Secret Love Story (End)

Secret Love Story (End)
Belajar Dari Cumulus


__ADS_3

"Ajarkan aku menjadi naif, senaif dirimu yang masih bisa tertawa


Senaif kebahagiaan di alam kita berdua


Karena di setiap detik, dikala kenyataan mulai bersinggungan


Kurasakan sakit yang nyaris tak tertahankan


Atau, ajarkan aku menjadi penipu..!


Bila kau merasakan sakit itu didalam tawamu"


~Supernove, Dee Lestari~


Ara tengah memandangi langit di pantai sembari merebahkan tubuhnya di hamparan pasir putih pantai nan lembut. Ia bahkan tak keberatan jika bajunya yang basah akan kotor oleh tanah itu. Baginya menikmati pantai dan rebahan memandang langit biru yang dihiasi awan-awan nan indah itu adalah pemandangan yang indah yang tak boleh diabaikannya sedikitpun.Tiba-tiba seseorang mengaketkannya.


"Hey bocah, apa yang loe lakuin?" tanya Erlangga.


Ara mencari darimana datangnya suara itu. Dan kemudian didapatinya orang yang tengah dicarinya itu tengah duduk di samping tempat ia berbaring.


"Oh...kau jelek...........,"kata Ara.


"Gue tanya, apa yang loe lakuin?" ulangnya yang belum mendapat jawaban dari Ara.


"Lagi memandang langit, berisik.....," jawab Ara.


"Kenapa? Kenapa loe mandangin lagit?"


"Karena indah, apalagi... Kau nggak liat langit itu sangat indah....," ucapnya sembari menunjuk langit dengat jari telunjuknya. Dan Erlangga pun seketika mengikuti arah pandang Ara ke arah langit itu. Ara yang menyadari Erlangga kini juga memandang langit sepertinya berkata lagi : "Benar, benar indah bukan? Apalagi cumulus sedang bersamanya...," ucap Ara.


"Cumulus? Siapa itu?" tanya Erlangga penasaran.


"Itu Gha, awan itu namanya Cumulus," jelas Ara. Deg, sejenak Erlangga terkejut Ara memanggilnya dengan kata "Gha" bukan dengan kata "jelek". Apakah Ara sudah mulai mengingatnya? Segera dihapuskannya pemikiran itu dalam benaknya dan kemudian dia pun kembali menyimak apa yang dikatakan gadis itu.


"Cumulus....,"


"Iya, awan tebal dengan puncak-puncak tinggi itu namanya awan cumulus Gha. Dia terbentuk di siang hari saat udara mulai naik," jelasnya sembari tetap menunjuk awan-awan itu dengan telujuknya. Erlangga pun menyimak dengan seksama penjelasan Ara sembari ikut merebahkan tubuhnya di samping Ara. "Awan cumulus itu jika dia berhadapan dengan sinar matahari maka dia akan terlihat terang seperti yang dapat kita lihat saat ini. Tapi, jika dia memperoleh sinar hanya sebelah saja maka akan menimbulkan bayangan yang berwarna kelabu. Bukankah dia punya sisi yang sama seperti kita Gha?" tanya Ara pada Erlangga namun tak menuntut jawaban dari lelaki disampingnya itu. Dia hanya seolah memberi penegasan.


"Seperti kita? Kenapa?" tanya Erlangga.


"Iya, Cumulus itu seperti kita, sesama manusia yang saling berinteraksi. Bedanya kalau cumulus berinteraksi dengan matahari, tetapi kita berinteraksi dengan sesama manusia. Sama dengan cumulus yang mempunyai dua sisi yaitu terang dan bayangan gelap karena interaksinya dengan matahari, manusia juga mempunyai dua sisi itu. Sisi gelap dan juga sisi terang...," jelas Ara. Erlangga terdiam dan merenungi perkataan Ara sembari tetap menatap awan-awan di hamparan langit nan maha luas itu.


"Sisi gelap..dan juga sisi terang...,"ucap Erlangga lirih.

__ADS_1


"Hu'umb....begitulah kita manusia, mempunyai dua sisi yaitu sisi gelap atau disebut sisi buruk dan sisi terang atau disebut sisi baik. Tergantung bagaimana kita memilih sisi yang mana untuk kita yang lebih dominan. Apakah kita akan memilih sisi buruk yang lebih dominan ataukah sebaliknya. Semuanya tergantung bagaimana pilihan kita, sementara Tuhan sang penulis skenario kehidupan kita hanya akan mengawasi kita dari Arasy-nya," jelas Ara.


"Lantas loe pingin sisi yang mana?"


"Pertanyaan konyol...?"


"Aku serius...?"


"Aku tentu saja ingin memilih sisi terang lebih dominan. Sehingga dengan begitu aku bisa menutup sisi gelapku,"


"Kenapa? Kau ingin menyembunyikannya?" tanya Erlangga dengan nada bicara yang mulai mengikuti ritme cara bicara Ara.


"Tidak...,"


"Kenapa?"


"Biar bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa menyembunyikan sisi gelap diri kita Egha. Sekuat apapun dan sekeras apapun kau berusaha untuk itu, itu tetap tidak akan mungkin. Karena itu adalah bagian dari diri kita, dan pada akhirnya suatu hari nanti hal itu pasti akan terurai juga, layaknya sebuah simpul yang kuat pada akhirnya dia juga bakal terurai juga bukan?"


"Lantas kenapa kau ingin menutupinya jika kau tak bermaksud menyembunyikanya?"


"Aku ingin menutupinya dengan sisi terang agar sisi gelap itu perlahan-lahan akan menjadi kecil, kecil dan semakin kecil hingga dia akan menjadi bagian dari masa lalu dan kemudian perlahan-lahan melewati filter kehidupan hingga menjadi kenangan. Dengan begitu ketika sisi gelap itu terurai suatu saat nanti maka itu tidak akan terlalu menyakiti siapapun karena sisi terang mampu mengatasi pedihnya rasa sakit itu," jelas Ara sembari tersenyum simpul ke arah Erlangga.


*****


"Ya...ini indah....," ucapku kemudian selepas mendengar penjelasannya.


"Fa bi 'ayyi ala'i rabbikuma tukazziban, maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?" ucap Ara dengan senyum yang manis dan cerah ke Ara ku.


"Ya, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Semuanya indah hanya jika kau melihatnya lebih dekat bukan?" ucapku sembari menatap ke arahnya. Dan dia hanya mengangguk menyetujui pendapatku tanpa beralih menatapku. "Kau juga seperti itu, indah, hanya jika kau melihatnya lebih dekat," gumamku. Kemudian keheningan pun tercipta antara aku dan Ara. Kami hanya tetap melakukan hal yang sama. Memandang langit.


Teman-temannya yang sudah lelah bermain air segera kembali dan mendapati Ara dan Erlangga tengah sama-sama berbaring memandang langit. Mereka semua menaruh curiga pada kedua mahluk ciptaan Tuhan itu, pasalnya Erlangga yang tadi tidak tampak dimanapun tiba-tiba sekarang sudah berada di samping Ara.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arif.


"Gak ngapa-ngapain cuman memandang langit...," jelas keduanya yang sempat sedikit terlonjak kaget karena keasyikan dengan dunia yang tengah mereka bangun hingga tak menghiraukan sekeliling. Kemudian mereka pun bangun dari posisi berbaringnya sembari mengibas-ngibaskan tanah yang menempel baju mereka yang sudah hampir kering karena hembusan angin.


"Ada...ada aja kalian ini. Ke pantai bukannya main air malah tiduran sambil liatin langit, kurang kerjaan banget...," seru Tama.


Kemudian Ara pun bangun dari posisi duduknya sembari membetulkan posisi handuk yang mulai terlepas dari bahunya. "Semuanya indah hanya jika kau melihatnya lebih dekat...," ucap Ara sembari mengerlingkan matanya pada Erlangga dan kemudian bergegas pergi dengan menggandeng tangan Vreya. Erlangga yang tahu maksud Ara yang mengulangi perkataannya beberapa waktu lalu hanya senyum-senyum simpul, sementara teman-temannya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan aneh temannya.


"Oh, jadi loe udah baikan sama Ara...," tanya Tama.


"Memangnya kapan gue berantem sama dia...," ucap Erlangga yang malah menjawab dengan balik memberi pertanyaan yang membuat teman-temannya melakukan hal yang sama seperti beberapa detik yang lalu. Kemudian dia pun pergi dan melambaikan tangannya ke teman-temannya sembari membawa tas yang berisi pakaian gantinya.

__ADS_1


"Dasar, dua mahluk itu masih saja sama seperti dulu, dikit-dikit berantem, dikit-dikit baikan dan ntar pasti balik lagi...," ucap Yola.


"Iya, seolah itulah siklus hidup mereka," tambah Vina.


"Alahhh...sudahlah jangan campuri urusan rumah tangga orang....hahaha...," ucap Reza.


"Jadi, loe sudah baikan sama dia Gha," guman Mela.


*****


Mella tengah menunggu Erlangga dan menuntut penjelasan pada temannya itu. Kenapa temannya itu mulai dekat dengan gadis itu lagi, pasalnya dulu dia sudah memutuskan untuk menjauh dari gadis itu tapi kenapa sekarang perlahan-lahan mereka mulai dekat lagi. Waktu beberapa tahun harusnya bisa menghapus apa yang ada di antara mereka hingga tercipta kecanggungan sebagai jarak. Tapi nyatanya tidak, karena bagi Erlangga ataupun Ara tak ada batas berupa kecanggungan ketika mereka bersama yang ada hanyalah sebuah kenyaman yang tercipta dari pemahaman yang tulud diantara keduanya.


Mella menatap tajam mata Erlangga dan menyelidik ke dalam mata yang bersembunyi dibalik kaca tipis sebagai batas itu.


"Kenapa....?" tanya Erlangga.


"Loe ada apa lagi dengan Ara?" tanya Mella.


"Ada apa emangnya Mel?" Erlangga balik bertanya.


"Jangan berbelit-belit deh Gha, jawab dengan jelas loe gak lagi mencoba untuk membuat ingatan Ara kembali agar dia bisa mengingatmu kan?"


"Nggak, gue gak ngelakuin itu. Itu keputusannya jika dia ingin melupakan dan mengubur semua kenangan tentang gue dengannya," ucap Erlangga. "Lagipula dengan begitu dia akan menjadi lebih baik. Dia tidak akan tersakiti oleh kenangan itu lagi, mengingat betapa tega dan kejamnya gue karena selalu mengabaikannya dulu dan bahkan tak peduli dengan keberadaannya," ucap Erlangga dengan raut wajah agak murung kemudian mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya beberapa tahun silam.


"Itu bukan salah loe Gha. Dia sendiri yang selalu bergantung sama loe. Apa-apa dia selalu minta tolong sama loe meskipun itu tidak begitu penting. Loe gak mungkin selalu ada buat dia kan, karena loe juga sudah punya cewek. Sementara dia yang tahu akan hal itu malah tetap saja melakukan hal yang sama seperti itu berulang-ulang. Menjijikkan, apa itu karena dia tidak pernah dekat dengan seorang cowok pun sebelumnya...," cibir Mella.


"Hentikan Mel, dia teman loe dan sebagai teman loe gak seharusnya ngehina dia seperti itu,"


"Gue gak ngehina dia Gha, gue hanya mengatakan kebenaran yang ada. Bukankah loe sendiri yang dulu ngerasa selalu risih jika dekat dengannya, tapi kenapa sekarang loe....,"


"Sudahlah Mel, hentikan pembicaraan gak guna seperti ini....,"


"Gue akan hentikan jika loe janji gak akan dekat-dekat lagi dengan Ara,"


"Mel, loe gak da hak buat ngelarang-ngelarang gue...,"


"Gue ada hak Gha, gue udah sahabatan dengan Brina. Dan gue berhak buat larang loe deket dengan cewek manapun agar hati sahabat gue gak tersakiti...,"


"Bulshit.... denger ya Mel, baik loe ataupun Brina gak ada hak buat ngelarang gue deket sama siapapun, termasuk juga orang tua gue sendiri. Ini hidup gue, dan gue bebas ngelakuin apa yang gue mau...," ucap Erlangga dengan geram sembari meninggalkan Mela.


Sementara Mela hanya terdiam mendengar ucapan Erlangga dengan intonasi yang agak tinggi itu sebelum meninggalkannya beberapa detik yang lalu. Mereka tidak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang mengamati pertengkaran mereka dari jauh. Dia mendengar semua percakapan itu, dan tiba-tiba rasa sesak di dadanya muncul seketika. Entah mengapa seperti ada sesuatu yang menohok hatinya dan mencipta sesak itu.


"Semua karna aku. Apa aku benar-benar semenjijikkan itu....," ucap orang itu dengan air mata yang mulai tampak di pelupuk matanya. Dan dia pun terisak tanpa suara beberapa detik kemudian.

__ADS_1


*****


__ADS_2