
Kedekatanku dengan Freya mulai tersebar, orang-orang membicarakanku. Freya dicurigai sebagai Ayam Kampus karena sering kedapatan mampir di tempat karaoke dan club malam, berganti pasangan.
“Sa, mending kamu jauhin si Freya deh, daripada nanti kamu ikutan kena dampaknya,” bisik Shofi sebelum kelas dimulai.
Kenapa orang seperti Freya harus dijauhi? jika mereka peduli seharusnya mereka bersatu untuk merangkul Freya, menolongnya supaya tidak terjerumus terlalu dalam. Dengan mereka yang katanya orang baik itu menjauhi Freya, justru akan membuat keadaannya semakin buruk dan orang-orang yang memanfaatkan Freya semakin leluasa.
Benar saja, gosip itu membuatku mulai tertekan, kenapa aku menjadi lemah? sore hari di kampus aku seperti orang kebingungan dan canggung bertemu orang-orang di kampus. Orang-orang mulai mengorek masa laluku dan seperti apa keadaanku sekarang. Seorang mahasiswi yang rajin keluar malam ke ruang penuh gemerlap lampu disko. Nyaris semua teman-teman kelasku mengetahuinya, hanya saja mereka tak banyak menyinggung di depanku. Aku berusaha untuk tidak terpengaruh, selama yang kulakukan tidak merugikan mereka kenapa aku harus merasa bersalah, bisa saja aku menahan diri untuk tidak menghajar mereka, tapi sulit sekai mengontrol perasaanku.
Ada apa dengan diriku? Selemah inikah diriku yang sebenarnya?
Tak seperti biasanya yang selalu berjalan penuh percaya diri, mendongakkan wajah bagaikan bintang. Kini ada perasaan aneh yang menyelimutiku, aku merasa asing di antara kerumunan orang. Aku ingin mencoba membuka diri dengan orang lain yang seakidah denganku. Pikirku, mereka pasti bisa menerimaku karena aku pernah mendengar bahwa islam adalah agama kedamaian, sesama umat muslim bagaikan satu tubuh yang akan saling berempati dan membantu. Karenanya hari ini aku berusaha sekuat mentalku, memberanikan diri untuk bergaul dengan mereka para muslimah yang berjilbab. Aku merasa gugup, merapikan pakaianku di depan cermin kamar mandi, mengatur napas dan mempersiapkan mental. Saat kurasa seluruh keberanianku sudah terkumpul, aku pergi menuju ke kelas yang sebentar lagi akan dimulai, tapi langkahku tiba-tiba terhenti mendengar percakapan seseorang.
"Ya iyalah, cewek nggak bener gitu pantesnya gabung sama mereka yang selevel." Seorang mahasiswi berhijab biru, mengenakan celana jeans dan outer warna abu-abu sedang bergosip bersama kedua temannya, mereka membicarakanku.
"Emangnya nggak takut apa ya keluar malem-malem gitu?" tanya yang lain.
"Yaelah, dia mah udah biasa clubbing, digandeng om om juga nggak heran dong, udah biasa kali."
“Kalian nggak tahu apa-apa, jangan asa bicara!” bentakku kesal.
Ucapan mereka ternyata lebih tajam dari yang kuduga. Mereka mengatakan hal yang menyakitkan saat aku tidak ada. Dadaku menjadi nyeri dan sesak, benar-benar menyakitkan. Entah mengapa bisa sesakit ini. Lidah mereka yang berucap, dadaku yang sesak dan mataku yang menjerit menumpahkan bening basah di pipiku. Akhirnya aku pergi meninggalkan perkuliahan dan pulang ke kost. Siapa sangka disana ada Freya yang menyambutku dengan baik. Sesak dalam dadaku menjadi sedikit berkurang. Walaupun di kos juga masih saja terdengar bisik-bisik tak mengenakan hati.
"Ada apa?" tanyanya memberiku segelas air putih.
"Salah nggak kalau aku pengen berubah?"
"For what?"
"Aku capek Frey, sama kaya kamu. Aku juga punya masalah sendiri. Aku cuma pengen berubah lebih baik lagi, pengen ngerasain islam yang sesungguhnya."
"Brrrtt, Uhuk, tunggu! Kamu serius? sebenarnya ada apa sih, coba deh cerita!"
__ADS_1
"Ah, Aku nggak tau harus mulai dari mana, tapi intinya gue butuh hal yang berbeda aja."
"Oke, nggak masalah kalau kamu belum mau cerita sama aku. Nanti kalau ada apa-apa telpon aku, ya. Kamu pasti bisa atasi masalahmu," pesan Freya kemudian meninggalkanku sendirian di ruang tamu.
“Tunggu!” cegahku menghentikan langkah Freya.
“Kamu udah percaya sama aku, jadi aku juga percaya sama kamu … tapi kamu jangan ketawain aku, ya. Sebenarnya, aku sengaja menjauh dari Ayah dan Ibu tiriku, memilih kuliah di Jogja karena pengen tobat Frey. Aku capek terus-menerus ngemis perhatian dari orang lain dengan menjadi bocah badung. Dulu, di sekolah nggak ada yang bisa kalahkan aku, musuh aku banyak, apalagi setelah banyak yang tahu aku seorang taekwondoin. Huh, aku capek, pengen jadi orang biasa aja yang kalem gitu, pengen tobat serius.”
“Wow, it’s amazing. Aku aja belum kepikiran sampai ke situ, lakukan apa yang kamu inginkan dan kalau memang itu tujuan kamu ke sini jangan ditunda,” ucap Freya meyakinkanku. Sejenak aku menatapnya.
“Aku support kamu dan akan tetap seperti itu bagaimanapun keadaan kamu. Trust me!”
Mendengar penuturannya membuatku sedikit lega. “Thanks, Freya.” Kupeluk dirinya kemudian.
“No problem, kamu juga banyak bantu aku hajar cowok-cowok di club, haha.”
Sesak dalam dadaku sedikit terobati, tapi hidupku tidak selamanya berada di sisinya. Dunia ini terlalu luas untuk kami berdua saja. Aku harus memikirkan bagaimana menjalani hidup diantara ribuan tempat dan jutaan orang, mustahil untuk terus-menerus mengharapkan support dari satu teman saja. Terlebih lagi teman yang satu ini pun memiliki masalah yang tak kalah rumit. Entah harus bagaimana lagi aku melaluinya, seolah-olah aku kehilangan diriku yang dulu sangat percaya diri di depan semua orang. Rasanya ingin mati saja. Aku beranjak dari tempat duduk, berjalan menuju ke cermin besar di ujung lorong, memandangi diriku yang sedang kacau, kusisir rambutku dengan kasar karena kesal, hanya bisa mengasihani diri sendiri. Sambil memegang kepalaku dengan kedua tangan, tiba-tiba aku teringat Ezra.
“Hai, lagi ngapain?” tanyaku basa-basi.
“Istirahat di kantor, ada apa?”
“Oh, nggak apa-apa. Sorry ya kalau ganggu.”
“No, something happened with you?”
Aku tak menanggapi pesannya lagi, khawatir mengganggu waktu istirahatnya. Entah kenapa di tengah kecemasan atas diriku sendiri dia bisa menyelinap ke dalam pikiranku. Namun, kemudian Ezra menelponku.
"Khansa, kamu dimana?” tanyanya bernada cemas.
“Em, aku di kos.”
__ADS_1
“Ya udah, kita ketemuan aja ya," ajaknya dengan nada lembut. Dari awal Ezra selalu seperti itu, baik dan lembut. Mungkinkah jika aku menaruh perasaan padanya? Aku tak tahu, semuanya aku tak tahu, pikiranku sedang kacau. Kembali kuperhatikan diriku di dalam cermin dan menyandarkan tangan kananku ke dinding, tampangku seperti orang linglung yang tak tahu arah dan tujuan, hanya bisa meratapinya. Kedua mataku memerah seperti tertiup angin panas dan menguap membasahi kelopak mataku.
"Khansa!" teriak Ezra dari mulut pintu apartemen. Aku buru-buru menyeka air mataku. Berharap lelaki berhidung mancung itu tak menyadari keadaanku yang sedang kacau. Mengapa pula datangnya begitu cepat.
"Eh, iya. Ezra kamu udah datang– aku siap-siap dulu ya, bentar," kataku segera masuk ke kamar dan berdandan sedikit feminim.
Kutarik napas panjang di depan pintu kamar dan membukanya seolah tidak terjadi apa-apa hari ini. Ezra menatapku beberapa saat seperti melihat sebuah fenomena langka. Sebenarnya aku pun tidak terbiasa berdandan feminim, memakai rok. Sebagai taekwondoin aku lebih nyaman memakai celana fleksibel atau hotpants.
"Jadi berangkat nggak?" tanyaku mencoba menyadarkannya. Aku khawatir matanya membelalak selamanya.
"Oh, iya– jadi, Khansa– kamu hari ini sedikit berbeda," ucapnya terbata-bata.
"Tingkah kamu hari ini juga aneh. Udah yuk jalan!"
“Cie, mau ngedate ya … oi Za, awas jangan macam-macam.” Freya menggoda kami lalu mengancam Ezra dengan menunjukkan kepalan tangannya.
“Aman,” balas Ezra sambil memberi isyarat tangan.
Kami pun pergi meninggalkan kos. Hari ini aku hanya ingin menenangkan diri, kemanapun Ezra membawaku pergi aku tak peduli. Aku percaya padanya, kalaupun dia bertindak berlebihan aku bisa langsung mengajarnya seperti yang kulakukan pada yang lain. Selama diperjalanan kami tidak banyak mengobrol, justru Ezra lebih sering menengok ke kiri untuk mencuri kesempatan supaya bisa melihatku. Aku tau itu dan aku membiarkannya menatapku sesuka hati karena pikiranku pun tak bisa lepas darinya.
"Kenapa Aku jadi mikirin dia terus sih? Kenapa jadi gugup begini?" gumamku dalam hati.
"Sudah sampai," kata Ezra buru-buru turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
Dia sangat perhatian dan tahu bagaimana memperlakukan wanita, tapi hal yang tak pernah terpikirkan olehku adalah atas dasar apa dia mengajakku ke Circle Land? Ayolah, ini taman hiburan anak-anak. Untuk apa dia mengajakku ke tempat ini? Aku sedikit kecewa, tapi kucoba untuk tidak menampakkannya di depan Ezra.
Ezra meraih tangan kananku. "Sini duduk dulu!"
“Kenapa tiba-tiba menyentuhku? kamu minta dihajar huh?” monologku dalam hati. Tanpa membalas ucapannya, aku mengikutinya duduk di kursi taman berwarna putih dengan sedikit karat di sandaran tangan. Suara riuh terdengar dimana-mana, balon-balon air sesekali tertiup ke arahku.
"Khansa, maaf ya aku bawa kamu kesini tanpa persetujuan kamu dulu, tapi kamu nggak bisa menyembunyikan luka itu sendirian. Aku tau kamu lagi ada masalah, makanya aku ajak kamu ke sini. Katanya kalau lagi ada masalah itu harus kita keluarin, teriak sekenceng-kencengnya. Nah di sini kamu bisa puas-puasin teriaknya, biar nggak nyesek terus-terusan di pendam."
__ADS_1
Aku tak bisa berkata-kata lagi, menahan sesak di hatiku. Selama ini Ezra memperhatikanku dan tau semuanya.