
Berbeda dengan Hera dan Venus yang memilih untuk terlelap, Adam dan Javas justru memilih untuk singgah di angkringan yang berjarak sepuluh meter dari rumah Adam
"Eh nyokap gue besok balik ke rumah, lo ikut nyusul ke rumah sakit ya", ajak Adam
"Okeeeh siap, btw nyokap sakit apa? Kok sampe harus rawat inap?", tanya Javas
"Tempo hari nyokap tuh ya masak kayak biasanya, terus kata nyokap tiba-tiba pusing banget terus pas jatoh, gue baru aja turun dari kamar yaudah langsung dibawa ke rumah sakit. Nah abis diperiksa tuh, hasil lab keluar nih.. kata dokter penyakit nyokap yang dulu kambuh lagi karena stress, terlalu banyak mikir. Serangan jantung”, jelas Adam
Javas membalas dengan menganggukkan kepalanya pertanda dia memahami maksud Adam yang masih belum siap menceritakan semuanya secara detail. Setelah dirasa cukup Adam dan Javas memilih untuk kembali ke rumah untuk istirahat karena hari juga sudah sangat larut.
Sesampainya di rumah mereka berdua sejenak duduk di teras rumah untuk melepas sepatu dan mengistirahatkan tubuh mereka, namun entah mengapa Adam terlihat sangat tidak tenang, di kepalanya seperti ada sebuah hal rumit yang sedang dipikirkan,
“Kok gue jadi kepikiran sama adeknya Javas sih? Apa iya gue jatuh cinta pada pandangan pertama?”
“Ah tapi gue gamungkin juga tuh jatuh cinta secepat ini, apalagi selama ini gue gagal move on mulu dari Reka”
Begitu monolog Adam pada dirinya sendiri, menyadari gelagat yang cukup aneh dari kawannya itu Javas pun menyenggol bahu Adam karena Javas tidak ingin kawannya itu larut dalam pikiran yang tidak – tidak.
“Kenape lu? Mikir apaan sampe muka lo ditekuk kaya gitu”, tanya Javas
“Ohh kaga.. kaga ada, cuma gue lagi bingung sama hati gue sendiri. Susah lah ngejelasinnya gimana, yang jelas hari ini banyak hal yang ga gue duga dateng gitu aja. Dibilang anugerah juga bukan, dibilang luka juga bukan”, jawab Adam jujur
“Biar gue tebak sih, jangan – jangan… lo naksir adek gue? Soalnya tadi gue peratiin lo kayak salting-salting gimana gitu waktu ketemu adek gue. Yaa secara kan lo udah lama banget kan jomblo, udah ngaku aja. Adek gue cakep kok, mirip abangnya”, sahut Javas dengan maksud mencairkan suasana
“Apaan sih lo Vas, ampun dah. Gatau deh gue sendiri juga kaga ngarti ama pikiran juga hati gue”, jawab Adam sambil menatap kosong ke arah depan.
Javas pun hanya menganggukkan kepalanya sambil memilih untuk beranjak dari teras untuk segera ke kamar, selain karena tubuhnya sudah sangat penat, ia juga mengerti kalau kawannya satu ini sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.
Yap, Adam sedang butuh ruang untuk menjernihkan seluruh kegelisahan hatinya, sendirian.
“Okelah, gue duluan ya. Buruan tidur besok kan mau jemput nyokap lo”, ucap Javas sambil menepuk bahu Adam
Mendengar penuturan kawannya itu Adam hanya menganggukkan kepala sambil menyunggingkan senyum simpul yang menunjukkan bahwa Adam sedang diliputi gelisah.
__ADS_1
•••
Keesokan harinya tampak Hera yang sudah berada di wastafel kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang semalaman lupa untuk dibersihkan karena ia masih dalam pengaruh mabuk perjalanan. Venus juga tampak menyiapkan pakaian yang akan mereka gunakan untuk rafting
"Okeeh.. udah beres. Baju renang gue udah, punya Hera udah.. baju ganti juga udah. Apa lagi ya?..", pikir Venus
Saat sedang asik memikirkan itu, fokus Venus teralihkan karena mendengar dering ponsel Hera. Dengan secepat kilat Venus beralih ke meja rias yang jadi tempat Hera meletakkan ponselnya, ia cukup terkejut karena yang menelpon adalah Bang Javas
"Haloo dek, udah siap-siap belom?", tanya Javas dari seberang
"Haloo Bang, ini gue Venus..Hera nya lagi di kamar mandi. Dia udah mau siap-siap kok Bang", jawab Venus agak terbata
"Ohh iya Venn thanks a lot ya udah bantu ingetin adek gue yang super molor itu", sahut Javas lega
"Bilangin jangan sampe telat makan, makan nasi jangan jajan doang. Nanti malem mungkin gue kesana lagi", imbuh Javas
"Ehhh…sekaliiian Venn, bilangin ke Hera, temen gue ada yang naksir nih ama Hera. Itu tuh yang semalem ke hotel bareng gue", canda Javas yang didengar oleh Adam.
Mendengar itu Adam yang semula hanya termenung di atas kasur sambil sesekali memetik gitar di dekapannya itu pun beranjak menarik Javas yang sedang berada di ambang pintu dan memukul kecil temannya itu
Percakapan Javas dan Adam masih terdengar di seberang. Menyadari itu Javas pun lekas menutup telepon, karena khawatir ada sesuatu yang tidak sengaja didengar oleh Venus dan Hera.
"Yaudah ya Venn gitu aja, titip salam buat Hera. Ingetin minum vitamin juga biar kuat nanti waktu kegiatannya. Nanti pengen di bawain apa tinggal tulis aja di chat. Bye Venn", tutup Javas
Di tempat yang berbeda, Adam masih protes pada Javas
"Yaelahh adek gue juga kaga ada, paham kali gue cuma becanda. Eh tapi tapii tapiii…kok lo jadi sewot, jangan-jangan lo beneran suka ama adek guee… OMG OMG! Akhirnya temen gue move on juga dari nenek lampirrr itu, seneng banget guee", ucap Javas sambil sedikit berteriak
“Terserah lo deh”, jawab Adam dengan malas. Adam memilih untuk tidak merespon Javas karena sejujurnya ia pun tidak tahu menahu tentang apa yang dia rasakan sejak semalam.
“Daripada lo sotoy, mending buruan siap-siap. Abis ini berangkat ke rumah sakit jemput nyokap gue”, pinta Adam pada temannya yang sangat menyebalkan itu.
•••
__ADS_1
Di tempat yang berbeda kini Hera sedang akan menaiki bus yang akan mengantar rombongan sekolahnya menuju tempat rafting. Saat sudah duduk di bus seperti formasi pada saat berangkat, Hera sedikit keheranan mencari keberadaan Arga
“Arga mana ya? Ko belum naik ke bus, tumben banget lemot biasanya paling awal”, batin Hera.
“Daripada bingung mending nanya ke Haikal aja deh, kan dia serba tau”, imbuh Hera.
Baru saja Hera akan memanggil Haikal untuk mananyakan keberadaan teman duduknya itu. Sosok yang ia cari-cari terlihat sedang berjalan ke arah tempat duduknya
“Yaampun Arga dari mana aja, tumben banget telat. Kesiangan apa gimana?”, sapa Hera dengan mengajukan pertanyaan pada Arga
“Gue tadi masih ambil ini nih”, jawab Arga sambil menunjukkan dua mangkuk kecil berisi sereal dan susu.
Arga memang sengaja mengambil sereal yang memang sudah disediakan oleh pihak hotel untuk dimakan di bus nanti. Karena tadi waktu sarapan Arga tidak melihat Hera dan Venus sarapan bersama rombongan yang lain. Setelah menyodorkan satu mangkuk sereal pada Hera. Arga langsung duduk di bangku kosong samping Hera
“Makan tuh serealnya, udah gue ambilin. Biar perut lo ga kosong”, jelas Arga pada Hera yang masih terdiam.
Mendengar ucapan Arga barusan, Hera bukannya mengangguk paham, Hera justru mengajukan pertanyaan yang cukup mengagetkan Arga
“Ga, lo kenapa sih baik banget ke gue? Kenapa lo ga benci ke gue aja?”
“Ada pertanyaan lain ga? Kenapa nanyanya gitu”
“Ya aneh aja, setelah banyak kebaikan yang lo kasih ke gue, setelah gue nolak lo, setelah gue malah milih Laksya daripada lo yang jelas-jelas baik ke gue. Kenapa… kenapa masih aja baik dan perhatian sama gue? Tau ga sih dengan lo baik kayak gini gue makin ngerasa bersalah”
“Udahlah Ra… yang lalu biar berlalu, sekarang jalanin aja yang ada. Gue juga udah lupain yang dulu-dulu”
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba terdengar instruksi dari tour guide yang menginformasikan terkait destinasi yang akan di tuju oleh rombongan. Akhirnya Hera pun memilih diam sambil menyantap sereal yang diberikan oleh Arga padanya.
"Thanks ya serealnya, enak", ucap Hera dengan sedikit canggung.
Selama di perjalanan baik Hera ataupun Arga memilih untuk larut dalam aktivitas masing-masing. Arga memilih untuk memutar playlist lagu kesukaannya dan Hera memilih untuk tidur.
Setelah satu jam perjalanan, rombongan sekolah Hera tiba juga di destinasi wisata yang dituju. Mereka akan rafting menyusuri Goa Pindul yang benar-benar indah.
__ADS_1
Terlihat ada Haikal, Arga, Hera, Venus, dan teman-teman lainnya yang memutuskan untuk bersama-sama selama kegiatan study tour di Yogyakarta. Hal inilah yang cukup melipur perasaan Hera setelah sebelumnya dia sangat kacau setelah putus dari Laksya
Hari itu berlalu dengan sangat indah dan menyenangkan. Mereka benar-benar saling menikmati pertemuan di detik-detik terakhir masa SMA. Karena sebentar lagi semuanya akan berpisah dan mengambil jalannya masing-masing.