Sejuta Cinta Untuk Indonesia

Sejuta Cinta Untuk Indonesia
Episode 1 Lentera Sepi


__ADS_3

#Lentera Sepi 01


"Terlalu sering diabaikan, hingga lupa apa yang namanya'bahagia'?"/Lasceria


***


Manusia sering kali berharap akan sesuatu, hingga mereka lupa bahwa harapan itu sendiri pula yang akan menjadi alasan mereka terluka, walau begitu mereka tetap saja berharap.


Sering terluka tak menjadikan mereka lelah akan sebuah pengharapan. Entah itu karena mereka tak lagi punya pilihan, atau memang mereka suka akan ketidakpastian.


Kirana Putri Maharani. Sebut saja gadis 21 tahun itu dengan nama Kiran. Gadis yang terbiasa akan luka, terbiasa menutupinya dari dunia, hingga ia hampir kehilangan jati dirinya sendiri.


Saat ini Kiran menempuh pendidikan di universitas Indonesia. Ia sudah berada pada semester tua. Masa-masa sulit bagi seorang mahasiswa. Masa-masa dimana bayangan kegagalan selalu hadir menyapa. Keluh-kesah serta penyesalan seakan menjadi satu pada saat ini.


"Kinan!" sapanya sembari melambaikan tangan dari luar jendela perpustakaan.


Teriakan khas itu, berhasil membuat Kinan yang tengah asik membaca buku di perpustakaan kampus memperhatikannya. Orang-orang di sekeliling-pun ikut juga menoleh kearah sumber suara. Suasana canggung dan juga tengang. Tentu saja, suara berisik hukumnya haram, jika didalam perpustakaan. Apalagi suara teriakan.


"Anak menyebalkan itu lagi!" gerutunya sembari menutup muka dengan buku yang ia pegang. Merasa malu.


"Woy! Kinan keluar dulu," sapanya lagi.


"Pergilah! Jangan ganggu gue, setidaknya untuk hari ini! Dasar Annoying!!" umpatnya dalam hati.


Kinan semakin mengubur mukanya didalam buku.


"Woy Kinan! Loe budeg apa?"


Lagi-lagi ia berteriak, hingga membuat sang penjaga perpustakaan bangkit dari duduknya datang menghampirinya. Sebut saja dia Anggara. Sang bintang terkenal di kampus. Lebih tepatnya, sang pembuat onar. Ia terkenal bukan karena keonarannya saja, tetapi juga karena parasnya yang sangat mengagumkan. Tampan.


"Hei anak muda! Kamu tidak lihat ini ruangan apa? Dilarang berisik!"


"Iya buk. Maaf. Saya cuman panggil temen saya aja kok," elaknya.


"Saya akan panggilkan dia. Tapi ingat jangan berteriak lagi, atau kamu akan saya laporkan ke ruang BK!"


"Siap, Buk bos!" Anggara mengatakannya dengan tegas. Tak lupa ia memberi hormat.


Penjaga perpustakaan masuk kembali kedalam ruangan. Melangkah pada meja Kinan.


"Kinan, silakan keluar dahulu,"


Kinan perlahan menaikan wajahnya. Menatap sang penjaga perpustakaan. Senyum canggung.


"Maaf, buk."


Dengan segera Kinan bangkit dari duduknya, ia membawa tas ranselnya dan meninggalkan beberapa buku diatas meja. Keluar. Menghampiri sang pembuat onar.


"Hai," sapa Anggara tepat disaat Kinan keluar dari pintu tersebut.


"Kau! Kenapa teriak-teriak gak jelas? Udah aku bilang jangan sok kenal denganku!"


"Oh ayohlah, bukannya kita itu teman. Masa iya aku harus gak kenal sama temen sendiri," celotehnya.

__ADS_1


"Sejak kapan kita jadi teman? Dasar pengganggu!"


Dengan kesal Kinan pergi meninggalkan Anggara. Tentu saja Anggara tidak lupa untuk terus mengikutinya sedari belakang.


"Berhenti mengikutiku!"


"Oh ayolah Kinan. Kota sama-sama gak punya teman, jadi kita berdua bisa berteman bukan?"


"Siapa juga yang akan berteman denganmu. Menyebalkan!"


Kinan semakin kesal. Ia tak tau lagi harus bagaimana menghadapi manusia yang satu ini. Setiap hari kesabarannya selalu saja diuji.


Kinan memang tidak memiliki teman selama ini. Ia selalu suka sendirian dan sangat menutup diri dari keramaian. Baginya keramaian bersama dengan orang banyak, merupakan hal yang merepotkan.


Parkiran.


Anggara masih saja setia mengikuti Kinan.


"Kamu itu sebenarnya mau apa dariku? Sekarang katakan."


Anggara tersenyum lebar. "Aku kan sudah bilang, kalau aku cuman mau kita berteman. Lagipula Nasib kita sama loh, kamu gak punya temen begitupun denganku. Kan kita cocok," ucapnya penuh keyakinan.


Kinan menghela nafasnya dengan berat. Menepuk jidatnya sendiri.


"Anggara kamu dengarkan aku baik-baik. Kita itu berbeda, aku gak punya temen juga karena aku sendiri gak mau punya temen, nah kalau kamu karena emang gak ada yang mau temenan sama kamu. Paham!!"


"Gak paham tu." balasnya santai.


Kinan mengeluarkan kunci mobilnya. Menekan tombol dan mobilpun berbunyi. Tanda kunci terbuka.


"Sekarang aku mau pulang. Kau juga pulangnya!"


Kinan membuka pintu mobil dan mulai memasuki mobilnya. Saat ia mau mengenakan sabuk pengaman, terlihat Anggara yang juga ikutan masuk ke dalam mobil.


"Kau ngapain di dalam mobilku?"


"Nebeng bentar sampai simpang," jawabnya dengan sangat santai.


"Turun sekarang dari mobilku, Angga!"


"Bentaran doang. Pelit amat sih, ayolah. Daripada aku mesti naik ojek,"


"Cuma sekali ini saja. Tidak ada lain kali!!"


"Iya-iya bawel. Sekarang cepetan jalan."


Kinan kembali mengembuskan nafasnya dengan berat. Ia sudah sangat lelah harus berhadapan dengan Anggara setiap harinya.


"Sabar Kinan, sabar." batinnya.


Sepanjang perjalan Anggara hanya diam sembari fokus ke jalanan. Kinan sesekali melirik ke arah Anggara. Baginya saat Angga serius itu akan sangat memancarkan ketampanannya.


"Fokus ke depan Kinan. Jangan pandangin muka aku aja," ucap Anggara yang wajahnya masih fokus kearah jalan.

__ADS_1


Seketika Kinan merasa tertangkap basah. Ia malu. Langsung saja Kinan mengalihkan pandangannya ke arah jalan.


Beberapa saat kemudian. Sebuah mobil dari belakang tampak melaju dengan kencang ke arah mereka.


Brummm ...


Brak!


"Akh!!"


Mobil tersebut menabrak belakang mobil Kinan dengan keras. Dengan sigap Anggara mengambil ahli kemudi.


"Apa yang kau lakukan!"


"Biar aku saja yang menyetir. Kau duduklah dengan tenang,"


"Siapa orang gila ini! Kenapa dia terus menabrak mobilku!"


Kinan panik. Mobil tersebut masih saja menabrak mobil mereka sedari belakang. Dengan sigap Anggara mengambil ahli kemudi. Ia dengan segera menjalankan mobilnya dengan sangat cepat.


Kinan ketakutan. Ia hanya bisa terus memejamkan matanya. Berdoa agar selamat. Sedangkan Anggara fokus menyetir.


Setengah jam terus mereka saling kejar-kejaran. Kebetulan jalanan yang di lalui Kinan dan juga Anggara terbilang sepi akan penduduk. Pinggiran jalannya hanya ada hutan. Hingga akhirnya mereka lepas dari mobil tersebut. Anggara menghentikan mobilnya tepat dipinggir jalan. Bernafas lega.


"Siapa dia. Kenapa dia seperti mau membunuhku," gumam Kinan.


Anggara sadar akan Kinan yang sedang merasa sangat ketakutan. Bagaimana tidak, semua orang jika diposisi itu juga akan takut.


"Jangan takut. Aku akan melindungimu," ucapnya menenangkan.


Kinan mendengar itu. Seketika hatinya merasa tenang kembali.


"Aku akan antar kau pulang,"


Anggara langsung menjalankan mobilnya kembali. Menuju kediaman Kinan.


Beberapa jam kemudian.


Mereka sampai dikediaman Abraham. Ayah dari Kinan. Seorang pengusaha sukses. Namun juga terkenal dengan kelicikannya dalam dunia bisnis.


"Sudah sampai," ucap Anggara.


Kinan melihat sekeliling. Ia merasa lega karena memang ia tiba di rumah.


Anggara keluar dari mobil. Diikuti oleh Kinan.


"Kalau gitu aku pulang dulu,"


Sebelum sempat Kinan mengucapkan terimakasih. Anggara sudah lebih dulu pergi dari sana.


"Sikapnya berubah sejak kejadian tadi," gumam Kinan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2