Selalu Ada Ruang Untuk Pulang

Selalu Ada Ruang Untuk Pulang
HANCUR


__ADS_3

Dua pasang mata menatapku penuh misteri, mereka tidak berkata apapun, saling menatap satu sama lain, tidak nyaman sekali berada dalam keadaan seperti ini. aku ingin lari dari keadaan ini, tapi tubuhku masih sangat lemah, aku tak kuasa melakukannya. Napas panjang kutarik perlahan memenuhi paru-paru dan menghembuskannya dengan penuh kesabaran, dadaku kembali sesak mengingat saat terakhir aku meninggalkan Ezra dan berakhir di Rumah Sakit ini, terbaring tak berdaya tanpa tahu apa yang terjadi setelah malam itu. Kedua kelopak mataku mulai basah, mencoba menutupi lara yang kurasakan supaya mereka berdua tak melihat betapa rapuhnya diriku saat ini. Berpura-pura tidak peduli dengan kedatangan Ezra, kuraih handphone-ku dan membuka pesan yang sudah menumpuk beberapa hari ini. Ada pesan dari ayah, baru tadi malam terkirim.


"Khansa, kamu tidak perlu pulang, jangan bawa aibmu ke rumah, kamu bukan anak kami lagi!"


Seketika duniaku hancur untuk kesekian kalinya, hatiku dipatahkan berkali-kali bahkan oleh orang-orang terdekatku. Aku tak sanggup menghadapi ini semua, handphone-ku sudah tercecer di lantai karena terlepas dari genggaman, tubuhku gemetar, aku benar-benar sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. “Masihkah Allah bersamaku?”


“Ya Allah, kenapa tidak Kau cabut saja nyawaku jika hidup pun tidak ada yang menginginkanku,” ratapku memelas.


“Khansa, kamu masih punya aku, ingat?” Freya berusaha menenangkanku.


Melihatku drop setelah membuka handphone, Ezra segera mengambilnya dari lantai dan melihat ke layar handphone-ku. Ezra semakin tak bisa berkata-kata, tatapannya semakin dalam penuh belas kasihan. 


"Aku benci tatapan itu."


Kupalingkan wajahku dari mereka yang mencoba memberikan kekuatan agar aku kokoh dan siap menerima takdir. "Tinggalkan aku sendiri!" 


Dengan berat hati Freya melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkanku, tapi tidak dengan Ezra yang masih diam mematung di hadapanku. Aku tak dapat memahaminya,  aku bukan kekasihnya atau keluarganya, tapi ia begitu memperhatikanku. Hubungan yang rumit ini, aku tidak menginginkannya.


"Khansa, maafin aku– malam itu aku terlambat nolongin kamu." Dengan bibir bergetar, Ezra melontarkan kata maaf seolah semua ini adalah dosanya.


"Aku udah bilang, tinggalin aku sendirian!"


"Oke, nanti aku boleh ketemu kamu lagi kan?"


"Please, pergi, Za!" Aku benar-benar membuat Ezra pergi dan bertemu Freya di luar.


"Kamu ngapain masih di sini?"


"Yang pasti nggak nyariin kamu."


"Ish." 


"Gue khawatir aja sama Khansa, dia udah nggak punya siapa-siapa."


"Ada aku, aku kan jelas sahabatnya, lah kamu siapa?" 


“Niatku kan baik di sini, jadi mending kita kerjasama aja buat bantuin Khansa. Aku udah laporin kejadiannya ke polisi, hasil otopsi juga udah keluar, kita bisa tau siapa pelakunya.”


Sesuatu yang besar terjadi padaku dan mereka menyembunyikannya dariku. aku, mengalami depresi berat setelah tahu kejadiannya dari seorang perawat, meronta seperti orang gila yang kehilangan kendali diri.


Mereka pikir aku tidak bisa mendengar obrolan mereka, menyembunyikan sebuah rahasia besar dariku dan berpikir aku tidak tahu apa yang terjadi selama hampir satu pekan tak sadarkan diri. “Mampukah aku menjalani hari-hari setelah ini dengan kepercayaan yang telah lenyap?” Aku tak mampu mengucap sepatah kata pun, membisu, semuanya lenyap dari hidupku.


•••••


Keesokan harinya aku dipindahkan ke ruang rehabilitasi karena mengalami gangguan stress pasca trauma (PTSD), diantar Ezra dan yang pasti Freya menemaniku. Aku memilih untuk cuti kuliah setelah kejadian malam itu. Baik teman kampus ataupun dosen pasti akan memberikan tatapan mata yang sinis jika setelah berhari-hari tidak muncul di kampus kemudian hadir di kelas dengan keadaanku yang semakin buruk, mereka pasti akan berpikir negatif tentangku.


Selama 5 bulan aku menjalani pengobatan, psikoterapi dan sudah diperbolehkan pulang. Sesekali masih menemui Dokter di luar ruangan agar lebih relax.


“Freya, kamu ada kenalan nggak? aku butuh kerjaan buat bayar kos,” tanyaku pada Freya yang sedang sibuk di depan laptop.


“Hm, bentar aku tanya ke teman-teman, sini lah masuk dulu jangan berdiri di pintu,” titah Freya memberikan isyarat tangan. Aku pun masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhku di atas kasurnya. Freya kemudian mencari info di grup-grup yang dimilikinya.


“Maaf ya, jadi ngerepotin kamu lagi.”

__ADS_1


“Santai aja kali, Sa.” … “Ada beberapa owongan sih cuma kebanyakan full time. Cuma waitres sama bartender yang bisa freelance, gimana?”


“Nggak ada yang lain? beresiko banget nggak sih kalau kerja di bar?”


“Setiap pekerjaan ada resikonya, Sa.”


“Iya sih…”


“Lagipula kamu bisa jaga diri, kamu pernah  hajar Leon waktu aku mabuk berat.”


Aku berpikir sejenak, “Oh itu, tapi dalam kondisi diluar kendali tetap saja kejadian buruk bisa menimpaku, kan.”


Pernyataanku membuat Freya terdiam. Aku tak punya pilihan lain, sesegera mungkin aku harus bekerja untuk bisa tetap bertahan di tempat ini. Akhirnya aku bekerja sebagai bartender di club saat malam hari dan menenangkan diri di siang hari, bukan sekedar merebahkan diri di kamar untuk tidur. Hampir setiap sore sebelum berangkat kerja aku pergi ke Green Village Gedangsari seorang diri, duduk di gazebo sambil menikmati keindahan alam dari ketinggian, memandangi sunset yang tak pernah mengeluh bahwa dirinya harus pergi sesaat, ia tak pernah benar-benar pergi dan orang-orang yang mencintainya tak pernah benar-benar melupakannya. Menyaksikan semua keindahan ini membuatku merenung, betapa diriku terasa sangat kecil di dunia ini, aku bukan siapa-siapa bagi manusia di bumi ini maupun bagi Tuhanku. 


Udara disini sangat sejuk, aku harus memasok udara segar ini ke dalam paru-paruku sebelum masuk ke club untuk bekerja. “Kamu benar-benar sudah siap untuk bekerja?” tanya seorang wanita muda yang mendedikasikan dirinya untuk mendampingiku hingga sembuh dari trauma.


“Aku sudah mempersiapkan diri selama dua pekan ini. Jadi, seharusnya aku sudah siap, kan?” jawabku meyakinkan.


“Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu, oke?”


“Baik, Dok.” Setelah berpamitan, aku pergi menuju club untuk bekerja.


Lihatlah, aku seperti berlian yang telah hancur berkeping-keping. Sudah kucoba menata kembali kepingan-kepingan itu, namun sudah tak seindah dulu, masih banyak serpihan halus yang berserakan, tak mampu aku kumpulkan apalagi kubenahi. Selama proses penyembuhan Dokter dan tim medis memakaikan pakaian yang lebih tertutup dengan setelan lengan panjang, sehingga membuatku terbiasa. Tidak seperti dulu yang sering mengenakan hotpants dan pakaian terbuka karena cuaca sangat panas. Pakaian dengan lengan panjang membuatku lebih nyaman, setidaknya pandangan lelaki tidak terlalu fokus pada tubuhku, tapi aku tidak memiliki banyak, tidak ada cukup uang untuk membelinya.


Mulai sekarang aku harus hidup seorang diri, menghidupi diriku sendiri, dan membuat diriku berguna setidaknya untuk diriku sendiri. Mental dan fisik ku harus sekuat itu. 


“Apakah Aku mampu menjalani semua ini?” Sebuah pertanyaan muncul dalam benakku dan tak pernah aku temukan jawabannya. Kuharap suatu saat nanti aku bisa mendapatkan jawaban itu sebelum pada akhirnya aku harus kembali pada Sang Pencipta. Serapuh itu diriku yang mencoba menjadi gadis lugu yang kuat.


•••••


“Aku sedang bekerja, pergilah! kamu menggangguku, lihat dia akan memesan minuman,” ujarku sambil menunjukkan seorang lelaki yang baru saja datang.


Dengan wajah sarkas Ezra memperhatikan lelaki yang aku maksud, “Dari sekian banyak lowongan kerja, kenapa kamu memilih tempat seperti ini?” tanya Ezra dengan wajah kesal.


“Aku mau kerja dimana itu bukan urusanmu, jadi jangan ganggu aku.”


Mendengar jawabanku yang menohok, Ezra merogoh handphone di saku celananya dan menelpon seseorang. “Kenapa Khansa bisa sampai kerja di bar?” … “Kenapa nggak kasih tau aku?” … “Walaupun begitu kan tetep aja nggak aman kerja di bar, kamu tau sendiri banyak cowok brengsek disini.” … “Yaudah, oke.”


“Aku juga mau pesan, buatkan aku mojito.” 


“Kamu ini seperti parasit saja, tunggulah.” 


Aku menyelesaikan pekerjaanku setelah membuat mojito pesanan Ezra. Sudah dini hari, aku harus segera mengemasi barang-barangku dan pulang sebelum orang-orang disini mulai tidak waras karena mabuk.


“Khansa, aku antar kamu pulang.” Ezra sudah menungguku dan membukakan pintu untukku.


Aku sedikit mengelak, “Untuk apa kamu sampai seperti ini? bukankah waktu itu aku sudah bilang untuk pergi?.”


“Ah, Khansa kamu masih mengungkit masalah itu, kamu salah paham. Ayo masuk dulu aku akan jelasin semuanya,” bujuk Ezra menarik tangan kananku untuk masuk ke mobilnya, tapi berhasil kutangkis.


“BIcaralah sekarang, di sini, aku akan dengarkan.”


“Tidak di sini, Khansa. Kita bicara di mobil.”

__ADS_1


“Bagaimana jika aku berakhir di Rumah Sakit lagi?”


“Astaga, itu nggak akan terjadi. Kamu bisa langsung hajar aku kalau macam-macam.”


Setelah memikirkannya, aku bersedia diantar pulang olehnya, tapi aku harus memeriksa mobilnya, memastikan benar-benar aman. Setelah kupastikan aman, barulah kami pergi. Dalam perjalanan pulang Ezra menjelaskan semuanya, bahwa kejadian di apartemen itu hanya salah paham. Lelaki yang ada di apartemennya itu adalah kakaknya yang baru saja pulang dari perjalanan bisnis di Australia, dia hanya singgah sebentar dan tidak tahu kalau ada aku di apartemennya. 


“Kenapa kamu nggak bilang kalau ada aku, atau kamu bilang kalau ada kakak kamu, apalagi kakak kamu itu mesum, jahat sekali sengaja membuat jantungku hampir lepas.” Aku tersulut emosi.


“Oke, aku minta maaf.”


“Kamu benar-benar sengaja melakukannya.”


“No, Khansa … aku juga nggak tahu kalau kak Nathan tiba-tiba udah di Apartemen.”


“Tolong berhenti sebentar!”


“Kamu mau ngapain?” tanya Ezra menghentikan laju mobilnya.


“Keluar.”


Ezra masih menahanku.


“Buka pintunya, atau tinjuku melayang.”


Akhirnya, Ezra membukakan pintu mobilnya. Aku keluar dari mobil dan pergi menuju indomaret point, tak peduli jika dia mengejarku. Membeli sebotol air mineral untuk meminum pil dengan bersembunyi dan segelas kopi panas untuk mengelabui Ezra, berpura-pura meminumnya di kursi point cafe. Sejenak Ezra hanya melihatku dari luar, lalu datang menghampiriku yang sedang santai menikmati seduhan kopi di malam yang sama dinginnya dengan hari dimana aku tak berdaya menghadapi hidupku, rasanya hampir gila, sejujurnya aku tak sekuat itu.


“Aku hampir gila Za, tujuanku kesini ingin memperbaiki keadaanku, tobat, juga ingin berkunjung ke rumah Eyang. Semenak Ibu meninggal, Ayah tidak pernah mengajakku pergi menemui Eyang di Jogja, tapi justru sekarang aku rusak serusak-rusaknya, menjadi sampah bagi keluargaku sendiri dan berakhir seperti ini, menampakkan wajahku saja aku tak punya keberanian.”


“Kamu ngomong apa sih, Sa. Kamu masih sama indahnya seperti dulu, tidak ada yang berbeda.”


“Kamu juga, sama kayak Freya, sok-sokan peduli sama perempuan sampah kayak aku buat apa?”


“Khansa– kamu nggak mabuk kan? bicaramu ngelantur, kita pulang aja, ayo aku antar.”


“Aku nggak mabuk, aku nggak punya rumah, aku akan disini sampai pagi.”


“Khansa, jangan seperti ini, kumohon.”


“Untuk apa memohon, kalau pada akhirnya semuanya sia-sia. Lebih baik kamu pergi, tinggalin aku sendiri.”


“Kamu tahu kan kalau aku keras kepala, jadi aku akan tetap disini.”


“Kalau begitu aku yang akan pergi.” Kutinggalkan Ezra begitu saja.


Aku berjalan dengan segelas kopi di tanganku, sedangkan Ezra terus saja membuntutiku di belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kuhabiskan seduhan kopi itu dan ku buang gelasnya di tempat sampah berwarna kuning. Langkahku berlanjut hingga di penghujung jalan. Pikiran kotorku kembali merasuki diri, aku putus asa, ingin mengakhiri hidupku saja. Sungguh aku sangat lelah berpura-pura menjadi kuat, kewarasanku nyaris hilang.


Ezra menarik tanganku dengan kuat hingga tenggelam dalam peluknya, lagi.


“Kamu tidak sendiri, Khansa,” ucapnya menenangkanku kemudian membawaku ke mobil sebelum aku benar-benar kehilangan kendali.


“Aku nggak sanggup, aku mau mengakhiri penderitaan ini, kenapa kamu mencegahku?” ucapku semakin melantur, membuat Ezra semakin khawatir. Ezra mendengarkan ocehanku sambil melajukan mobilnya.


“Aku disini, Sa. Aku akan bantu kamu, tapi tolong bertahanlah.” 

__ADS_1


“Za, aku hampir gila. Kalian penuh dengan rahasia yang sebenarnya aku sudah tahu. Tentang kejadian malam itu dan apa saja yang kalian bicarakan di rumah sakit, aku mendengarnya, bahkan ayahku sendiri membuangku karena menganggapku sampah, hidup seorang diri. Kalau kamu di posisi aku sekarang apa kamu masih bisa hidup dengan tenang?” Mendengar ucapanku yang diluar dugaan nya, Ezra menghentikan laju mobilnya untuk kesekian kalinya.


Ingatanku kembali pada peristiwa dimana aku tiba-tiba tak sadarkan diri dan berakhir di pembaringan Rumah Sakit, berita tentangku sudah berseliweran di media, ada seorang mahasiswi yang telah direnggut kesuciannya oleh tiga pria tak bertanggung jawab. Aku benar-benar tak berdaya, tidak menyadari peristiwa tragis itu, siapa pelakunya aku tak mau tahu. Jijik rasanya membayangkan betapa kotornya aku saat ini. Tak mampu lagi ku menahan sesak dalam dadaku, tangisku pecah dan Ezra ikut kesal menghentakkan tangannya ke stir mobil.


__ADS_2