Segalanya Untuk Cinta

Segalanya Untuk Cinta
BAB 2- Kematian Dewi


__ADS_3

"Aku mohon maafkan aku. Aku tidak


bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan semua ini. Aku mohon jangan bunuh aku. Aku masih punya bayi. Aku tidak bisa meninggalkan anakku bersama lelaki egois itu"


Sambil meringis menahan rasa sakit akibat luka-luka goresan pisau yang membuat sekujur tubuhnya berdarah, Dewi menempelkan kedua telapak tangannya, menangis memohon belas kasihan dari sosok misterius yang sedang menganiaya dirinya itu.


Sosok itu menyeringai. Lalu berbalik dan berjalan menjauhinya. Dewi merasa lega karena sosok itu mau mendengarkan permohonannya.


Sambil menangis, meringis dan merintih kesakitan, dia berusaha untuk bangkit berdiri dengan mencengkram erat besi pagar balkon dengan tangannya yang gemetar, berlumuran darah dan sakit. Dengan susah payah dia berhasil berdiri, meski lututnya terasa lemas dan tak bertenaga.


Namun tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang. Dengan pandangannya yang berkabut, Dewi menoleh dan menatap sipemilik tangan itu.


Sosok yang sedari tadi menganiayanya kembali. Kali ini sosok itu mendorongnya dengan menggunakan kedua tangannya, hingga Dewi jatuh terpelanting dari atas balkon lantai tiga itu.


"Ahhhkkkkk!!!"


🌹🌹🌹🌹🌹


Setelah hampir sepuluh menit berkendara dengan kecepatan tak terkendali, Kevin tiba dirumah mewahnya yang baru sekitar dua jam yang lalu dia tinggali, karena pertengkarannya dengan sang istri. Berulang kali dia mengklakson, namun tak ada satupun petugas keamanan yang datang untuk membukakannya pagar.


Tingkat kecemasan dan kekesalan Kevin semakin bertambah. Tidak biasanya hal seperti ini terjadi. Akhirnya dengan tidak sabaran dia turun dari mobil, dan membukakan pagar rumahnya sendiri. Meski merasa heran dan terkejut melihat pagar itu yang tidak biasanya tidak terkunci, namun dia tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu, karena pikirannya saat ini hanya fokus pada keselamatan istrinya.


Begitu melewati pagar rumahnya, Kevin kembali dikejutkan melihat para bodyguard dan petugas keamanan yang dia tugaskan untuk menjaga rumahnya dan Dewi, semuanya ambruk dihalaman rumahnya yang beraspal. Ada yang tersungkur, ada juga yang telentang.

__ADS_1


Entah mereka semua tertidur atau pingsan. Dia tidak bisa memastikannya. Dan dia juga tidak ada waktu untuk mengurus anak-anak buahnya itu, karena sekarang dia harus bertemu dulu dengan istrinya yang sedari tadi membuat perasaannya cemas dan ketar-ketir. Kevin meneruskan langkahnya mendekati gedung rumah mewahnya yang terdiri dari tiga lantai.


Namun sebuah pemandangan mengenaskan yang membuat hatinya bak tersayat-sayat terpampang dihadapannya, dimana dia melihat istri tercintanya bersimbah darah dan terkapar dihalaman tepat didepan rumahnya. Mata wanita itu terbuka, namun tak bergerak sedikitpun, begitupun dengan tubuhnya.


Kevin merasa sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Dia tidak sanggup melihat pemandangan itu. Dia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dia sudah terlambat menyelamatkan istrinya dari bahaya!


🌹🌹🌹🌹🌹


Melihat dokter yang keluar dari ruang UGD, Kevin yang sedari tadi mondar-mandir dengan perasaan kalut langsung mendekati lelaki paruh baya itu.


"Bagaimana?!"


"Maaf Tuan, dengan sangat menyesal saya harus menyampaikan, kalau Nyonya Dewi sudah meninggal sebelum beliau dibawa kesini" Ungkap dokter itu dengan suara pelan dan takut.


Perkataan dokter itu membuat Kevin naik pitam, sehingga dia langsung menarik dan mencengkeram kerah jas putih yang dikenakan lelaki itu dengan sangat erat.


"Tuan, apapun yang anda lakukan pada saya, percuma saja. Saya ini dokter, bukan Tuhan. Saya tidak memiliki kemampuan untuk menghidupkan orang yang sudah tiada" Dokter itu memberanikan diri untuk berkata meski dia merasa gemetar ketakutan, karena Kevin membuatnya hampir tidak bisa bernafas.


Cengkeraman Kevin pada kerah baju dokter itu semakin lama semakin lemah hingga akhirnya terlepas. Meski sedari tadi hati dan logikanya berkata kalau istrinya sudah tiada, namun dia masih tetap berusaha optimis, dan berharap jika keajaiban itu masih ada. Namun sekarang semua harapannya sirna sudah.


Dengan tatapan kosong, dia melangkah membuka pintu ruang ICU. Sesampainya didalam Kevin berjalan dengan langkah gontai, sambil memandangi kain putih diatas brankar. Dimana dibalik kain putih itu adalah istrinya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.


Pelan-pelan dengan tangan gemetar, dia membuka kain itu. Sedih, kecewa, hancur dan duka menjadi satu melihat istrinya yang sudah menjadi jenazah.

__ADS_1


Tubuhnya terasa lemas hingga dia jatuh tersimpuh dilantai. Melihat wanita yang sangat dicintainya terbujur kaku dengan wajah pucat pasi, serta luka-luka goresan benda tajam disekujur tubuhnya, membuat Kevin merasa separuh nyawanya ikut mati bersama perempuan itu.


🌹🌹🌹🌹🌹


Prosesi pemakaman Dewi dilakukan secara tertutup ditempat pemakaman pribadi milik Kevin. Dan hanya dihadiri oleh ustadz sebagai pemimpin doa, supir serta bodyguardnya saja. Tidak ada satupun anggota keluarga Dewi yang hadir, lantaran mereka tidak ada yang tau tentang musibah yang merenggut nyawa wanita itu.


Kevin memegang batu nisan yang ditancapkan diatas gundukan tanah yang dipenuhi taburan bunga segar yang berwarna-warni, dan bervariasi itu dengan hati yang hancur dan penuh duka. Wanita tercintanya, obsesi serta hasratnya kini sudah meninggalkannya untuk selamanya.


Tidak ada lagi yang tersisa. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membuat perempuan itu tetap bersamanya. Jangankan untuk membuatnya tetap berada disisinya, untuk melihatnya saja sudah tidak mungkin lagi. Karena kini dia sudah menyatu dengan tanah.


Sura jeritan, rintihan serta tangisan Dewi kembali terngiang dibenaknya. Bagaimana perempuan itu dilenyapkan didepan telinganya. Kevin menatap batu nisan bertuliskan nama istrinya dengan berapi-api dan penuh dendam. Mengepalkan tangannya dan mencengkeram erat beberapa kelopak bunga yang bertaburan dimakam itu.


Dia bersumpah didepan makam istrinya, bahwa dia akan menemukan penjahat yang telah berani melenyapkan wanita itu.


Begitu pembacaan doa selesai, ustadz dan para abdi setia Kevin satu persatu mulai meninggalkan tempat pemakaman itu. Namun Kevin tetap tidak beranjak dari posisinya yang berjongkok disamping makam, hingga matahari mulai terbenam.


Dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dikepalanya. Dengan duka yang mendalam. Hal terbesar yang dipikirkannya tentu saja adalah pembunuh istrinya, yang akan dia cari sampai keujung dunia sekalipun. Lalu akan dia lenyapkan dengan tangannya sendiri!


Ponsel Kevin pun berdering. Dengan malas dia mengambilnya dari saku celananya. Andai saja panggilan suara itu bukan berasal dari baby sitter yang dia tugaskan untuk menjaga putra kecilnya, mungkin dia tidak akan mau menjawabnya. Karena untuk saat ini dia sedang tidak bersemangat untuk bicara dengan siapapun, dan membahas apapun.


"Iya?" Jawabnya dingin begitu menempelkan benda pipih itu didaun telinganya.


"Maaf Tuan, saya mengganggu...." Jawab baby sitter dengan ragu, karena mengerti jika saat ini mood tuannya sedang buruk dan kacau karena berduka.

__ADS_1


"Ada apa? Rohan baik-baik saja kan?" Tukas Kevin.


"Iya Tuan, Tuan kecil baik-baik saja. Tapi..."


__ADS_2