
"Tapi kenapa? Aku tidak ada waktu untuk mendengar teka-teki. Tolong bicara yang cepat" Tukas Kevin ketus mendengar suara baby sitternya yang terlalu bertele-tele, dalam menyampaikan tujuannya menghubunginya.
"Mmm, Tuan kecil menangis terus
Tuan. Saya sudah berusaha menidurinya, memberinya susu botol, tapi dia tetap tidak mau diam. Sepertinya.... Dia sangat merindukan ibunya Tuan" Ungkap baby sitter itu dengan sedikit takut dalam menyampaikan pendapatnya.
Kevin terhenyak mendengar perkataan wanita diseberang sana itu. Dia kembali memandangi makam Dewi dengan tatapan pilu. Mungkin benar, Rohan merindukan ibunya yang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Apa yang bisa dia lakukan untuk mengobati kerinduan anaknya terhadap istrinya? Jelas tidak mungkin dia bisa mempertemukan mereka.
"Iya aku akan kesana sekarang. Jaga Rohan sampai aku datang" Ucap Kevin dengan cepat mematikan ponselnya.
Dia kembali memandangi makam istrinya yang masih basah. Sebenarnya dia masih sangat ingin berada disini, menemani tubuh istrinya yang sudah terkubur. Namun dia tidak mungkin mengabaikan putra semata wayangnya. Benihnya yang lahir dari rahim perempuan tercintanya. Yang tetap harus dia jaga meski perempuan itu sudah tiada.
Dengan berat hati Kevin meninggalkan tempat itu, setelah dia mencium batu nisan dimakan istrinya terlebih dulu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Karena terburu-buru ingin secepatnya tiba di apartemen untuk menemui putra kesayangannya yang rewel, Kevin meminta supirnya untuk melewati jalanan yang agak jauh dari kepadatan kendaraan lainnya, demi menghindari kemacetan.
Sesuai dengan perintah tuannya, supir bernama Syamsir itu mengemudikan mobilnya melalui jalan perkampungan beraspal yang agak sepi dari kendaraan yang berlalu lalang.
Disepanjang perjalanan Kevin hanya diam termenung, sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Menatap foto istrinya yang menjadi wallpaper ponselnya dengan perasaan hampa. Hatinya selalu terasa tersayat-sayat jika mengingat kenyataan bahwa sekarang perempuan itu benar-benar sudah tiada.
Andai ada yang bisa dia lakukan untuk bisa membuat Dewi kembali padanya, pasti sudah dia lakukan. Namun itu sangat mustahil. Karena bukan wanita itu sendiri yang meninggalkannya. Tapi mautlah yang telah membawanya.
__ADS_1
Ditengah jalan tepatnya didekat jembatan, tiba-tiba saja mobil mereka dihadang oleh sekelompok warga, hingga sang supir tersentak dan langsung menginjak pedal rem secara mendadak.
"Ada apa sih Syam?" Tanya Kevin antara kesal dan bingung dengan kecerobohan supirnya, yang menghentikan mobil secara mendadak.
"Maaf Tuan, didepan ada keramaian, dan mereka menghadang kita"
"Ya Tuhan, masalah apalagi ini. Ya sudah coba kamu periksa. Aku sedang terburu-buru" Gerutu Kevin sambil memijat-mijat kepalanya yang terasa berdenyut. Rasa stress kehilangan istrinya semakin bertambah dengan kelakuan orang-orang itu.
"Baik Tuan" Syamsir mengangguk, lalu keluar dari mobil.
"Maaf, ini ada apa ya ramai-ramai?" Tanya Syamsir begitu turun dari mobil, dan berjalan mendekati sekawanan orang yang sedang mencegat mereka.
"Maaf Pak, kami hanya ingin meminta tolong" Jawab seorang pria paruh baya mewakili rekan-rekannya yang lain.
"Jadi begini Pak, kami menemukan perempuan ini hanyut disungai. Keadaannya sangat memprihatinkan. Hampir seluruh tubuhnya terluka parah. Kami ingin membawanya kerumah sakit supaya dia bisa mendapatkan pertolongan dan perawatan. Tapi sedari tadi, tidak ada kendaraan lewat disekitar sini. Maklumlah, karena inikan jalan kampung. Padahal perempuan ini harus secepatnya mendapatkan pertolongan pertama. Jadi kami minta tolong Pak, tolong bantu kami untuk membawa perempuan ini kerumah sakit sekarang juga" Pinta lelaki itu penuh harap.
"Memangnya dia masih hidup?" Tanya Syamsir menatap wanita itu dengan prihatin dan ragu, jika dia masih hidup dengan kondisinya yang sudah begitu mengenaskan.
"Iya Pak. Kami sudah cek. Nafasnya masih ada, begitu juga dengan denyut nadinya" Jawab pria itu dengan yakin.
"Mmm.... Gimana ya? Masalahnya majikan saya sedang terburu-buru" Syamsir menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Lelaki muda itu tampak bimbang harus membantu atau tidak. Disatu sisi dia merasa kasian melihat wanita malang yang harus segera ditolong itu. Namun disisi lain dia sedang bekerja, dan tidak bisa melakukan apapun tanpa seijin dari bosnya.
__ADS_1
"Ya sudah, coba saya tanyakan majikan saya dulu ya. Sebentar-sebentar" Syamsir kembali kemobilnya untuk menemui Kevin.
"Kenapa lama sekali? Kamu taukan kalau aku harus secepatnya sampai di apartemen? Rohan sudah menangis sedari tadi. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anakku? Jika kamu kesulitan menyuruh orang-orang itu untuk menyingkir, berikan saja mereka uang. Atau kalau mereka ingin membegal, hubungi saja polisi. Jangan buang-buang waktu untuk hal sepele" Ketus Kevin.
"Mmm, maaf Tuan, tapi orang-orang itu menghadang kita bukan untuk meminta uang atau membegal, tapi untuk meminta bantuan...."
"Bantuan apa?" Tukas Kevin datar.
"Jadi begini Tuan, mereka menemukan seorang wanita yang hanyut disungai. Mereka ingin membawanya kerumah sakit. Tapi jalanan ini cukup sepi. Sehingga mereka kesulitan mendapatkan kendaraan untuk membawa perempuan itu" Ungkap Syamsir ragu.
"Ya sudah kalau begitu. Masukkan perempuan itu kesini. Nanti langsung saja kerumah sakit. Lewat jalan S saja. Itu jalan pintas untuk menuju rumah sakit. Dan hubungi supir lain untuk mengantarku ke apartemen. Suruh supirnya untuk langsung kejalan S dan menjemputku disana. Nanti kamu urus wanita itu sampai dirumah sakit"
"Baik Tuan" Syamsir mengangguk dengan hati yang senang. Dia tau bosnya memiliki hati yang baik dan lembut yang masih memiliki kepedulian terhadap orang lain, meski itu orang asing sekalipun, walau dibalik sifatnya yang dingin, angkuh, arogan dan ambisius.
🌹🌹🌹🌹🌹
Kevin tiba di apartemennya dengan diantar oleh supirnya yang lain, yang menjemputnya dijalan S. Sedangkan Syamsir langsung membawa wanita asing itu menuju rumah sakit, dengan didampingi seorang warga yang ikut menemukannya.
Benar apa yang dikatakan oleh baby sitternya, bayi berusia satu setengah bulan itu terus menangis tanpa henti. Sepertinya dia memang sangat merindukan ibunya. Ibu yang sudah meninggalkannya untuk selamanya.
Kevin sadar sekarang, ternyata dia bukanlah satu-satunya orang yang berduka karena kepergian Dewi. Tapi anak mereka juga merasakan hal yang sama. Bahkan mungkin melebihi dirinya, karena Rohan masih sangat membutuhkan ibunya diusianya yang masih sangat dini.
Meski dengan susah payah, akhirnya Kevin berhasil menenangkan bayinya. Beberapa jam kemudian dia membawa putranya kembali kerumahnya. Sesampainya dirumah, Kevin menyuruh baby sitternya untuk membawa dan menidurkan Rohan dikamar bayinya.
__ADS_1
Sedangkan dia sendiri menuju kekamarnya. Kamar yang menyimpan banyak kenangan akan Dewi. Sekaligus menjadi tempat dimana istrinya itu dianiaya dan dilenyapkan dengan sangat kejam.