Sejuta Cinta Untuk Indonesia

Sejuta Cinta Untuk Indonesia
Episode 2 Lentera Sepi


__ADS_3

#Lentera Sepi 02


“Jangan tanyakan padaku, apa itu jatuh cinta?” / Melani


***


Terdengar suara bising dari dalam kamarnya, Kiran sudah menebak jika di dalam kamarnya adalah orang yang paling berisik jika datang ke rumahnya. Dia Nadia Maftuhatunnisa, sepupu Kiran, ada saja tingkah konyol yang dia lakukan jika berada di kamar Kiran.


“Aku mohon Tuhan, berikan aku ketenangan untuk hari ini saja!” ucap Kiran sembari membuka perlahan pintu kamarnya.


Alat make up kesayangannya sudah berantakan di atas meja akibat perbuatan Nadia. Semuanya begitu berantakan hingga membuat amarah Kiran membara. 


“Nadiaaaaaa ....” teriak Kiran.


Bruk ...


“Oh tidak,” Nadia kaget sehingga menjatuhkan salah satu lisptik Kiran.


“Astaga, Nadia kesalahan apalagi yang kau buat?" Kiran kali ini hanya pasrah dengan kelakuan Nadia. 


“Ah, aku hanya mencoba make up kak, ini pertama kali aku belajar make up,” ucap Nadia sedikit takut.


“Jika seperti itu caramu, kau akan menghabiskan seluruh alat make up ku, cepat bersihkan!” kemarahan Kiran kali ini tidak biasa.


Jelas saja membuat Nadia memasang wajah takut, sehingga bergegas merapikan semua alat make up yang Kiran miliki. 


Kiran menatap handphonenya, sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Tidak ada jadwal khusus hari ini untuk Kiran, sehingga ia bisa bersantai hingga esok hari. 


Tring ...


Suara pesan masuk dari handphone Kiran.


Nadia yang kala itu selesai membersihkan semua alat make up Kiran, tidak sengaja melihat pesan masuk itu. Tertera nama Herman Sebastian teman kelas Kiran. 


[Ada jadwal khusus nggak hari ini?] _Chat dari WhatsApp._


“Hmm ...” Kiran berpikir sejenak.


“Untuk apa dia menanyakan itu?” batin Kiran.


Entah sudah berapa kali Kiran mengabaikan pesan dari Herman. Karena sebelum-sebelumnya juga seperti itu.

__ADS_1


Nadia dengan bibir ceplosnya itu langsung meledek Kiran.


“Cie … di cariin tuh!” ledek Nadia.


Tentu saja Kiran langsung menatap Nadia dengan menyipitkan matanya. “Jangan menggangguku anak kecil.” Kiran memasang wajah kesal.


“Kak Kiran nggak seru, aku udah bukan anak kecil kak. Aku kelas 2 SMA, kakak pikir kelas 2 SMA masih main boneka-bonekaan apa!” kali ini Nadia yang berbalik kesal dengan Kiran. 


“Haha … ngambek, Nadia ngambek,” Kiran malah tertawa melihat tingkah Nadia yang kesal.


“Ih kakak!” Nadia langsung berbaring di atas tempat tidur.


Nadia mengingat sosok laki-laki yang bersama dengan Kiran beberapa menit yang lalu, ingin sekali Nadia menanyakan hal itu kepada Kiran.


“Kak Kiran, hari ini aku mau curhat. Boleh?”


“Tumben, tentang apa?” Kiran penasaran dengan cerita Nadia, sehingga ia mendekat kepada Nadia dan berbaring di sampingnya.


“Kak, tadi aku melihat kak Anggara di depan pagar kan?” Nadia masih menatap langit-langit kamar Kiran dengan hiasan bintang.


“Kok kamu tahu? Kamu kenal Anggara?” Kiran menoleh ke samping menatap wajah Nadia yang masih menatap lurus ke atas.


“Hummm … begitulah kak. Mungkin hanya aku yang mengenalnya.” Nadia menghentikan ucapannya. 


“Dia kakak dari temanku saja kak,” Nadia malah merahasiakan yang sebenarnya.


“Kamu ingin curhat itu?” Kiran bingung dengan Nadia.


“Sebenarnya bukan itu,” elak Nadia lalu mengalihkan pembicaraan.


“Kalau aku menyukai seseorang di usiaku sekarang apa boleh? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, entah itu pandangan pertama atau bukan. Tetapi aku selalu melihatnya, membuat aku merasa bahagia kak,” ungkap Nadia.


Kiran membisu, didalam kamus Kiran jatuh cinta adalah hal yang paling sulit buat dirinya. Karena sering berharap membuat dia terluka, sehingga dia lupa apa itu jatuh cinta.


Kali ini Nadia menoleh kesamping melihat raut wajah Kiran. Terlihat jelas kebimbangan di sana. Nadia ingin bertanya lagi, tapi ia urungkan.


“Kakak baik-baik saja? Kenapa murung?” pertanyaan Nadia membuat Kiran tersadar.


“Ah, tidak apa-apa,” sebuah kalimat yang perempuan andalankan 'tidak apa-apa' tetapi sebenarnya tidak baik-baik saja. Begitulah perempuan gampang menyembunyikan perasaan.


“Apa kakak pernah jatuh cinta?” sontak pertanyaan itu keluar tiba-tiba dari mulut Nadia.

__ADS_1


“...”


Hening, tidak ada suara yang keluar dari mulut Kiran, tak ada jawaban 'iya' atau 'tidak'. Sebuah pertanyaan gampang yang sulit di jelaskan. Bagi Kiran, terlalu banyak luka yang dia rasakan, hingga tidak ada lagi rasa bahagia dihatinya apalagi harus jatuh cinta.


Nadia merasa bersalah dia lupa jika kakak sepupunya ini, terlalu sering terluka hingga rasa bahagia itu pun mungkin sulit Kiran rasakan. Nadia tidak ingin membebani pikiran Kiran, pertanyaan-pertanyaan yang telah ia berikan tak ada jawaban dari Kiran pun ia abaikan. Nadia berhenti tidak akan bertanya lagi walau rasa penasarannya begitu besar.


“Jangan bertanya tentang hal itu lagi Nadia, aku tidak dapat menjawabnya.” jawab Kiran.


Nadia tahu apa yang arti jawaban dari Kiran. Hanya keheningan yang melanda saat itu.


***


Dari kejauhan terlihat seorang gadis cantik umur 20 tahun mahasiswi jurusan Seni yang sedang sibuk dengan kuas kesayangannya. Dengan tangan yang mulus itu menggerakkan kuas itu ke atas, ke bawah, ke samping kiri dan kanan berulang-ulang kali untuk menciptakan karya yang indah. Untuk karya yang di buat kali ini begitu spesial, karena sebuah karya lukisan dari benda kecil putih yang berkilau disukai banyak orang yaitu 'Mutiara'.


“Wow, lukisan Mutiara ini sangat indah, dan secantik dirimu Mutiara,” pujian dari seorang dosen untuk Mutiara.


Mutiara tersenyum manis, “Terimakasih Sir,” wajahnya tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia itu.


Mutiara Shezan Banafsha nama yang diberikan kedua orangtuanya, dengan harapan untuk masa depan yang baik untuk Mutiara.


“Hai Tiara!” sapa Rangga teman kelas Mutiara.


“Hm, Hai Rang!” sapa Tiara lalu melanjutkan lukisannya.


“Lukisan kali ini sesuai banget dengan jati diri lu, ... Mutiara cantik,” puji Rangga.


“Jangan berlebihan begitu, tapi terimakasih pujiannya,” ucap Mutiara dengan santai.


Rangga sangat menyukai Mutiara yang mempunyai banyak bakat, siapa yang tidak menyukainya. Mata coklatnya selalu mengalihkan perhatiannya. Apalagi Mutiara sangat anggun dengan balutan hijab pashminanya, Mutiara sangat fashionable.


Apapun yang berhubungan dengan seni Mutiara sangat semangat melakukannya, hari ini pengumuman dirinya akan ikut melakukan pameran di kampus Universitas Negeri Jakarta. Ini kesempatan yang baik untuk Mutiara. Kuliah beda kota tempat ia tinggal merupakan impian Mutiara, karena mutiara sangat suka dengan traveling dan pengalaman baru.


“Rang, Minggu depan aku akan ada pameran dengan mahasiswa-mahasiswi lainnya.” Mutiara memberitahu Rangga sedangkan Rangga sudah mengetahui sebelum di beritahu.


“Benarkah? Wah selamat Ra, aku boleh ikut nggak?” tanya Rangga dengan harap.


“Nggak,” jawab Mutiara singkat dan padat.


“Jahat!” Rangga memasang wajah cemberut.


Mutiara hanya tersenyum tipis melihat wajah Rangga yang terlihat lucu itu, Rangga selalu menempel dengan Mutiara tetapi ia tahu batasan antara dirinya dan Mutiara. Selama ini Mutiara menerima dengan baik Rangga sebagai teman, tidak lebih dari itu tapi Rangga sebaliknya.

__ADS_1


Pameran itu akan sangat meriah, akan ada banyak anak kesenian dari berbagai Universitas terbaik di Indonesia yang akan datang.


Bersambung ...


__ADS_2