Secret Love Story (End)

Secret Love Story (End)
Akhirnya Kau Hilang


__ADS_3

Akhirnya kau hilang


Kau meninggalkan aku


Dan kenangan...


Kini satu-satunya masa depan yang tersisa


~Akhirnya Kau Hilang, Aan Mansur~


Dua minggu berjalan seperti biasa meninggalkan segala kenangan beberapa waktu lalu kebelakang. Namun, masih teringat peristiwa itu terjadi, bak sebuah film yang diputar lagi di bagian depan, ingatanku juga begitu. Aku masih teringat saat dia meneteskan air matanya kala membaca puisi itu. Tepat pada bait terakhir puisi itu, dia menatapku dengan sendu, dan kemudian beberapa larik air matanya jatuh membasahi pipinya sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri di beberapa detik berikutnya. Entah mengapa aku merasa ada keanehan yang tercipta saat itu. Apakah itu karena puisi berisi kesedihan yang dibacakannya yang menjadikan air matanya meluncur begitu saja, ataukah itu karena ingatan dimasa lalunya yang tiba-tiba menerobos masuk tanpa permisi di saat dia belum siap hingga membuatnya jatuh limbung seketika. Ataukah ini semua karenaku?


Ahhhh...aku tak tahu. Aku frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa saat melihatnya seperti itu. Aku hanya bisa diam di tempatku dan tak bergeming sedikitpun sementara yang lain sibuk dengan kecemasannya terhadap gadis itu. Hingga rasa lega akhirnya tercipta di wajah mereka ketika dia sudah di bawa kerumah sakit dan ditangani oleh dokternya. Dokter yang selalu bersamanya entah sejak kapan. Ya, dokter itu, dr. Mahdi Mitra Adhytama. Aku merutuki diriku sendiri sejak saat itu hingga kini. Peristiwa itu seolah mengingatkanku pada kejadian masa laluku dengannya. Dimana aku hanya bisa diam tanpa memberi pembelaan terhadapnya saat itu, tepat dimana dia di pandang rendah dan diremehkan, aku hanya bisa diam menarik diriku dari tidak mencampuri apa yang tengah terjadi padanya saat itu.


*****


Flash back


"Mbak saya ndak terima...," ucap salah seorang siswi kepada Ara kala itu.


"Kenapa dek...?" tanya Ara.


"Ini, kenapa saya tidak mendapatkan nilai. Apakah mbak tidak memeriksa pekerjaan yang saya kirimkan?"


"Ma'af dek, mbak sudah periksa e-mail tapi adik belum mengirimkan tugasnya..,"


"Lohh saya sudah kirim tugas saya mbak. Saya selalu kirim tugas. Dan ini kenapa nilai saya di pertemuan kemarin jelek begini...," ucap siswi tersebut dengan menunjukkan kartu kendali praktikum kepada Ara dan rekannya yaitu Erlangga.


"Oh..ini nilai adik jelek karena adik terlambat mengumpulkan tugasnya...,"jelas Ara.


"Loh, tapikan saya sudah bilang di email alasan saya terlambat..," ucap siswi itu.


"Dek, mbak sudah mentolerir berulang kali keterlambatan adik mengumpulkan tugas berulang kali dengan banyak alasan yang adik tuliskan dalam email. Tapi, jika seperti ini terus itu tidak akan adil untuk yang lainnya dek. Yang lainnya berusaha dengan keras untuk mengumpulkan tugas tepat waktu, sementara adiknya malah berulangkali melakukan kesalahan yang sama...," jelas Ara.


"Pokoknya saya tidak terima. Saya bisa laporkan Mbak ke ketua laboratorium kalau kayak gini," cerca gadis itu dengan tampang sinis dan kasarnya kea rah Ara.


Ara hendak naik pitam ketika itu namun tiba-tiba seorang instruktur yang tidak lain dulu juga alumni asisten melerai mereka. Instruktur itu meminta ma'af ke siswi tersebut atas apa yang tengah terjadi karena dia memang tidak begitu tahu. Ara keluar beberapa menit dan kemudian kembali dengan bukti di tangannya. Laptop putih kecil itu menampilkan email yang berisi tugas-tugas mahasiswa-mahasiswinya dan disitulah Instruktur itu akhirnya tahu bahwa Ara tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Dan instruktur itupun akhirnya memberitahukan kepada mahasiswi itu karena memang ternyata mahasiswi itu yang salah.


Praktikum pun berjalan sesuai kembali seperti biasanya yang berbeda hanyalah mahasiswi yang protes itu tak lagi berani untuk bertanya baik kepada Ara ataupun Erlangga. Erlangga, menghampiri partnernya yang kini duduk di bangku mahasiswa di bagian belakang.


"Jangan menangis...," ucapnya pada gadis itu.


"Aku nggak nangis...," ucap Ara.


"Iya kah....?"


"Iya kenapa aku harus nangis. Aku hanya marah, karena ucapannya. Ucapannya lebih kasar di bandingkan ucapan kasar yang pernah kau ucapkan padaku dulu," ucap Ara sembari berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh.


Deg, Erlangga yang mendengar hal itu sangat terkejut bahwa gadis itu masih mengingat kata-kata kasar yang pernah di ucapkannya dulu kepadanya.


"Kita sudah sepakat tadi, sebelum perkuliahan di mulai untuk tidak memberi nilai pada mahasiswi itu. Dan kau bilang kau akan membelaku jika sesuatu terjadi..," ucap Ara sembari menghela nafasnya yang terasa sesak karena menahan tangis akibat amarahnya tadi. "Tap...tapi...saat sesuatu itu benar-benar terjadi kau hanya diam tak membantuku Gha. Kau tau aku menahan menangis karena aku tidak bisa marah, tapi kau bahkan tidak melakukan apapun ketika aku dipandang rendah dan diremehkan seperti itu. Ternyata aku salah Gha, aku salah karena percaya dengan perkataanmu. Dan inilah akibatnya, aku harus menanggung segala konsekuensinya sendiri bukan..?" ucap gadis itu dengan berusaha tetap tersenyum dihadapan Erlangga. Erlangga hanya diam seribu bahasa dan membiarkan gadis itu kemudian berlalu pergi darinya.


*****


Di sisi lain, Ara tengah berkemas untuk kembali ke tempat kerjanya. Yah, sejak beberapa bulan lalu Ara di pindah tugaskan ke Sragen, tempat kantor cabang yang baru untuk melihat kondisi dan perkembangan kantor itu tersebut. Di tentengnya koper besar berwarna hitam dengan garis berwarna merah di bagian-bagian samping tas itu. Ia mencium tangan ayahnya dan meminta izin untuk pergi.


"Jaga dirimu Nak...," ucap Ayahnya.


"Iya Yah...," balas Ara.


Kali ini Ara berangkat sendiri ke Sragen, tanpa diantar oleh Mahdi. Pasalnya Mahdi tengah ada jadwal operasi di rumah sakit pagi ini. Ara pergi naik angkutan umum ke stasiun kereta dan kemudian pun melesat dengan kereta itu menuju ke stasiun sragen. Setelah itu, dia pun berjalan untuk naik angkutan umum lagi menuju ke rumah kontrakannya. Selama di Sragen dia kontrak di daerah yang tidak begitu jauh dari tempat kerjanya.


Rumah berukuran yang cukup mungil yang hanya berisi satu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur dan satu kamar tidur yang bersekat dengan ruang tamu adalah tempat dimana Ara melepas lelah dari rutinitasnya bekerja sehari-hari. Di rebahkannya tubuhnya di kasur yang dibalut dengan seprai bermotif bunga-bunga mawar besar yang berwarna biru langit itu. Dia mencoba untuk memejamkan matanya sejenak, tapi kemudian dia bangun seketika setelah mendengar dering hanphonenya berbunyi.

__ADS_1


Mahdi Calling :


"Hallo, Assalamu'alaikum...," ucap seseorang di seberang sana.


Ara Calling :


"Wa'alaikum salam, Mas...," ucap Ara.


Mahdi Calling :


"Sudah sampai Ra...?"


Ara Calling :


"Iya sudah, baru saja sampai Mas..,"


Mahdi Calling :


"Ya, sudah kalau gitu istirahat sana. Jaga diri baik-baik ya disana..,"


Ara Calling :


"Oke, Mas juga...,"


Mahdi Calling :


"Iya, jangan lupa minum obatnya, dan segera hubungi Mas kalau terjadi sesuatu di sana. Atau kalau kamu merasa ada sesuatu yang aneh yang kamu rasa. Mas gak mau denger kamu pingsan lagi seperti beberapa waktu lalu. Jangan berusaha terlalu keras untuk mengingat ya...,"


Ara Calling :


"Iya, Mas gak perlu khawatir. Insya allah Ara akan bisa jaga diri. Bukankah sebelumnya Ara juga baik-baik saja disini. Jadi Mas gak perlu khawatir lagi. Oke...?"


Mahdi Calling :


Ara Calling :


"Iya Mas, Wa'alaikum salam...," ucap Ara di akhir percakapannya dengan mahdi via telepon.


*****


Aku terbangun dari tidurku ketika mama berteriak dan menggedor pintu kamar tidurku. Sumpah kalau kau bertanya alarm yang paling ampuh di dunia yang menduduki peringkat pertama adalah teriakan mama. Suara melengkingnya sungguh sangat memekakkan telinga dan jika sudah seperti itu bagaimana mungkin aku tidak segera bangun. Aku masih bisa mendengar suaranya meski tidak begitu keras lagi karena ku tahu mungkin mama sudah berjalan agak menjauh dari kamarku. Aku duduk dan minum air putih di gelas yang terletak rapi di nakas tempat tidurku. Alarm hidup, ketika berbicara seperti itu aku teringat kembali akan masa lalu. Tepat saat itu, saat-saat kuliahku dulu. Di dua tahun terakhir selama masa kuliahku selalu ada yang membangunkanku di pagi hari dan bahkan di sepertiga malam.


Flash back


"Besok berangkat jam berapa?" tanya gadis kecil itu.


"Jam tiga pagi...,"ucapku.


"Oh, gitu naik apa mobil?" tanyanya yang kemudian ku jawab dengan anggukan. "Kamu di jemput kan?" tanyanya lagi.


"Iya...," jawabku. "Tapi....masalahnya...,"


"Kenapa ada masalah apa?" tanyanya yang memberikan leptop dengan tas bergambar doraemon itu kepadaku. Ya, saat itu aku tengah berada di kosannya untuk meminjam leptopnya karena leptopku rusak.


"Masalahnya...aku tidak bisa bangun pagi-pagi gitu....,"


"Oh...ya sudah nanti tak bangunin deh...," ucap gadis itu.


Dan aku tahu kemudian bahwa ucapannya untuk membangunkanku di sepertiga malam itu adalah nyata. Aku terbangun ketika mendengar suara handphoneku berdering karena panggilan darinya. Aku tak tahu saat itu apakah dia memang sengaja bangun malam itu untuk membangunkanku. Tapi, beberapa hari setelahnya aku tahu bahwa dia memang terbiasa bangun di sepertiga malam untuk sholat malam dan mungkin saat itu dia juga teringat untuk membangunkanku. Kau tahu, jujur aku sempat kepedean saat itu, aku pikir dia memang rela bangun dari tidur nyenyaknya hanya untuk membangunkanku yang hendak pergi ke Jember saat itu, tapi ternyata dia memang sudah terbiasa bangun karena sholat malamnya. Namun tak dapat ku pungkiri aku cukup tersentil dengan kebiasaan baiknya itu, dimana di saat semua orang tengah nyenyak-nyenyaknya tidur dia malah bangun dan mendirikan sholat di pertigaan malam itu. Perfect, dia wanita yang benar-benar berbeda dari kebanyakan, itulah pikirku kala itu.


Aku turun dari kamar tidurku yang terletak di lantai dua itu dan menyambar makanan yang berada di meja makan dalam keadaanku yang masih acak-acakan karena belum mandi. Yah, aku belum mandi setelah bangun tadi dan hanya mencuci muka dan sikat gigi setelah itu aku langsung turun ke meja makan karena mendapati suara perutku yang sudah memberontak minta untuk diisi.


"Gha, mandi dulu sana....," pinta Mama yang mendapatiku tengah menikmati tempe goreng hangat yang baru turun dari penggorengan itu.

__ADS_1


"Gak usah deh mah, malas...," balasku sembari mengunyah tempe itu.


"Kamu ini selalu begitu kalau di suruh mandi...," Mama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Pun diikuti pula oleh Papa dan adik laki-lakiku yang kini tengah bertengger di meja makan juga bersamaku.


"Tau tuh kak, mandi sono. Badan loe bau tau...," ucap adikku sembari mendorongku dari tempat dudukku. Tapi aku hanya diam dan focus pada makanan yang aku makan tanpa menggubris ucapan mereka semua.


"Kamu kapan balik ke Singapura Gha?" tanya Papa.


"Gak tau pa, nanti-nanti aja...,"ucapku.


"Balik kesono cepet dan selesain kuliah loe..," seru adikku.


"Loe ngusir gue...," ucap gue menanggapi perkataan adikku. "Duuhh..loe nih kalau gue gak pulang ditanyain kapan gue pulang. Giliran gue di rumah loe suruh gue balik..,"


"Bukan gitu Gha, benar kata adikmu. Kalau kamu balik kan kamu bisa cepet selesaikan S2 mu dan kemudian kamu bisa kembali kesini lagi buat kerja disini selamanya..," ucap Mama. Tapi aku tak menyahut dan hanya sibuk memakan makanan di depanku. "Cepet lulus dan cepet dapat kerja yang bagus. Memang kamu gak pingin cepet-cepet ngelamar Brina?" tanya mama yang kemudian sontak membuat mataku beralih dari makanan untuk menatap mama.


Mama segera beralih ke dapur untuk membawa beberapa buah yang sudah di kupasnya. Tapi aku tahu mama melakukan itu karena melihat tatapanku pada mama tadi yang terkesan dingin selepas mendengar penuturan mama.


"Iya, ngomong-ngomong kenapa Brina gak kamu ajakin ke sini Gha. Sudah tiga bulan kamu pulang. Kamu tidak ngabari dia?" tanya Papa.


Aku hanya menggelengkan kepala. Entah mengapa aku tidak ingin membicarakan dia saat ini. Kepalaku hanya di penuhi oleh satu nama saat ini. "Aerylin Bellvania Az-Zahra", aku hanya memikirkan pemilik nama itu saat ini. Sejak aku tahu dia kehilangan ingatannya beberapa waktu lalu, sejak aku melihatnya pingsan saat itu, aku selalu memikirkan gadis itu. Ah, tidak lebih dari itu aku memikirkan gadis itu bahkan ketika aku masih di Singapura. Entah mengapa aku jadi teringat kepadanya sepanjang waktu. Aku tahu ini bukanlah sesuatu yang pantas kulakukan, memikirkan gadis lain di saat aku sudah memiki seorang gadis yang mempunyai status pacaran denganku. Tapi, aku tak bisa menghindarinya, aku tak bisa lepaskan ingatanku dari memikirkannya. Di saat gadis itu tidak mengingat apapun tentang masa lalunya denganku, aku malah mampu mengingat setiap kenangan yang penah ku lalui dengannya. Bukankah itu aneh?


*****


Ara tengah berjalan menuju ke kantornya. Dia mengenakan blus berwarna navy dengan jilbab panjang yang senada dan rok hitam lebar yang bertengger di pinggulnya. Tas merah marunnya ia kenakan di pundak sebelah kirinya. Tangan kanannya menenteng kotak bekal yang terbalut rapi di dalam tas bekal kecil yang berwarna biru muda. Beberapa teman kerjanya yang kos juga di sekitar daerahnya menyapanya dan menawarinya boncengan. Tapi Ara menolak dan tetap berjalan ke kantornya.


Sementara itu Erlangga yang jemu di rumah selama liburannya kini memutuskan untuk mengunjungi salah satu teman SMA nya. Dia memilih untuk mengendarai motor daripada mobil agar lebih cepat sampai dan menghindari kemacetan di jalan. Dia memperhatikan jalan sekeliling dan dia baru sadar kalau sudah banyak yang berubah di daerah itu.


"Di sini sudah berdiri pabrik baru ternyata..." gumamnya ketika melewati area pabrik yang baru saja berdiri satu tahun yang lalu itu.


Kemudian dia pun turun dan memarkir motornya tepat di halaman depan rumah temannya. Dia memencet bel pintu rumah temannya itu dan kemudian seseorang pun keluar dari rumah itu.


"Eh, Gha...lama gak ketemu. Kangen gue...," teriak seorang lelaki yang keluar dari rumah itu sembari melebarkan tangannya untuk memeluk Erlangga.


"Ihhh...najis gue di peluk sama loe...," ucap Erlangga dan hanya di sahuti oleh cekikikan oleh teman-temannya yang ternyata sudah berkumpul di ruang tamu.


"Duuhhh..temen gue ini tahu jalan pulang ternyata," sindir Andi salah satu temannya.


"Iya, gue pikir loe udah betah di Singapura dan gak balik lagi kesini..," tukas Ferdhy sang pemilik rumah.


"Basii..omongan loe...," ucap Erlangga datar.


"Hahaha..santai bro. Gue malah berfikir loe udah kecantol cewek sana mas bro...," sahut Vino yang baru saja datang dan kemudian ikut nimbrung di antara mereka.


"Hush...omongan loe No, si Brina mau di kemanain," sahut Ferdhy.


"Iya, Egha kan tipe cowok setia. Emangnya loe, liat cewek bening dikit aja langsung di sosor...," ucap Andi yang kemudian di sahuti tawa oleh yang lainnya.


"Eh, di dekat sini di bangun pabrik baru ya..?" tanya Erlangga kemudian.


"Iya Gha udah dapat 1 tahun 4 bulan pabrik itu berdiri..,"jelas Vino.


"Duuhhh loe bisa tahu info sedetail itu darimana? Pasti gara-gara loe sering mantau dedemenan loe itu makanya loe sampai cari informasi sedetail itu," tanya Andi tapi yang di tanya hanya cengar-cengir saja.


"Haaahhhaaa...emang ada lagi yang bakal jadi korban loe..?" tanya Erlangga yang tahu bawa temannya yang satu itu benar-benar playboy abis.


"Yaelah...omongan loe jahat banget si Gha..," ucap Vino dengan wajah yang berusaha di cemberutkannya. "Kali ini gue gak main-main Gha, gue beneran bakal nikahin kalau gue bisa dapetin dia," ucap Vino tegas dan penuh semangat.


"Loe serius..? Gue jadi penasaran gadis macam apa yang bisa ngebuat seorang Vino sampai berubah 360 derajat itu...," tanya Erlangga menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya Gha, dia emang beneran udah gila karena gadis itu. Tiap hari dia main ke rumah gue buat cuman buat liat gadis itu kalau berjalan pulang kerja ckck..," jelas Ferdhy dan semuapun tertawa mendengar penuturan Ferdhy tentang kelakuan Vino.


*****

__ADS_1


__ADS_2