
Untuk pertama kalinya Aku mengenal dunia malam yang dipenuhi dengan dentuman musik, desakan manusia dan aroma minuman keras. Aku mengikuti Freya berjalan menuju meja bar, memperhatikannya memesan dan meminum alkohol dengan rakusnya. Bicaranya mulai melantur hingga mabuk berat di depan bar, tidak tahu lagi aku harus berbuat apa. Beberapa kali Freya memaksaku minum, tapi aku menolak.
"Bodoh! Aku tahu kamu juga tertekan, kamu menderita, kamu melarikan diri dari rumah! haha, kita itu sama. Kita cuma jadi alat buat mereka para bedebah. Mereka manfaatin kita, haha– dan kita menuruti kemauan mereka. Aku harap mereka semua lenyap dari muka bumi ini!" Freya mengumpat sambil mabuk.
"Freya, kita pulang aja ya."
"Ssst, kamu bukan anak manja. Rumahmu sekarang disini, oke!"
Aku rasa Freya sudah sangat sering datang ke tempat ini. Melihat keadaannya seperti itu, gusar rasanya. Tiba-tiba lamunan panjangku tercipta dan terngiang ucapan Freya. Aku rasa ucapannya benar, selama ini aku hanya dimanfaatkan oleh Ayah dan Ibu yang selalu menekanku. Bayangan suram tentang keegoisan Ibu menghampiri sel-sel otakku, menjalar semakin dalam. Perlakukan kasar Ayah dan pertengkaran setiap hari dengan Ibu, kepalaku ingin meledak, dadaku sesak. Tanpa sadar tanganku meraih segelas sampanye yang sudah disiapkan oleh barista dan langsung meminumnya dengan cepat.
"Slowly, girl. kamu bisa tersedak." Seorang pria muncul secara misterius. Sekejap ku menatapnya, lalu kembali memperhatikan gelas di tanganku yang sudah kosong. Pada akhirnya aku meminumnya juga.
"Hai, aku Ezra…" Lelaki itu mengulurkan tangannya dan aku mengabaikannya. "Oke aku nggak diterima disini, aku akan pergi."
"Ya, enyahlah dari sini!" ucap Freya mabuk.
Baru minum satu gelas, kepalaku sudah mulai terasa pusing, mungkin karena baru pertama kali. Kurasa tidak akan bertahan lama aku disini. Aku membawa paksa Freya untuk pulang dengan sisa tenaga yang kumiliki.
"Argh, kamu berat banget sih," keluhku memapah Freya yang sudah hampir pingsan.
"Butuh bantuan?" Seorang lelaki berjaket hitam menawarkan bantuan.
"Nggak!"
"Freya adalah temanku, biasanya dia pulang bersamaku setelah mabuk. Biarkan dia pulang bersamaku. Atau kamu juga mau ikut?"
Sejenak aku berpikir, "Sepertinya bukan ide yang bagus." Aku menolak permintaan lelaki itu. Namun, lelaki itu menarik paksa Freya dariku.
"Aku peringatkan untuk jangan ganggu temanku!" Aku mencoba menggertaknya.
"Memangnya kenapa? Dia memang sudah biasa pulang denganku!" Lelaki itu mendorongku dan membawa pergi Freya.
Aku tidak akan membiarkan temanku dipermainkan oleh lelaki murahan sepertinya. Satu serangan snap kick kuarahkan padanya. Sesaat ketika lelaki itu lengah, kuraih Freya darinya dan membawanya pergi selagi bisa.
"Butuh tumpangan?" Seseorang di seberang jalan menawarkan tumpangan. Saat kulihat, ternyata itu Ezra.
"Terserah deh yang penting sampai kos." Kami masuk ke dalam mobil Ezra.
Ezra mengemudikan mobilnya dengan sangat laju. Setelah peristiwa yang kualami tadi dan tiba-tiba Ezra menawarkan bantuan seperti ini, aku kembali panik dan berpikiran negatif tentang Ezra.
"Tenang saja, aku tidak seperti mereka yang sekali memakai perempuan lalu dibuang. Aku benar-benar hanya ingin menolong, tidak ada niat lain. Lagi pula aku lihat kamu punya tendangan yang cukup kuat, aku tidak akan macam-macam dengan itu."
__ADS_1
"Huh…" Lega rasanya.
Ezra membantuku menggendong Freya ke teras kos. Bagaimanapun aku berterima kasih padanya.
"Em, Aku tinggal dekat sini juga. Boleh minta line atau Instagram?" To the point sekali dia.
Aku tak ingin berdebat panjang dengannya di tengah malam seperti ini. Aku langsung memberikan apa yang dia minta dan segera masuk ke kamar Freya, menemaninya sampai pagi. Kepalaku juga sudah terasa berat dan akhirnya tertidur disamping Freya.
•••••
Malam yang panjang. Aku melewatinya mengikuti dentuman melodi. Pukul 5 pagi aku terbangun dan Freya masih tertidur disamping membelakangiku. Terlihat tato di punggungnya yang membuatku penasaran, sebab setiap orang menato dirinya dengan makna tersendiri.
"Kenapa dia tato broken heart di punggung? Apa dia baru saja putus dari pacarnya?" batinku menyibak rambutnya untuk melihat tato itu lebih jelas, tapi kemudian Freya terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi. Dia muntah sangat banyak. Kubantu mengelus tengkuknya
"Udah baikan?" tanyaku memastikan keadaannya.
"Ya." Freya memegangi kepalanya
"Apa masih pusing? Aku ambilin minum, oke." Aku pergi ke dapur umum untuk mengambil air hangat. "Minumlah."
Keadaannya berangsur membaik. Senyumnya mulai terukir di wajahnya. Aku pun berpamitan untuk kembali ke kamarku.
"Apa nggak ada yang mau kamu tanyakan ke aku?" Tanyanya menghentikan langkahku yang sudah memegang gagang pintu.
"Bukannya kamu penasaran sama tatoku?"
Ya, memang Aku sangat penasaran dengan tato kecil itu. Aku kembali duduk di sampingnya yang kembali berselimut di kasur.
"Maaf ya, udah ngerepotin kamu malam ini. Aku beneran lagi frustasi. Aku nggak bisa lupain cowok brengsek itu, padahal udah hampir setahun putus dan udah coba mulai membuka diri buat orang lain. Aku bodoh, jatuh cinta sama Devino dan memberikan segalanya yang aku punya, termasuk harga diriku. 4 tahun kita pacaran dari SMA dan sekarang dia ninggalin aku demi cewek lain yang lebih seksi dan tajir. Nggak habis pikir tau nggak. Aku udah nggak punya apa-apa lagi sekarang, semuanya udah dirampas sama Devino bajingan itu. Aku ngerasa terbuang. Aku bikin tato itu kayak perasaanku yang hancur. Jarum tatto itu tak seberapa sakitnya, aku tato di punggung biar aku nggak bisa liat kehancuranku dan sekarang aku menyesal membuat tato itu. Seolah aku mengenang masa-masa itu ketika melihatnya dari cermin."
Freya bercerita panjang lebar. Matanya sembab memerah, pipinya basah dengan air mata. Aku memeluknya sebagai seorang sahabat. Dunia kami seolah runtuh saat ini.
"Tenanglah, disini ada aku dan kamu akan baik-baik aja, oke."
"Sa, setelah putus sama dia, aku melampiaskan amarah di meja bar, sampai mabuk dan nggak sadarkan diri. Saat aku bangun ada laki-laki lain yang tidur di sampingku. Hancur banget hati aku, Sa. Tapi aku nggak punya pilihan lain selain menikmati semua itu, aku butuh seseorang yang peduli dan perhatian sama aku, aku rindu sosok Devino yang selalu nurutin kemauan aku. Akhirnya aku lampiaskan kangenku sama Devino ke sembarang cowok. Aku udah kayak pelacur, Sa. Aku kangen Devino…" tambahnya sambil mengusap air mata dengan selimut.
"Hmm, Frey… jangan siksa diri kamu dengan terus memenjarakan dia di hati kamu. Lepaskan saja dia, kamu berhak untuk bahagia. Aku yakin di luar sana ada lelaki yang tulus cinta sama kamu."
"Dengan keadaanku sekarang yang kayak gini?"
"Positif thinking dulu aja, entah gimana caranya biar Tuhan yang atur, yang penting berusaha dulu, kan."
__ADS_1
"Thank you…" Freya memelukku kemudian.
•••••
Semenjak malam itu aku menjadi lebih sering keluar malam. Berkumpul bersama teman-teman baruku dan bersenang-senang di club. Nyaman rasanya berada diantara orang yang yang menyayangiku, tapi arak antara aku dan Allah jadi semakin jauh.
"Hai, Khansa, tumben malam ini nggak sama Freya?" tanya Ezra menghampiriku dan duduk tepat di sampingku.
"Iya, Aku lagi pengen sendiri aja."
"Kalian nggak lagi marahan kan?"
"Ya enggak lah … kita juga punya jalan masing-masing yang harus ditempuh."
"Em, berarti masalah itu ada dalam dirimu sendiri?"
"Ya." Aku menghela napas yang sesak. Sebenarnya aku sedang mengkhawatirkan Freya karena seharian ini tidak bisa dihubungi. Aku menunggunya disini berpikir dia akan datang jika ada masalah. Mengingat kejadian beberapa hari lalu, Freya hampir dibawa puang lelaki asing, dan beberapa kali mendapati Freya dimanfaatkan hanya untuk pemuas nafsu. Aku benar-benar ingin menghajar siapapun yang mengganggu temanku.
"Mau?" Ezra menyodorkan sebatang rokok kepadaku.
"Aku belum pernah. Aku nggak bisa."
"Oke, good girl."
Aku duduk lama bersama Ezra membicarakan hal-hal yang absurd. Isi kepalaku tak menginginkan hal yang berbeda dan pikiran-pikiran buruk itu, aku tak mau memikirkannya, tapi entah kenapa bersama Ezra seolah dia bisa memposisikan dirinya dengan benar di hadapanku. Aku nyaman berada disampingnya, di tempat ini. Namun, harapan kecil untuk berubah itu masih ada dan terus mendesakku seolah berkata, "Tempatmu bukan disini!"
“Aku harap kamu berbeda dengan temanmu, Freya.”
“Berbeda tentang apa?”
“Tentang apa yang dilakukannya nyaris setiap hari.”
“Memangnya Freya melakukan sesuatu yang buruk?”
“Kamu nggak tau?” Ezra menanyakan dengan serius dan aku hanya menggelengkan kepala.
“Dia sering berganti-ganti pasangan dan orang-orang disini tau itu, jadi jangan heran kalau ada laki-laki yang mengaku pacarnya Freya atau semacamnya.”
Aku mulai frustasi. Di satu sisi ingin sekali rasanya menjadi wanita baik-baik dengan segala kehangatan islam, tapi di sisi lain justru merekalah yang menerimaku apa adanya sekarang. Sejak bertemu dengan Freya, seolah aku memiliki keluarga baru dan aku ingin menjaganya.
"Aku harus bagaimana?" Dadaku sesak meratapi takdIr yang terhenti di persimpangan ini entah sampai kapan.
__ADS_1
•••••