
...Untuk Sebuah Permulaan Aku Perlu Bersabar Dengan Rasa Yang Menggebu....
...•••••...
Iri rasanya melihat deretan buku terpajang menyilaukan mata di toko-toko buku besar. Aku suka membaca novel maupun buku non fiksi yang setidaknya bisa meredakan sedikit stress dan menghilangkan rasa bosan. Aku tak pandai bergaul dengan orang-orang baru akhir-akhir ini. Hanya beberapa orang saja yang bisa aku ajak bicara panjang lebar. Buku diary aplikasi catatan dan media sosial lebih sering menemani kegalauan dalam hatiku. Aku terlalu manja untuk hidup mandiri.
Ah, terbesit sebuah angan kalau saja keberuntungan berpihak kepadaku. Ingin rasanya berbagi rasa dalam sebuah buku dan menunjukkan pada dunia bahwa kehidupanku tak seindah yang orang-orang lihat. Mereka pasti salah menganggapku gadis yang hidup dalam kenikmatan dunia semata karena memiliki Ayah seorang sultan dari Negeri Jiran
Aku masih memandangi sebuah buku bersampul biru yang kuraba penuh angan. Mungkinkah?
"Ina? Inara kan?"
Seorang muslimah dengan gamis warna gelap senada dengan jilbab syar'i menyapaku, membuyarkan anganku yang terlampau tinggi namun krisis inspirasi.
"Oh, iya saya Inara. Kamu ini?" Pikiranku masih menebak siapa sosok dibalik masker itu.
"Khansa," ucapnya sambil menarik maskernya.
Seketika mataku terbelalak melihat sosok didepanku adalah teman dekat yang pada masanya dikenal jutek, tomboy dan most wanted SMK Nusa Mandala.
"Astaga– Khansa? Beneran ini Khansa? Aku ngimpi nggak sih? Tapi gimana…"
"Kita ngobrolnya sambil duduk aja yuk, biar nyaman." Khansa memotong ucapanku seolah tau isi kepalaku dipenuhi oleh tanda tanya. Kami pun keluar dari toko buku dan pergi menuju ke cafe samping toko untuk memecahkan segudang misteri yang menghantui pikiranku. Pertemuan ini membuatku sedikit canggung, belum terbiasa bertemu dengan teman lama yang tiba-tiba insyaf.
Hanya dalam waktu tiga tahun Khansa benar-benar berubah menjadi wanita yang begitu anggun, sangat bertolak belakang dengan dirinya dahulu. Aku sendiri bahkan tak sesempurna dirinya yang mampu menutup aurat seterjaga itu. Tidak ada yang berubah dari diriku, masih menjadi anak manja yang butuh kasih sayang dan kemudahan hidup. Rasa iriku bertambah satu list lagi.
Perasaan apa ini? Jalan bersanding dengannya yang baru membuatku lebih nyaman, aku sangat bahagia melihatnya lagi seolah harapanku kembali tumbuh. Kami duduk di sisi kanan dekat jendela. Obrolan kami pun dimulai dengan mengisahkan masa sekolahku yang membosankan, selalu berlindung di belakang Khansa, meski pada akhirnya tidak jauh berbeda di persimpangan jalan. Hidupnya memang penuh dengan drama dan kepiluan. Aku tak mampu membayangkan jika aku berada di posisinya.
Khansa adalah anak semata wayang yang lahir dari keluarga berkecukupan. Namun nahas, ibunya meninggal saat usia Khansa masih 3 tahun dan tinggal bersama ayahnya yang awam tentang agama, hari-harinya penuh dengan tekanan. Khansa yang malang, masa kecilnya kurang kasih sayang dari ayahnya karena sering ditinggal bekerja berangkat pagi pulang petang hanya diasuh oleh baby sitter. Dia melalang buana, kesepian, stress, orang-orang menganggapnya hidup terlalu bebas dan suka berkelahi karena kurangnya pengawasan dan didikan dari orang tua, sedangkan keadaannya sedang butuh kasih sayang dan perhatian dari seorang yang disebut Orang Tua.
"Oh iya, Khansa– boleh nggak kalau nanti kisah kamu aku tulis biar menginspirasi banyak orang? akhir-akhir ini aku lagi suka nulis."
"Boleh, silahkan aja asalkan bermanfaat, tapi nggak benar-benar aku ceritakan semuanya ya. Ada beberapa privasi yang nggak bisa aku kasih tau."
"I know."
Aku lega mendengar jawabannya yang terdengar ringan tanpa ada keterpaksaan ataupun gelagat yang mencurigakan. Khansa pun mulai mengisahkan masa-masa sulitnya.
•••••
Saya harap kisah Khansa bisa menginspirasi banyak orang. Bukan bermaksud membuka aibnya, hanya sekedar berbagi sebuah pengalaman supaya tidak terjadi pada orang lain dan bisa lebih berhati-hati dengan kehidupan yang penuh tipu daya. Khansa mulai mengisahkan perjalan hidupnya. Berlakulah sudut pandang Khansa.
•••••
__ADS_1
Kalau kalian bertanya tentang bagaimana dan kenapa aku bisa sampai berubah sedrastis ini, tentu mudah menjawabnya. Semua ini karena kasih sayang Allah yang lama ku abaikan itu tiba-tiba datang menyentuh hatiku dan meremukkan hatiku. Benar-benar lebur hatiku. Aku mati rasa, semuanya terasa hampa, Allah memberiku rasa yang baru.
Saat itu tepat kelulusan SMA aku terlibat perdebatan keras dengan ayah dan ibu tiri tentang masa depanku. Ayah selalu menekanku untuk belajar lebih keras dari orang lain tanpa ampun, sedangkan ibu selalu memberi bumbu keegoisan agar Ayah tidak memanjakanku.
Malam itu selepas makan, Ayah terlihat melamun di sudut ruang yang sunyi. "Khansa, kamu harus segera mendaftar untuk kuliah. Cari kampus yang dekat dengan rumah saja." Tiba-tiba Ayah bersuara saat langkahku di dapur terdengar oleh Ayah.
Perlahan aku melangkah mendekati Ayah yang masih duduk mematung, tidak menatapku sama sekali. "Khansa mau kuliah di Jogja, Ayah."
"Ibu tidak akan izinkan!" Sahut Ibu tiba-tiba muncul.
"Tapi– Ayah, Khansa maunya kuliah di Jogja. Khansa udah daftar bareng Inara dan siapin semuanya."
"Khansa, kamu harus pahami. Tidak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan. Terkadang kamu perlu berkorban untuk sesuatu yang jauh lebih baik."
"Jadi, menurut kalian, pilihanku buruk dan pilihan kalian yang terbaik? Kuliah kan Khansa yang ngejalanin, bukan Ayah atau Ibu."
“Tapi kamu kuliah pakai uang siapa? kalau mau kuliah yang dekat saja dari rumah, ngapain jauh-jauh, ngabisin duit aja.” Ibu membalas kesal.
"Ayah ini bukan penjahat, Ayah hanya ingin semua yang terbaik untuk kamu. Kenapa kamu tidak pernah mengerti?"
"Memangnya selama ini Ayah mengerti dan pahami keadaan Khansa? Ayah pernah tanya maunya Khansa apa? Khansa butuh apa, Ayah pernah tanya? Nggak! Ayah nggak pernah tanya sekali pun! Ayah cuma peduli sama Istri baru Ayah dan Ian."
"Ayah berikan yang terbaik untuk kamu…"
"Khansa! Ayah belum selesai bicara!"
Aku tidak menghiraukan ucapan Ayah lagi, aku lelah menghadapi keegoisan Ibu yang membuat Ayah selalu membelanya. Aku lelah menjadi bonekanya, seperti pecundang yang terus-menerus bersembunyi di belakang kemunafikan. Aku dan Ayahku seorang muslim, tapi kami lupa diri. Begitu angkuhnya sehingga tidak ada penyesalan ketika melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
Hingga sampailah aku pada titik jenuh, bosan dengan kehidupanku saat remaja. Memang saat itu menyenangkan menjadi seorang yang disegani di sekolah, memiliki banyak penggemar. Puas rasanya telah melalui semua itu meski aku selalu menahan rasa itu. Guru-guru pun tak bisa mengeluarkanku dari sekolah meskipun sering keluar masuk ruang BK karena prestasiku yang selalu unggul. Namun, disisi lain aku lelah, benar-benar lelah mencari perhatian ke semua orang karena aku tak memiliki keluarga yang harmonis. Aku ingin merasakan kehangatan itu. Dimanapun, akan kukejar.
Konyolnya pikiranku mengarah ke pesantren. "Ah, apa Aku pantas tinggal di tempat seperti itu?" Aku memikirkannya dan entah bagaimana respon Ayah jika tahu ide konyol ini.
Pagi hari usai berolahraga, Ayah memanggilku dari halaman belakang. "Ya, Ayah. Ada apa?" tanyaku disusul dengan tundukan kepala.
"Ayah sudah pikiran, kamu, Ayah izinkan kuliah di Jogja dengan syarat lulus cumlaude. Jangan macam-macam disana!"
"Serius, Yah? Makasih, Ayah."
Hatiku sedang dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan atas kebebasanku. Tingkahku seperti orang gila yang tersenyum dan bertingkah tidak seperti biasanya. Tentu saja aku hampir gila, tak percaya dengan kejadian ini. Untuk pertama kalinya aku membuat keputusan sendiri. Sungguh aku sangat bahagia dan bersemangat melakukan pendaftaran mandiri dan tes masuk kampus. Pada akhirnya aku memilih untuk kuliah jalur mandiri, tidak jadi mengambil jalur prestasi bersama Inara. Di hari keberangkatan Ayah mengantarku sampai bandara Husein Sastranegara.
"Ah, meskipun sudah diantar Ayah bahkan nggak ngucapin selamat tinggal, atau pesan hati-hati dijalan,” gerutuku sangat sedih. Di perjalanan menuju Jogja, aku hanya mampu menatap keluar jendela pesawat. Melamunkan hal-hal yang tidak jelas, kebebasan ini sejujurnya sangat menakutkan bagiku. Sesempurna apapun rencanaku, tidak ada jaminan akan berjalan sebaik yang kuharapkan, sebab Allah lah yang berada di balik setiap langkahku.
"Bagaimana hidupku dan akan jadi apa Aku nanti?" Aku belum tahu jawabannya.
__ADS_1
•••••
Jogja. Akhirnya sampai juga. Disinilah Aku memulai kehidupanku yang baru. napas panjang kuhirup dalam-dalam, merasakan aroma kebebasan. Suara bising klakson mengiringi padatnya jalanan di persimpangan jembatan layang Janti. Dari bandara Adi Sutjipto, aku menaiki taksi menuju penginapan yang sudah aku booking sejak kemarin dengan membawa satu koper dan ransel besar. Huft, lega rasanya melepas udara Jogja yang kuhirup hari ini. Aku tak sabar melalui hari-hari di kampus. Langkahku mulai bergerak menjelajahi beberapa kos yang rencananya akan menjadi tempat tinggal baruku. Sepertinya persiapanku sudah sempurna sebelum berangkat kesini. Tak butuh waktu lama untuk menemukan tempat tinggal yang cocok. Aku bisa segera beristirahat.
"Hai, kamu penghuni baru disini ya?" Seseorang menyapaku dengan ramah.
"Oh, hai– ya, Aku baru aja sampai tadi sore. Aku Khansa."
"Freya."
"Oke, salam kenal."
"Hmm." Freya mengangkat cangkir kopinya dan pergi ke kamar dengan meninggalkan sedikit senyuman.
Freya teman pertamaku di Jogja dan menjadi teman dekatku melakukan berbagai keseruan dunia yang fana ini. Dia seorang perempuan yang feminim, tidak berhijab, memiliki tato kecil broken heart di punggungnya, juga dia sangat baik padaku. Kebetulan kami kuliah di kampus yang sama. Jadi hampir setiap hari kami berangkat ke kampus bersama menggunakan Honda Jazz miliknya. Karena pengalamanku di sini belum banyak, Freya sering mengajakku pergi berkumpul dengan teman-temannya saat malam hari atau selepas kegiatan kampus berakhir.
Freya dan teman-temannya menyambutku dengan baik, senang rasanya diperlakukan dengan hangat seperti ini. Aku nyaman berada di antara mereka, di basecamp mereka. Meskipun awalnya aku sangat takut karena wajah-wajah mereka yang terlihat sangar. Entah kenapa ada rasa takut padahal aku bisa saja menghajar mereka dengan skill yang kumiliki.
Aku menikmati masa kuliahku. Bagaimana tidak, sama seperti masa putih abu-abu, aku dikenal oleh banyak orang sebagai gadis jutek, susah ditaklukkan dan masih suka menghajar laki-laki yang memiliki pikiran kotor tentangku. Aku selalu bisa melindungi diri sendiri.
Pulang kuliah, aku menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas kelompok di warkop dekat kampus sampai malam. Freya tiba-tiba muncul mengajakku pergi.
"Kita mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Menenangkan pikiran. Aku lagi kacau, butuh hiburan dan pelampiasan, jadi malam ini kamu temenin aku sampai pagi, oke?!"
"Sampai pagi?"
"Ya." Jawabnya bernada lemah, sepertinya Freya sedang ada masalah besar. Satu bulan ini banyak hal baru yang kualami bersama Freya. Malam ini apa lagi?
“Tapi tugasku belum selesai nih … aku duluan nggak apa-apa?” Aku khawatir menyinggung teman-temanku.
“Yaudah sih nggak apa-apa lanjutin besok aja, lagian juga ini udah malam kan.” Shofi membalas dan memberiku kesempatan untuk pulang lebih awal.
Aku pun berpamitan dengan teman kelompokku dan pergi bersama Freya. “Serius nanya, kita mau kemana nih?”
“Clubbing.”
"Club– club malam?"
"Iya, kamu belum pernah main ke club malam gitu?"
“Kenapa harus club malam, di sana bahaya, Frey.” Aku menggelengkan kepala tak habis pikir Freya akan membawaku ke tempat haram.
__ADS_1
“Makanya temani aku … lagipula aku juga udah sering clubbing kok dan nggak ada apa-apa.” Tak tahu lagi kejutan apa yang ingin diperlihatkan Freya kepadaku. Kuharap malam ini tak menghancurkan masa depanku, atau Ayah akan murka.