Sejuta Cinta Untuk Indonesia

Sejuta Cinta Untuk Indonesia
Episode 3 Lentera Sepi


__ADS_3

#Lentera Sepi 03


***


"Mut, maukah kamu sepulang dari kampus ikut denganku?" tanya Rangga, penuh pengharapan.


"Kemana?" jawab Mutiara, tangannya masih saja sibuk bergoyang di papan putih dengan kuas sebagai pegangan alat tempurnya.


"Ikut, berlayar di laut cinta bersamaku," ucap Rangga bersemangat.


Lelaki itu membuat senyum semanis mungkin, untuk menarik perhatian gadis di sebelahnya. Sekilas, Mutiara memandang mata Rangga yang berkedip-kedip untuk menggoda gadis cantik yang sedang asik dengan dunia lukisnya.


"Alah, jangan merancau, aku bisa saja menenggelamkanmu di laut cinta hayalanmu itu." Wajah mutiara tetap datar menanggapi godaan Rangga.


"Ayo dong Mut, ikut jalan denganku. Kamu gak capek apa waktu luangmu ku gunakan melukis terus, sisakalah lah sedikit waktu untuk temenmu ini." wajah Ragga dibuat semelas mungkin, agar misinya sukses.


"hmm ... Karena kamu memaksa, oke deh," ucap Mutiara.


"yeay!" seru Rangga, seketika dia melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, tapi sebelum punggung lelaki itu menjauh, Mutiara menghentikan langkahnya.


"Tunggu," panggil Mutiara. Rangga berbalik badan menunggu ucapan Mutiara. "Nanti kamu yang traktir kan?" ucapnya lagi, sambil menarik alisnya keatas.


Rangga tersenyum dengan ucapan gadis yang ada di depannya, dia tau betul dengan sifat Mutia yang tak mau rugi pergi kemana-kemana.


"Tenang aja, kamu bebas minta apa aj. Aku lagi bahagia sekarang." ucap Rangga.


Mutiara tersenyum miring menanggapi ucapan Rangga. "Benneran minta apa aja?"


Tiba-tiba saja mata Rangga membulat penuh lalu gegas berucap. "Asal abang mampu neng, jengkol aja aku kasih sama kamu." Suara cekikikan itu akhirnya keluar dari mulut Rangga.


Sedang Mutiara wajahnya meringis dengan bibir dia manyunkan satu senti.

__ADS_1


Rangga yang melihat muka imut Mutiara menjadi gemas ingin menyentuh bibir manis bak jeruk saloni itu.


Tanpa sadar Rangga melangkah ingin memegang bibir merona milik Mutia, tapi langkah kedua dari kakinya tiba-tiba terpelintir akibat adanya pot bunga di samping tempat duduk Mutiara.


"Eh," reflek Mutiara ingin menangkap tubuh Rangga yang akan terjatuh, dan


Bruk!! Mereka terjatuh bersama dengan posisi yang erotis.


Tubuh Mutia berada di bawah tubuh Rangga, untuk sesaat mereka masih tercengang dengan posisi erotis itu, sedang Wajah mutia menjadi memerah menahan malu, detak jantung keduanya menjadi terpomba lebih cepat dari biasanya.


"Apa yang kalian lakukan," tanya pak bima, dosen seni sekaligus pembimbing mutiara.


Dengan sekejap pandangan kedua insan yang masih tak beranjak dari posisinya melihat kedatangan pak bima, lelaki paruh baya itu bersidekap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak didik mereka berbuat hal yang tidak senonoh di depan matanya.


"p--pa--pak bima," ucap Mutiara tergagap. Wajahnya menjadi pucat melihat pak bima memandangnya dengan tatapan sinis. mereka langsung berdiri membenarkan posisinya masing-masing "Ini tak seperti yang Anda lihat pak, tadi saya hanya reflek ingin menolong Rangga yang ... Akan terjatuh" gadis itu tak berani lagi memandang pak bima yang ada di depannya.


Sedang Rangga hanya berdiam diri tanpa membantu memberi alasan dengan ketegangan yang telah mereka perbuat.


"Awuh ... Isttt sakit tau," bisik Rangga, sedang mutia hanya memberi lirikan tajam agar Rangga mengerti dengan kondisinya.


"Apakah itu benar ngga?" tanya Pak bima mengerutkan kening.


"Ya pak, mana berani kita berbuat tidak senonoh di kampus ini," jawab Rangga cengengesan.


"Baik lah, untuk saat ini, alasan kalian bisa aku terima, tapi tidak untuk yang kedua kalinya," Tegas pak bima. "Apakah pekerjaanmu sudah selesai Mut?" tanya pak bima.


"Eh, belum pak. Maaf ya pak. Tadi di ganggu sama si Rangga nih, makanya jadi loading," jawab Mutia.


Pak bima hanya berjalan tak menanggapi ucapan Mutia, dia mencari hapenya yang ketinggalan dimeja tempag dia duduk tadi. "Ingat ya cepet selesaikan tugas gambarnya, dan kamu Rangga. Kalau urusanmu sudah selesai cepat keluar dark ruangan ini. Jangan mengganggu konsentrasi Mutia," ucap Pak Bima sebelum pergi berlalu dari hadapan Mutiara dan Rangga.


"Aku keluar dulu ya manis," ucap Rangga genit. Sedang Mutiara hanya mengangkat tangannya tanda mengiakan, dan gadis itu memulai berpetualang dengan kuas magij ilusinya.

__ADS_1


***


Terlihat seorang lelaki tampan sedang menunggu gadis cantik yang dia damba, di parkiran kampus dia duduk sendiri dengan mengedarkan pandangan. Berharap, Mutiara cepat keluar dari bangunan bertingkat yang msih di penuhi lalu lalang orang-orang yang akan menimba ilmu.


Berkali-kali dia melihat kespion motor yang ada di sampingnya, sekedar melihat penampilan tubuhnya.


Seeeerrrt!


Pencetan minyak wangi dia seprotkan pada hody warna hitam yang sedang dia kenakan. Merasa sudah wangi lelaki itu Sekali lagi melihat ke arah spion untuk membenarkan rambut yang memang sudah rapi sedari tadi.


"Rangga kamu tampan banget sih," ucap Rangga pada dirinya sendirinya, matanya masih tidak beralih dari spion motor yang ada di depannya,


Namun seketika tubuhnya mematung mendengar suara cekikikan yang semakin mendekat ke arahnya. Lelaki itu membalik tubuhnya dan mendapatkan sosok yang sedari tadi dia tunggu-tunggu.


Mutiara berhenti tertawa dan menjulurkan tangannya ke dahi Rangga.


"Kamu sehat ngga?" tanya Mutia sambil menahan kegelian diperutnya melihat tingkah Rangga yang aneh.


"hem, aku sehat. Ayo berangkat." Menarik tangan Mutiara tanpa menghiraukan candaan teman sekaligus dambaan hatinya itu.


"Hahahahaha, kamu lucu deh," ucap Mutiara yang tak bisa menahan tawanya lagi.


"Syukurlah, dengan begitu aku bisa membuat mu tertawa, cepet naik," ucap Rangga yang pantatnya sudah berada di atas Sepeda motor supravit kepunyaannya.


Akhirnya Mutiara pun mendaratkan pantatnya juga pada dudukan belakang sepeda Rangga yang memang hanya muat di tumpangi oleh dua orang.


Rangga mulai memasukan kunci sepada motor dan menghidupkannya dengan menginjak pedal gas sepeda yang sedang dia kendarai. Perlahan sepedapun berjalan dengan laju sedang.


Mutiara yang posisinya sangat dekat di belakang Rangga, mendengar aroma parfum rangga yang menguar di seluruh lubang hidungnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2