
Dion yang sudah merasa geram langsung melemparkan cermin kepada sang gadis
Lea yang tak mengerti maksud dion segera mengambil cermin pemberian dion
Saat melihat kearah cermin Lea sangat terkejut ia pun berteriak hingga membuat ketiganya menutup telinga masing masing karna tak kuat mendengar suara Lea yang sangat memekakan telinga mereka
" Kapan gue jalanin oprasi ganti muka?" Tanya Lea bertanya kepada ketiga orang yang berada di hadapannya
" Maksud lo?" Tanya satria tak mengerti maksud perkataan sang gadis
" Ini muka gue kenapa ganti?, padahal lebih cantik muka yang dulu daripada sekarang" Lirih Lea merasa sedih dengan hal yang terjadi padanya
" Drama pun di mulai" Sindir satria sudah menebak akan terjadi hal seperti ini
" Maksud lo apaan sih sat!!, bisa bisanya lo bilang kayak gitu ketika gue kena masalah sebesar ini" Geram Lea dengan nada sedikit membentak kepada satria
" Gausah lo marahin temen gue karna yang mulai masalah ini duluan tuh LO!!" Teriak agra diakhir kalimat ia sudah jengkel dengan tingkah sang gadis
" Udah udah jangan pasa esmosi, kita bicarain baik - baik biar cepet selesai masalahnya" Lerai dion tidak ingin semuanya menjadi tambah riweuh
" Emosi bang" Ucap satria mengoreksi ucapan dion barusan
"Iya itu maksudnya"
"Biar cepet selesai masalah ini sekarang kita lurusin satu persatu permasalahannya" Usul agra ingin masalah ini cepat selesai karna ia memiliki banyak hal lain yang harus diurus olehnya
" Yang pertama kenapa lo nelpon gue ama dion dan ngakunya kalo lo adalah lea?" Tanya agra mencoba meluruskan permasalahan nya dari awal
"Karna kalian abang gue jadi udah jadi tanggung jawab kalian jagain gue disaat lagi sakit" Tutur Lea
" Kita itu gakenal ama lo, jadi bukan kewajiban kita buat jagain lo" Jawab dion merasa mungkin jika gadis yang berada di hadapannya sudah tidak waras
" Lo dapet nomor kita dari mana?" Tanya agra melanjutkan pertanyaan nya
" Gue hapal semua nomor orang penting bagi hidup gue" Jawab Lea sebenarnya sangat malas menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting
" Lo budek? Bang dion udah bilang kalo kita itu ga kenal lo, lo itu ga penting di hidup kita begitupun sebaliknya" Timbrung satria sudah sangat jengah dengan sikap sang gadis
" Mungkin kalo gue ga pergi ke basecampa sambil bawa pisang mungkin masalah ini gabakal terjadi"lirih Lea sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan dulu, akibat kecerobohan nya ia harus mendapatkan perilaku buruk dari sahabat dan juga abang nya
__ADS_1
"L... Lo be... Ne... Ran..... Le.... a?" Tanya satria sambil terbata bata
" Dari tadi gue bilang gitu tapi kalian gaada yang percaya satupun sama apa yang gue bilang" Cibir Lea sambil menatap tajam kearah ketiganya secara bergantian
"Kalo lo beneran lea, kenapa lo ampe bisa berada di sini?" Tanya satria jika gadis tersebut memanglah Lea pasti ia akan bisa menjawab pertanyaan dari dirinya
" Gara gara kulit pisang yang ada di ujung tangga" Jawab Lea sambil menatap kikuk kearah agra Lea yakin agra pasti akan marah jika dirinya tidak membuang kulit pisang pada tempatnya.
" Njirrr aneh tapi nyata" Ucap satria
Agra yang mendengar penyebab Lea terjatuh langsung menatap tajam kearah keduanya karna dia tak diberi tau jika Lea terjatuh akibat kesalahannya sendiri
" Gamungkin kalo lo Lea sedangkan Lea itu masih koma di ruangannya" Sarkas dion baginya hal itu tidak lah mungkin
" Mungkin aja yang Lea alami itu transmigrasi jiwa" Turut satria hal itulah yang kini terus berputar di fikirannya
" Yeuhhh kebanyakan nonton film lu, masa ada hal kaya begitu terjadi di dunia nyata"
Ucap dion sambil mentoyor kepala satria
" Tapikan film itu terinspirasi dari dunia nyata" Ucap satria sambil mengelus kepala nya
" Apa iya ada hal semacam itu di dunia ini? " Gumam agra meragukan adanya hal semacam itu
" Ada lah bang, nih buktinya Lea ngalamin sendiri"jawab Lea meyakinkan agra bahwa dia sebenarnya adalah Lea
" Sebutin satu hal yang cuman di ketahui sama keluarga quency" Pinta agra ingin memastikan sekali lagi
" Setiap kali ada kumpulan keluarga besar bang agra selalu di ejek Sama sepupu kita karna abang masih nyusu padahal umur abang sudah menginjak 9 tahun" Tutur Lea hanya keluarga besar quency yang mengetahui hal tersebut
Mendengar ucapan sang gadis tersebut agra seketika langsung terkejut dengan ucapan nya agra kini sangat yakin jika yang berada di hadapannya adalah Lea
" Ini beneran lo de?" Lirih agra dengan mata yang sudah berkaca kaca menahan kesedihan nya karna merasa kasian dengan kondisi adiknya
" Iya ini Lea abang" Lirih Lea ikut bersedih saat melihat raut wajah dari abang nya
Mereka segera menghampiri Lea dan duduk di sekitar ranjang Lea
" Gini nih kalo punya sahabat pen cicilan raga orang malah di masukkin"celetuk satria tanpa melihat kondisi sekitar nya
__ADS_1
" Wahh udah bosen hidup nih anak" Geram agra saat mendengar perkataan yang dilontarkan oleh satria
Melihat agra yang marah satria segera berlari keluar untuk menghindari amukan dari agra satria tidak ingin jika wajahnya menjadi korban lagi
" Gue pamit beli makan dlu ya" Ucap satria sambil berlari keluar
" Ngapa tuh anak kok malah lari ketakukan gitu kayak abis liat dedemit aja" Tanya agra merasa binggung dengan sikap satria
" Iya lo dedemit nya" Ucap dion menyindir agra
" Cakepan juga muka gue dari pada lo"
" Iya in biar cepet"
" Kayak anak kecil ishh berantem mulu"kesal Lea melihat kedua abangnya malah bertengkar padahal Lea kini sedang mengalami masalah besar
" Tuh agra duluan" Ucap dion menyalahkan agra atas pertengkaran yang mereka alami
" Dih idihhh nuduh mulu loh" Geram agra tak Terima padahal yang memulai pertengkaran adalah dion
" Yang lebih tua ngalah donk" Sindir dion tak mau di salahkan
" Kita cuman beda 1 bulan ya" Tutur agra menatap tajam kearah dion seperti ingin menelan dion di saat itu juga
"Tetep aja itungan nya tuaan lo"
" Dah lah kosplay aja gue jadi eceng gondok diem doank di tepian" Tutur lea sudah pasrah karna keduanya malah melanjutkan pertengkaran mereka
Dion dan agra yang mendengar ucapan Lea seketika mereka langsung berhenti beragumen
" Terus sekarang gimana, gue gak tau harus berbuat apa" Tanya agra pasrah dengan masalah yang kini sedang menimpa mereka
" Telpon bokap ama nyokap lo aja" Usul dion ia pun sudah tak punya jalan keluar lagi selain hal tersebut
" Jangan nanti kalo mommy ama papah ga percaya gimana" Tolak Lea merasa hal tersebut bukanlah ide yang bagus
" Terus sekarang kita gimana" Tanya dion ia sudah tak bisa memikirkan hal lain lagi
" Terima takdir aja kita ikutin alurnya" Pasrah lea
__ADS_1