
Gemercik suara air dan udara sejuk pagi hari membuat Hera merasakan damai untuk beberapa saat. Dari sudut jendela bilik kecilnya ia menyapa dedaunan, melambai pada langit biru, dan sejenak membiarkan dirinya berdialog dengan semesta.
"Ternyata bahagia tidak melulu harus berdua, sendiri juga damai"
"Terima kasih Tuhan, telah memberi aku kesempatan untuk lepas dari jerat Laksya. Aku ingin membuka lembar yang baru. Tuhan...tuntun langkahku untuk segera menemukan bahagiaku yang baru."
•••
Hari ini Hera harus menuntaskan ujian sekolah terakhirnya. Saat sampai di ambang pintu kelas, tangannya di cekal oleh seseorang yang langsung menarik paksa Hera menuju lorong sepi.
Tak lain itu adalah Laksya, Hera berulang kali memberontak menarik paksa tangannya yang di genggam erat Lasya
"Lepass.. argghh.. lepasin woi", teriak Hera
Tapi Laksya sama sekali tidak mengindahkan teriakan Hera, ia tetap berjalan menuju lorong sepi di utara kelas Hera
"Lepasiin Laks, sakiiiitt", ucap Hera diiringi air mata yang berhasil lolos dari matanya
Menyadari Hera kesakitan, Laksya lekas melepas cekalan pada tangan Hera. Kini mereka tengah berhadapan, tentu lelaki keparat itu merasa bersalah baru saja akan meminta maaf Hera telah lebih dulu membuka obrolan dengan kalimat penuh amarah
"Mau lagi sih lo Laks? ga cukup apa bikin hari-hari gue penuh luka? please, kalo lo mau minta balikan gue gabisa. Gue pengin cari bahagia gue sendiri, tanpa lo", jelas Hera dengan sesunggukan
"Bentar..bentar.. kenapa bahasanya jadi lo gue?", tanya Laksya
"Hah? emang lo ini batu deh Laks, perlu gue ulangin berapa kali lagi? Di antara kita udah gaada apa-apa lagi, iya gaada apa-apa lagi. Dan gue udah muak sama semua hal buruk yang lo lakuin diem-diem di belakang gue"
"Oke kalo gitu. Gue baik-baik yaa ngajakin lo kesini buat ngomong empat mata, biar semuanya enak. Eh lo nya ngelunjak kayak gini", tegas Laksya dengan berjalan maju yang artinya menekan Hera untuk berjalan mundur.
"Udah baik gue mau pacaran sama lo yang sok suci ini, jangan belagu deh jadi orang. Wajar gue punya banyak cewek di belakang lo, karena gue cowok. Gue bebas milih mana yang gue suka, nasib baik deh lo masih gue pacarin. Udah dekil, ga secantik pacar gue lainnya, belagu pula", sarkas Laksya
Hera tidak menjawab, dia hanya diam dan terus meneteskan air mata pedihnya. Dari kejauhan ada Arga, teman sekelas Hera menatap dua orang yang sedari tadi terlihat sedang bertikai.
Saat Laksya akan menarik paksa Hera tadi, Arga sudah curiga dan berinisiatif untuk mengikuti Laksya membawa Hera
Emosi Laksya sudah memuncak dan dia sudah akan menampar Hera, namun seketika itu Arga langsung berlari sambil meneriaki Laksya
"Woiiii... mau ngapain lo?", teriak Arga
Baik Hera maupun Laksya sama terkejutnya dan merasa ada yang melindungi Hera beralih ke sisi Arga
"Ga gini caranya bro, sekarang ujian terakhir mending lo balik deh nanti telah masuk kelas", ucap Arga mencairkan suasana
"Lo siapa? jangan ikut campur bangsat, ini urusan gue sama Hera. Minggir!"
"Iya gue tau ini urusan pribadi kalian berdua, tapi ini sekolah tempat belajar, bukan tempat buat nyelesein masalah pribadi!", tukas Arga sambil menggandeng Hera berlari menjauh dari tempat itu.
Melihat Arga membawa Hera, Laksya hanya terus mengumpat karena yang jelas saat ini lelaki itu sedang kacau.
Tapi nasi sudah jadi bubur, semuanya sudah terjadi begitu saja.
Di tempat berbeda saat ini Arga dan Hera sudah sampai di dalam kelas. Kebetulan Arga duduk di bangku depan tempat duduk Hera
__ADS_1
"Ga.. makasih ya lo udah bantuin gue", ucap Hera
Arga hanya menganggukkan kepala. Situasi di antara Arga dan Hera memang sedikit canggung. Jadi setelah mengucapkan terima kasih Hera kembali diam dan menatap kosong ke arah lantai kelasnya.
Usut punya usut Arga dulu pernah menyukai Hera dan sempat menyatakan perasaannya, tapi Hera tentu menolak karena saat itu dia benar-benar mencintai Laksya. Entah juga apa alasan pasti Hera menolak Arga.
Terlihat Hera masih menitikkan air mata namun cepat-cepat gadis itu menghapusnya, tentu saja Hera masih merasakan sakit setelah mendengar ucapan Laksya.
"Gue harus fokus, gue harus bisa nunjukin ke Laksya kalo gue bisa bahagia dan bersinar tanpa dia. Ayoo Heraa.. lo pasti bisa", batin Hera menyemangati dirinya sendiri.
Samar-sama terdengar suara khas sepatu pengawas ujian mereka, Pak Budi itu menandakan bahwa sebentar lagi ujian akan segera dimulai.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini adalah hari terakhir ujian. Dua pekan lagi akan ada acara pelepasan sekaligus pengumuman kelulusan, tidak hanya itu kita juga akan melakukan studi kenal alam sebelum kelulusan kalian. Jadi pastikan kalian sudah mengusahakan yang terbaik dalam ujian akhir kalian ini", terang Pak Budi.
"Baik paakk", jawab seluruh siswa kompak.
Karena ujian di era milenial ini sudah berbasis internet jadi tugas dari pengawas ujian bukan lagi membagikan kertas ujian pada peserta. Namun membagikan token untuk masuk ke server ujian.
Dua jam berlalu, kini seluruh siswa tampak keluar dari ruang ujian masing-masing termasuk Hera dan Venus. Sembari menuju tempat parkiran Hera dan Venus berjalan santai dan saling mengobrol
"Akhirnyaaa selesai juga penderitaan ini huhuu", Venus memulai obrolan
"Yassh, lega banget guee akhirnyaa selesai juga ujiannya. Eh btw.. tadi kata Pak Budi mau ada studi kenal alam sebelum lulus, gue penasaran mau kemana emangnya?", jawab Hera sekalian mengajukan pertanyaan pada Venus
"Ya gue juga gatau pastinya sih, tapi denger-dengan mau ke Jogja sih", begitu jawaban Venus
"Ohh gitu, bagus deh.. itung-itung refreshing yakan?", sambung Hera dengan senyum
"Soal ituuu... udah deh gausah dibahas lagi, gue udah bener-bener capek sama Laksya. Daripada mikirin Laksya mending banyakin doa, sadar ga sih abis ni pengumuman SBM. Gue takut ga lolos huh..", jelas Hera
"Nah ini, gue juga sama.. semoga ajalah kita lolos Heraaaa, gue ngebet pengen kuliah juga nih di UNPAD", sahut Venus yang juga ikut merasakan tegangnya menjelang pengumuman seleksi bersama masuk PTN.
Saat akan pulang terdengar pengumuman bagi seluruh kelas 12 untuk segera berkumpul di aula, Hera dan Venus yang hampir tiba diparkiran langsung memutar langkahnya menuju aula sekolah sesuai arahan dari guru mereka
"Yaelaah, ga dari tadi aja sih", keluh Venus
"Udah ayok cepetan jangan banyak omong", ketus Hera sambil menarik tangan Venus untuk berlari menuju aula sekolah
Dua puluh menit berlalu dan seluruh siswa berhamburan keluar dari aula sekolah. Ternyata tadi adalah pengumuman resmi dari kepala sekolah yang memaparkan informasi seputar kegiatan akhir siswa kelas 12.
Ya kurang lebih sama dengan yang jelaskan oleh Pak Budi, namun yang kali ini disertai jadwal keberangkatan untuk studi kenal alam. Dua hari lagi, iya dua hari lagi rombongan siswa kelas 12 SMA Wiryata Loka akan berangkat ke Yogyakarta dan menginap selama tiga hari
"Aduuuh ini kenapa mepet banget Ven, gue belum packing, belum siap-siap inilah itulah.. hadeh", keluh Hera
"Gue juga lah Ven, tapi gapapalah cukup juga 2 hari buat packing", sambut Venus dengan bijak
"Eh iya ntar ngumpul di sekolah bareng gue aja, gue dianter bokap nanti bawa mobil", ajak Hera
"Ehh tapi tapi tapi kita di Jogja juga cuma tiga hariii Raaaaa. Alaa ga puas sih ini", ucap Venus tiba-tiba
"Yaampuuun Venuuus, bisa ga sih sesekali jadi hamba yang bersyukur. Masih untung tau kita ada liburannya", jawab Hera
__ADS_1
"Nyenyeneye...Yayayayyayayayyayayay", ujar Venus sambil mengejek Hera
"Yaudah gue mau pulang, ingett kita berangkat bareng, naik mobil bokap gue"
"Siap bu bos, nanti kabarin lewat chat ngoghey?", sahut Venus
Mereka berdua pun lekas menuju parkiran dan mengambil sepeda motor dan segera menuju rumah masing-masing.
"Ven, gue dulu yaa. Lo ati-ati ya, kaga usah ngebut!"
"Okeeeeehh, lo juga ati-ati juga Her. Awas nabrak semut, hahaha"
•••
Setibanya dirumah Hera langsung memarkirkan motornya di garasi dan bergegas menuju ke dalamnya rumah
"Assalamualaikum Paaaaa, Mama mana?", ucap Hera sambil mencium tangan Papa nya yang sedang duduk santai di ruang tamu
"Waalaikumussalam ehhh anak Papa, tumben pulangnya agak siang? Itu Mama lagi masak di dapur", sambut Papa Tras diiringi tangannya yang mengacak pelan rambut Hera
"Ohhh yaudah, oiya Pa dua hari lagi Hera mau ke Yogyakarta, katanya sih studi kenal alam. Hera boleh ikut Pa?", tanya Hera
"Yaa boleh dong, kemarin info itu udah di share sama wali kelas kamu di grup wali murid. Yaudah gih, bersih-bersih terus makan siang", pinta Papa Tras
"Okeeeh siap Paaa, Hera ke atas dulu ya", jawab Hera lembut
Selepas bersih-bersih Hera mengambil ponselnya, ia berniat mengecek barangkali ada chat penting harus di balas dan benar saja "ting..ting". Ada bunyi notifikasi di ponsel Hera yang tak lain adalah notif dari Laksya, namun Hera sama sekali tidak berminat untuk membuka apalagi membalasnya
"Aelaah, bocah ini lagi.. udah deh mending turun aja daripada makan ati teros", gumam Hera
Tentu hati Hera sangat remuk hari ini, bagaimana tidak? orang yang dia sayangi dengan tulus justru memaki Hera dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Hera sedang patah hati tapi ia tidak ingin orang di sekitarnya juga ikut sedih karena dirinya, ia memang tipikal orang yang memendam semuanya sendiri yaa meskipun dia punya sahabat setianya, Venus
Setibanya di ruang makan Hera langsung mendudukkan dirinya dan mengambil piring juga nasi dan lauk pauknya yang langsung dimasak oleh mama nya, Mama Reska
"Mmmmm yummy, masaakan mama emang paling top deh. Baunya aja udah bikin ngiler", puji Hera
Mama Reska hanya tersenyum melihat putri bungsunya itu memuji masakan yang ia buat. Memang begitu, Hera selalu menjadi penghangat di keluarga kecil ini. Hera selalu memuji juga tak pernah lupa berujar "tolong, maaf, dan terima kasih".
"Pa.. Ma.. Bang Javas mana? Kok tumben gaikut makan?", tanya Hera
"Ohh iya Mama lupa kasih tau, Abang mu lagi nyamperin temennya di Yogya, sekalian refreshing katanya", jelas Mama
"Lhoo kok bisa sama tujuannya, kan Hera juga mau ke Yogya dua hari lagi", protes Hera
"Tanya aja sama Papa mu itu, Mama ga ikut-ikut", jawab Mama Reska sambil tertawa kecil
Mendengar ucapan Mama Reska, Hera mengalihkan tatapan penuh selidiknya pada Papa Tras
"Uhukk uhukk, gini yaa Dek.. Papa memang yang nyuruh Abangmu ke Yogya maksud Papa biar nanti pas Adek di sana ada yang jagain, Papa sama Mama kuatir nanti kamu ada apa-apa", jawab Papa Tras
Hera hanya mengangguk pasrah, ia tentu mengerti kekhawatiran kedua orang tuanya.
__ADS_1