
Kevin membuka jas hitam yang sedari tadi dikenakannya dan melemparkannya kesembarang arah. Dia menghempaskan tubuhnya keatas sofa yang empuk. Menutup wajahnya dengan telapak tangan dan mengatur nafasnya dalam-dalam.
Apa yang terjadi hari ini membuatnya sangat lelah. Beberapa jam yang lalu dia baru saja bertengkar dengan istrinya yang meminta cerai, setelah melahirkan anak mereka satu bulan yang lalu. Kevin yang bersikeras tidak mau bercerai, memutuskan untuk pergi ke apartemen mewahnya dengan membawa bayi mereka bersamanya.
Ponselnya yang berada dalam saku celananya tiba-tiba saja berdering. Dengan malas Kevin mengambilnya. Namun wajah lelahnya seketika berubah menjadi sumringah, saat dia mengetahui siapa yang menghubunginya. Dengan antusias Kevin menjawab panggilan suara itu.
"Iya Dewiku sayang...." Ucap Kevin tersenyum penuh kemenangan saat berbicara pada orang yang menelponnya.
"Kevin, sudah cukup semua keegoisanmu selama ini! Sekarang tolong lepaskan aku, dan kembalikan Rohan!" Ucap Dewi dengan suara lantang karena emosi.
"Tenang sayang, jangan emosi. Semuanya tergantung pada keputusanmu. Jika kamu setuju untuk meneruskan pernikahan kita, maka kita akan mengasuh Rohan secara bersama-sama. Dan sebaliknya, jika kamu tetap nekad ingin mengakhiri pernikahan kita, maka Rohan akan menjadi milikku, dan kamu tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengannya" Dengan santainya Kevin mengancam istri yang dinikahinya sepuluh bulan yang lalu itu.
"Kamu jangan gila Kevin! Aku adalah ibunya! Aku yang sudah mengandung dan melahirkan Rohan! Kamu tidak punya hak untuk memisahkanku dari darah dagingku sendiri...!" Dewi semakin menaikkan volume suaranya, sama halnya dengan emosinya yang semakin naik menghadapi keegoisan suaminya.
Begitu dirinya mengatakan keinginannya untuk bercerai, Kevin langsung merebut Rohan, bayi mereka untuk pergi bersamanya. Dan mengurung Dewi didalam kamar yang berada dirumah mewah yang selama sepuluh bulan ini mereka tempati.
"Tidak perlu membicarakan tentang berhak atau tidaknya padaku sayang. Kamu lupa kalau aku adalah ayahnya Rohan? Jika pada malam itu aku tidak memaksamu, kamu juga tidak mungkin akan mengandung dan melahirkan Rohan bukan? Dan satu lagi, jangan lupa siapa aku, dan apa yang bisa aku lakukan untuk mencapai tujuanku. Kamu pastinya masih ingatkan, bagaimana aku bisa membuatmu menikah denganku? Dan sekarang aku juga bisa membuatmu membatalkan niatmu untuk bercerai dariku. Jadi jangan coba-coba untuk menentangku..." Ucap Kevin penuh penekanan.
"Kamu benar-benar gila Kevin!! Sakit jiwa!! Dasar saiko! Kembalikan anakku!! Ahhhkkkkk!!!"
PRAANG!!
Kevin yang sedang asik menikmati dan mendengarkan kemarahan penuh emosi dari istrinya yang seperti sedang mendengarkan alunan musik yang indah, terkejut saat tiba-tiba mendengar wanita itu menjerit, disusul dengan suara benda jatuh dan pecah yang sangat keras.
"Dewi? Kamu kenapa?!" Teriak Kevin sambil menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar pada sandaran sofa.
Raut wajah penuh kemenangan yang sebelumnya terpancar diwajahnya, seketika berubah menjadi cemas dan panik mendengar suara jeritan istrinya yang terus menggema diponsel, disertai dengan suara benda yang terus berjatuhan.
__ADS_1
PRAANG!!
Tanpa memutuskan sambungan telepon, Kevin berlari dengan kencang keluar dari unit apartment mewahnya.
"AHHHKKKKK!! Siapa kamu?! Apa yang kamu inginkan dariku?!!"
Kekhawatiran Kevin semakin memuncak mendengar suara jeritan istrinya dalam ponsel yang masih dia letakkan didaun telinganya.
Bahkan wanita itu terdengar menangis ketakutan, dan berbicara entah dengan siapa. Namun Kevin tau bahwa istrinya itu tidak sedang bicara dengannya. Mungkin dengan orang yang sedang menyerangnya disana.
"Dewi!! Dia siapa?!! Siapa yang kamu maksud?!!" Teriak Kevin yang semakin kalut.
PRAANG!!
"AHHHKKKKK!!!"
Suara benda jatuh dan jeritan Dewi masih terus terdengar. Membuat Kevin rasanya ingin terbang kerumahnya, supaya dia bisa menyelamatkan istrinya, dan membunuh orang yang sudah berani menyakiti perempuan yang sangat dia cintai.
Suara Isak tangis Dewi yang sedang merintih dan memohon ampun semakin mempercepat langkah Kevin yang berlari, tanpa menghiraukan tatapan-tatapan heran serta aneh yang ditujukan oleh orang-orang yang dilewatinya disepanjang koridor dan loby apartemen.
Karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah dia bisa segera keluar dari gedung apartemen itu, dan kembali kerumahnya untuk menyelamatkan nyawa istrinya.
PRAANG!!
"AHHHKKKKK!!!"
"Dewi!! Kamu baik-baik saja?!! Hey!! Siapapun kamu, aku peringatkan jangan macam-macam dengan istriku!! Berani kamu menyakitinya, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu!! Aku peringatkan, menjauhlah dari istriku!!" Ancam Kevin dengan nafas memburu dan suara bergetar.
__ADS_1
"Kevin!! Tolong aku!!"
Tut Tut Tut
Terdengar suara teriakan dan tangisan Dewi yang meminta tolong padanya, sebelum sambungan telepon terputus.
"Dewi!!! Hallo!! Dewi!!" Teriak Kevin yang masih berusaha memanggil istrinya. Namun dia tidak mendengar suara apapun lagi melalui ponselnya.
Dia berusaha untuk menghubungi Dewi sambil berlari kedalam lift, dan menekan tombol angka satu. Namun kini nomor ponsel istrinya malah tidak aktif, meskipun dia sudah berulang kali menghubunginya.
Entah apa yang sudah dilakukan oleh orang itu pada ponsel istrinya. Dia sama sekali tidak peduli orang itu mau melakukan apa pada ponsel. Namun jika dia sampai berani menyakiti istrinya, Kevin bersumpah akan membunuh dan mencabik-cabik tubuh orang itu.
Sesampainya dilantai satu, Kevin kembali berlari hingga dia sampai diluar gedung apartemen.
"Tuan, anda mau kemana? Perlu saya antar...." Ucap supir membungkukkan badannya dengan hormat dan sopannya, saat Kevin sedang berlari menuju parkiran.
"Minggir!" Seru Kevin mendorong supir pribadinya yang bisa membuatnya terlambat mencapai istrinya yang sedang dalam bahaya.
"Tuan! Anda mau kemana?" Teriak supir itu yang sudah jatuh tersungkur diatas ubin halaman depan gedung apartemen.
🌹🌹🌹🌹🌹
Kevin melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menerobos jalan raya beraspal yang mulus dan dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu lalang. Pikirannya sudah sangat kalut memikirkan istrinya yang sedang dalam keadaan bahaya, dan entah siapa yang sedang menyerang wanita tercintanya itu.
Dia tidak peduli siapapun orang itu. Yang jelas jika istrinya sampai kenapa-kenapa, dia akan membunuh orang itu dengan tangannya sendiri!!
Sedangkan dirumah mewahnya, disalah satu kamar yang berada dilantai tiga, Dewi jatuh tersungkur diatas kepingan-kepingan kaca, akibat didorong dengan sangat keras oleh sosok misterius berjubah hitam dan berhodie, hingga tubuhnya menghantam kaca jendela balkon.
__ADS_1
Darah segar keluar dan membasahi sekujur tubuh perempuan malang itu mulai dari wajah, lengan bahkan pakaian yang dikenakannya pun sudah berlumuran darah. Ditangan sosok itu terdapat sebilah pisau tajam yang sedari tadi digunakannya untuk melukai Dewi, hingga membuat wanita itu ketakutan dan kesakitan karena terluka.
Kamar itu sudah seperti kapal pecah. Semua benda-benda hiasan meja dan dinding hancur berkeping-keping dan berserakan dilantai, berbaur dengan benda-benda seperti nakas, kursi, sofa hingga meja rias yang terjungkir balik.