemm...oh jadi gitu ya, dulunya bilang gak bakal cinta sama temen sendiri eh...nyatanya malah dinikahin tuh.....," ucap Putra.


"Bener tuh put....kayaknya dulu juga ada yang selalu ngelak deh tiap kali ditanyain tentang perasaannya sama cowok disampingnya itu....," ledek Vreya.


"Bukan cowok lagi Vrey, sekarang dah jadi suami....," timpal Mela.


"Ups,....sorry lupa.....," ucap Vreya yang sontak disambut pula oleh gelak tawa, Yola, Zeta, Reza, Arif, Dinda, Putra, Ahmad, Tama, Azrel, Mela.


Mendengar ejekan dan sindiran yang bermaksud candaan itu, membuat wajah Ara memerah karena menahan malu. Dan Egha yang tahu bahwa istrinya tengah di rundung rasa malu karena candaan teman-temannya itu pun segera menatap tajam teman-temannya, tapi bukannya berhenti semua teman-temannya malah tertawa makin riang. Beberapa menit setelahnya selepas menyalami para tamu yang hadir, Ara dan Egha pun beristirahat melepas lelah dengan duduk di tempat yang disediakan bagi pasangan pengantin.


Acara berlanjut dengan persembahan hadiah dari para teman-teman mempelai berdua seusai sambutan yang diberikan oleh beberapa perwakilan dari keluarga kedua belah pihak. Reza dan Arif bersiap memutar video yang ditampilkan di sebuah dinding putih kosong yang sengaja disiapkan seperti itu, oleh pihak dekorasi gedung pernikahan itu.


Beberapa menit kemudian, video berjalan dan menampilkan foto masa lalu keduanya, sembari diiringi penjelasan yang disampaikan oleh Vreya dan juga Putra tentang foto-foto itu. Banyak foto-foto masalalu mereka berdua, yang bahkan keduanya tidak sadar bahwa foto itu pernah ada, karena beberapa memang ada yang sengaja di ambil diam-diam oleh teman-temannya itu.


Melihat hal itu, Ara merasa seolah kembali pada masa lalu. Dimana dulu ia tak pernah berpikir bahwa bahagia akan mendatanginya seperti ini. Ia menitikkan air mata dan tak henti berucap syukur kepada sang pemilik cinta.


"Kamu kenapa?" tanya Egha yang melihat istrinya menitikkan air mata.

__ADS_1


"Tidak apa-apa...," ucap Ara.


"Ra, kamu gak perlu menyembunyikannya dariku, sekarang kamu dan aku bukan lagi dua orang yang terpisah, kita satu, jadi jujurlah padaku akan segala hal yang terjadi dalam hidup kita kedepannya," ucap Erlangga yang dijawabi anggukan oleh Ara.


"Jadi, sekarang katakan padaku, kamu kenapa?"


"Aku hanya bahagia,,,"


"Bahagia? Kamu bahagia tapi meneteskan air mata? Kamu yakin? Itu bukan karena kamu menyesal telah menyerahkan diri kamu untuk bersama denganku?"


"Iya, aku bahagia, dan karena saking bahagianya makanya aku meneteskan air mata. Mas, tidak semua air mata itu tanda sebuah kesedihan. Contohnya hari ini, aku tidak meneteskan air mata karena menyesal menyerahkan sisa hidupku untuk kuhabiskan bersamamu,tapi ini karena aku bahagia, aku bahagia karena kamu, karena Tuhan pada akhirnya mengizinkan aku untuk bersamamu setelah banyak hal yang telah kita lalui,"


"Iya, kamu benar. Setelah dipisahkan berkali-kali, pada akhirnya Tuhan menyatukan kita lagi dalam ikatan yang halal dan suci ini. Sama sepertimu, aku juga sangat bersyukur akan hal itu," ucap Erlangga sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Eh....tadi kok kayaknya aku dengar ada yang aneh...?" tanya Erlangga kemudian.


"Nah, itu...aku dengar lagi, "Mas", kamu bilang gitu...?" tanya Erlangga dan dijawab anggukan oleh Ara.


"Kenapa manggil mas?" tanya Erlangga.


"Lah, kan sekarang kamu...eh kita.....," ucap Ara terbata-bata.


"Karena sekarang aku suamimu, dan kita sudah menikah?" tanya Erlangga yang lagi-lagi di jawab anggukan oleh Ara.


"Ah...panggilan itu cukup manis, tapi..kenapa aku jadi ngerasa kalau kamu manggilnya gitu aku jadi seperti mas-mas penjual nasi goreng keliling, atau kayak panggilan kamu yang kamu berikan pada siapa itu...si dokter itu....,"


"Mas mahdi?" ucap Ara.


"Iya, kenapa aku jadi ngerasa kayak gitu. Aku nggak mau kamu manggil mas ah....,"

__ADS_1


"Lah...kenapa gitu, jadi aku harus manggil kamu apa? Nama kamu?"


"Nggak, aku maunya kamu manggil aku dengan nama yang spesial yang berbeda dari orang lain....,"


"Hah...apa terus?"


"Em...misalnya kamu bisa manggil aku dengan honey, sweety atau sayang barangkali. Ya panggil aku sayang aja, aku suka itu..,"


"Ish....nggak mau....,"


"Ayolah....aku mau denger kamu manggil aku gitu....,"


"Nggak mau......,"


"Ish...ya udah kalau gitu aku aja yang manggil kamu gitu...," Sayang..sayangku....," ucap Erlangga meledek Ara yang tentu saja membuat Ara merasa malu dan bersemu merah atas kelakuan Erlangga. Ia mencubit pinggang Erlangga, bertubi-tubi karena tidak bisa menyembunyikan rasa malunya dari lelaki itu. Erlangga merasa kegelian atas apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Dan akhirnya, ia pun mengecup kening istrinya untuk menghentikan kelakuan istrinya. Ara yang terkejut dengan kelakuan Erlangga yang dirasanya cukup mainstream karena baru pertaama kalinya dialaminya itu, langsung menunduk malu menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya. Para tamu undangan dan teman-teman kedua pengantin yang melihat kelakuan konyol keduanya itupun langsung tertawa dan bertepuk tangan atas insiden itu.


"Terima kasih, karena telah menerima dan mempercayaiku atas hidupmu mulai sekarang. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitimu atau membuatmu menangis, karena itu tidak mungkin. Yang bisa ku janjikan hanyalah satu hal bahwa aku akan selalu mendukungmu dalam segala hal yang ingin kamu lakukan, karena aku percaya bahwa setiap inginmu itu, pastilah ada kebaikan yang menyertainya,"


~ERLANGGA~


"Aku tidak memerlukan bahagia berkepanjangan, karena aku sudah dapatkan itu ketika sampailah keputusanku pada pilihanku akan dirimu. Aku juga tidak akan mengeluh setiap kali kamu akan membuatku menangis lagi, karena aku tahu bahwa sama sepertiku, kamu juga hanyalah manusia biasa. Sekalipun kamu akan menyakitiku lagi, aku tidak apa-apa, sungguh, aku hanya ingin melewatinya segalanya bersamamu sampai aku mati, jadi tetaplah bersamaku dan menjadi pendukungku disetiap langkah hidup yang ku ambil"


~ARA~


"Ayo jalani hidup bersama, menua berdua sampai maut memisahkan kita~


~ERLANGA & ARA~


THE END

__ADS_1


__ADS_2