
"And I sit alone in the darkest night
My heart is pounding and I wonder why
Why am I invisible, why can't you see?
I'm in love with you, are you in love with me?
You show some signs, but I'm not sure
It's a secret love, and you're the cure
I just need to know what you think about me"
~Possibility, Tiffany Alvord~
"Baiklah sebelum kita akan berpisah dalam waktu yang cukup lama dan entah kapan kita akan bisa berkumpul bersama seperti ini, bagaimana kalau kita lanjutkan ke ronde kedua," usul Tama.
"Ronde kedua maksudnya...?" tanya Mella.
"Ya, kita lanjut untuk makan malam bersama dan setelah itu ngobrol-ngobrol dan karaoke bareng...gimana?" jelas Tama kepada teman-temannya sembari melemparkan pertanyaan yang menuntut jawaban persetujuan dari teman-temannya.
"Kalau gue sih oke-oke aja....," jawab Reza.
"Gue juga deh, tapi gue minta izin dulu sama suami gue ya...," ucap Yola.
"Hmmm...loe gimana Ra...?" tanya yang lain.
"Eh...ak...aku.....," ucap Ara yang kemudian terpotong oleh perkataan Vreya.
"Mau ya Ra, please mau dong. Ayo kita habiskan waktu sama-sama sebelum gue balik ke Batam, Ya...ya....," ucap Vreya dengan rayuan mautnya yang tentu saja tak akan pernah bisa di tolak oleh Ara. Karena dia tahu sahabatnya yang satu ini tidak akan pernah mengecewakannya, karena itulah Vreya sangat menyayangi sahabatnya itu sama seolah seperti saudaranya sendiri.
"Hmm...baiklah....kalau gitu aku telfon mas Mahdi dulu ya, biar dia jemputnya nanti-nanti aja," ucap Ara.
"Duuhhhh iyelah yang sekarang udah gak sendiri lagi, harus banget ya minta izin," goda Putra yang tentu saja membuat gadis itu menjadi malu. Sementara disisi lainnya terdapat seseorang yang menanggapi hal itu dengan wajah datar dan dingin melihat gadis itu tertunduk malu karena ledekan salah satu temannya itu.
"Loe, gimana Gha....,"tanya Ahmad kemudian.
"Gue ngikut aja deh....," jawab Erlangga.
Akhirnya mereka pun pergi menuju ke restoran terlebih dahulu sebelum menuju ke tempat karaoke. Mereka pun memilih pesanan masing-masing dan menulisnya pada secarik kertas kemudian waitress pun mengambil kertas tersebut dan segera memproses pesanan mereka.
"Loe masih gak bisa makan ayam...?" ucap Erlangga yang tanpa sengaja dapat tempat duduk disampingnya ketika melihat pesanan yang ia tulis di kertas sebelum di ambil oleh waitress beberapa menit lalu.
Ara menatap Erlangga dengan sedikit bergidik ngeri. Sementara yang ditatap tahu bahwa gadis itu tengah menatap penuh selidik pada dirinya. "Kenapa?" tanya Erlangga.
"Kok kamu bisa tahu aku gak bisa makan ayam...?" tanya Ara.
"Astaga...jadi loe natap gue penuh curiga cuman karena masalah itu. Bukan hanya gue aja yang tahu, semua juga pada tahu kalau loe gak bisa makan ayam dari dulu dan alasannya bukan karena alergi tapi loe bakal muntah tiap makan ayam...," jelas Erlangga. Tapi, Ara masih menatapnya dengan tatapan yang sama. "Loe gak percaya sama gue? Loe bisa tanya sama yang lain kalau loe masih gak percaya..," ucap Erlangga. "Emang tampang gue mencurigakan apa sampai loe natap nya seperti itu...,"
Yang ditanya pun masih tidak menjawab hanya menjawabnya dengan anggukan saja. Dan kemudian dia pun angkat bicara. "Kamu memang mencurigakan, kayak spy...," ucap Ara.
"Hey, jangan ke ge-eran deh loh, emangnya apa untungnya gue mata-matain loe. Sampai loe berfikiran sempit seperti itu...?" ucap Erlangga sembari menjitak kepala gadis yang terlindungi oleh jilbab panjang berwarna biru langit itu.
"Issshhhh...kamu nih suka banget sih jitak kepala aku," ucap Ara sembari cemberut. "Habis, kamu siapa sih kok bisa tahu banyak tentang aku, tahu aku gak bisa renang lah, takut inilah takut itulah dan sekarang kamu pun tahu aku tidak bisa makan ayam. Sekarang katakan coba bagaimana mungkin aku tidak menaruh curiga padamu yang tahu hampir semua tentangku sementara aku saja tidak tahu sama sekali tentang kamu...," jelas Ara atas alasannya yang mencurigai Erlangga.
Deg, seketika itu jantung Erlangga seolah berhenti berdetak mendengar perkataan gadis itu. Gadis itu bertanya perihal siapa dirinya yang bisa tahu semua hal tentang gadis itu. Sementara gadis itu bahkan tidak tahu apa-apa tentang dirinya. "Kamu tahu semua hal tentangku Ra, bahkan melebihi diriku sendiri. Jadi ku mohon jangan bertanya lagi siapa aku dan bagaimana aku bisa tahu semua tentangmu. Itu menyakitkan Ra...," batin Erlangga yang kini merasakan sesak didadanya. Namun, dia mencoba untuk menyembunyikannya dengan menyunggingkan senyum ke arah Ara tanda bahwa mereka berdamai dan tidak akan melanjutkan perdebatan lagi.
*****
Violence's Karaoke, akhirnya mereka tiba di sana setelah makan malam. Beberapa memilih list lagu yang akan mereka nyanyikan dan bahkan memilih rekan duetnya, beberapa menikmati makanan ringan yang sudah mereka pesan sebelumnya, dan beberapa lagi asyik menjadi penonton dan menikmati suasana yang ada.
"You say I'm crazy..
Cause you don't think I know what you've done
But when you call me baby,,,
I know I'm not the only one...."
Putra mengakhiri lagu Sam Smithnya yang berjudul I'm Not The Only One itu. Dan mereka pun sudah mendapatkan giliran menyanyi masing-masing dan meninggalkan Erlangga dan Ara yang asyik hanya menjadi penonton sedari tadi.
"Gha, nyanyi dong...," bujuk Mella agar Erlangga gak sibuk dengan game di HP nya atau sibuk menjadi penonton saja. Tapi lelaki itu menolak.
"Iya Gha, nyanyi dong.....," bujuk Azrel pula.
"Gak mau, gue gak mau nyanyi....," ucap Erlangga tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Ya udah deh kalau loe gak mau, gimana kalau loe aja yang nyanyi Ra...?" ujar Tama.
"Jangan.............!!!!!!!!!!! teriak Vreya dan Putra serempak.
"Hehhhh...kenapa emangnya kalau Ara nyanyi...,"
"Jangan deh....jangan....," ucap Putra.
"Iya jangan ya....please suruh Erlangga lagi aja noh buat nyanyi...," seru Vreya sembari menunjuk ke arah Erlangga yang tengah asyik dengan HP nya.
__ADS_1
"Kenapa...emangnya kenapa sih kalau Ara yang nyanyi, emang suara dia gak bagus?" tanya Reza.
"Enggg....gak gitu juga sih....," ucap Vreya.
"Trus...masalahnya apa Vrey?" tanya Zeta.
"Em.....anu...anu....masalahnya....Ara itu gak tau nada...jadi kalau dia nyanyi pasti antara musik dan liriknya gan sinkron dan nanti pasti kedengarannya.....," ucap Ara tak berlanjut.
"Sumbang...," potong Erlangga cepat. Sementara Ara yang mendengar hal itu hanya tertunduk malu.
"Ish...loe nie...jangan gitu juga kali ngomongnya," ucap Putra. Putra sama Vreya memang dua orang yang pernah mendengar Ara bernyanyi. Sementara teman-temannya yang lain tidak pernah mendengar Ara bernyanyi.
"Oh...jadi gitu...," ucap Dinda.
"Eh...tapi gak masalah juga sih kalau kita denger, toh cuman kita-kita doang. Gak papa kan Ra...," tanya Vina.
Ara menggeleng. "Nggak deh, sumpah aku nggak mau nyanyi lagi. Malu. Apalagi ntar dikatain suaraku kayak finalis idola cilik lagi....," ucap Ara sembari melirik Putra.
"Hehehe....sor..sorry Ra....," ucap Putra sembari nyengir dan yang lain pun tertawa mendengar kejujuran Ara yang pernah dikatain finalis idola cilik ketika pergi karaoke bersama Vreya dan Putra dulu.
"Em...kalau gitu loe bisa lakuin yang lain kalau gak nyanyi. Pokoknya tampil dihadapan kita semua deh...biar adil...," ucap Mella.
"Noh, Erlangga aja gak mau nyanyi, brarti dia juga harus dikasih tantangan juga dong," ucap Ara yang kemudian di jawab dengan pelototan mata oleh Erlangga.
"Gue akan nyanyi...," ucap Erlangga kemudian.
"Bener Gha....," ucap Mella.
"Iya,,gue bakal nyanyi setelah liat penampilan loe dulu...," tantang Erlangga pada Ara.
"Loh kok gitu...," tanya Ara.
"Iyalah biar adil, semua harus tampil kan...?" tanya Erlangga pada teman-temannya.
"Iya, setuju....," ucap Yola.
"Tap,,,tapi aku harus tampil ngapain dong?" tanya Ara.
"Ngapain kek, joget-joget aja atau apa kek...," ucap Erlangga yang tentu saja di tatap sinis oleh Ara. "Sialan bener nie orang," geram Ara dalam batinnya.
"Emm...gue tahu...loe harus ngapain...," ucap Tama.
"Ngapain Tam, aku harus ngapain....," tanya Ara.
"Loe kan pandai buat puisi, jadi loe harus musikalisasi puisi di depan kita...,"ucap Tama mengungkapkan idenya pada teman-temannya.
"Iya..itu bener gue juga pingin denger loe baca puisi. Loe kan pandai nulis tuh terutama puisi, jadi pastinya loe bakal bisa musikalisasi puisi loe kan?" seru Yola.
"Yahhh...kita mau dengernya puisi buatanmu sendiri...," ucap Tama.
"Gak mau, pokoknya gak mau...," ucap Ara.
"Kenapa emangnya...," tanya Vina.
"Aku malu baca tulisanku sendiri di depan orang," ucap Ara sembari menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Hadeh kamu ini ada-ada aja, kalau malu kenapa jadi penulis. Tulisanmu udah banyak diterbitin juga dan udah banyak yang baca juga...," ucap Vreya.
"Tapi kan Vrey yang baca kan orang-orang yang nggak aku kenal," ucap Ara membela diri.
"Oh, itu alesannya loe ngelarang gue buat beli buku loe. Padahal kan gue cuman pingin jadi penggemar loe...," ucap Vreya yang dijawab cengiran oleh Ara.
"Gue baca semua tulisan loe dan gak terlalu buruk buat pemula. Dasar bodoh, masih aja loe suka ngerendahin diri loe...," gumam Erlangga.
"Oke deh keputusannya puisi siapapun itu yang loe bawain yang penting loe tampil sekarang," ujar Putra.
Akhirnya Ara pun berdiri dihadapan teman-temannya. Sebelumnya dia memilih lagu di list yang sesuai untuk mengiringi puisi yang bakal ia bawakan. Ara membawa mic dan menarik nafas panjang untuk menghilangkan kegugupannya. Kendatipun hanya teman-temannya yang bakal mendengar tapi tentu saja ia tetap merasa gugup, pasalnya ini pertama kalinya ia membaca puisi dihadapan orang lain meski bukan puisinya sendiri karena dia malu. Ara membacakan suatu puisi Panji Ramdana, entah mengapa puisi itu tersimpan dalam kepalanya hingga ia membacakannya tanpa lupa sedikitpun, seolah dia sudah sering mendengar puisi itu dibisikkan ketelinganya ketika tidur.
"Kala itu langit tak berucap sepatah kata pun
Melainkan ia utus seseorang datang kepadaku
Kamu adalah jawaban atas pertanyaan tempo hari
Ketika hatiku berkata bahwa aku butuh seseorang...
Ketika hatiku sunyi...
Kamu hadir mengisi disela-sela kesunyian ini
Ada luka yang membuat aku enggan melangkah
Rindu yang buatku gundah
Pilu yang membuat malam-malamku resah
Kamu....
__ADS_1
Hadir membawa sebuah nama dimana do'aku selalu menyebutnya
Dan aku jatuh cinta
Padamu yang menghidupkan kembali rindu dan resah dengan cara yang berbeda
Rindu dan resah yang selalu aku cari
Yang selalu kucari lagi agar bisa kurasa
Rindu dan resah yang menghadirkan damai mengingatnya
Kamu...
Tautan kasih sayang terindah
Terjalin, terangkai mengakar cepat di jantung hatiku
Tak perlu terucap dan tak jua tersurat
Ketika tiba-tiba semuanya hadir
Mengalir sampai nadi pengingatku
Seiring langkah kita bersama
Kamu....
Adalah sahabatku, adalah saudaraku, peneman terbaikku
Kau tiba-tiba lantas bersama membawa luka
Tak habis pikir aku dibuatnya
Keindahan menorehkan jelaga
Layaknya hitam yang jatuh di secarik kertas putih lusuh tak berdaya
Semua adalah sandiwara
Semua sandiwara yang nyata untukku dan engkau adalah sutradaranya
Kau permainkan aku bagai pion yang hanya mampu berjalan ke depan
Aku harus menangisi belati yang menusuk bertubi-tubi di hati
Dan aku tak tahu harus kemana
Jika tempat bersandarku adalah ternyata jadi sangkar deritaku
Jika tempat ku menangis adalah sumber tangisku
Dan tempatku berpijak tak memberiku tempat untuk jejakkan kaki
Dalam sekejap kau lemparkan aku turun hingga ke bumi
Menjajarkan luka-luka dan menyiramnya dengan cuka
Dan dalam sekejap pula aku berlari menepi
Masih kepadamu langkahku tertuju
Ingin ku pindahkan langkah ini ke jalan yang lebih baik
Tapi mengapa jalanku selalu menuntunku kembali pulang
Dan masih kepadamu langkahku tertuju
Membuka pintu ma'af, menggulung semua tangis dan luka
Dan kemudian menyembunyikannya
Masih kepadamu sayangku tertuju
Ara menghentikan sejenak ucapannya dari membaca puisi itu, beberapa ingatan terlintas dikepalanya. Rasa nyeri dikepalanya semakin menjadi. Dia berusaha untuk menghapus ingatan yang menampakkan wajah seseorang dalam ingatannya itu. Wajahnya tak asing, dan dia ada diantara teman-temannya saat ini. Wajah seseorang dalam ingatannya itu, ya tak salah lagi. Wajah seseorang yang terlihat samar-samar itu adalah wajah yang sama dengan seseorang yang tengah menatapnya saat ini bersama dengan semua teman-temannya. Berapa kalipun ia berusaha untuk menepisnya, dia tak dapat mengingkarinya. Wajah itu...wajah yang sangat dikenalnya itu. Ara menatap wajah itu dan melanjutkan membaca puisinya yang tinggal beberapa kalimat itu. Namun tanpa sadar, Ara meneteskan air mata disela-sela pembacaan puisi beberapa kalimat terakhirnya.
Kamu....
Yah benar, masih selalu kamu
Karena lukaku yang sesungguhnya adalah karenamu
Dan jangan lagi kamu
Yang akan menjadi alasan di balik semua lukaku
Ara masih meneteskan airmatanya melihat wajah orang dalam ingatannya itu. Tak dapat ditahannya lagi rasa sesak di dadanya. Rasa nyeri di kepalanya juga semakin menjadi dan tidak bisa dikontrolnya lagi. Akhirnya dia pun mulai merasa gelap disekelilingnya dan tubuhnya limbung tepat disaat kalimat terakhir puisinya dia ucapkan dengan diiringi cairan bening yang perlahan menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
"BUUKKKKK.....,"
*****