
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Kami pun bergegas menaiki wahana-wahana di sana. Mulai dari wahana santai seperti bianglala, komedi putar, poci-poci, perlahan aku melupakan masalah yang sebelum menaiki wahana-wahana ini masih menyiksa batinku. Kemudian aku menaiki Kora-kora, roller coaster, dan ontang-anting bersama Ezra. Aku bisa berteriak sekeras yang kubisa, Ezra memperhatikanku lalu ikut berteriak menemaniku. Aku puas berteriak dan menangis seperti anak kecil. Lagi-lagi Ezra hanya memperhatikanku, menemaniku seperti seorang ayah yang sedang ngemong anaknya yang rewel.
“Aaa, aaakuuu caaapeeek…” teriakku berulang-ulang.
“Khansaaa kamu pasti bisa melaluinya, aku percaya kamu bisaaa.” Ezra membalas teriakanku.
Selesai menaiki wahana di Circle Land, kami beristirahat di kursi panjang menghadap ke laut, memandangi sunset berwarna jingga, menenangkan kembali diriku yang masih sesenggukan.
"Gimana? udah lega?" tanya Ezra memberikan kacu miliknya karena tissue milikku sudah habis dibanjiri air mata.
"Thanks, ya … aku malu tau!"
"Kenapa?"
"Udah segede ini masih nangis kaya anak kecil. Liat nggak sih tadi orang-orang pada ngeliatin aku."
"Yang penting kan mereka nggak malu-maluin kamu."
"Hm, iya sih, tapi tetap aja aku malu."
“Yang terpenting sekarang bukan mereka, tapi kamu. Beban di hati kamu sepertinya sangat berat dan aku nggak bisa bantu banyak. Jangan membiarkan masalah terus-menerus menumpuk, tidak baik untuk kesehatan tubuh dan mentalmu. Saat datang satu masalah, cepat diselesaikan karena di masa depan masalah akan selalu datang dan kamu harus siap menghadapinya.”
“Bahkan meski aku nggak minta sekalipun kamu tetap peduli dan mencarikan solusi dan itu sangat membantu. Makasih, Za.” Lagi-lagi pria satu ini membuatku nyaman. Aku tak tahu tujuannya apa sampai ia begitu peduli denganku, tapi untuk sekarang setidaknya aku memiliki bahu untuk bersandar. “Ya Allah maafkan aku, aku tidak bisa menghindarinya.”
Seharian ini waktuku habis bersamanya. Menjelang sore, hujan tiba-tiba turun sangat lebat seperti tangisanku yang menderu kencang tiada lawan. Sebagian tubuhku basah, begitupun dengan Ezra. Kami berlari saling bergandengan tangan, berteduh di sebuah kedai makanan siap saji yang awalnya sepi pembeli menjadi sangat sesak. Aromanya sungguh menggoda dikala hujan lebat seperti ini, ingin rasanya bisa duduk dan menikmati makanan hangat dan secangkir kopi. Namun, semua tempat sesak oleh pengunjung. Hujan pun tak kunjung reda.
"Ezra, jalan aja yuk, kayaknya hujan belum mau reda!"
"Jalan kemana?"
__ADS_1
Aku hanya tersenyum dan melangkahkan kaki sejauh lima langkah dari tempatku. Air menghujani tubuhku, aku tak peduli. Siapa yang akan memarahiku sekarang? tidak satupun orang bisa memarahiku. Aku bukan anak kecil lagi yang selalu dimarahi jika ketahuan bermain air hujan. Air yang mengalir deras di tubuhku menenangkanku dari segala hiruk-pikuk dunia. Kupejamkan kedua mataku menikmati setiap tetes air yang mengenai tubuhku tiada henti. Sejenak kulupakan masalah-masalahku. Hingga aku tersentak kaget ketika tubuhku terdorong jatuh ke sisi jalan.
"Khansa, kamu nggak apa-apa?"
"Iya– nggak apa-apa, makasih ya, Za." Nyawaku nyaris melayang karena kelalaianku sendiri. Sebuah mobil melintas hampir menabrakku. Sekali lagi Ezra menyelamatkanku dan dengan sigapnya Ezra memeriksa keadaanku.
"Syukurlah, kamu nggak apa-apa. Lain kali hati-hati, ya!" Ezra tiba-tiba memelukku dan pelukan itu adalah pelukan ketiga yang pernah aku dapatkan setelah Inara dan Freya.
"Kenapa aku belum pernah merasakan hal sekecil ini dari Ayah dan Ibu?" gumamku dalam hati. Perahan aku membalas pelukannya, tak ingin menyudahinya, aku seperti si fakir kasih sayang. Namun, dinginnya hujan kian mencekam tak tertahankan.
"Za, aku kedinginan."
"Oke, kita ke mobil ya." Ezra merangkul, membawaku pergi menuju parking area dan masuk ke mobil di bangku belakang dalam keadaan basah seluruh tubuh. Sedangkan Ezra masih sibuk mencari-cari sesuatu di bagasi.
"Khansa, maaf aku nggak bawa baju lain. Ini hoodie yang kemarin aku pakai, kamu ganti baju dulu pakai ini ya, biar nggak kedinginan."
"Terus kamu gimana?"
"Sa, kita ke apartemenku dulu ya, dingin juga lama-lama pakai baju basah, haha."
"Iya, Za. Nggak apa-apa, daripada nanti masuk angin." Kami pun pergi menuju ke apartemen Ezra.
"Udah sampai?"
"Iya, ayo masuk," ajak Ezra berjalan berdampingan menuju ke kamar apartemennya. "Kamu beresin badan dulu, nanti gantian."
"Tapi, kamu belum ganti baju sama sekali loh," balasku dengan cepat.
"Aku gampang, ganti baju disini juga bisa. Udah, sana kamu bersih-bersih badan dulu, mandi sekalian biar badan seger."
__ADS_1
"Oke…" Aku pun segera masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk mandi. Kamar mandinya bersih, aku tersenyum tanpa sebab. Ah, nyaman sekali mandi air hangat setelah diserbu air dari langit. Aku bisa saja berlama-lama disini, tapi aku rasa Ezra sedang menungguku di luar. Sebisa mungkin aku mandi lebih cepat dari biasanya. Masih dalam keadaan mengenakan handuk, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Iya!" sahutku menaikkan suara.
"Ini baju gantinya." Ezra memberikan beberapa pakaian dari balik pintu untuk aku kenakan.
"Thanks, Ezra."
"Oke, aku tinggal bentar ya, kebawah cari sesuatu, kamu selesaikan dulu mandinya, keringin rambut sekalian biar nggak pusing," ucap Ezra disusul suara pintu tertutup.
Ezra sudah mempersiapkan segalanya. Entah dari mana dia dapatkan baju wanita ini, tapi sepertinya dia baru saja membelinya. Ah, dia terlalu baik padaku. Sambil menyalakan hair dryer, aku tersenyum entah karena apa. lamunanku melayang kemana-mana, apakah aku jatuh cinta? entahlah, aku belum tahu jawabannya karena tak pernah merasakannya. Selesai mengeringkan rambutku, notifikasi handphone menyala, ada pesan masuk dari Ezra bahwa dia akan segera sampai. Belum sampai aku menaruh handphone, terdengar suara pintu terbuka.
"Cepat sekali dia datang," gumamku bersiap keluar kamar mandi. Rasa yang berbeda muncul secara misterius, perasaanku sangat senang akan bertemu dengan Ezra.
"Astaga– Ezra, pake baju dong!" ucapku memekik karena kaget melihat Ezra tidur telungkup di kasur hanya mengenakan boxer.
"What?" pekik seorang pria yang kusangka adalah Ezra. Dia pun kaget ketika melihatku ada di apartemen bersamanya.
"Kamu siapa? mana Ezra?" Aku sangat panik dan hampir terjatuh, tapi pria itu segera menghampiriku.
"Jangan! jangan mendekat!"
"I want to help you, ah bawel banget sih! … What are you doing here?" Pria itu memojokkanku di dinding, bibirnya menyeringai seolah akan menerkam. Ketakutanku sudah memuncak, sesegera mungkin aku menghindar dan pergi keluar dari kamar itu. Aku berlari tanpa alas kaki, melarikan diri selagi aku mampu. Tangisanku pecah di perjalanan. Aku tak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. "Ezra … apa yang kamu rencanakan? Argh…"
...Jangan membiarkan masalah terus-menerus menumpuk, ...
...tidak baik untuk kesehatan tubuh dan mentalmu. ...
...Saat datang satu masalah, cepat diselesaikan ...
__ADS_1
...karena di masa depan masalah akan selalu datang ...
...dan kamu harus siap menghadapinya...